Tumbuh Dalam Badai ‘1965’ : Kisah Bondan Nusantara, ‘Ahli Waris Lakon Rakyat Berdaya’ Para Pelaku Kethoprak Angkatan Ibu Terkasihnya Kadariyah

Tumbuh dalam badai adalah kisah beberapa anak yang berjuang hidup dalam tekanan diskriminasi secara struktural karena orang tua mereka menjadi korban tragedi kemanusiaan 1965/66. Mereka pantang menyerah, tumbuh dalam berbagai kondisi untuk bertahan hidup dan mengembangkan dirinya menjadi manusia baru. Diantara mereka adalah Wangi Indrya, dalang wayang kulit yang juga penari dan penyanyi di Indramayu. Dia anak salah seorang dalang wayang kulit yang pada zaman orde baru menjadi tahanan politik. Bondan Nusantara, anak ibu Kadariah, seorang primadona ketoprak Jogja tahun 60an, yang ditahan beberapa tahun. Juga muncul dua anak tapol dari Bali, selain Nani Nurahman, seorang putri Jenderal Soetoyo yang diabadikan sebagai pahlawan revolusi.

Bondan sungguh sadar bahwa ia sesungguhnya sebatangkara dalam perkara jenjang akademis dan memikul hingga tua kutukan “dudu wong sekolahan”. Kedua orang tuanya ingin Bondan tidak perlu hidup dari tobong ke tobong seperti mereka di pematang berlumpur perang dan pekik revolusi. Mereka ingin Bondan belajar yang keras agar “dadi wong”, jadi orang.

Tapi, sejarah bekerja dengan raison d’etre-nya. Balon politik ‘65 meletus. Bondan yang baru saja masuk SMP Negeri 3 Pajeksan terdepak dan menerima ibu terkasihnya, Kadariyah, dikerangkeng bersama aktor-aktor ketoprak Kridho Mardi di Ambarawa. Terluka, tersingkir, terlunta.

Nama yang disandangnya, “Bondan Nusantara”, seperti luruh begitu saja. Bondan berasal dari nama tari yang dipanggungkan ibunya di depan warga Kampung Ngasem, Keraton, Yogyakarta, saat usia persalinan 9 bulan. Tari Bondhan adalah tari seorang gadis menggendong bayi. Sementara, Nusantara disematkan karena kedua orang tuanya adalah barisan pendukung Sukarno yang mengobarkan semangat persatuan bangsa. Karena tak elok menamai bayi “Indonesia”, dipilihlah “Nusantara”.

Ia mengarungi dunia remaja tanpa ibu. Seperti layangan kasih yang putus. Satu-satunya cara melihat wajah ibunya dari kejauhan, Bondan mesti menaiki bus Damri jurusan Yogyakarta—Semarang. Tak jauh dari dinding belakang Kamp Plantungan, dikereknya layangan kertas sebagai panggilan kepada ibunya bahwa ia tiba, ia menunggu, ia rindu.

****

Bahwa, kethoprak adalah cara rakyat berdaya sebagaimana warisan yang diberikan para pelaku kethoprak pada angkatan Kadariyah. Di masa Kadariyah, terdapat 300 lebih kelompok kethoprak yang berada di bawah naungan Badan Kontak Organisasi Kethoprak Seluruh Indonesia (Bakoksi) yang terafiliasi dengan Lekra.

Di lembaga yang berkantor di gedung di belakang BNI Yogya itu (saat ini Museum Sonobudoyo), lakon yang dipertunjukkan adalah lakon di mana rakyat berdaya dan berjuang memenangkan hidupnya yang rentan oleh sistem yang tak berpihak. Bakoksi mengajak semua pegiat ketoprak memenangkan revolusi dan tak gentar melawan imperialisme yang makin dekat dengan perbatasan Indonesia.

Pada Dagelan Mataram Baru, Bondan menunjukkan di mana posisi teater ibunya di masa lalu, teater rakyat, teater yang tidak berjarak dengan jiwa warga. Pada ketoprak pelajar yang terejawantahkan dalam ekstrakurikuler, Bondan Nusantara menemukan jalan regenerasi.

selengkapnya In Memoriam Bondan Nusantara: Perginya Guru Ketoprak “Rakyat” – Muhidin M. Dahlan

Menurut keterangan Bondan Nusantara, dalam pertunjukan ketoprak yang selalu menjadi tokoh utama dan dimenangkan dalam cerita adalah Rakyat. Politik Rakyat dinyatakan sebagai sokoguru bagi revolusi nasional, komitmen inilah yang memberi justifikasi bahwa lakon-lakon dari ketoprak daiambil dari kehidupan Rakyat, sepeti tani. 

disalin dari LEKRA: PENCARIAN IDENTITAS KEBUDAYAAN NASIONAL INDONESIA – Rhoma Dwi Aria Yuliantri 

BONDAN NUSANTARA, URAT NADI KETOPRAK YOGYAKARTA

SINEPRAK

Seorang ‘empu’ ketoprak, Bondan Nusantara, yang ber’misi’ menyampaikan warisan ketoprak pada anak muda, sudah mendirikan channel youtube namaya Sineprak (artinya ‘ketoprak yang dikreasi dengan pendekatan sineomatografik’) Dengan menggunakan kamera, lampu dan mixer yang dipinjam dari seorang teman dan pengusaha, Bondan dan timnya bekerjasama dengan orang muda di Yogya, membikin film pendek ( kira-kira 10-15 menit) sesuai dengan kapitas internet terbatas dari penonton millennial. Sejak Mei 2020, tiap hari Jumat, suatu lakon baru disiarkan, jumlahnya sekarang lebih dari tigapuluh dengan banyak ribuan penonton. Bondan mengaku bahwa dia sangat terpersona oleh semangat dari semua yang terlibat, walapun kerjanya samasekali sukarela.

disalin dari Barbara Hatley & Emily Rowe Seni Pertunjukan dan Pandemi (2021) 

channel youtube Sineprak https://www.youtube.com/c/sineprak/videos

BONDAN NUSANTARA DAN KETOPRAK MILENIAL

simak pula

Lekra, Bakoksi (Badan Kontak Organisasi Ketoprak Seluruh Indonesia), Ketoprak Revolusioner dan Genosida Politik 1965-1966 

Melacak Jejak Lekra (yang dihilangkan) Dalam Seni Pertunjukkan Indonesia : Dari Ludruk, Ketoprak, Wayang, Reog Hingga Teater Modern

Simak 1500 ‘entry’ lainnya pada link berikut

Daftar Isi Perpustakaan Genosida 1965-1966

Road to Justice : State Crimes after Oct 1st 1965 (Jakartanicus)

13047818_10209343119272764_8338060706038815101_o
13043485_10209343122352841_1135692553504633931_n (1)

Definisi yang diusulkan D. Nersessian (2010) untuk amandemen/ optional protocol Konvensi Anti-Genosida (1948) dan Statuta Roma (2000) mengenai Pengadilan Kejahatan Internasional. (disalin dari Harry Wibowo)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s