Situs-situs / Jejak ‘Genosida Politik 1965-1966’ di Surakarta

Setelah banjir datang dan merendam semuanya, kisah pembantaian orang-orang yang dituduh komunis maupun non komunis di Solo pun tak berlanjut. Tidak mengherankan jika ada yang menyebut banjir itulah yang menghentikan banjir darah di sana.
Seperti terekam dalam novel Layang-layang Itu Tak Lagi Mengepak (1999:27), Martin Aleida sang novelis menulis: “Banjir besar yang melanda kota Solo bulan Maret 1966, orang- orang yang percaya mistik yakin bahwa itu pertanda pembantaian manusia oleh manusia yang disesatkan oleh dendam yang tiada beralasan akan segera berakhir.”

Saat Pembantaian PKI di Solo Dihentikan BanjirBesar – tirto.id

Silahkan klik nama lokasi-lokasi/situs genosida politik 65 dibawah anda akan temukan informasi mencakup : Foto Bangunan, Alamat, Fungsi Bangunan (Saat Peristiwa dan Sekarang), Penguasa Tempat Penahanan, Kesaksian Tapol (Nama Samaran), Bentuk Pelanggaran HAM/Kekerasan (Penahanan sewenang-wenang, Penyiksaan di Kamp Tahanan, Penghilangan Paksa, Pemerasan terhadap para tapol dan keluarga, Interogasi oleh pihak yang tak berwenang, Penyiksaan Saat Interogasi, Penyiksaan di luar proses interogasi: pelecehan seksual verbal terhadap tapol perempuan, Intimidasi dan pemaksaan hubungan seksual [Perbudakan seksual] terhadap anak tapol, Pemberian jatah hidup (makan dan akomodasi) di bawah standar minimum, di bon dll)
LOKASI
  1. Seksi I Baron
  2. Seksi II Banjarsari
  3. Pool Bus Eva dan Sendiko
  4. Kandang Menjangan
  5. Markas AURI Panasan
  6. Loji Gandrung
  7. DPKN
  8. Balaikota dan Gedung DPRD Surakarta
  9. Gedung Perkantoran Pemkot Surakarta
  10. CPM Surakarta
  11. Wangkung (Pamardi Karya)
  12. LP Surakarta
  13. Sasono Mulyo
  14. Kantor Polisi Serengan
  15. Kantor Kopem (Komando Pemberantasan Malaria)
  16. Kecamatan Pasar Kliwon
  17. Kecamatan Jebres
  18. Kecamatan Serengan
  19. Kecamatan Laweyan
  20. Kecamatan Banjarsari
Jembatan Bacem, Riwayatmu Kini, Sedari Sekarang, Perhatian Insani – Chris Poerba
 “Jembatan Bacem terletak di perbatasan antara Solo dan Sukoharjo. Di bawahnya mengalir Sungai Bengawan Solo. Jembatan ini pernah menangis tatkala banyak anak manusia yang dihempaskan dan dilengserkan ke sungai. Jembatan Bacem, yang diproduksi oleh Elsam dan Pakorba Solo tahun ini (2013), mengangkat penuturan 3 saksi yang selamat dari penghilangan paksa; termasuk dua orang yang berhasil lolos dan menjadi penyintas dari peristiwa di atas jembatan. Ekskalasi politik 1965 menjadi muara dari penuturan pihak-pihak yang dikorbankan oleh rezim. Mengapa 1965? Karena pada tahun tersebut sebuah rezim pernah mendapatkan kekuasaan, keleluasaan sampai kekebalan melakukan dehumanisasi; dengan dalih ‘NKRI harga mati’, demi mengganyang musuh politik: ‘PKI yang mengancam integrasi bangsa’.
Kisah bermula. Tak lama setelah pasca peristiwa `65, balai kota diduduki dan walikota Solo ditahan. Banyak orang-orang setempat yang dijamah, ditangkap dan dijemput paksa. Semenjak itu pula, banyak lokasi yang menjadi kamp-kamp ahanan, bahkan bangunan-bangunan pemerintah tak luput dari peralihan-fungsi ini: Loji Gandrung, Balai Kota Surakarta, atau Sasono Mulyo, pernah menjadi saksi bisu bagi kebiadaban yang terjadi di beberapa kecamatan di Solo. Sasono Mulyo sendiri menjadi salah satu kamp tahanan politik (tapol), sejak 1 Desember 1965 sampai 30 Mei 1967. Tercatat sebanyak 71 tahanan yang berasal dari kamp Sasono Mulyo yang ‘dibon’ dan menghilang. ‘Dibon’ adalah istilah yang digunakan untuk menyatakan bahwa seorang tahanan dipinjam, dibawa pergi, dan ujung pangkalnya hanya ada dua pilihan: atau dipindahkan ke tempat lain, atau hilang entah ke mana rimbanya.
Jembatan Bacem merekam tragedi 1965 di Solo
Jembatan Bacem yang berada di atas aliran Bengawan Solo dikenal sebagai tempat jagal para tahanan terduga anggota PKI
a

 

s

Jembatan Bacem : Fim Dokumenter Tentang Peristiwa 1965
Orang Solo dan sekitarnya menyebutnya Kreteg Bacem (Jembatan Bacem), terletak di selatan Kota Solo, Jawa Tengah, di bawahnya mengalir anak sungai Bengawan Solo. Sudah menjadi rahasia umum, bahwa pada peristiwa 1965/1966 jembatan ini menjadi tempat pembunuhan dan pembuangan mayat orang-orang PKI atau yang dianggap PKI, namun mereka diam dan tak pernah memperbincangkannya, karena ketakutan.
 
Setelah lebih dari 40 tahun keluarga korban hidup dalam diam, akhirnya dalam suatu dalam kesempatan peringatan tragedi 65/66 para keluarga korban mengadakan “Sadranan”, sebuah kegiatan kultural adat Jawa, di mana pada kesempatan itu keluarga korban dapat mengenang sanak keluarga yang menjadi korban, yang menurut kesaksian dibuang di sungai Bacem. Harapan keluarga korbanKreteg Bacem sebagai monumen ingatan bersama dan sebagai tempat untuk menghormati keluarga yang sampai saat ini tak kembali.
 
Film Produksi ELSAM bersama Pakorba Solo, karya Yayan Wiludiharto ini bercerita peristiwa kelam bangsa ini, khususnya tentang orang-orang yang dibunuh dan dihilangkan di Kreteg Bacem.

Chaos Untuk Coup? – Ruth Indiah Rahayu 

simak 700 ‘entry’ lainnya pada link berikut

Daftar Isi Perpustakaan Genosida 1965-1966

Road to Justice : State Crimes after Oct 1st 1965 (Jakartanicus)

14542544_1036993449746974_4443364972569517121_o



13047818_10209343119272764_8338060706038815101_o13043485_10209343122352841_1135692553504633931_n (1)

 

Definisi yang diusulkan D. Nersessian (2010) untuk amandemen/ optional protocol Konvensi Anti-Genosida (1948) dan Statuta Roma (2000) mengenai Pengadilan Kejahatan Internasional. (disalin dari Harry Wibowo)
Bookmark and Share

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s