‘Biografi’ Para Eksil 1965 Yang Dikisahkan Dalam Film Dokumenter The Exiles (Eksil) (2022) Karya Lola Amaria (Sutradara)

Dialog Para Eksil yang Terhenti – Oleh: LOLA AMARIA [Bogor Today 2015]

The Exiles (Eksil) (2022) Lola Amaria (sutradara) – 17th Jogja-NETPAC Asian Film Festival

(trailer, sinopsis dan filmografi)

Di masa perang dingin tahun 1960an, banyak peristiwa politik yang mengubah nasib banyak orang. Beberapa mahasiswa yang dikirim belajar oleh pemerintah Indonesia ke Uni Soviet (Rusia) dan Tiongkok akhirnya tak bisa pulang ke Indonesia setelah peristiwa 1965. Terdampar dan melintasi berbagai Negara dengan tanpa status, mencari negara yang mau menampung mereka. Putus kontak dengan keluarga di Indonesia yang juga menjadi korban perubahan politik. Mereka dan kisah lainnya bercerita tentang keinginan untuk mencari jalan pulang yang tak pernah padam. Mereka mewakili ribuan orang yang senasib dan sudah berguguran dimana-mana. Mereka adalah monumen kekerasan yang masih hidup, bertahan dan terwariskan.

Monumen kekerasan itu diwariskan dalam bentuk ketakutan-ketakutan yang disimpan dalam benak, hati dan naluri dari generasi ke generasi. Seperti rantai-rantai raksasa yang melilit tangan, kaki, dan pikiran generasi setelah mereka, generasi yang mencari jalan kebebasan. Bebas dari ketakutan. (disalin dari status facebook Lola Amaria)

The Exiles (Eksil)

Kisah Eksil 1965 Raih Penghargaan Film Indonesia Terbaik JAFF – tempo.co

sila simak pustaka online ‘biografi’ beberapa eksil yang dikisahkan di film The Exiles (Eksil) karya Lola Amaria.

Dendam Sejarah Asahan Alhamdulillah Aidit dan Kajian Karya Prosa Perang dan Kembang (2001); Alhamdulillah (2006); Cinta, Perang dan Ilusi (2006); Azalea (2009) #SastraEksil 

[1938-2022] Kisah Eksil ’65 Chalik Hamid, Puisi Doa (buat Soeharto) dan Kumpulan Puisi Mawar Merah (*unduh buku puisi) 

Hidup di Pengasingan : Sardjio Mintardjo Bapak Mahasiswa Indonesia #Eksil65 

Mengubah Kesedihan Menjadi Kekuatan : Sarmadji, Buku dan Pusat Dokumentasi Indonesia (Perdoi) #Eksil65 

Eksil Kuslan Budiman [1935-2018] : Seniman Pendiri Sanggar Bumi Tarung yang Lolos Dari Pembunuhan dan Pemenjaraan Pasca G30S Karena Sedang Studi di Cina, Namun Ia Kehilangan ‘Tanah Airnya’. 

Waruno Mahdi : “Saya tak punya tempat ke mana saya pulang…. Berangkat, ya, ke mana-mana…”** #Eksil1965 

Kisah Alimin (Tom) Iljas, Eksil 65 di Stockholm, Swedia : Ketika Ziarah dan Mengenang Masa Lalu Dianggap Kejahatan 

Hartoni Ubes Eksil 1965 di Cekoslowakia : “TIDAK LUPA TAPI TIDAK DENDAM”

Hartoni Ubes Eksil 1965 di Cekoslowakia : “TIDAK LUPA TAPI TIDAK DENDAM”

simak 1600 ‘entry’ lainnya pada link berikut

Daftar Isi Perpustakaan Genosida 1965-1966

13047818_10209343119272764_8338060706038815101_o
13043485_10209343122352841_1135692553504633931_n (1)

Definisi yang diusulkan D. Nersessian (2010) untuk amandemen/ optional protocol Konvensi Anti-Genosida (1948) dan Statuta Roma (2000) mengenai Pengadilan Kejahatan Internasional. (disalin dari Harry Wibowo)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s