Jejak Genosida 1965-1966 di Tegal : Ingatan, Trauma, Dendam, Penyembuhan dan ‘1965 Art Space’ Dadang Christanto

Penting untuk disampaikan perihal dendam atau marah. Bila konteksnya PERSONAL “dendam atau marah” dapat dibilang selesai. Tapi secara SOSIAL belum selesai. Artinya “dendam dan marah” terus akan hadir sejauh pemerintah tidak memberi keadilan dan minta maaf pada para korban dan keluarganya.

Dimusim pembantaian, muara sungai Ketiwon atau kanan- kiri muaranya. saat air laut surut, mayat mayat manusia atau bagian tubuh manusia nongol dipermukaan pasir pantai.

Aku mendengar ceritera ini dari saksi mata orang setempat.

Sungai Ketiwon lumayan panjang, melintasi beberapa desa dan kota kecil seperti Banjaran dan Slawi. Sangat berkemungkinan sebagian mayat korban dari wilayah yang dilintasi.

Didekat muara Ketiwon, ada bekas lapangan pesawat terbang, Martoloyo. Di lapangan terbang yang tak terpakai ini, tempat eksekusinya korban.

(Dadang Christanto dalam perbincangan dengan admin)

Kisah Penumpasan PKI di Tegal: Mayat-mayat Hanyut di Sungai Ketiwon – jateng.suara.com

Mayat orang-orang yang dieksekusi, kata Wijanarto, ada yang dibuang ke sungai Ketiwon. Sungai besar di perbatasan Kota Tegal dan Kabupaten Tegal itu bermuara ke laut.

Mohammad Nuh, Kisah Tragis Sang Dokumentator oleh Wijanarto

Dalam sejarah Indonesia, kita ketahui peristiwa Tiga Daerah tidak memperoleh dukungan sepenuhnya dari Pemerintah Pusat. Melalui kekuatan TKR Pusat melakukan aksi penangkapan mereka yang tergabung dalam GBP3D. Bahkan Mohammad Nuh menerima hukuman dua kali. Kali kedua ia dieksekusi kelompok penentang peristiwa 30 September 1965, Namanya nyaris tak dikenal. Mungkin dokumentasi tulisan yang telah lapuk itu menjadi arsip yang berharga bagi masyarakat Tegal dan sekitarnya. Tak lama sesudah gegeran itu meledak, 9 Januari 1966 ia dieksekusi dengan dugaan terlibat 30 September 1965 (Anton Lucas 1991: 276). Meski Nuh sejak tahun 1950an telah absen dari gelanggang politik dan tahun 1960an ia menjadi pedagang kaca mata.

45fd5-11082617_10206488502677199_6267647218209503443_n

The water flow far away – Dadang Christanto

Floating – Dadang Christanto

Memang praktis untuk sebuah tindak biadab dengan melemparkan mayat-mayat korban ke SUNGAI. 

Hanyut dan hilang tak berbekas. Bagi ingatan sejarah, apalah artinya mengingat kejadian 50 tahun lalu?

Ratusan bahkan ribuan tahunpun usia sejarah akan selalu tercatat dan diingat.

Dan salah satunya catatanku mengenai sungai-sungai di Indonesia di tahun-tahun pembantaian 1965-1966. Sungai adalah kuburan massal pembantaian. (Dadang Chistanto)

Red River (Kali Mayit) 1965-1966 : Tubuh-tubuh Tak Bernyawa Mengalir Sampai Jauh, Akhirnya ke Laut

Red River (Kali Mayit) 1965-1966 : Tubuh-tubuh Tak Bernyawa Mengalir Sampai Jauh, Akhirnya ke Laut

Rumahnya di Tegal dekat dengan lapangan, di mana Lekra sering menggelar pementasan seni. Rumahnya sering dipakai untuk berias seniman yang akan pentas. Rumahnya juga sering untuk kumpul dan diskusi orang-orang PKI.

Ia tak pernah bertanya pada ibunya tentang keanggotaan PKI ayahnya, ia takut melukai perasaan ibunya. Ia pernah bertanya pada tetangganya, tetangganya bilang ayahnya aktivis sering kumpul dengan guru ini dan itu, semua nama yang disebut adalah anggota PKI. Ia pernah menelusuri sejarah 1965 sendiri, bertanya pada tetangga-tetangganya namun tak banyak yang ia dapat.

Ia masih duduk di bangku SD, 8 tahun usianya ketika ayahnya dibawa oleh truk pagi-pagi benar. Ibunya menangis, kakak-kakaknya menangis, ia diam karena memang tak tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Ia baru tahu ketika tetangganya mengatakan, “Kae lho Bapakmu nang asrama polisi digebukin.” Ia waktu itu tak bisa memahami kalimat itu. Tapi dari tangisan Mamanya ia tahu, ada sesuatu yang tak beres. Mamanya sering bertemu orang-orang yang dikira Mamanya tahu di mana keberadaan suaminya.

Mamanya sering “dipingpong”, informasi yang diterima tentang keberadaan suaminya tak pernah jelas. Katanya di penjara ini, penjara itu, tapi ia tak diijinkan bertemu suaminya. Si “pemberi informasi” sering minta makanan, pakaian, uang, permintaan suaminya kata mereka.

Pernah suatu ketika, adik Dadang yang waktu itu usianya 5 tahun diberi ijin untuk bertemu ayahnya. Tapi usia sekecil itu, mana dia tahu itu ayahnya atau bukan. Lama-lama keluarga Dadang seperti diperas, permintaan uang dan barang semakin sering. Sangat dilematis.

Dua hingga 3 bulan mencari, tidak pernah bertemu justru harus memberi ini dan itu disaat ekonomi keluarga makin sulit, keluarga Dadang memutuskan untuk berhenti mencari, sudahlah ayah dianggap hilang, kata Dadang.

Kesadaran dan pengetahuan tentang ayahnya ia dapat ketika di Bengkel Teater. Ia banyak mendapat pemahaman tentang apa yang terjadi, bukan hanya sekedar dari media, bukan dari kacamata Orde Baru. Ia mulai mencari informasi sendiri, ia mulai tak percaya pada pemerintah!

Pergaulan sebagai aktivis membuatnya banyak memperoleh pengetahuan, seperti Surat Nyonya Dewi Kepada Soekarno, ia dulu membacanya. Dari informasi-informasi ini ia mendapat benang merah tentang apa yang terjadi.

Ia pernah bertanya pada ibunya apa ayahnya PKI. Bukan, kata sang ibu karena ia tak pernah melihat kartu keanggotaan ayahnya. Ibunya mengalami trauma, pernah ada seseorang lewat depan rumahnya. Ibunya tegang, “Orang itu yang memberi daftar,” kata sang ibu.

Hampir sebagian karya Dadang Christanto terinspirasi dari masa lalunya tentu dengan ekspresi-ekspresi yang berbeda. Ada beberapa karya yang sengaja tak pernah ia pamerkan dan pasang di rumahnya, karya-karya tentang 1965 yang terlalu “horor”.

dipetik dari #23Tweets | Buku Pertamaku – Dadang Christanto | Australia – Fairuzul Mumtaz

Dadang Christanto 1965 Artspace : Kehilangan, Trauma Hingga Protes dan Memorialisasi Genosida 1965-1966

Dadang Christanto 1965 Artspace : Kehilangan, Trauma Hingga Protes dan Memorialisasi Genosida 1965-1966

simak pula

Dadang Christanto : Genocide 1965-1966 [IN RED; DARAH ITU MASIH SEGAR JENDERAL]

Dadang Christanto : Indonesia Genocide and  Painted Black on Their Faces 

Dadang Christanto : Genocide, Heads from the North and Buriedin the Beach 

Heads from the North Karya Dadang Christanto, Memorial (Monumen Peringatan) Pembunuhan Massal 1965-1966 Di National Gallery of Australia Sejak Tahun 2004 

simak 1500 ‘entry’ lainnya pada link berikut

Daftar Isi Perpustakaan Genosida 1965-1966

Road to Justice : State Crimes after Oct 1st 1965 (Jakartanicus)

13047818_10209343119272764_8338060706038815101_o
13043485_10209343122352841_1135692553504633931_n (1)

Definisi yang diusulkan D. Nersessian (2010) untuk amandemen/ optional protocol Konvensi Anti-Genosida (1948) dan Statuta Roma (2000) mengenai Pengadilan Kejahatan Internasional. (disalin dari Harry Wibowo)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s