Jacques Leclerc (1935-1995) : Sejarah Indonesia, Kaum Revolusioner, Aliran Komunis, dan Penjara

cover foto Archipel, volume 51, 1996

Jacques Leclerc (1935-1995) [note biographique] – Françoise Cayrac-Blanchard

Archipel, volume 51, 1996. (dalam bahasa Perancis)

terjemahan google translate (tanpa pengeditan dari admin)

Sejarawan, yang bergabung dengan CNRS sebagai peneliti pada akhir tahun 1972 dan ditugaskan di Pusat Studi dan Penelitian Internasional (CERI) Yayasan Nasional Ilmu Politik, Jacques Leclerc telah bekerja selama dua puluh lima tahun di Indonesia ketika kanker dia telah berjuang dengan berani selama enam tahun menyusulnya.

Di atas segalanya, pada konstruksi politik negara muda Indonesia itulah dia mencurahkan perhatiannya, khususnya pada studi tentang konstitusi “kiri” yang telah mendefinisikan dirinya dengan istilah ini di bidang kekuatan politik-sosial, dari tahun 1920. sampai krisis tahun 1965 yang memungkinkan tentara untuk menghancurkan komunis dan melarang referensi apapun ke ideologi mereka. Tesisnya, yang dipertahankan pada tahun 1970, membahas “Indonesianisasi” Marxisme-Leninisme oleh Partai Komunis Indonesia (PKI), seperti yang ia lihat dalam pidato-pidato D.N. Aidit, presidennya.

Selanjutnya Jacques menjelajahi lapangan perawan dengan mempelajari gerakan serikat pekerja Indonesia, yang berkuasa pada 1950-an dan 1960-an, sehingga ia mengumpulkan biografi ratusan anggota serikat pekerja. Tugas ini semakin sulit karena arsip sulit diakses, dalam kondisi buruk dan karena represi anti-komunis yang dilakukan oleh rezim militer hampir tidak mendorong para penyintas untuk mempercayakan ingatan mereka.

Pencarian identitas komunis Indonesia, yang sering dipaksa bersembunyi oleh represi yang melanda mereka baik sebelum dan sesudah kemerdekaan, sebuah klandestin di mana Jacques melihat “nilai konstitutif dari identitas kelompok”, perjalanan rahasia kaum komunis Indonesia di antara fase-fase keberadaan resmi PKI, bahkan menjadi pokok bahasan beberapa tulisan Jacques. Dia sangat tertarik pada Amir Sjarifuddin, salah satu tokoh nasionalis besar, menteri pertahanan dan perdana menteri selama perjuangan kemerdekaan, yang namanya sekarang disembunyikan karena pada tahun 1948 dia menyatakan dirinya komunis. , yang menyebabkan dia ditembak tak lama kemudian oleh polisi militer. Oleh karena itu, sekarang ini adalah masa lalu yang terlarang yang Jacques coba ungkapkan dan penelitiannya di bidang ini tidak lepas dari gema di kalangan anak muda Indonesia yang ingin tahu bagian yang diamputasi dari sejarah mereka.

Lebih jauh, Jacques telah berupaya untuk mengungkap makna tersembunyi dari wacana negara, apakah itu menyangkut konsep-konsep fundamental untuk konstruksi nasional seperti wilayah (dan nama yang menunjuknya), bangsa, persatuan nasional, atau melalui tanda-tanda. itulah kata-kata wacana politik (buruh, karyawan), ikonologi perangko, pilihan dan desain monumen, museum tempat ia menunjukkan bagaimana sejarah ditulis ulang. Sangat disayangkan bahwa dia tidak punya waktu untuk menyelesaikan studinya tentang “pahlawan nasional”, pilihan-pilihan, positif atau negatif, yang dibuat di daerah ini, terutama oleh sejarawan angkatan darat, yang secara khusus mencerahkan tentang “imajiner politik”. ” dari negara Indonesia kontemporer.

Akhirnya, mari kita ingat kembali bahwa Jacques mengajar sejarah dan sosiologi Indonesia dan Malaysia kontemporer selama sepuluh tahun di INALCO, bahwa ia mengambil bagian dalam berbagai kolokium internasional, dan bahwa ia mengetuai Asosiasi Prancis untuk Penelitian Asia Tenggara (AFRASE) dari 1989 hingga 1992.

Collection guide Jacques Leclerc Archive (KITLV)

Jacques Leclerc (1935-1995): Cahaya Lain dalam Kelam Sejarah Indonesia – Andi Achdian

Dari keseluruhan tulisan yang dikumpulkan di buku ini, Leclerc menampilkan bukan saja sebuah berkas hilang dari “sejarah yang diamputasi” sepanjang riwayat kekuasaan Orde Baru (atau sepanjang masa dewasa hidup Leclerc). Benang merah yang layak menjadi pegangan dalam memahami tulisan-tulisan di buku ini adalah upaya Leclerc melacak bagaimana “Indonesianisasi” Marxisme-Leninisme berlangsung dalam tataran sejarah Indonesia.

Leclerc memulai karirnya sebagai pengamat politik Indonesia dengan menulis disertasi tentang Aidit, karena dalam rangkaian pidato pemimpin Partai Komunis Indonesia (PKI) itu, tampak sifat konstitutif pencarian identitas kiri di Indonesia sejak dekade 1920-an sampai 1965 sebelum PKI dihancurkan. Leclerc juga membuat ratusan wawancara dengan aktivis-aktivis serikat buruh yang aktif dalam dekade 1950-an dan 1960-an.

daftar isi

Aliran Komunis : Sejarah dan Penjara

Amir Sjarifuddin – Antara Negara dan Revolusi

Aidit dan Soal Partai Pada Tahun 1950

Kondisi Kehidupan Partai : Kaum Revolusioner Indonesia Mencari Identitas

Peneliti sejarah asal Perancis, Jacques Leclerc, telah menghasilkan banyak karya serius tentang sejarah politik Indonesia, namun baru sekarang tulisan-tulisannya yang tersebar di pelbagai terbitan disatukan menjadi buku.

Tersaji dengan prosa memikat yang seolah-olah memposisikan diri seperti bagian dari sejarah hidup itu sendiri, Leclerc berusaha melacak bagaimana Marxisme-Leninisme “diindonesiakan” oleh tokoh-tokoh perintis pergerakan, dan dengan demikian menampilkan bukan saja sebuah berkas hilang dari “sejarah yang diamputasi” oleh riwayat kekuasaan Orde Baru, namun juga menerangi aspek-aspek yang sangat dinamis dari sejarah revolusi Indonesia.

Tak salah bila sejarawan terkemuka Indonesia, Onghokham, konon pernah menempatkan Jacques Leclerc sebagai sejarawan favoritnya

Mencari Kiri : Kaum Revolusioner Indonesia dan Revolusi Mereka -Goodreads

Yang Muda Yang Berkuasa – historia

Kelompok Aidit menyusun partai secara sistematis. Mulai soal ideologi sampai perluasan keanggotaan.

Menurut Leclerc dalam Mencari Kiri: Kaum Revolusioner Indonesia dan Revolusi Mereka (2011), bagi Amir, “prinsip harapan (meminjam istilah Ernest Bloch) untuk Indonesia pertama-tama memperoleh bentuknya pada manifestasi tiga gabungan kata: satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa”. Amir menganggap manifesto Sumpah Pemuda 1928 ini merupakan “cetak biru” imajinasi sekaligus konsepsi keindonesiaan yang ideal. Rumusan yang digagas Yamin itu mendapatkan inspirasi dari gagasan akademis Belanda mengenai taal-, land-, en volkenkunde yang intisarinya dirumuskan kembali menjadi cita-cita bangsa di masa depan.

Sementara mengenai bahasa nasional, Amir menganggapnya sebagai hal mendasar bagi terbentuknya sebuah bangsa dari unsur-unsur yang heterogen. Bahasa persatuan, menurutnya, diperlukan untuk menjadi pengikat keanekaragaman sosio-kultural yang membentuk Indonesia. Ia menyadari “pentingnya suatu bahasa yang dapat dipergunakan dan dimengerti di seluruh Indonesia dan menjadi alat pertukaran ide dan informasi”. Masalah bahasa nasional merupakan masalah paling mendasar dari sebuah nasion. Amir mempelajari bahasa Indonesia dan, mengutip kalimat Leclerc, “menemukan dirinya sebagai warga negara Indonesia dan identitasnya sebagai bangsa Indonesia.”

Baca selengkapnya di artikel “Indonesia Modern Menurut Amir Sjarifoeddin: Demokratis & Antifasis“, https://tirto.id/ek8t

Amir Sjarifuddin Antara Negara dan Revolusi – Jacques Leclerc

Jacques Leclerc: Amir Sjarifuddin Antara Negara dan Revolusi. Naskah ini pertama kali diterbitkan dalam Angus McIntyre, Indonesian Political Biography – In Search of Cross-Cultural Understanding, Monash Papers on Southeast Asia #28, 1993.
Cetakan Pertama, Januari 1996. Terjemahan: Hersri S. Kulit Muka: Amir Sjarifuddin, karya Henk Ngantung. Penerbit: Jaringan Kerja Budaya. PO Box 6438 JATGD. Jakarta 13064

The Political Iconology of the Indonesian Postage Stamp (1950- 1970)’ Jacques Leclerc

An ideological problem of Indonesian trade unionism in the sixties : “Karyawan” versus “buruh”- Jacques Leclerc

simak pula

Esai Bibliografi Ringkas Tentang Partai Komunis Indonesia (PKI)

simak 1500 ‘entry’ lainnya pada link berikut

Daftar Isi Perpustakaan Genosida 1965-1966

Road to Justice : State Crimes after Oct 1st 1965 (Jakartanicus)

13047818_10209343119272764_8338060706038815101_o
13043485_10209343122352841_1135692553504633931_n (1)

Definisi yang diusulkan D. Nersessian (2010) untuk amandemen/ optional protocol Konvensi Anti-Genosida (1948) dan Statuta Roma (2000) mengenai Pengadilan Kejahatan Internasional. (disalin dari Harry Wibowo)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s