Kisah Ibu Mudjiati (Mujiati) : Dari Pemuda Rakyat, Fitnah Lubang Buaya, Siksa Penjara, Mawar Merah Hingga Salam Harapan

cover foto : screenshot dari filim Lagu Untuk Anakku (terlampir)

DERAP sepatu lars tentara bersenjata lengkap memecah sepinya malam di rumah Mudjiati, Slipi, Jakarta Barat, pada bulan-bulan terakhir 1965.

Gerombolan orang bersenjata mendobrak pintu rumah dan langsung mengumpulkan Mudjiati sekeluarga ke sebuah ruangan, termasuk sang ayah.

“Kami mencari alat pencungkil mata, kalian simpan di mana?”

“Tidak ada alat itu di sini,” jawab ayah Mudjiati.

“Kamu jangan bohong! Bawa sini alat yang dipakai mencungkil mata jenderal kami di Lubang Buaya, cepat!”

“Ayah saya jujur, tidak ada alat itu. Lubang Buaya itu di mana?” jawab Mudjiati kepada tentara.

Malam itu, ayah Mudjiati dibawa oleh tentara. Selang dua pekan, tentara datang lagi. Kali ini mereka membawa Mudjiati yang baru berusia 17 tahun.

“Kamu ternyata anggota Pemuda Rakjat ya, ayo ikut!”

****

Sebelum dipindah ke Plantungan, Mudji ditempatkan di blok dapur Penjara Bukit Duri. Artinya, sehari-hari dia harus berurusan dengan sektor domestik: memasak dan menyiapkan makanan bagi sesama tahanan.

Untuk urusan bahan baku makanan, tahanan di Bukit Duri kerap mendapatkan kiriman sayur dari Rumah Tahanan Chusus (RTC) Salemba, Jakarta Pusat—tempat khusus bagi tahanan lelaki.

Tahanan lelaki dari RTC Salemba yang mendapat jatah mengirim bahan baku juga kerap dimintakan bantuan untuk urusan kelistrikan di RTCW Bukit Duri.

Mudji mengenal satu tahanan lelaki yang kerap mengantar bahan makanan ke Bukit Duri. Mudji memanggil lelaki itu dengan sebutan ‘Mas Kakang’.

Cinta di antara keduanya tumbuh karena mereka sering bekerja bersama seperti menggotong bayam dari mobil ke dalam penjara. Juga karena Mas Kakang kerap diminta bantuan untuk mengurusi  listrik dan tata suara untuk acara kesenian di penjara Bukit Duri.

Suatu waktu, Mudji yang sedang berkegiatan di dalam penjara, tiba-tiba dipanggil oleh kepala blok. Dalam genggaman tangan si kepala blok, ada setangkai mawar berwarna merah.

“Kamu dapat mawar,” kata kepala blok berbisik kepada Mudji.

“Dari siapa pak?”

“Mas Kakang kamu itu. Dia tadi memetik mawar di depan sana. Dia menitipkan ke saya, katanya buat kamu.”

Tahanan yang lain dihinggapi kehebohan karena mawar itu. Salah satu tahanan bernama Sri Sulistyawati, menulis puisi berjudul Mawar Merah.

Lalu, Zubaidah Nungtjik memberikan notasi untuk kemudian menjadikan puisi itu sebagai lagu. Bersama-sama, tahanan sering menyanyikan lagu itu di dalam penjara, yang kerap membuat pipi Mudji memerah karena malu sekaligus bangga.

Namun, kisah cinta Mudji dan Mas Kakang tak seindah lagunya. Sebab, tak lama setelah menerima mawar, Mudji dipindahkan ke Kamp Plantungan.

Di rumah tahanan bekas tempat penampungan para penderita penyakit lepra pada masa kolonial Belanda itu, sepucuk surat datang dari Mas Kakang teruntuk Mudji.

Sebait kalimat dalam surat itu berbunyi: Mudji, maaf saya tidak bisa menunggu kamu, saya sudah menikah.

simak selengkapnya Lagu dari Balik Penjara Perempuan, Nyanyian Sunyi Dialita – suara.com

In Defiance: Voices of Torture Survivors, Mujiati

G30S: Perempuan penyintas 65 dan napak tilas pengasingan di Kamp Plantungan (Video)

G30S: Cerita penyintas 1965 yang ‘diasingkan’ di kamp khusus tapol perempuan Plantungan, ironi ‘hidup di alam bebas tapi terkungkung kawat berduri’

Nomor 358 menjadi identitas Mudjiati selama di Kamp Plantungan

Lagu Untuk Anakku – Setiap Tragedi Menyisakan Nyeri, Tapi #MusikMenguatkan
Dokumenter | Indonesia | 99 Menit

simak kisah Ibu Mudjiati, Ibu Uchikowati Fauziah, Ibu Utati, Ibu Nasti dan Ibu-ibu Dialitia lainnya

simak pula

Mengalirkan dan Merawat Harapan – Konser Lagu untuk Anakku (Songs of Survivor)

PADUAN SUARA DIALITA : SALAM HARAPAN PADAMU KAWAN 

Salam Cinta dan Harapan dari Taman Bunga Plantungan : Persembahan Indah Zubaedah Nungtjik AR, Mia Bustam, Sri Kayati, Rusiyati, Nurcahya. dkk

Kisah Paduan Suara Dialita di Layar Kaca : Lewat Lagu Kami Bercerita (DAAI TV); Rising From Silence (NHK World) 

Lagu yang Tak Lagi Bisu – Kick Andy Show (Kisah Paduan Suara Dialita, Kisah-kisah Dari Balik Jeruji Penjara Tapol ‘1965

Onak dan Tari di Bukit Duri – Kisah Utati Perempuan Penyintas 1965 #Utati 

Podcast ‘1965 Setiap Hari’ #1965SetiapHari : Jalan Menuju Kedamaian bersama Uchikowati Fauzia, Penyintas Tragedi HAM 1965/66 dan Anggota PS Dialita. 

Taburan Kebaikan di Antara Kejahatan, Seri Perempuan Penyintas ’65 karya Magdalena Sitorus *berdasar kisah Uchikowati Fauzia 

Simak 1500 ‘entry’ lainnya pada link berikut

Daftar Isi Perpustakaan Genosida 1965-1966

Road to Justice : State Crimes after Oct 1st 1965 (Jakartanicus)

13047818_10209343119272764_8338060706038815101_o
13043485_10209343122352841_1135692553504633931_n (1)

Definisi yang diusulkan D. Nersessian (2010) untuk amandemen/ optional protocol Konvensi Anti-Genosida (1948) dan Statuta Roma (2000) mengenai Pengadilan Kejahatan Internasional. (disalin dari Harry Wibowo)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s