[Tinjauan Buku] G30S 1965, Perang Dingin, dan Kehancuran Nasionalisme; Pemikiran Cina Jelata Korban Orba – Tan Swie Ling (2010)

simak pula Tan Swie Ling :”Riungan dan Tegar Hati, Bekal Bertahar di Tengah Kegilaan”* lGenosida Politik 1965-1966

Meskipun buku ini berangkat dari pengalaman hidup Tan Swie Ling, seorang eks tapol G30S, tetapi penulis tidak cerita sedikit pun tentang orangtua, tempat kelahiran, sekolah, aktivitas-aktivitas politiknya ketika masih muda, dsb. Riwayat hidupnya “dimulai” pada 1 Oktober 1965, ketika dia dapat berita tentang G30S. Saat dia harus mulai sembunyi dan membantu mencari tempat aman untuk Ketua PKI terakhir, Sudisman.

Lantas akhir tahun 1966, keduanya ditangkap karena dikhianati Ketua Komisi Verifikasi PKI dan anggota CC, Sujono Pradigdo yang takut disiksa. Selama 13 tahun, dia dipenjara sambil disiksa secara buas dan sadis. Setelah lepas, dia–seperti eks tapol lainnya–harus mengalami segala macam penghinaan, diskriminasi, ancaman dan pemerasan. Tetapi dia tak patah hati, otaknya tidak ambruk, semangat dan disiplinnya tetap utuh. Dan inilah refleksinya atas G30S, awal dari kehancuran nasionalisme Indonesia dan Indonesia itu sendiri.

Testimoni

Di sini mungkin sebaiknja saja katakan bahwa bahasa Indonesianja Pak Tan bagus banget. Prozanja djelas, tidak ber-tele2, tanpa jargon, berbunji enak kalau dibatjakan, dan logis. Diselingi djuga dengan metafora2 jg sederhana tetapi segar dan kadang2 lutju. Ada masuk beberapa njanjian komplit dengan not2nja, plus beberapa kata2 Djawa atawa Sunda. Gajanja halus, tanpa genit2an a la Tempo, dan mungkin ini paling penting, memilukan hati pembatja. Kalau saja sendiri, ketika menikmati buku ini setelah batja banjak artikel di koran dan terima banjak imel bergaya SMS. Rasanja seperti minum air putih dingin jang baru turun dari pegunungan, setelah dipaksa minum 10 botol Miranda berturut-turut. – Ben Anderson

dari Jendela Buku Komunitas Bambu

Menurut Hilmar Farid, direktur Institute Sejarah Sosial Indonesia yang menjadi salah satu pembicara, tidak terkesan unsur dendam dari buku setebal 578 halaman tersebut. “Sudah habis-habisan disiksa, habis-habisan dilecehkan, tapi komitmennya akan Indonesia tidak berubah. Ini sikap yang langka,” ujarnya dalam diskusi

Diskusi Buku Soal G30S Dipadati Pengunjung – tempo.co

“Peristiwa G-30-S tidak akan terjadi bila tidak ada Perang Dingin yang membuat pihak asing datang ke Indonesia untuk mencari tokoh-tokoh penting sebagai wayang,” kata Tan Swie Ling, salah seorang saksi hidup akibat G-30-S, Rabu (8/12/2010) di Auditorium Perpustakaan Nasional RI, Jalan Salemba Raya, Jakarta Pusat.

Tidak Hanya PKI, Nationalism Juga Hancur – kompas.com

Semua komponen bangsa Indonesia yang menghendaki kesembuhan semua luka (akibat G-30-S) harus berhenti berendam dalam kubangan lumpur dendam dan kebencian yang tidak masuk akal.”

Demikian disampaikan Tan Swie Ling dalam kata sambutan seusai peluncuran buku karyanya berjudul G30S, Perang Dingin dan Kehancuran Nasionalisme; Pemikiran Cina Jelata Korban Orba, Rabu (8/12/2010) di Auditorium Perpustakaan Nasional RI, Jalan Salemba Raya, Jakarta Pusat.

G-30-S. Mari Hentikan Dendam dan Benci – kompas.com

REVIEW: Perang Dingin & Kehancuran Nasionalisme: Pemikiran Cina Jelata Korban Orba –ELIZABETH CHANDRA

embaca buku karangan Tan Swie Ling ini merupakan sebuah tantangan. Dari judulnya saja, pembaca bisa mengintip topik yang yang selalu kontroversial. Juga, tebalnya yang hampir 600 halaman, bikin pembaca langsung mengerti buku ini bukan bacaan ringan pengantar tidur. Diperlukan kecermatan dan terutama kesabaran untuk menelusuri kembali pertikaian (ideologi maupun fisik) 1965 dari sudut pandang salah seorang korbannya. Walaupun Tan berhasrat besar mengajak pembaca untuk menengok kembali serangkaian peristiwa yang sering diringkas sebagai “G30S” dari sudut pandangnya, sayang sekali ia tidak menjelaskan darimana seorang “Tan Swie Ling” datang dan di mana posisinya dalam Partai Komunis Indonesia yang mati-matian dibelanya. Tan hanya menggambarkan dirinya sebagai seorang “Cina jelata korban Orba.” Jadi, Tan bukan semata korban karena ke-PKI-annya, tapi juga karena ke-Cina-annya. Kemajemukan pengalaman sebagai korban inilah yang menjadi latar belakang pengaturan buku menjadi dua bagian: Bagian Pertama tentang hal-hal seputar G30S dan efeknya, dan Bagian Kedua berisi renungan akan keadaan dan situasi orang Tionghoa di negara Indonesia merdeka. 

simak pula Tan Swie Ling :”Riungan dan Tegar Hati, Bekal Bertahar di Tengah Kegilaan”* lGenosida Politik 1965-1966

buku lainnya

[Kutipan Buku] Prakata & Daftar Isi : Masa GelapPancasila by Tan Swie Ling

Simak 1500 ‘entry’ lainnya pada link berikut

Daftar Isi Perpustakaan Genosida 1965-1966

Road to Justice : State Crimes after Oct 1st 1965 (Jakartanicus)

13047818_10209343119272764_8338060706038815101_o
13043485_10209343122352841_1135692553504633931_n (1)

Definisi yang diusulkan D. Nersessian (2010) untuk amandemen/ optional protocol Konvensi Anti-Genosida (1948) dan Statuta Roma (2000) mengenai Pengadilan Kejahatan Internasional. (disalin dari Harry Wibowo)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s