Sekretariat Bersama ’65 (Sekber 65) Mendorong Rekonsiliasi di Tingkat Lokal, Memulihan Martabat Kemanusiaan

cover foto sumber Prahara – KSB sekber65.org

Sekber’65 merupakan wadah perjuangan korban tragedi 65/66 guna mewujudkan penyelesaian pelanggaran HAM berat masa lalu melalui mekanisme rekonsiliasi. Sekber’65 (Sekretariat Bersama’65) berdiri sejak tahun 2005.

Visi  : Mengungkap Kebenaran, Menuju Keadilan, Meraih Kesejahteraan.

Misi : Mewujudkan pengakuan negara terhadap terjadinya pelanggaran HAM berat tragedi 1965/1966.

Winarso (Koord. Sekber 65): Mereka yang Mendiskriminasi, Tidak Tahu tentang Apa yang Mereka Lakukan

Upaya Sekber 65 Lakukan Rekonsiliasi Kasus HAM di Tingkat Lokal – tirto.id

Koordinator Sekber 65 Winarso mengatakan, institusinya lebih menekankan rekonsiliasi dalam menyelesaikan tragedi kemanusiaan 1965. Pasalnya, kata Winarso, pelanggaran HAM berat 65 ini adalah kasus yang kompleks dan rumit karena terjadi hampir di seluruh wilayah Indonesia.

Kolaborasi Sekber 65 dan Ketoprak Srawung Bersama : Dari Kisah Prahara Hingga Pembelaan Bagi Korban Yang Tersisih

Ikhtiar Kebenaran dan Rekonsiliasi Kasus ’65 di Solo dan Palu – tirto.id

Melalui artikel bertajuk “Working from the Margins: Initiatives for Truth and Reconciliation for Victims of the 1965 Mass Violence in Solo and Palu” yang dimuat dalam kompilasi tulisan berjudul The Indonesian Genocide of 1965: Causes, Dynamics and Legacies (2018), peneliti Sri Lestari Wahyuningroem mendedah dua kasus perubahan strategi rekonsiliasi di tingkat lokal, yakni Sekber 65 di Solo dan SKP HAM di Palu. Ketika proses rekonsiliasi dan pelurusan sejarah mandeg di tingkat nasional, dua inisiatif ini berimprovisasi mencari keadilan di tingkat lokal. Sri Lestari Wahyuningroem adalah pengajar ilmu politik di Universitas Indonesia. Ia banyak terlibat dalam penelitian seputar kekerasan massal 1965.

Menurut Wahyuningroem, proses desentralisasi yang terjadi pasca-Reformasi membuka peluang bagi penyebaran ikhtiar menuntut kebenaran dan keadilan (truth and justice), dengan otonomi dan keterbatasannya masing-masing.

SekBer ’65 (Joint Secretariat for 1965), Central Java. A Report on the Founding and Activities of SekBer ’65: Investigating Mass Graves as Evidence for the Crimes of 1965 to 1966 

dalam Reports by Human Rights and Victim Advocacy Organisations in Indonesia: Reconciling the Violence of 1965 – Annie Pohlman . December 2013 Journal of Current Southeast Asian Affairs  (halaman 151 – 160)

unduh disini

Kisah ‘Sarjana’ Sanusi : Bersama Sekber 65 Memulihkan Martabat Kemanusiaan

kunjungi website sekber 65

simak 1500 ‘entry’ lainnya pada link berikut

Daftar Isi Perpustakaan Genosida 1965-1966

Road to Justice : State Crimes after Oct 1st 1965 (Jakartanicus)

14542544_1036993449746974_4443364972569517121_o
13047818_10209343119272764_8338060706038815101_o
13043485_10209343122352841_1135692553504633931_n (1)

Definisi yang diusulkan D. Nersessian (2010) untuk amandemen/ optional protocol Konvensi Anti-Genosida (1948) dan Statuta Roma (2000) mengenai Pengadilan Kejahatan Internasional. (disalin dari Harry Wibowo)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s