[Kompilasi] Tinjauan – Resensi Novel Lasmi karya Nusya Kuswantin

Prolog : Lasmi, Sebuah Perjumpaan

Kutemukan Lasmi di Dalam Lukisan Andreas Iswinarto*

*tukang gambar dan kini juru kunci #PerpustakaanOnlineGenosida65_66

Sosok perempuan itu seolah mewakili tokoh novel “Lasmi” yang saya tulis tahun 2009. Dengan rambut panjang menjuntai, jatuh ke depan mengikuti posisi kepala yang tertunduk lunglai, wajahnya tersembunyi.

Sapuan warna gelap latarnya, dan merah darah yang mencekam.

Menemukan Lasmi di dalam lukisan itu, saya tercekat.

Di rumah pematung Dolorosa Sinaga di dekat Taman Mini tanggal 22 Desember 2013 itu saya memandanginya.

Lukisan di pajang di aula kecil dimana saya diundang oleh aktivis Ruth Indiah Rahayu, untuk menceritakan apa dan mengapa di balik novel saya “Lasmi”.

Ini adalah diskusi kecil dalam rangka memeringati Konperensi Perempuan Internasional sekaligus menandai selesainya aula yang baru dibangun.

Lukisan itu seolah mewakili suasana konflik batin–atau lebih tepatnya ketakberdayaan — dari tokoh novel saya yang berseting di Malang seputar tahun 1965 itu.

Perempuan yang menyerah demi perdamaiannya sendiri.

Seorang perempuan heroik, namun yang tak mampu kugali bagaimana kehidupannya yang sesungguhnya.

Karena masa itu, tahun 1965-1966, terlampau brutal, juga di kampung halaman saya.

Kurun itu adalah kebengisan yang membungkam rasa ingin tahu, kekejaman yang mengubur kebenaran sejarah.

Masa yang sungguh di luar nalar. 

Setelah perjumpaan pertama itu, ketika menyimak karya-karya Andreas Iswinarto lainnya melalui Galeri Lentera Pembebasan, saya menangkap dengan lebih jelas sapa yang ingin disampaikannya.

Tema-tema lukisannya, juga goresan dan warna yang dipilihnya, selalu saja menimbulkan rasa getir di hati saya.

Pesan itu adalah juga gugatan saya sendiri: Tentang hutang sejarah yang belum dilunasi.

Tentu saja lebih banyak menimbulkan rasa perih daripada kesan lukisan yang ceria.

Karena, adalah melecehkan kemanusiaan namanya,apabila tema-tema 1965 dilukiskan dengan nada riang-gembira.

Ya, lukisan-lukisan Andreas Iswinarto, selama empat tahun ini, adalah menyuarakan pesan yang sama: Tahun depan adalah peringatan setengah abad pembantaian.

Akankah sejarah diluruskan?

Setidaknya, negara harus mengakui, bahwa tragedi pembantaian yang menewaskan ratusan ribu anak negeri di tahun 1965 adalah kesalahan kolektif bangsa.

Terimakasih Kawan, engkau tak pernah jemu mengingatkan bangsa yang pelupa ini melalui coretan-goresanmu di atas kanvas-kanvas.

Yogyakarta, 15 September 2014

Nusya Kuswantin

Judul buku: Lasmi
Pengarang : Nusya Kuswantin
Penerbit : Kakilangit Kencana, Jakarta
Cetakan : Pertama, November 2009
Tebal buku: 232 halaman

Lasmi adalah sebuah novel suram berlatar belakang sejarah kelam Indonesia di tahun 1965. Walau sudah ada beberapa novel yang mengambil setting sejarah di masa-masa itu, novel Lasmi tetaplah menarik untuk disimak dan diapresiasi.

Kisah Lasmi diceritakan melalui tuturan Tikno, suami Lasmi yang berprofesi sebagai guru, sedangkan Lasmi sendiri di mata suaminya adalah wanita yang cerdas dan berpikiran progresif. Kegemarannya membaca buku membuat dirinya memiliki wawasan berpikir yang luas, berani melawan arus, berjuang dalam hal kesetaraan perempuan dan pria, dan memiliki cita-cita luhur untuk memajukan pendidikan dan pengatahuan warga kampungnya.

Awalnya Lasmi berjuang sendiri dengan mendirikan TK dan sekolah menjahit, namun ketika akhirnya ia mencari seorang guru jahit, ia bertemu dengan Sumaryani seorang kader Gerwani. Melalui Sumaryani lah akhirnya Lasmi ikut menjadi kader Gerwani karena di mata Lasmi Gerwani adalah organisasi perrempuan yang mempunyai cita-cita luhur seperti dirinya yaitu berjuang demi kesetaraan perempuan.

Namun siapa sangka, sebuah tragedi politik menyebabkan PKI dianggap sebuah partai yang paling bertanggung jawab terhadap Gerakan 30 September 1965. Akibatnya PKI dan organisasi bentukannya termasuk Gerwani menjadi organisasi terlarang dan harus ditumpas hingga ke akar-akarnya termasuk orang-orang yang berada di dalamnya.

dipetik dari Review Novel LASMi – H Tanzil

Review NOVEL LASMI – Cok Sawitri

Tokoh, alur dan plot, pandangan parsial mengenai fakta historis diramu dengan motif-motif tradisi dalam sistem norma Jawa pedesaan, membangun upaya komunikasi, menjelaskan kepada pembaca secara samar, keberpihakan pengarang terhadap sumber fakta historisnya, yang memang lumayan detail, tergambar ketika mengutip pidato soekarno, pada halaman 105-114; yang menjelaskan dalam pemaknaan mengenai suatu rentang waktu yang berjarak geografis antara kejadian di Jakarta dengan di pedesaan, pusat kekuasaan dengan akar rumput, bahwa tragedy politik itu, tragedy kemanusiaan, yang membadan dalam keadaan suami lasmi; menjadi suami, lelaki, ayah yang dikonstruksi dari awal hingga akhir, sebagai lapisan-lapisan, tidak ada inti, tidak ada rahasia, juga tidak ada prinsip yang tidak akan tercemar, semuanya telah dikemas dalam kerinduan akan gejolak keinginan kesetaraan antara perempuan dan lelaki; hampir berupaya mencakup segala wacana gerakan perempuan yang kini masih hangat dikampanyekan, menjadi kesatuan dengan kode-kode yang jelas bahwa kisah Lasmi yang panjang usianya 33 tahun, dipuitikan dalam tembang yang panjang sebagai penutup novel yang merupakan karya pertama Nusya Kuswantin, menarik untuk dibaca sekagilus untuk dijadikan kajian.

Nasib Perempuan yang Terpinggirkan – Sunaryono Basuki Ks

Ending Pahit dari Perjuangan Lasmi – N. Mursidi

LASMI: TANGGAPAN DEWAN PEMBACA – Gus Muh (RadioBuku)

simak pula

Dari Lubang Buaya, Aku bukan Jamilah , Penjagal Itu Sudah Mati, Pulang, hingga Merajut Harkat [Bibliografi Karya Sastra (Novel dan Kumpulan Cerpen) Yang Berlatar / Terkait Peristiwa 1965]

simak 1300 ‘entry’ lainnya pada link berikut

Daftar Isi Perpustakaan Genosida 1965-1966

Road to Justice : State Crimes after Oct 1st 1965 (Jakartanicus)

 

13047818_10209343119272764_8338060706038815101_o
13043485_10209343122352841_1135692553504633931_n (1)

Definisi yang diusulkan D. Nersessian (2010) untuk amandemen/ optional protocol Konvensi Anti-Genosida (1948) dan Statuta Roma (2000) mengenai Pengadilan Kejahatan Internasional. (disalin dari Harry Wibowo)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s