Pak Jagus, Radjalele Baru, Bersuka Ria (Sukarno), Barisan Tani Indonesia dan Hilangnya Kedaulatan Pangan Kita

ilustrasi foto Jagus (duduk) bersama istri dan anak-anaknya (sumber artikel Grace Leksana – indoprogress)

Kisah Padi Pak Jagus – historia.id

Sukarno meminta Pak Jagus mengembangkan padi jenis baru. Mengilhami lirik lagu “Bersuka Ria”. Ia ditangkap setelah peristiwa G30S.

BERSUKA RIA – SUARA BERSAMA Iringan JACK LESMANA ..(P’Dhede Ciptamas ) 

Jagus Dan Hilangnya Kedaulatan Pangan Kita – Grace Leksana

Inovasi terakhir yang tercatat dari Jagus adalah padi sawah Radjalele Baru pada tahun 1965[27]. Ia turut ditangkap bersama ratusan ribu orang lainnya yang dituduh terlibat G30S 1965. Tuduhannya tidak jelas, namun hampir pasti hal tersebut terjadi karena keterlibatannya dalam BTI. Nasibnya bisa dikatakan lebih baik, karena ia dilepaskan dalam kurun waktu kurang dari 1 tahun. Detil penahanan Jagus belum terlalu jelas. Ingatan keluarganya akan peristiwa ini masih samar, sebagian besar disebabkan karena anggota keluarganya yang masih hidup tidak berada bersama Jagus saat penangkapan terjadi. Sebagian kronologi yang terungkap hanyalah tentara datang ke rumah beliau, menangkap Jagus dan menyita buku-buku serta catatan-catatan pribadinya. Tidak ada yang tahu pasti mengapa ia kemudian dilepaskan

Ia meninggal pada 5 Oktober 1975 dan dimakamkan di Klaten. Kesehatannya semakin menurun pasca operasi prostat. Dalam ingatan keluarganya, Jagus menggunakan areal rumah dan sekitarnya untuk eksperimen padinya. Areal sawah di depan dan belakang rumahnya, serta pot-pot yang bertebaran di dalam rumahnya menjadi focus hidupnya. Sang cucu mengingat percobaan kedelai dan kapas wara-warni semasa hidup Jagus. Pasca kematiannya, percobaan Jagus sempat diteruskan oleh putrinya namun tak berhasil mengembalikan masa kejayaannya di tahun 1960an.

Beras seleksi Jagus hilang seiring dengan proyek revolusi hijau Orde Baru. Proyek ini tidak hanya menyeragamkan penggunaan bibit, pupuk dan pestisida, namun juga menghilangkan konsep kolektivitas pengelolaan benih padi. Benih padi unggulan, yang dikenal dengan IR (International Rice), diimpor dari Filipina. Tidak ada lagi pilihan bagi para petani selain menggunakan jenis ini. Jalan satu-satunya untuk mendapatkan bibit tersebut adalah membeli, hampir pasti melalui system kredit. Ide Jagus tentang sebuah kedaulatan pangan yang dibangun antara lembaga riset dengan masyarakat melalui pengelolaan kolektif kebun bibit, telah raib. Peranan masyarakat dalam riset tanaman padi pun menjadi hilang, bersamaan dengan matinya JLPKPP dan lembaga penelitian agraria lainnya. 1965 tidak sekedar menghilangkan nyawa, namun juga ide-ide yang menggerakan masyarakat.

****

Penelitian-penelitian soal produktifitas pertanian ini tak bisa dilepaskan dari nama Jagus, salah satu anggota pleno Pimpinan Pusat BTI yang juga memimpin JLPKPP. Rekam jejaknya dalam penelitian benih sejak bekerja pada onderneming (perkebunan) di era kolonial, melambungkan namnaya sebagai ahli di bidang ini. Namun komitmen ideologisnya tak perlu diragukan lagi. Dengan keahliannya, ia berupaya memberi sumbangsih bagi rakyat petani dan revolusi. Seperti disimpulkan seorang penulis, “baginya, pelipatgandaan kapasitas produksi pertanian rakyat termasuk dalam mata rantai strategi revolusi nasional Indonesia, yang tidak kalah serius dan penting dibanding masalah-masalah lainnya”. Hal ini masuk akal, mengingat di akhir tahun 1950-an hingga pertengahan 1960-an, Indonesia sedang dalam gejolak kampanye memperebutkan Irian Barat dan mengganyang “negara boneka” Malaysia. Karenanya, Jagus sudah terlibat dalam gerakan swasembada beras yang dimulai sejak 1959/1960.

disalin dari BTI dan Warisan-WarisannyaMuhammad Nashirulhaq

simak pula

AMANAT KONSTITUSI YANG TERPENGGAL : UUPA, LANDREFORM, GERAKAN TANI DAN GENOSIDA 65

Mem-PKI-kan Petani, Menjarah Tanah :Kekerasan dan Perampasan Tanah Pasca (Genosida) 1965 

[Unduh] Menilik Perjuangan Barisan Tani Indonesia, Konflik Pedesaan, Landreform dan Pembunuhan Massal (Genosida) 1965-1966 – Kajian-kajian Ben White, Andi Achdian, Gerrit Huizer, Geoffrey Robinson, Muhammad Nashirulhaq :

Sejarah Sengketa “Toean Keboen dan Koeli” (Toean Tanah dan Petani) dari Masa Kolonial, Revolusi Kemerdekaan (Sosial) Hingga ‘1965’ *Mozaik Militansi Perjuangan Politik dan Agraria Hingga Pembasmiannya di Sumatera Timur [*Sumatera Utara]

TANAH BAGI YANG TAK BERTANAH: LANDREFORM PADA MASA DEMOKRASI TERPIMPIN

Melacak Jejak Militansi Perjuangan Sarekat Buruh Perkebunan Indonesia (SARBUPRI) danKehancurannya l Genosida Politik 1965-1966

“LAKSANA MALAIKAT YANG MENYERBU DARI LANGIT JALANNYA REVOLUSI KITA” : Amanat Presiden Sukarno Tentang Revolusi, Landreform dan Kaum Tani 

Simak 1300 ‘entry’ lainnya pada link berikut

Daftar Isi Perpustakaan Genosida 1965-1966

Road to Justice : State Crimes after Oct 1st 1965 (Jakartanicus)

13047818_10209343119272764_8338060706038815101_o
13043485_10209343122352841_1135692553504633931_n (1)

Definisi yang diusulkan D. Nersessian (2010) untuk amandemen/ optional protocol Konvensi Anti-Genosida (1948) dan Statuta Roma (2000) mengenai Pengadilan Kejahatan Internasional. (disalin dari Harry Wibowo)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s