[Kompilasi Tinjauan / Resensi Buku] Memecah Pembisuan: Tuturan Penyintas Tragedi ’65-66 (Putu Oka Sukanta, Ed, 2011 Jakarta: Lembaga Kreativitas Kemanusiaan)

TUTURAN PENYINTAS, PEMECAH PEMBISUAN – FS.

*sebuah tanggapan tentang buku Memecah Pembisuan oleh FS dari Surabaya yang hadir waktu peluncuran, kemudian dilengkapi dengan data-data proses penulisan buku, oleh tim LKK. 

Kehadiran buku ‘Memecah Pembisuan’ mampu menggerakkan kesadaran masyarakat untuk rekonsiliasi, meski peluncuran buku ini bukan satu-satunya upaya yang telah ditempuh oleh para korban tragedi 65-66. Meskipun demikian, keistimewaan buku ini adalah ketika tuturan demi tuturan di dalamnya disajikan dengan lebih humanis. Selama ini, segala hal yang bersinggungan dengan tragedi 65-66 pastilah diidentikkan dengan kekejian. Namun, ‘Memecah Pembisuan’ hadir dalam balutan tutur baru, tanpa ancaman, melainkan lebih pada sebuah pengungkapan.

Konfrontasi dengan Masa Lalu – historia.id

Trauma akibat G30S bukan tak mungkin sembuh. Hanya saja, maukah kita menyembuhkannya?

Memecah Pembisuan, Membongkar Tabu: Mendengar Suara Korban Tragedi 1965 – Yoseph Yapi Taum (indoprogress)

Hal yang ingin saya sampaikan dengan cerita-cerita ini bahwa pelaku pembantaian  (perpetrators) sebenarnya juga merupakan korban (victims) dari sebuah sistem yang dibangun. Ketika pelaku kejahatan ‘diharuskan’ menjalankan perintah atasannya untuk melecehkan, merusak, membunuh, memperkosa, ataupun melakukan kejahatan terhadap korban yang dipandang sebagai liyan, selalu ada sisi kemanusiaan yang tidak bisa dibungkam. Bagi saya, ‘hukum’ ini merupakan sebuah kebenaran abadi.[2] Dalam sejarah pembantaian tentara Nazi terhadap orang-orang Yahudi, selalu ada orang seperti Schindler yang berjuang dengan berbagai resiko menyelamatkan sebanyak mungkin orang-orang Yahudi.

Perspektif semacam ini sangat jarang – untuk mengatakan tidak pernah terungkap dalam sejarah Tragedi 1965, kecuali di dalam karya-karya sastra Indonesia yang terbit tahun 1966-1970.[3] Yang ada dalam sejarah Tragedi 1965 adalah ‘penyesalan’ pelaku, seperti Sarwo Edhie Wibowo yang disampaikan Ilham Aidit. Buku Memecah Pembisuan: Tuturan Penyintas Tragedi ’65-66, yang dieditori oleh Putu Oka Sukanta ini memuat sebuah kisah ‘pertobatan’ itu. Bersama empat belas tulisan lainnnya yang diungkap dari perspektif korban Tragedi 1965, buku testomini semacam ini tentu saja sangat berharga untuk mengungkap tragedi bangsa Indonesia yang begitu dahsyat, yang saat ini cenderung diabaikan begitu saja

Buku «Memecah pembisuan» Tentang Peristiwa G30S tahun 1965 – A Umar Said (Eksil 65)

1300 ‘entry’ lainnya pada link berikut

Daftar Isi Perpustakaan Genosida 1965-1966

Road to Justice : State Crimes after Oct 1st 1965 (Jakartanicus)

13047818_10209343119272764_8338060706038815101_o
13043485_10209343122352841_1135692553504633931_n (1)

Definisi yang diusulkan D. Nersessian (2010) untuk amandemen/ optional protocol Konvensi Anti-Genosida (1948) dan Statuta Roma (2000) mengenai Pengadilan Kejahatan Internasional. (disalin dari Harry Wibowo)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s