Amrus Natalsya dan Sanggar Bumi Tarung : “…tahan semua rasa pedih itu dengan ketabahan….. ia akan menjadi mutiara bagi kerang yang luka”

tahan semua rasa pedih itu / dengan ketabahan / ia akan menjadi mutiara bagi kerang yang luka

(Amrus Natalsya – Sanggar Bumi Tarung)

*sumber foto dan teks Masyarakat Bumi Tarung : Sanggar Bumi Tarung Fans Club

Karya lukisan perupa dan pendiri SBT Amrus Natalsya “Berjuta mata sebagai saksi bisu”. Sang pelukis mengungkapkan betapa dahsyat peristiwa Tragedi Nasional 1965,disamping ribuan atau mungkin jutaan ruh korban bersayap yg melayang-layang dilangit yg enggan dan tak rela dilenyapkan secara tak wajar lewat pembantaian yg diangkut ratusan truk dibumi. Namun ribuan mata yang membentuk piramid cahaya dilangit,terutama mata “malaikat” yang menyaksikan tragedi ketidakadilan ini. Kita harapkan di masa pemerintahan Presiden Jokowi yang telah berjanji lewat Nawacitanya untuk menyelesaikan dan menuntaskan kasus-kasus pelanggaran HAM berat, termasuk perkara peristiwa tragedi kemanusiaan 1965 itu, dapat dilaksanakan secara konsisten……

“Interogasi Orde Baru”,karya perupa pendiri SBT 1961 Amrus Natalsya yg menggambarkan eskalasi pemeriksaan (interogasi) rezim Orde Baru terhadap para tapol peristiwa “Tragedi Nasional 1965″……

Dokumentasi Audio: Diskusi Buku “Amrus Natalsya dan Sanggar Bumi Tarung”

Transkrip: Wawancara dengan Amrus Natalsya & Misbach Tamrin Tentang Sanggar Bumi Tarung oleh Utari Dewi Narwati – Yayasan Seni Cemeti

Amrus Natalsya Mutiara Dari Bumi Tarung Oleh EZ Halim

jendela buku dan sumber foto : https://ebooks.gramedia.com/id/buku/amrus-natalsya-mutiara-dari-bumi-tarung

Melawan Lupa – Para Maestro di Kiri Jalan

PERJALANAN BUMI TARUNGBumi Tarung hadir menerabas semak belukar kekuasaan yang menggelar pragmatisme, pedangkalan dan komoditisasi kebudayaan. Ia hadir untuk mengingatkan Indonesia pernah memiliki kebudayaan yang tidak untuk dijual, tetapi untuk melindungi rakyatnya. Semboyan “Politik sebagai panglima” dibawakannya bukan untuk menabuh genderang politik tahun 60-an. Bukan untuk menjadi mercusuar gerakan rakyat demi merapatkan barisan menyingkirkan kekuatan lama menyambut bangkitnya kekuatan baru. Melainkan ia hadir mengarungi “lautan oblivia” melawan pelupaan…….(Agung Putri Astrid,dlm pengantar buku “Tetap Bumi Tarung”).

Ini lukisan perupa SBT Amrus Natalsya yang berjudul “Kawan-kawanku” (1958),sebuah karya lamanya yang telah menjadi koleksi Bung Karno.

JENDELA TERBUKALima puluh tahun jendela ini terbukaPagi malam menghadap bulan dan matahariTempat cahaya masuk menghangati rumahDan angin membawa wangi kembang melatiLima puluh tahun jendela ini terbukaDi dalamnya ada aku dan isterikuJuga anak kami yang masih kecil Di dinding ada sajak Agam Wispi, tentang LatiniAda sajak Klara Akustia, “Sebutkan segala penjara itu adalah Aku”Ada sajak paman Ho Chi Minh “Tunggu aku masih sibuk berperang”Ada sketsa poster tua karya Affandi “Boeng Ajo Boeng!”Juga ada sketsa lukisan “Peristiwa Djengkol”,”Marsinah” dan “Munir”.Lima puluh tahun telah berlaluSajak dan sketsa itu masih ada  Lido, 15 September 2011 Amrus Natalsya “Perjalanan Bumi Tarung” (oil on canvas,200x476cm,2011) karya perupa SBT Amrus Natalsya,selama setengah abad sejak berdirinya th 1961 di Yogyakarta SBT berpacu mengarungi kehidupan 3 zaman (orde lama,orde baru,dan reformasi),lewat berbagai tantangan peralihan sistem kekuasaan dan korban-2 hak azasi kemanusiaan yang jatuh,iapun tetap mempertahankan keberadaan (eksistensi) nya dengan tegar hingga kini dalam sejarah…………..

*Catatan Sanggar Bumi Tarung adalah kolektif seniman Jogjakarta yang merupakan anggota Lekra

Turba Bumi Tarung

Turba adalah garis masa yang coba memberikan jalan kepada para perupa untuk mendengar denyut dan merasakan langsung kehidupan masyarakat basis dengan membawa semangat emansipasi yang terangkum dalam “tiga sama”. Bekerja bersama , makan bersama, dan tidur bersama.

Sebagai metode kerja penciptaan, turba menjadi metode yang di bakukan oleh Lekra dalam segala penciptaan yang semangati konsep bahwa sumber kreasi adalah realitas yang mesti di gali dan dialami, bukan ilham yang sekonyong-konyong datang pada tengah malam, sewaktu si perupa duduk-duduk di kursi sambil mengintip bulan bersinar teduh.

Demikianlah turba menjadi semacam gerakan dalam tradisi penciptaan seniman Lekra yang di adakan secara terencana dan berkelompok. Sejak kongres Lekra di Solo, turba di lakukan oleh beberapa perupa, antara lain Gempa Langit Jawa Tengah, Bumi Tarung Yogyakarta, Maris Jawa Barat dan Mawar Merah Sumatera Utara (Lekra, 2008: 316).

Turba dalam pandangan Bumi Tarung menjadi  jawaban atas bencana social dalam sejarah yang di sebabkan oleh distori kepemilikan bersama atas alat produksi (tanah dan tenaga kerja manusia). Pameran pertama SBT terjadi pada media 1962 di Jakarta, merupakan hasil kristalisasi Turba itu. Umumnya karya yang di pamerkan adalah hasil dua bulan melakukan “tiga sama” di pantai Trisik, Wates, Yogyakarta. Dibantu Barisan Tani Indonesia (BTI), mereka merekam dan membantu secara ekstensif perjuangan kaum tani dalam melawan ketidak adilan dan penindasan tuan tanah yang di sokong apparatus militer. Salah satu karya legendaris yang merekam peristiwa itu di hasilkan oleh Djoko Pekik, Tuan Tanah Kawin Muda. Esai Literer Misbach Tamrin berjudul Trisik, yang menggambarkan peristiwa mendebarkan tersebut, bisa di simak dalam HR Minggu, 2 Agustus 1964 (Laporan dari bawah: Himpunan Cerpen Lekra, 2008: 224)

 selengkapnya 49 Tahun Realisme Bumi Tarung – Muhidin M Dahlan

75256_10150826492847938_495391522_n

Amrus Natalsya ” Peristiwa Djengkol” (cat minyak,200 x 120 cm,1961).Karena dari sekian banyak peristiwa kekerasan yang menimpa nasib kaum perempuan Indonesia dalam sejarah,termasuk dalam tragedi pembantaian para petani oleh aparat penguasa di lahan tanah pabrik gula Ngadiredjo Djengkol (Jawa Timur) pada Nopember 1961,telah tewas Latini seorang ibu yg sedang hamil dan Sundarjati telah kehilangan sebelah matanya kena tembakan. sumber Masyarakat Bumi Tarung; Sanggar Bumi Tarung Fans Club

 

381627_10150452363922938_1368408482_n

“Menggenggam bendera” (oil on canvas, 476×200 cm),salah satu karya perupa SBT Amrus Natalsya dalam pameran Ultah ke-50 SBT di Galnas 22 September hingga 2 Oktober 2011 yl. Tema lukisan ini mengenangkan si perupanya bersama kawan-kawannya melakukan turba di daerah transmigrasi yg minus di kawasan propinsi Lampung pada tahun 1963-1964, sambil mengerjakan monumen patung kayu “Revolusi Agustus 1945” buat hotel Des Indes. Menggambarkan peristiwa saat perayaan hari proklamasi 17 Agustus 1945 disana, dimana para anak-anak SD bergelimpangan pingsan sambil menggenggam bendera merah putih, karena kondisi kesehatan mereka yang kekurangan gizi,menderita penyakit busung lapar dan malaria. Itulah suatu tanda kondisi masyarakat yang membuktikan bahwa revolusi belum selesai………….. sumber Masyarakat Bumi Tarung; Sanggar Bumi Tarung Fans Club

Amrus dan Perkumpulan Seniman Petarung – Wahyu Arifin

“Membabi-buta kejam sekali, saudara sendiri diperlakukan semena-mena. Putus dan dibalik Kebenaran. Kami dijadikan penghianat bangsa. Boleh dimatiin seperti anjing liar di jalanan.” (Puisi Dua Puluh Satu, Amrus Natalsya)

Sang Petarung – tempo.co

biografi dan kompilasi karya (ringkas)

Amrus Natalsya

http://archive.ivaa-online.org/pelakuseni/amrus-natalsya

Dokumentasi Audio: Diskusi Buku “Amrus Natalsya dan Sanggar Bumi Tarung”

Transkrip: Wawancara dengan Amrus Natalsya & Misbach Tamrin Tentang Sanggar Bumi Tarung oleh Utari Dewi Narwati – Yayasan Seni Cemeti

The End of Amrus Natalsya Partiality Aesthetic? – Mahardhika Yudha

Mahardika Yudha wrote this essay as a curatorial essay for the Solo Exhibition of Amrus Natalsya “Terakhir, Selamat Tinggal, dan Terima Kasih.” (roughly translated as “The Last One, Goodbye, and Thank you.”) which was held from 15 to 23 July 2019 at the Galeri Cipta 2 – Taman Ismail Marzuki (-Red.)

simak pula

Sanggar Bumi Tarung : Berjuta mata sebagai saksi bisu [pameran online] / Genosida Politik 1965-1966

Sanggar Bumi Tarung : Berjuta mata sebagai saksi bisu [pameran online] / Genosida Politik 1965-1966

Sanggar Bumi Tarung : Berjuta mata sebagai saksi bisu [pameran online] / Genosida Politik 1965-1966

anggota SBT lainnya

[Memoar Misbach Tamrin] KERJA MANUSIA DAN MATAHARI -Sudut-sudut Cerita Masa Silam (bagian I) l Genosida Politik 1965-1966

[Memoar Misbach Tamrin] KERJA MANUSIA DAN MATAHARI -Sudut-sudut Cerita Masa Silam (bagian II) l Genosida Politik 1965-1966

Kisah Djoko Pekik, Celeng dan Lintang Kemukus 1965 *Anggota Sanggar Bumi Tarung 

Jejak Pelukis Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat) :  Biografi Ringkas dan Karyanya

Indonesian Visual Art Archive on Massacre 1965-1966 – Arsip Seni Visual Genosida 1965-1966 

simak 1100 ‘entry’ lainnya pada link berikut

Daftar Isi Perpustakaan Genosida 1965-1966

Road to Justice : State Crimes after Oct 1st 1965 (Jakartanicus)

13047818_10209343119272764_8338060706038815101_o
13043485_10209343122352841_1135692553504633931_n (1)

Definisi yang diusulkan D. Nersessian (2010) untuk amandemen/ optional protocol Konvensi Anti-Genosida (1948) dan Statuta Roma (2000) mengenai Pengadilan Kejahatan Internasional. (disalin dari Harry Wibowo)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s