Penyair, Penulis, Sosialis Militan Henriette Roland Holst (Tante Jet) dan Perjuangan Kemerdekaan Indonesia

cover foto screen shot dari film biografi Henritte Rolland Holst Droom & Daad 

Puisi dan Perjuangan Tante Jet untuk Indonesia – tirto.id

Selain melalui sajaknya, dukungan Henritte Rolland Holst alias Tante Jet bagi pergerakan nasional Indonesia juga dirasakan secara nyata di mata orang-orang Perhimpunan Indonesia macam Hatta, dkk.

Dalam buku berjudul Boven Digoel yang ditulis Schoonyet (1936), terlampir foto makam dari Aliarcham. Terlihat kuburnya sedang dijaga seekor anjing. Kuburnya juga diberi pondok dengan corak palu-arit (lambang PKI) dan sebait sajak yang begitu legendaris dalam dunia pergerakan nasional.

Bagi kami kau tak hilang tanpa bekas

Hari ini tumbuh dari masamu

Tangan kami yang neneruskan

Kerja agung jauh hidupmu

Kami tancapkan kata mulia

Hidup penuh harapan

Suluh dinyalakan dalam malammu

Kami yang meneruskan sebagai pelanjut angkatan

Sajak itu adalah milik Henriette Roland Holst yang biasa disapa Jet. Orang Indonesia suka memanggilnya Tante Jet. Seorang perempuan belanda sosialis dan religius. Sajak Henriette Rolland Holst juga pernah ditemukan di kantong seorang pejuang yang gugur dalam peristiwa Lengkong bernama Subijanto, paman dari politisi Prabowo Subianto. Bunyi sajak itu: Kami bukan pembangun candi/Kami hanya pengangkut batu/Kami angkatan yang mesti musnah/Agar menjelma angkatan baru/Di atas pusara kami/Lebih sempurna.

disalin dari Historia.id darisumber primen buku Boven Digoel

**Alkisah Foto Jenazah dan Nisan Aliarcham (yang menerakan puisi Tante Jet )

tentang Aliarcham

Aliarcham : Kita terima pembuangan ini sebagai Resiko Perjuangan (Boven Digoel) [Sejarah Yang Dihilangkan]

Henriëtte Sang Induk Ayam Belanda yang Tua -historia.id

Henriëtte Roland Holst penyair dan sosialis militan Belanda yang dekat dengan pejuang kemerdekaan Indonesia. Hatta pernah minta lungsuran buku Das Kapital miliknya.

Penyair Belanda Yang Menginspirasi Pejuang-Pejuang Kemerdekaan Indonesia – berdikari.online

Soekarno banyak dipengaruhi oleh pemikiran Henriette. Risalah-risalah Sokarno yang terkenal, seperti Mencapai Indonesia Merdeka, Sarinah, dan Indonesia Menggugat, bolak-balik mengutip buku-buku dan ucapan Henriette. Bung Hatta, ketika masih di negeri Belanda, juga sangat dekat Henriette. Keduanya pernah bersama-sama menghadiri Konferensi Perempuan Internasional di Swiss tahun 1926.

Puisi Untuk Daan Mogot – AJ Susmana

Walau dikesankan anonim, kita tahu kata-kata yang ditorehkan di Tugu Peringatan Daan Mogot dan kawan-kawan itu adalah bait puisi dari penyair perempuan Belanda, Henriette Roland Holst (1869-1952) yang memang karya-karya puisinya telah banyak memberanikan para pejuang kita dalam melawan penjajahan sebagaimana juga dijadikan epitaf di nisan Ali Archam, pejuang komunis yang meninggal dalam pembuangan di Tanah Tinggi, Boven Digul, Papua 2 Juli 1933 dalam umur 32 tahun:

Pudjangga, Politik, Pemuda – Oleh: M.R. Dajoh* – dalam arsip fandyhutari.id

**Selain sebagai pengarang, Dajoh juga menjadi guru Angkatan Baru Menteng 31 di Jakarta dan di Ambonse School—sekolah anak-anak militer—di Bondowoso. Di Bondowoso ia bersua Domine Jensen, seorang kepala gereja yang mencintai sastra. Jansen memuji sajak-sajak Dajoh karena mahir menulis syair dalam bahasa Belanda, meski belum pernah ke Belanda. Atas saran Jansen, ia berkenalan dengan Henriette Roland Holst, seorang pengarang sosialis Belanda, yang kemudian membimbingnya lewat surat-menyurat. Dajoh kerap menulis sajak bertema kemiskinan rakyat.

biografi ringkas 

SCHALK, Henriette Goverdine Anna van der – socialhistory.org

known as Henriette Roland Holst

‘Auntie Yet’ and Humanity – dbnl.org
The Internationalism of Henriette Roland Holst

Nomination Archive for Nobel Prize – Henriette Roland Holst van der Schalk

Salah Satu Buku Henriette Roland Holst Kapitaal En Arbeid In Nederland

Henriette Roland-Holst

The Artist and the Revolution

Being An Open Letter to Maxim Gorky

On This Day: 3 July 1905: A Letter on the Russian Revolution

On 3 July 1905, Rosa Luxemburg wrote to her friend Henriette Roland Holst, a leading figure in the Dutch Social-Democratic Workers’ Party (SDAP). She described her feelings about the Russian Revolution, which had erupted across the Russian Empire after the Bloody Sunday Massacre of 22 January. Later that year, Luxemburg herself returned to her native Poland and led revolutionaries in Warsaw. Her friend Karl Kautsky, the leading Marxist theorist, added a postscript to Rosa’s letter which echoed her sentiments.

Droom & Daad – dokumenter oleh Annette Apon (film trailer)

Henriette Roland Holst (1869-1952) bertemu dengan Lenin dan Trotsky, dan berkorespondensi dengan Rosa Luxemburg. Surat, puisi, dan pidatonya memberikan wawasan tentang dilema terdalamnya; rekaman lama membawa kita ke tahun-tahun yang penuh gejolak itu.

film trailer dengan English subtitles simak disini

Dari Balik Layar Poetess Henriette Roland Holst, documentary film

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s