Menolak Merawat Dendam : Amarzan Ismail Hamid (Amarzan Loebis) dan Sejarah 1965 Yang Berkabut

cover foto : screen shot dari video G30S 1965, Ada di Mana Kita? – Tempo Institute

Mengenang Amarzan Loebis: Amarzan dan Sejarah 1965 yang Berkabut

Obituari

Lubang Yang Ditinggalkan Amarzan – Bagja Hidayat (Koran Tempo)

Amarzan Loebis (1941-2019) – Bagja Hidayat

Amarzan Loebis (1941-2019) – Goenawan Mohamad

Amarzan Loebis Tak Mau Mengutuk Rezim yang Memersekusi Dirinya – tirto.id

Lain-lain

Sosok Amarzan Loebis Hingga Cerita Pengasingannya di Pulau Buru – foto tempo

Amarzan Ismail Hamid dan Tahun Vivere Pericoloso – Asep Sambodja

G30S 1965, Ada di Mana Kita? – Tempo Institute

Hari-hari kelam di 1965, hingga kini, terus menjadi komoditas politik. Alih-alih melakukan refleksi, peristiwa G30S 1965 selalu dijadikan topik untuk menyerang kubu yang berseberangan. Label komunis diterakan semena-mena.

Pada 2012, Tempo Institute menyelenggarakan kegiatan bertajuk “Indonesia dan Dunia pada 1959-1969”, sebuah dasawarsa yang penuh polarisasi. Tarik-menarik ideologi, rivalitas antara Amerika dan Uni Sovyet, berebut mewarnai dunia. Indonesia berada di tengah pertarungan dan tarik-ulur itu.

Tarik-ulur itu semakin parah dengan adanya permainan politik, perebutan kekuasaan, yang berujung pada pecahnya peristiwa berdarah Gerakan 30 Septembner 1965. Tak kurang dari 500 ribu nyawa melayang, tanpa pengadilan yang layak. Baru ketika Gus Dur menjadi Presiden RI, 1999-2001, pemerintah meminta maaf pada para korban G30S, pada orang-orang yang dibunuh begitu saja tanpa pengadilan, dan pada stigmatisasi komunis di sepanjang masa Orde Baru.

Dalam video ini ada Amarzan Loebis, wartawan senior Tempo, yang mendekam di penjara Pulau Buru selama 11 tahun hanya karena Amarzan ketika itu adalah wartawan Harian Rakyat yang dekat dengan Presiden Sukarno. “Soeharto merampas usia produktif saya,” kata Amarzan, “Saya ditahan pada umur 27, dibebaskan saat saya umur 39.”

Amarzan menolak merawat dendam. “Saya tak mau mengutuk rezim yang membekap saya, supaya saya tetap lebih baik dari mereka. Saya berusaha meredam dendam, juga penyesalan.” Tapi, jangan kita melupakan sejarah, kita mesti berpikir kritis. Tidak gampang terbawa hasutan.

Nani Nurachman, putri Jenderal Sutoyo, salah satu pahlawan revolusi yang gugur pada G30S, juga berpendapat pentingnya mengatasi trauma sosial akibat G30S. Nani mengenal kedua pihak yang berseteru. “Trauma keduanya tak bisa dipertandingkan. Kita yang harus bersikap, berusaha keluar dari trauma sosial itu,” kata Nani. “Lagipula, siapakah korban? Bukankah kita semua adalah korban? Bahkan sampai generasi sekarang.”

Nani mengajak kita mengambil pembelajaran dari apa yang sudah kita lalui bersama, kemudian bersama mengambil langkah menghapus dan menyembuhkan trauma sosial. “Kalau bukan kita yang melakukan, lalu siapa? Kalau bukan sekarang, kapan lagi?”

Video ini dibuat Tim Tempo Institute, dengan sutradara Michael Matthew, Bramantya Basuki, dan supervisi Mardiyah Chamim.

Tjidurian 19: Rumah Budaya yang Dirampas

simak kisah-tuturan Amarzan dalam film ini

simak 1100 ‘entry’ lainnya pada link berikut

Daftar Isi Perpustakaan Genosida 1965-1966

Road to Justice : State Crimes after Oct 1st 1965 (Jakartanicus)

13047818_10209343119272764_8338060706038815101_o
13043485_10209343122352841_1135692553504633931_n (1)

Definisi yang diusulkan D. Nersessian (2010) untuk amandemen/ optional protocol Konvensi Anti-Genosida (1948) dan Statuta Roma (2000) mengenai Pengadilan Kejahatan Internasional. (disalin dari Harry Wibowo)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s