Dari Raden Ajeng, Ibu Kita Kartini Hingga Panggil Aku Kartini Saja : Kartini Dalam Lanskap Politik dan Historiografi Indonesia

SERIAL KONTROVERSI KARTINI – Zen Hs

Serial esai itu hendak mendiskusikan kembali posisi Kartini dalam lanskap historiografi Indonesia. Premis dari serial esai itu adalah: Kartini sudah mati, tapi wacana tentang Kartini terus menerus direproduksi berdasarkan kepentingan zaman dan kekuasaan. Saya mencoba memaparkan bagaimana wacana tentang Kartini direproduksi di zaman kolonial, zaman Sukarno dan zaman Orde Baru secara berbeda dan dengan itulah Kartini hadir secara berbeda-beda di setiap zaman.

 

Bagian 1: KARTINI BUKAN PAHLAWAN

Bagian 2: KARTINI “BIKINAN” BELANDA

Bagian 3: KARTINI “MENJADI” GERWANI

Bagian 4: KARTINI SEBAGAI “KUNTILANAK WANGI”

Kartini Berapi – Muhidin M Dahlan

Saya tidak tahu seberapa besar keterlibatan langsung gerakan Kiri dalam pengukuhan Kartini sebagai “Pahlawan Nasional”. Yang saya tahu koran/majalah Kiri semacam Harian Rakjat, Bintang Timur, Warta Bhakti, dan tentu saja Api Kartini, sejak tahun 1960 habis-habisan mempromosikan tanggal 21 April sebagai Hari Kartini.

Tiga tahun sebelum Kartini jadi “Pahlawan Nasional”, eseis Lekra Pramoedya Ananta Toer memimpin tim kerja penyelidikan “sedjarah Kartini jang objektif-revolusioner”. Kisah tim kerja ini memburu data dituturkan Hersrat Sudijono secara detail dalam “Dari Bumi Kehidupan Kartini” (1964). Tim kerja ini bolak-balik Blora-Jepara-Rembang-Solo-Semarang untuk wawancara dan menggali dokumen untuk menghidupkan api dalam kehidupan Kartini.

Hasilnya, dua jilid buku atas nama Pramoedya Ananta Toer dan dibubuhi judul Panggil Aku Kartini Sadja (NV Nusantara, 1962). Buku ini kemudian menjadi buku pegangan utama tafsir orang-orang Kiri atas Kartini.

Tak hanya Lekra yang menghidup-hidupkan Kartini. Bahkan salah satu famili ideologis PKI, Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) menabalkan nama Kartini menjadi majalah resminya sejak 1959. Namanya: Api Kartini. Rubrik “Pertjikan Api Kartini” disediakan secara khusus.

Pengantar Buku : Panggil Aku Kartini Saja – Pramoedya Ananta Toer

 

Pengantar Hurustiati Subandrio

Pengantar Penulis

Kartini Di Akhir Abad : Sebuah Relikwi atau Inspirasi – Ruth Indiah Rahayu

Tinjauan Buku Panggil Aku Kartini Saja – Zen RS

Menjadi Perempuan Indonesia di Bulan April

Ester Arinamy Haloho dan Ann Putri

Politik Dibalik Hari Kartini – arahjuang

 

Api Kartini Dalam Pergerakan Perempuan Indonesia Masa Kini – Alnick Nathan

Simak 1400 ‘entry’ lainnya pada link berikut

Daftar Isi Perpustakaan Genosida 1965-1966

Road to Justice : State Crimes after Oct 1st 1965 (Jakartanicus)

14542544_1036993449746974_4443364972569517121_o

13047818_10209343119272764_8338060706038815101_o13043485_10209343122352841_1135692553504633931_n (1)

Definisi yang diusulkan D. Nersessian (2010) untuk amandemen/ optional protocol Konvensi Anti-Genosida (1948) dan Statuta Roma (2000) mengenai Pengadilan Kejahatan Internasional. (disalin dari Harry Wibowo)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s