Cantik Itu Luka Eka Kurniawan : Membaca Kembali (Menulis) Sejarah, Kekuasaan dan Luka Dengan Pisau Realisme Magis *merentang dari masa kolonial hingga pembunuhan massal 1965-1966

ilustrasi karya a.isw ibu pertiwi (negri ngeri 1965-196)

Cantik Itu Luka – Eka Kurniawan

 

Diterbitkan oleh:

Gramedia Pustaka Utama, 2004

Diterbitkan pertama kali oleh

Penerbit Jendela dan Akademi Kebudayaan Yogyakarta, 2002

cantikituluka

Mereka dibunuh, baik oleh tentara reguler dan terutama oleh orang-orang anti-komunis yang bersenjata golok dan pedang dan arit dan apapun yang bisa membunuh, di tepi jalan dan membiarkan mayat mereka di sana sampai membusuk. Kota Halimunda seketika dipenuhi mayat-mayat seperti itu, tergeletak di selokan dan kebanyakan di pinggiran kota, di kaki bukit dan di tepi sungai, di tengah jembatan dan di semak belukar. Mereka kebanyakan terbunuh ketika mencoba melarikan diri setelah menyadari Partai Komunis hanya meninggalkan sisa-sisa reputasinya yang telah usang. (Cantik Itu Luka Hal. 312-313)

“Cantik Itu Luka bisa dilihat sebagai sebuah penciptaan versi alternatif sejarah Indonesia dengan gaya mimpi atau gaya main-main. Tetapi bukan berarti Eka mencoba meralat sejarah resmi dan menggantikannya dengan versinya sendiri yang “lebih benar”. Sejarah versi Cantik Itu Luka jelas sebuah produk fantasi, bukan saja karena ia memang karya fiksi dan bukan studi sejarah, tetapi juga karena di tengah konsep sejarah yang plural dalam sebuah masyarakat pascakolonial seperti Indonesia ini, cerita fantastis yang membingungkan semacam itulah sejarah paling otentik yang bisa ditulis.”

– Katrin Bandel, Meja Budaya

(resensi lengkap terlampir dibawah)

“Luka adalah permissivitas dia dari gambaran sebuah pemahaman chaos, kekacauan hubungan badan (inses) dan kerusuhan-kerusuhan di Halimunda sepanjang masa penjajahan kolonial hingga pasca 1965 ketika komunis dibinasakan. Hantu-hantu yang dicitrakan sebagai komunis menjadi punya makna ganda, hantu betulan dan hantu propaganda. Sense of humor dia boleh juga.”

– Nenie Muhidin, On/Off

(resensi lengkap terlampir dibawah)

“It is nice that, after half a century, Pramoedya Ananta Toer has found a successor. The young Sundanese Eka Kurniawan has published two astonishing novels in the past half-decade. If one considers their often nightmarish plots and characters, one could say there is no hope. But the sheer beauty and elegance of their language, and the exuberance of their imagining, give one the exhilaration of watching the first snowdrops poke their little heads up towards a wintry sky.”
– Benedict R. O’G. Anderson, New Left Review

[Disalin dari blurb buku ini]

penghargaan

“Laporan komite hadiah pangeran Claus 2018: Eka Kurniawan • Indonesia • sastra”

alih bahasa Joss Wibisono

Eka Kurniawan memperoleh penghargaan:

    • karena penuturan tjerita dengan fantasi begitu kaja, keindahan mentjolok prosanja dan relevansi universal tema jang diangkatnja.
    • karena berani menghadapi tindak kekerasan politik jang tidak di-singgung2 oleh watjana resmi dan mengolah masalah2 kontroversial dengan tjara jang memudahkan orang untuk benar2 memahaminja, membantu mereka meraih kembali kisah masa lampau dan membentuk pemahaman lebih baik bagi negara mereka.
    • karena menggambarkan kechasan budaja Indonesia dan memberi status kepada dongeng dan mitos lokal.
    • karena menekankan kuasa bahasa dan sastra dalam tjara kita meresapi serta mengolah informasi tentang topik2 pelik, chususnja pada zaman ketika bahasa dibadjak oleh pihak berwenang dan
    • karena memusatkan perhatian pada tjara alternatif untuk memahami sedjarah Indonesia, merangsang kesadaran jang sudah lama dinanti dan pengertian lebih mendalam bagi tanah airnja.

Wawancara Eka Kurniawan

Eka Kurniawan Talks ‘Cantik Itu Luka’ and His Favorite Books About Indonesia – jakartaglobe

Eka Kurniawan: Menjadi the next Pram adalah hal biasa – lokadata

petikan wawancara

Saya merasa banyak penulis Indonesia menghasilkan karya berdasar peristiwa sejarah tertentu, yang sebisa mungkin akrab bagi pembaca internasional. Biasanya peristiwa-peristiwa ini berhubungan dengan masa lalu kelam Indonesia, misalnya pembantaian komunis 1965, atau huru hara politik 1998. Dalam beberapa resensi media luar untuk novelmu Cantik Itu Luka, tema pembantaian ‘65 disebut beberapa kali. Menurutmu, apakah penulis Indonesia akan terus dihubung-hubungkan dengan babak kelam dalam sejarah bangsa Indonesia?

Kurasa itu tarik-ulur, karena Indonesia jelas harus kita akui enggak banyak orang yang tahu. Dari luar, ketika orang pengin memahami Indonesia melalui karya sastra, ada hal-hal tertentu yang mungkin bisa jadi jalan, tema-tema tertentu yang juga familiar buat mereka. Kalau misalkan soal ’65 mereka cukup familiar, karena itu bukan cuma kasus Indonesia. Perang dingin itu kasus global. Indonesia salah satu bagian dari peristiwa sejarah tersebut. Pembaca luar tahu tentang komunisme, mereka punya referensi tentang diktator militer. Tema semacam itu lebih mudah buat mereka masuk, buat mereka memahami, meskipun enggak semuanya juga. Ada juga pembaca luar yang apolitis, yang enggak ngerti apa apa. Tapi setidaknya, tema-tema tertentu mempermudah mereka untuk masuk [membaca karya sastra Indonesia-red].

Wawancara selengkapnya ‘Hampir Semua Novelku Berbicara Soal Kekuasaan’: Obrolan Bersama Eka Kurniawan – vice.com

Tinjauan buku dari luar negeri yang sengaja dipilih  untuk memperjelas pertanyaan Vice kepada Eka Kurniawan “Dalam beberapa resensi media luar untuk novelmu Cantik Itu Luka, tema pembantaian ‘65 disebut beberapa kali. Menurutmu, apakah penulis Indonesia akan terus dihubung-hubungkan dengan babak kelam dalam sejarah bangsa Indonesia?”

Where the Dead Refuse to Vanish

Eka Kurniawan’s fiction reckons with Indonesia’s bloody inheritance

By SIDDHARTHA DEB – newrepublic

 

Review: ‘Beauty Is a Wound,’ an Indonesian Blend of History, Myth and Magic

By Sarah Lyall – nytime.com

 

A Writer’s Haunting Trip Through the Horrors of Indonesian History

By Gillian Terzis – newyorker

 

Tinjauan Buku Dari Penulis Indonesia

Menulis Sejarah, Membangkitkan Tokoh dari Kubur Realisme Magis dalam novel Cantik Itu Luka – Alex Supartono di Harian KOMPAS

Cantik itu Luka: Surealisme Magis dan Sejarah Pahit Indonesia – Kukuh Giaji

Novel Cantik, Namun Menyisakan Luka – Nur Mursidi di Suara Pembaruan

Luka itu Mengalir Sampai Jauh* – Binhad Nurrohmat di Sinar Harapan

.

Kisah Si Cantik yang Buruk Rupa – N. Mursidi di JAWA POS

Cantik itu Luka: Sebuah Catatan Perjalanan – Nenie Muhidin, On/Off

*****

AIR BAH DALAM NOVEL CANTIK ITU LUKA, EKA KURNIAWAN – Maman S. Mahayana di Media Indonesia

Cantik itu Dilukai – Muhidin M. Dahlan di Media Indonesia

*juga merespon resensi Maman S. Mahayana

Pascakolonialitas dalam Novel Cantik itu Luka Tetapi Kutukanku akan Terus Berjalan | Katrin Bandel dalam Meja Budaya.

*juga merespon resensi Maman S. Mahayana

simak juga

Dari Lubang Buaya, Aku bukan Jamilah , Penjagal Itu Sudah Mati, Pulang, Bunga Tabur Terakhir hingga Merajut Harkat [Bibliografi Karya Sastra Paska-Soeharto Yang Berlatar ( atau bersinggungan dengan) Peristiwa 1965] 

Kita Tak Mungkin Memahami Indonesia, Tanpa Memahami Sejarah Kelam Genosida 1965-1966 [CatatanKaki atas “Reading Indonesia: 30 Books That Will Help You Understand theSoutheast Asian Giant”] 

simak 1200 ‘entry’ lainnya pada link berikut

Daftar Isi Perpustakaan Genosida 1965-1966

Road to Justice : State Crimes after Oct 1st 1965 (Jakartanicus)

 

14542544_1036993449746974_4443364972569517121_o
13047818_10209343119272764_8338060706038815101_o13043485_10209343122352841_1135692553504633931_n (1)
Definisi yang diusulkan D. Nersessian (2010) untuk amandemen/ optional protocol Konvensi Anti-Genosida (1948) dan Statuta Roma (2000) mengenai Pengadilan Kejahatan Internasional. (disalin dari Harry Wibowo)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s