‘Obor Teori Yang Terang’, Literatur Kiri dan Peran Badan Penerbit Progresif Yayasan Pembaruan (Jajasan Pembaruan) *simak bibliografi 109 buku terbitan Jajasan Pembaruan

Bibliografi 109 Terbitan Jajasan Pembaruan Koleksi INTERNATIONAL INSTITUTE OF SOCIAL HISTORY

 

 

Berbicara tentang penerbitan Partai mau tidak mau kita harus memberikan tempat yang sepantasnya kepada peranan Badan Penerbit Progresif Yayasan “Pembaruan”. Sejak berdirinya pada pertengahan tahun 1951 sampai tahun 1959 ini, lebih kurang 8 tahun, Yayasan “Pembaruan” bertumbuh kokoh sejalan dengan makin tegapnya perkembangan kekuatan progresif di Indonesia. Sebagai badan penerbit yang progresif Yayasan “Pembaruan” sudah menunaikan tugasnya dengan sebisa-bisanya dan dengan hasil yang jauh lebih daripada orang menyangka semula. Di tengah-tengah persaingan yang menentukan mati-hidupnya sebagai perusahaan, Yayasan “Pembaruan” berhasil mengisi kekosongan kota-kota dari peredaran buku-buku revolusioner. 80 agen Yayasan “Pembaruan” dan 3 toko besar telah berdiri; ini belum terhitung para penjual buku eceran yang diorganisasi langsung oleh para agen tersebut.

Kesukaran memperoleh literatur progresif pada waktu hari-hari bergeloranya Revolusi 1945 dari tahun 1945 sampai dengan tahun 1948-an masih segar dalam ingatan kita. Ketika itu kita masih amat sedikit mempunyai buku revolusioner yang bisa memberikan petunjuk untuk memimpin revolusi, kita belum sempat menerjemahkan buku-buku klasik yang di Indonesia jumlahnya pun masih sangat terbatas itu. Boleh dikatakan waktu itu kita belum mempunyai obor teori yang terang. Tetapi dengan berdirinya Yayasan “Pembaruan” beserta kegiatannya kekurangan itu hari demi hari diatasi dan hanya kejernihan hari kemudian yang membentang.

selengkapnyaPidato Kawan Dahono – (Redaktur “Harian Rakyat”) Dalam Konggres PKI ke 6

 

 

Saat kembali membangun partai di awal 1950-an pasca Peristiwa Madiun, generasi pimpinan baru PKI seperti Aidit dan Njoto mula-mula menyelenggarakan pendidikan politik melalui kerja-kerja penerbitan dan penerjemahan. PKI menggagas Yayasan Pembaruan sebagai wadah untuk menerbitkan dan menyebarkan tulisan mereka. Sebagai catatan, pada masa itu percetakan membutuhkan cukup banyak biaya. Tidak ada partai seproduktif PKI. Selain koran Harian Rakyat yang beredar setiap hari, PKI juga menerbitkan jurnal ilmiah, pamflet dan banyak buku. Tiap organisasi massa underbouw PKI pun memiliki penerbitannya sendiri dan dalam bahasa yang mudah dimengerti oleh para anggotanya. 

selengkapnya Suara “Merah” Ibukota: Geliat Politik Partai Komunis Indonesia Comite Djakarta Raya – Satriono Priyo Utomo

 

 

Hingga PKI dibubarkan pada 1965, lanjut Sumaun, Lembaga Sejarah telah menghasilkan sejumlah karya, antara lain Pemberontakan Nasional Pertama di Inonesia (terbit 1961), 20 Tahun di Bawah Tanah; 1926-1945 (terbit 1963), dan Manuskrip Sejarah 45 Tahun PKI (diterbitkan Ultimus pada 2014). Lembaga Sejarah juga pernah menginisiasi penerbitan beberapa tulisan DN Aidit. Semua produk penelitian Lembaga Sejarah diterbitkan oleh Yayasan Pembaruan, sayap penerbitan milik PKI.

selengkapnya Ketika Partai Perlu Belajar Sejarah – historia 

 

 

Jajasan Pembaruan was established in 1951 and was affiliated to the Partai Rakjat Indonesia (PRI, Indone sian People’s Party).7 It was established to promote the translation and circulation of ‘Marxist’ and ‘leftist’ books in Indonesia, and included among its staff four Indonesian and foreign translators whose job was to translate from English and Dutch, and occasionally other languages as well (Ibarruri Sudharsono 2009: 704-5). Its publications included translations of works by Friedrich Engels, Maxim Gorky, Lenin, Stalin, Mao Zedong, Lin JiTjou, Kim Il Sung; translations of foreign literature by Boris Polewoi, Maxim Gorky, N. H. Krupskaya; as well as works by D.N. Aidit and LEKRA writers like H.R. Bandaharo, Bachtiar Siagian, and Zubir A.A. It had bookshops in Jakarta, Yogyakarta and Surabaya, and agents in Bandung and Medan. Other shops in Jakarta also sold its books.8

(*catatan nampaknya ada kekeliruan dalam artikel Maya H.T. Liem yang menyebutkan Jajasan Pembaruan memiliki afiliasi dengan Partai Rakyat Indoneia.)

selengkapnya A bridge to the outside world Literary translation in Indonesia, 1950-1965 Maya H.T. Liem (hal 163-187) dalam buku Heirs to World Culture: Being Indonesian, 1950-1965

Unduh di https://oapen.org/download?type=document&docid=403204

 

 

Jajasan Pembaruan, a publisher formed in 1951 to promote the dissemination of Marxist writings in Indonesia, was particularly prolific in its output of Indonesian translations in the post-independence decades. It published over 70 translations of Marxist texts between 1952 and 1965. These included not only the works of the canonical European Communists — Marx, Engels, Lenin and Stalin — but also the writings of Marxists from China (Mao Zedong, Liu Shaoqi), India (Ajoy Kumar Ghosh), Vietnam (Ho Chi Minh, Truong Chinh), North Korea (Kim Il Sung) and Australia (L.L. Sharkey, L. Harry Gould).


selengkapnya Indonesian Communism and Global Networks of Translation: The Case of L. by Oliver Crawford 

Kamus Ketjil Istilah Marxist yang dibahas di artikel ini, sila unduh

 

 

simak pula

Kotak Pandora (Jejak) Suara (Senyap) Harian Rakjat [Sejarah yang Dihilangkan]

“Kaum Tani Menganjang Setan Setan Desa” : Memadukan Kerja Politik, Pendidikan dan Penelitian Partisipatori (Menarik Pelajaran dari Pengalaman PKI dan Barisan Tani Indonesia)

Genosida Politik 1965-1966 dan Hilangnya Satu Generasi Intelektual Indonesia

Genosida Intelektual 1965 dan Perampasan 16 Institusi Pendidikan ‘Kiri’

Perburuan dan Pemberangusan Bapak Ibu Guru dan PGRI Non Vaksentral (PGRI NV) 

 

 

simak 700 ‘entry’ lainnya pada link berikut

Daftar Isi Perpustakaan Genosida 1965-1966

Road to Justice : State Crimes after Oct 1st 1965 (Jakartanicus)

 

14542544_1036993449746974_4443364972569517121_o

13047818_10209343119272764_8338060706038815101_o13043485_10209343122352841_1135692553504633931_n (1)
Definisi yang diusulkan D. Nersessian (2010) untuk amandemen/ optional protocol Konvensi Anti-Genosida (1948) dan Statuta Roma (2000) mengenai Pengadilan Kejahatan Internasional. (disalin dari Harry Wibowo)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s