“Kaum Tani Menganjang Setan Setan Desa” : Memadukan Kerja Politik, Pendidikan dan Penelitian Partisipatori (Menarik Pelajaran dari Pengalaman PKI dan Barisan Tani Indonesia)

Transisi Agraria Dan Pelibatan Dunia Ilmiah Di Indonesia

Diantara apologia diskursus Kritis: Transisi Agraria dan Pelibatan dunia ilmiah di indonesia

Benjamin White (Institute of Social Studies)

 

petikan

Memang penelitian yang disponsori PKI dan BTI ini tidak dilakukan oleh ilmuwan sosial profesional, tetapi mereka dilibatkan dalam pelatihan dan pemberian pengarahan kepada kader PKI/BTI yang akan turun ke lapangan, tempat mereka akan mempraktekkan prinsip 3 sama, 4 jangan dan 4 harus.[22] Praktek ini merupakan contoh awal penerapan metode ‘bottom up’, participatory action research’ yang sekarang sangat popular di kalangan LSM dan baru-baru ini juga di kalangan lembaga-lembaga internasional seperti Bank Dunia.

 

Membandingkan dua tradisi riset ini – pendekatan angket dan pendekatan ‘partisipasi dan observasi langsung’ – Sajogyo, yang waktu itu bernama Kampto Utomo, mencatat bagaimana kebijakan Aidit dan rekan-rekannya untuk mengandalkan pendekatan kedua sebagai perkembangan yang menarik:

 

Yang menarik perhatian dari proyek riset hubungan angraria di Jawa oleh Aidit cs adalah karena mereka memilih tegas-tegas metode tugas lapangan yang (berdasarkan partisipasi dan observasi langsuns)! Dengan pedoman 3-sama (…) yang dilengkapi dengan 4-harus dan 4-jangan, partisipasi dan kontak dengan responden-responden (umumnya tani miskin) diusahakan menjadi semesra-mesranya. Di satu pihak metode partisipasi itu obyektif benar, dimana pelaksana riset boleh disebut partisan, pula karena langsung mencari keterangan-keterangan dari subyek-subyek, pelaku-pelaku utama dalam masalah yang diriset, bukan via lurah atau pemimpin-pemimpin golongan mereka sendiri di desa. Dilain pihak ternyata “approach” antropologi klasik itu hanya berlangsung satu minggu untuk satu desa; karena itulah mungkin dicari kompensasinya dalam ukuran besar dan meluasnya survey itu: desa-desa di 124 kecamatan di Jawa, dengan 3300 kader – pelaksana research, termasuk pengawas-pengawas – selama 6 minggu rata-rata bagi tiap peserta itu. Tetapi (…) mungkin luasnya survey itu banyak ditentukan pula oleh kebijaksanaan therapie bagi kader-kader ormas/orpol itu; supaya dengan riset itu lebih banyak kader berintegrasi dengan rakyat!

Kampto Utomo 1965: 259.

 

Hasil awal studi ini, yang meliputi 15 desa di Jawa dan mendokumtasikan banyak ketimpangan dalam penguasaan tanah, disosialisasi secara luas pada Komperensi Tani Nasional tahun 1959 dan juga melalui pers. Studi ini menghasilkan antara lain konsep “tujuh setan desa yang menghisap darah kaum tani”, yaitu “tuan-tanah jahat”, “lintah darat”, “tukang-ijon”, “kapitalis birokrat” (mereka yang menyalahgunakan dana Negara untuk memaksa petani menjual hasil mereka pada Perusahaan-Perusahaan Negara dengan harga yang rendah), “tengkulak jahat”, “bandit desa” (yang bertindak secara criminal untuk membela kepentingan kelas pemeras) dan “penguasa jahat” (Aidit 1964: Bab 2). Uraian ini kokoh dan cukup akurat untuk masa itu. Gambaran yang diajukan juga sangat berbeda dengan gambaran lain yang diterbitkan pada kurun yang sama oleh Geertz yang mengklaim, entah atas dasar fakta empiris apa, bahwa orang Jawa hanya mengenal konsep orang “tjukupan” dan “kekurangan” (“just-enaughs and not-quite enoughs”) dan tidak kenal konsep orang “punya” dan “tidak punya” (“haves and have-nots”) (Geertz 1963a; 97).[23] Geertz juga menggambarkan keadaan sosio-ekonomi dimana pola kepemilikan tanah dan kekayaan lebih mencerminkan proses fragmentasi dan pembagian tanah secara merata (near-equal fractionalization) dan dimana kemiskinan dibagi bersama (shared poverty) (Geertz 1956: 141).[24]

 

Mungkin para pembaca akan menduga bahwa kajian PKI/BTI ini mengandung prasangka tertentu, namun sebenarnya mereka hanya medukung dalam bahasa yang lebih bersemangat gambaran yang sudah mulai dihasilkan oleh kajian-kajian ilmiah di universitas. Seperti dicatat oleh pengamat antikomunis van der Kroef:

Dibanding dengan apa yang sudah diketahui dari sumber bukan-komunis lainnya, kesimpulan-kesimpulan umum dari peneliti PKI tentang konsentrasi pemilikan tanah, praktek ijon, penggadaian tanah, hutang para tani, dan sedikitnya lapangan pekerjaan (underemployment) di Indonesia (terutama di Jawa) bukan tidak berdasarkan keyataan.

Van der Kroef 1960: 12.

 

Hasil kajian-kajian awal ini dimuat juga dalam salah satu dari sedikit buku teks tentang masalah pembaharuan pedesaan yang terbit selama periode Soekarno, yaitu Pokok-pokok Pembangunan Masyarakat Desa oleh Ina Slamet (Slamet 1965).[25] Dengan demikian, hasil-hasil penelitian ini diketahui luas baik di kalangan akademisi maupun di umum.

 

 

******

 

988606_10201324022293274_1428595359_n

PERSIS setelah peristiwa kup 1 Oktober 1965, ketika massa rakyat diizinkan mengekspresikan kemurkaan mereka dengan membakar kantor pusat Partai Komunis Indonesia (PKI), hal pertama yang dilakukan oleh militer adalah merampas seluruh arsip partai dengan sangat hati-hati. Akademisi-akademisi Indonesia kemudian dipanggil untuk menganalisis berbagai dokumen ini, khususnya rekaman-rekaman penelitian tentang kondisi-kondisi desa yang menjadi basis dukungan utama PKI di Jawa. Salah satu sarjana berkata kepada saya tentang keterkejutannya soal tingkat kecanggihan survei-suvei yang dikirim kader-kader perdesaan PKI kepada partai. Penulisnya melaporkan bahwa jelas ada petani-petani dengan tingkat pendidikan yang sangat rendah dan kontribusi mereka seringkali dituliskan dengan kasar pada secarik kertas, tapi mereka menunjukkan kemampuan analisis yang asli. Bagaimanakah PKI mengelola pengajaran bagi para petani sehingga bisa melakukan ini semua? Dan apa implikasinya bagi masa depan?

 

Kecanggihan laporan-laporan perdesaan yang rekan saya catat duapuluh lima tahun lalu ialah buah dari kerja-kerja kependidikannya PKI. Pendidikan telah menjadi pusat perhatian utama kegiatan partai selama periode 1951-1965, tapi kebanyakan gambaran ihwal PKI pasca-revolusioner telah mengecilkan arti pentingnya demi hal lain yang lebih secara langsung bertalian dengan segi-segi kekuasaaan dari pergerakannya. Namun bergunalah kiranya mengangkat kembali soal itu karena bisa menolong menjelaskan minat komunisme pada masa itu dan juga karena bisa menempatkan PKI secara lebih jelas di dalam perkembangan kesejarahan dan kulturalnya Indonesia.

 

Sumber kutipan Mengajarkan Modernitas: PKI Sebagai Sebuah Lembaga Pendidikan Ruth T. McVey (unduh)

 

 

Cerita di Balik Tujuh Setan Desa

Propaganda PKI tentang siapa saja musuh rakyat. Memadukan kerja politik dengan penelitian ilmiah.

Oleh Bonnie Triyana

 

dokumen yang dirujuk Bonnie Triyana dalam artiel diatas


Kaum Tani Menganjang Setan Setan Desa: Laporan singkat tentang hasil riset mengenai keadaan kaum tani dan gerakan tani Djawa Barat.

1559575_730334326991376_1647257969_n

 

BTI dan Warisan-Warisannya – Muhammad Nashirulhaq [Islam Bergerak]

2 diantaranya  adalah BTI Sebagai Lembaga Pendidikan dan BTI Sebagai Lembaga Penelitian

 

 

 

simak pula

 

AMANAT KONSTITUSI YANG TERPENGGAL : UUPA, LANDREFORM, GERAKAN TANI DAN GENOSIDA 65

Mem-PKI-kan Petani, Menjarah Tanah :Kekerasan dan Perampasan Tanah Pasca (Genosida) 1965 

[Unduh] Menilik Perjuangan Barisan Tani Indonesia, Konflik Pedesaan, Landreform dan Pembunuhan Massal (Genosida) 1965-1966 – Kajian-kajian Ben White, Andi Achdian, Gerrit Huizer, Geoffrey Robinson, Muhammad Nashirulhaq :

TANAH BAGI YANG TAK BERTANAH: LANDREFORM PADA MASA DEMOKRASI TERPIMPIN

Melacak Jejak Militansi Perjuangan Sarekat Buruh Perkebunan Indonesia (SARBUPRI) danKehancurannya l Genosida Politik 1965-1966

 

 

simak 700 ‘entry’ lainnya pada link berikut

Daftar Isi Perpustakaan Genosida 1965-1966

Road to Justice : State Crimes after Oct 1st 1965 (Jakartanicus)

 

14542544_1036993449746974_4443364972569517121_o

13047818_10209343119272764_8338060706038815101_o13043485_10209343122352841_1135692553504633931_n (1)
Definisi yang diusulkan D. Nersessian (2010) untuk amandemen/ optional protocol Konvensi Anti-Genosida (1948) dan Statuta Roma (2000) mengenai Pengadilan Kejahatan Internasional. (disalin dari Harry Wibowo)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s