Stigmatisasi PKI dan Pembungkaman Terhadap Kesenian Rakyat Banyuwangi Paska G30S/1965.

 

cover foto : sreenshoot video Menara Ingatan – Musik Kontemporer Yennu Ariendra  (link terlampir)

 

 

FESTIVAL GANDRUNG SEWU 2019

Kembali pulih dan digandrungi…….

Merah Berpendar Di Brang Wetan: Musik Banyuwangen dalam Tegangan Politik 1965 dan Orba – Ikwan Setiawan

 

Di balik semua dinamika kesenian dan industri budaya Banyuwangen pasca 65, menurut kami, terdapat satu realitas historis yang tidak boleh dan tidak bisa dipungkiri, yakni kontribusi para seniman/sastrawan Lekra. Lagu-lagu merekalah yang menjadi pioner dari perkembangan pesat musik Banyuwangen pada masa Orba dan menjadi inspirasi bagi para seniman masa kini. Merekalah sejatinya para pahlawan budaya bumi Blambangan, meskipun mereka tidak pernah ingin disebut pahlawan. Bolehlah rezim berusaha mematikan “Cahaya Merah” dari ‘tanah Minak Jinggo’, tapi Cahaya itu akan terus berpendar seperti Bang-bang Wetan yang terus saja menyinari sang Bumi, sebelum kiamat tiba. Meskipun, pada masa-masa kontemporer, Cahaya itu harus berhadapan dengan “rayuan manis” para pemodal yang semakin perkasa. (dipetik dari Bagian 4 artikel ini]

(Bagian I)

(Bagian II)

(Bagian III)

(Bagian IV)

Sepenggal Kisah Maestro Gandrung Pasca-G30S 

Menelusuri Jejak Podho Nginang- Kelana Wisnu Sapta Nugraha

Saya terperanjat, sebab lagu yang saya nyanyikan bertahun-tahun lalu baru menyingkap rahasianya. Empat tahun sudah lewat sejak saya pertama berkenalan dengan lagu Podho Nginang, dan kali ini ia kembali mengganggu tidur saya.

Kotak arsip saya bongkar, partitur aransemen saya baca ulang. Lirik lagu tersebut makin menguatkan dugaan saya. Jelas, lagu itu tak ditulis pada masa penjajahan atau sebelumnya, melainkan pada masa “revolusi yang belum usai”.

Di ujung telepon, Yanu Kristiono tertawa kencang. Guru musik saya semasa SMA itu membenarkan dugaan saya. Ia juga sempat mendengar bahwa lagu yang ia temukan secara tidak sengaja itu memang dianggap sepaket dengan Genjer-Genjer – karya komponis Muhammad Arief yang ditulis pada masa pendudukan Jepang dan dibredel karena dianggap lekat dengan citra Partai Komunis Indonesia (PKI)

Podho Nginang mulai menit 7



 

Podho Nginang Tradisional

Seniman ini rogoh kocek sendiridemi ajarkan tari pada anak didik [merdeka.com]

Namanya Slamet, ia ingin
mempertahankan seni dan budaya Banyuwangi.

Di usianya ke-75, Slamet membuat sanggar seni bernama “Angklung Soren” untuk membangkitkan kembali seni tarinya. Pria yang akrab dipanggil Slamet Menur ini pernah bergabung dengan Lembaga Kesenian Rakyat (Lekra) pada tahun 1962. Slamet telah menciptakan beberapa kesenian tari dari lagu-lagu populer era 1960 sampai 1980-an…..

Sambil mendengarkan lagu Podho Nginang yang berkisah tentang perang Puputan Bayu di Belambangan, Slamet membuka catatan syair-syair yang masih dia ingat. Ada 50 lebih lagu banyuwangi sudah dia catat baru-baru ini, dan semua termasuk lagu tidak terdokumentasikan………………

 

Identitas Using: Paradoks danOperasi Ideologis [info banyuwangi]

Dalam konteks Banyuwangi, pemberangusan haluan seni realisme sosialis dilakukan melalui tindakan-tindakan pelarangan menyanyikan dan mendengarkan lagu-lagu yang dikarang oleh para seniman-seniman Lekra atau yang dianggap komunis. Lagu-lagu seperti Genjer-Genjer, Nandur Jagung yang dikarang oleh Mohamad Arief maupun Podo Nginang, Nelayan karangan Endro Wilis dengan begitu saja lenyap. Pemberangusan ini lantas
diikuti dengan tindakan kontrol melalui penyensoran. Kasus nyata tindakan kontrol ini adalah peniadaan nama Endro Wilis pada lagu-lagu karangannya yang dipublikasikan pada masa itu (karena Endro Wilis dianggap komunis) dan perubahan judul lagu Selendang Abang menjadi Selendang Sutro (Abang/Merah berkonotasi komunis). Depolitisasi produksi lagu-lagu Banyuwangi dimulai setelah Banyuwangi melewati masa ‘tanpa lagu’ selama sekira lima tahunan. Tindakan depolitisasi ini dilakukan dengan menggali nilai-nilai patriotik dalam sejarah Banyuwangi silam (Blambangan) yang direpresentasikan baik melalui tokoh-tokoh maupun episode-episode perlawanan

[Genjer-genjer] Nyanyian Yang Dibungkam! Apinya Tak Kan Padam! [Kompilasi Rupa dan Musik] 

Menara Ingatan – Musik Kontemporer Yennu Ariendra [“….Kakek saya hilang menjadi korban tragedi 65”] 

simak pula

Melacak Jejak Lekra (yang dihilangkan) Dalam Seni Pertunjukkan Indonesia : Dari Ludruk, Ketoprak, Wayang, Reog Hingga Teater Modern


Kesenian (Seniman) Rakyat dan Genosida 1965-1966: Studi Kasus Pembungkaman Lagu Podho Nginang, Tari Buncisan, Bantengan dan Jaranan 

‘Dance of the Missing Body’ : Mengenali Tubuh Menari dan Sejarah Kekerasan bersama Rachmi Diyah Larasati 

Menara Ingatan – Musik Kontemporer Yennu Ariendra 

 

[Situs Genosida]Jejak Senyap Kekerasan Politik dan Budaya di Banyuwangi 

simak 650 ‘entry’ lainnya pada link berikut

Daftar Isi Perpustakaan Genosida 1965-1966

Road to Justice : State Crimes after Oct 1st 1965 (Jakartanicus)

 

14542544_1036993449746974_4443364972569517121_o

13047818_10209343119272764_8338060706038815101_o13043485_10209343122352841_1135692553504633931_n (1)

Definisi yang diusulkan D. Nersessian (2010) untuk amandemen/ optional protocol Konvensi Anti-Genosida (1948) dan Statuta Roma (2000) mengenai Pengadilan Kejahatan Internasional. (disalin dari Harry Wibowo

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s