“Gejolak Makam Keramat” – Teater Tamara *Teater Tamara (Tak Mudah Menyerah) adalah Teaternya Ibu-ibu Penyintas ’65 Yang Tergabung Dalam KIPPER (Kiprah Perempuan)

*cover foto Sri Wahyuni (Bu Nik) screenshot dari dokumentasi video ASIA Ajar

 

Highlights of Theatre Performance “Gejolak Makam Keramat” – ASIA Ajar

ca740-dd4ombouqaa_v8o

Dramatic Reading | Gejolak Makam Keramat | Agung Kurniawan

Mereka tak lagi belia. Tapi, di Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, 13 perempuan pemeran utama “Gejolak Makam Keramat” seolah menemu lagi darah mudanya.

“Energi yang tak terkatakan selama ini ternyata bisa muncul lewat naskah itu,” kata sutradara, Irfanuddien Ghozali, melukiskan semangat para manula itu, Jumat (22/9).

“Gejolak Makam Keramat” (GMK) adalah pertunjukan teater simakan, semacam dramatic reading. Para pemeran utamanya perempuan korban prahara politik 1965. Mereka rata-rata berusia di atas 65 tahun.

Disutradarai Ghozali, seniman teater, dan Agung Kurniawan, seorang perupa, drama ini dipentaskan di depan 200-an penonton pada 13 Juli.

Naskah pementasan diadaptasi dari “Leng” (1985) karya Bambang Widoyo SP, sutradara dan penulis naskah teater Gapit.

selengkapnya Para penyintas Yogyakarta nan tak mudah menyerah – beritagar

Mereka Yang Tak Mudah Menyerah – Kompas Minggu

Tragedi itu Bernama “Gejolak Makam Keramat” – Arie
Kamajaya 

SEMAAN TEATER TAMARA: ROMANTISME SEJARAH
SENI YANG ‘DIHILANGKAN’ – Ficky Tri Sanjaya*

 

Sema’an “Gejolak Makam Keramat”, Pentasnya Perempuan Penyintas YPKP65 

Learning from the survivors of1965 – the Jakarta Post 

SENI UNTUK DAMAI: UPAYA REKONSILIASI AKAR RUMPUT PASCA TRAGEDI 1965

Ganesh Cintika Putri

Balitbang Hukum dan HAM, Kementerian Hukum dan HAM RI

*dalam Jurnal Masyarakat Indonesia LIPI  Vol 44, No 2 (2018)

ABSTRAK

Pembunuhan massal dan penghilangan paksa yang terjadi pasca tragedi 1965 menyisakan konfl ik berkepanjangan hingga kini. Narasi sejarah yang dibentuk pemerintah menempatkan sekelompok orang yang diduga berkaitan dengan PKI mengalami stigmatisasi dan ketidakadilan hingga 40 tahun setelahnya. Tulisan ini bermaksud menganalisis strategi yang dilakukan masyarakat akar rumput untuk menciptakan narasi alternatif sebagai bagian dari upaya rekonsiliasi. Secara khusus, tulisan ini akan menganalisis narasi sejarah alternatif yang disuguhkan lewat pementasan teater Gejolak Makam Keramat pada 13 Juli 2017 di Yogyakarta. Pementasan ini dipilih karena proses pembuatan naskah, latihan, pemilihan metode bertutur, serta pelibatan penonton yang mampu menarasikan sejarah alternatif di tengah narasi dominan yang menghambat upaya rekonsiliasi. Tulisan ini ingin mengatakan bahwa Teater Gejolak Makam Keramat memberikan ruang bagi narasi sejarah alternatif sebagai bagian dari upaya rekonsiliasi akar rumput. Paling tidak terdapat tiga strategi yang dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut yaitu: pengemasan narasi alternatif dalam objek seni yang lebih aman dari persekusi; partisipasi penyintas sebagai subjek dari narasi, serta; pelibatan audience dalam proses penyajian narasi.

simak pula

Dari Temu Rindu hingga Gejolak Makam Keramat : Teaternya Perempuan Penyintas Yogyakarta Yang Tak Pernah Menyerah [KIPPER] 

JAGA JAGA : Penggalangan dana secara kreatif yang digagas oleh seniman, akademisi dan aktifis HAM yang peduli pada pelanggaran HAM Genosida 65 [Kiprah Perempuan – KIPPER] 

simak 1500 ‘entry’ lainnya pada link berikut

Daftar Isi Perpustakaan Genosida 1965-1966

Road to Justice : State Crimes after Oct 1st 1965 (Jakartanicus)

 

14542544_1036993449746974_4443364972569517121_o

13047818_10209343119272764_8338060706038815101_o13043485_10209343122352841_1135692553504633931_n (1)

Definisi yang diusulkan D. Nersessian (2010) untuk amandemen/ optional protocol Konvensi Anti-Genosida (1948) dan Statuta Roma (2000) mengenai Pengadilan Kejahatan Internasional. (disalin dari Harry Wibowo

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s