[pameran online] Puisi-puisi, Karya Rupa, Orbituari Lentera Api Sondang [Rest In Power Sondang Hutagalung 10 Desember 2011]

60aa2-10311074_785917601433048_1199924305032488188_n
*sketsa pemuda Sondang di #AksiKamisan
beberapa  tahun lalu lentera pembebasan berinisiatif menghimpun 20 puisi yang beredar di medsos dan memadukankannya dengan karya rupa sebagian kecil adalah karya khusus terkait tema maupun karya-karya yang dipandang tepat untuk menjadi ilustrasi puisi.
SELAMAT pagi, Sondang, apa kabarmu?
Lilik HS

http://indoprogress.com/2012/12/selamat-pagi-sondang/

Masih terngiang senja itu, Rabu, 7 Desember 2011, kau berlari menuju depan istana Negara, dengan sekujur tubuh terlalap api. Orang-orang terpana. Pertama dalam sejarah negeri ini, seorang tewas membakar diri depan istana.
Beragam komentar berhamburan. Sebagian besar ribut memperdebatkan cara kematianmu. Membakar diri, tindakanmu itu terlalu mengerikan. Itu tindakan pengecut dan sia-sia belaka. Tak akan mengubah apa-apa.
Tak sampai sebulan, perlahan namamu lenyap ditelan silih berganti peristiwa. Tubuhmu hangus terbakar. Terbakar juga kah nurani kita, nurani para pemimpin negeri kita? Ternyata tidak. Mereka masih utuh dan biasa-biasa saja. Roda negeri ini juga berderap seperti biasa saja.
Sondang, apa yang membuatmu rela mati? Apa terakhir kaupikirkan ketika mengguyurkan bensin ke tubuhmu dan mulai menyalakan korek api? Apakah wajah ibumu? Ataukah wajah pacarmu? Atau wajah-wajah marah dan luka para korban pelanggaran HAM yang kerap kaudampingi aksinya itu?
13 November 1970, ada seorang Chun Tae-il, buruh pabrik garmen di kota Seoul, yang membakar diri di depan aksi. ‘Stop eksploitasi buruh! Jangan biarkan kematianku sia-sia!’ teriaknya sesaat sebelum api menjilat tubuhnya. Amarah massa segera mengguncang Korea Selatan.
Di Irlandia, tercatat nama Bobby Sands, pejuang kemerdekaan Irlandia. Berulangkali masuk tahanan, ia tak pernah menyerah. Di ujung protesnya, ia nekat mogok makan. Di hari 65, tubuhnya terjungkal. Ia meninggal 5 Mei 1980, di usia 26.
Lebih memilukan, nyawa Rachel Corrie yang rebah di tengah padang Gaza pada 2003. Pernah kau dengar cerita ini, Sondang? Di tengah desingan peluru militer Israel, gadis pemberani yang datang jauh dari Amerika Serikat sebagai relawan itu berlari menyongsong tank yang hendak robohkan rumah-rumah warga. Ia berdiri tegak. Buldoser merangkak perlahan. Orang berteriak-teriak dan melambaikan tangan. Buldoser tetap merangkak, melindas tubuh Corrie. Berkali-kali, hingga luluh lantak. Ia mahasiswa sepertimu. Sebaya denganmu, Corrie 23 tahun, kau 22 tahun.
Tak putus-putus koran dan televisi memberitakan kematian mereka. Gelora amarah pun tumpah. Seluruh dunia menangisinya. Orang tahu menghargai pengorbanan. Orang pintar menangkap pesan-pesan.
Kau lakukan aksimu di depan istana, tentu kau hendak menampar para penguasa negeri ini bukan? Yang paling bertanggungjawab atas segala persoalan kemiskinan, pengangguran, korupsi dan sejumlah pelanggaran HAM! Sayang, pesan-pesanmu tak terlalu dianggap. Dampak kematianmu juga tak riuh-riuh amat. Tak anggap ini sebagai tragedi yang selayaknya menjadi tamparan keras.
Sabtu sore, 10 Desember 2011, ketika seluruh dunia merayakan hari Hak Asasi Manusia, kau hembuskan nafas terakhir. Luka bakar 90% yang melalap tubuhmu, hanya sanggup membuatmu bertahan 72 jam.
Sondang, seorang kawanku bercerita, ketika di RSCM ia melihat keriuhan itu, seseorang dengan luka bakar sekujur badan, diangkut dengan mobil Satpol PP masuk ke UGD. Kawanku mendengar teriakan yang keras, keras sekali. Seperti marah dan kesakitan. Ia urung mendekat, tak tega. Dua hari kemudian ia baca di koran, sosok itu adalah engkau, Sondang. Kawanku itu, seorang ibu yang teguh, aktivis yang melawan Soeharto di tahun 1980-an, pernah disekap di markas tentara dalam sebuah aksi petani, mendadak airmatanya menderas seperti hujan. Teriakanmu itu, bagai guntur yang terus menggedor-gedor hatinya.
Beberapa hari setelah jasatmu dikubur, dua pucuk surat ditemukan di tas yang kau titipkan ke pacarmu. Sebuah untuk ayah ibu dan pacarmu, sebuah untuk negerimu.
‘Terkutuklah buat ketidakadilan
Terkutuklah buat ketidakpedulian
Terkutuklah buat kemiskinan
Terkutuklah buat rasa sakit dan sedih
Terkutuklah buat para penguasa jahat
Terkutuklah buat para penjahat
Setelah aku tidak punya rasa lagi. 
Dadaku bergetar hebat. Aku menangkap marahmu. Aku tahu kesakitanmu. Aku memahami gelisahmu. Aku pernah muda. Kemudaan memang selalu paralel dengan keingintahuan, kegelisahan sekaligus kemarahan menatap realitas zaman yang meleset jauh dari cerita indah di buku-buku.
Jikalau kita pernah bersua, akan kuceritakan banyak kisah indah perjuangan melawan kediktatoran di masa lampau. Dan perlawanan itu masih berderap hingga kini. Tahukah kau, di balik bilik-bilik tripleks pemukiman buruh nan lembab, di sana tersimpan berlaksa gelora. Di kampung petani, bunga-bunga perlawanan terus bersemi. Ibu-ibu di Medan, penuh luka dan marah membuka bajunya, perlihatkan payudaranya, berdiri menghadang traktor yang hendak menggusur rumah mereka. Itu benteng kemarahan terakhir yang mereka punya. Di Pulau Padang, Riau, 84 petani mogok makan dan menjahit mulut, setelah puluhan tahun mereka perjuangkan tanah miliknya yang dirampas perusahaan besar hasil kongkalikong dengan negara. Mereka berjuang hingga batas akhir mereka bisa. Mereka berlawan sekuatnya daya, Sondang. Sekuat daya!
Selalu terselip harapan dalam ceruk gelap sekalipun. Mari, guyurlah harapan-harapan itu dengan kerja keras dan tak lelah. Apa daya, kau sudah memilih jalanmu. Dan aku hanya mampu termangu dalam gelisah, seorang diri. Aku pandangi lagi rekaman video aksi di depan istana, 18 Agustus 2011. Kau berteriak lantang, ‘Kalau saya bermimpi menjadi anggota DPR, saya akan ajak anggota DPR, menteri, presiden untuk bisa melihat kondisi rakyat sekarang!’
Aku lihat lagi lembar demi lembar foto. Jejakmu ada di mana-mana. Di aksi bersama Sahabat Munir, di aksi penghilangan paksa, di aksi bersama kawan-kawanmu Himpunan Aksi Mahasiswa Marhaenis Untuk Rakyat Indonesia (Hammurabi). Kau muda dan cukup tampan. Kau tertoreh dalam banyak jejak, yang baru terkuak setelah kau tiada.
Aku lihat foto pacarmu. Cantik. Airmatanya terus berderai saat penguburanmu. Beberapa bulan kemudian kubaca di koran, ia menelan 20 pil kina, dekat pusaramu. Lantas tubuhnya kejang dan terkapar. Untunglah, dia selamat.
Aku lihat gurat kepedihan di wajah ayah ibumu, Victor dan Dame Hutagalung. Seharusnya, tahun ini mereka berdiri bangga di sisimu, mendampingimu wisuda sebagai sarjana hukum Universitas Bung Karno (UBK). Abangmu sudah belikanmu sepatu baru, pantovel warna hitam untuk wisudamu. Kaukenakan sepatu itu di hari tragis itu. Sepatu itu, satu-satunya benda yang masih utuh di tengah kobaran api yang melalap habis tubuhmu.
22 tahun umurmu. Aku membayangkan rekan sebayamu asyik twitteran, nongkrong di kafe atau nonton di bioskop sambil ngemil pop corn dan meneguk cola. Kau tentu juga ingin mengisi sebagian mudamu dengan keriaan itu, bukan? Kudengar, kau malah pernah pergunakan uang SPP dari orangtuamu untuk belikan nasi bungkus, lalu bersama-sama pacarmu kau bagi-bagikan ke para pemulung dan pengemis di pinggir jalan. Oh, lembut sungguh hatimu.
Setahun kau pergi, Sondang. Negerimu semakin senja, dengan rupa-rupa nestapa. Tak banyak yang ingat lagi namamu, kalah dengan nama-nama koruptor yang datang silih berganti. Cepat benar bangsa ini melupakan tragedi kematianmu. Aku meletakkan namamu di bilik hatiku, Sondang. Kucatat dengan tinta tebal, sebagai hikayat bagi anak cucuku kelak, bahwa pernah ada anak muda bernama Sondang Hutagalung, berikan nyawanya untuk negeri ini. Agar kami ingat, bahwa kami berhutang kepadamu.
Hujan rintik di pagi Desember, gigilku semakin menyiksa. Aku berdoa untukmu, Sondang. Berdoa sederas hujan. Bahagia kau di sana, ya. Salam untuk Cak Munir, juga untuk para pejuang, para tertindas dan terhina. Bersenandung riang lah kalian di surga. Tunduk hormatku, untuk kalian! ***
Pesan (Wasiat) Sondang untuk Penegakkan HAM di Indonesia
Terkutuklah buat ketidakadilan
Terkutuklah buat ketidakpedulian
Terkutuklah buat kemiskinan
Terkutuklah buat rasa sakit dan sedih
Terkutuklah buat para penguasa jahat
Terkutuklah buat para penjahat
Setelah aku tidak punya rasa lagi.
(Pesan Sondang 2)
 
Maafkan aku kepada keluargaku, temanku dan kamu,
Bwt bokap ku terimakasih bwt nafkah yg telah kau berikan untukku. Bokap terbaik.
Bwt nyokapku terimakasih bwt kasih sayang yg kau berikan untukku. Nyokap terbaik.
Bwt abang bob terimakasih bwt semua perhatiannya.
Bwt ka tersi terimakasih
Bwt gobe terimakasih
Bwt temen2 terimakasih
Bwt km terimakasih
Ditemukan dibuku tulis sondang.
(Pesan Sondang 1)
Petikan Siaran Pers “Pesan Sondang untuk Penegakan Hak Asasi Manusia di Indonesia” yang dikeluarkan okeh HAMmurabi, Sahabat Munir, KontraS, LBH Jakarta, Setara Institute, KAMPAK Papua, Keluarga Alm TM Gurning, HRWG, KASUM (Jakarta, 19 Januari 2011)
……
Surat tersebut terdiri dari dua lembar, lembar pertama ditujukan kepada keluarga, pada intinya Almarhum mengucapkan terikamasih atas kehidupan, nafkah dan kebaikan yang diberikan oleh orang tuanya dan kakak- kakaknya. Tidak lupa, almarhum juga meminta maaf atas semua kesalahan yang pernah dia perbuat. Surat kedua, dia tujukan kepada pemerintah yang berisi kekecewaan atas ketidak pedulian pemerintah membela rakyat kecil dan korban pelanggaran HAM yang sampai saat ini kasus nya tidak kunjung selesai. Secara khusus almarhum mengutuk penguasa jahat dan para penjahat HAM yang selama ini membuat keterpurukan bangsa ini.
…….
selengkapnya
sondang yang bakar diri
(puisi landung simatupang)
anak itu bicara dengan tubuhnya, bensin dan api
ia mati di depan hidung kekuasaan
yang berlarut-larut mengecewakan
suka dusta, cucitangan dan ingkar janji
 
[:) tak apa. semua baik-baik saja
lihatlah barang empat-lima hari
semua juga segera lupa. :)]
 
bapak, memang begitulah biasanya
tapi yang ini berbeda: memberimu isyarat, bahkan aba
untuk sigap mengubah diri atau menyingkir dini
waktu mendesak, bapak; di mana-mana berkobar api!

 

 

 

Pandang Terpandang Pandang Menerawang
Mengenang : Sondang Hutagalung
Nota Puitika A.Kohar Ibrahim
 
*
Mata
mata : pandang
Pandang memandang
mata hati mata pikiran
terang terpandang.
Pandang terang
IYA
jelas seketika
Jiwa ku rasa serasa
Merasa mengawang awang
melintas benua samudera luas
tak berbatas hingga puncak ketinggian
Gunung Slamet berselimut lembut kabut
ku merasuk masuk Gua Lawa. Ngumpet
didampingi sang gunung agung. Slamet.
*
Raga
ku letih nelusuri
puluhan ribu kilometer
darat laut udara hingga
Terlena di Gua Lawa
hanya terjaga
bisik mesra
Sang bidadari menyaji
semangkuk Dawet Ayu
duhai ! gurih nikmat tak terperi
Asyik terusik swara irama merdu musik
Riak ria nada alir Kali Serayu begitu merdu
Sang bidadari sedang menyanyi menari
Duhai daku sedang mimpi kah?
Hingga terlupakan sedu sedan
tangis berjuta juta Rahayat
terjerat kehidupan melarat
*
Terselangseling
Swara Saluang
Swara Seruling
« Sungguh ku tak bisa berucap apa apa,
selain pengen ikut terbang hanyut
menggelantung di pundak mu
hai AKI »
*
« Oh… begitu indah »
*
Duh
Aduhai
Swara seruling itu
swara saluang itu
Tepak gendang itu
Apa beda merdu mendayu merayunya
Apakah seketika di lembah Gunung Fuji
ataukah lembah Gunung Jinggang Jiangxi
Ah ah ah tak pula banyak perbedaannya
Lembah Gunung Tangkuban Perahu
Merapi Merbabu pun Gunung Sewu.
Nada irama merdu menggebu
keindahan menggugah
dinamika tenaga
gema bergema
Jejak teranjak
melonjak
Terbang
Mengawang awang
seperti kuda Semberani
seperti burung Rajawali
sekedar menenang rasa gundah gusar
Astagafirullah! Siapatah sang Bedebah kuasa berkuasa
Mengubah ini wilayah kaya raya berlimpah limpah
Rakyatnya hidup menderita sengsara senantiasa?
Keadilan dan Kemerdekaan terkungkung!
Ku ingin segera menyusul Guntur
memetik petir yang langsung ku kirim
ke singgasana Penguasa Zalim yang mungkir!
*
14.12 ?11
Catatan :
Nota Puitika ini berdasarkan nota ekspresi apresiasi berkaitan rekaman video musikalia berjudul “Gua Lawa”. Facebook 14 Desember 2011.
« Sungguh ku tak bisa berucap apa apa, selain pengen ikut terbang hanyut menggelantung di pundak mu hai AKI » (Muhammad Zaharuddin Jundullah)
« Oh… begitu indah » (Kinanti Laras).
Sondang
(puisi Adhie Massardie)

LANGIT runtuh
Hukum tersungkur
di kaki para koruptor yang bercokol
di pusat kekuasaan

Kau hanya anak sopir angkutan
yang mengais rejeki sepanjang jalan
tak akan sanggup melawan para tiran
yang mengendalikan semua aturan

Maka kemarahanmu yang membara
menghanguskan tubuhmu
Apimu memercik ke penjuru negeri
Membakar semangat perlawanan

Tubuhmu kini menyala
di hati sopir taksi, pedagang asongan,
ibu setengah baya yang mulai beruban,
dan kaum marhaen yang kau cintai

Dan mereka lalu menyeru:
“Patriot Perubahan akan terus melawan!”

Jakarta, 11.12.11

 
 

# Lentera Api untuk pahlawan muda yang telah pergi, Sondang Hutagulung – Puisi Sabiq Carebesth

Kuburkan ia sebagaimana prajurit yang menyalakan api di dalam nurani
Hujani ia dengan ribuan tangis nyeri sebagamana pemakaman pahlawan
Ia sudah bersumpah ribuan kali tak ada anjing dalam perutnya
Sebagamana tuan-tuan gemar memakan kepala anjing mentah-mentah
Ia, hanya menyanyikan kidung nurani; dan sudah itu mati:

“Satu-satu kita di paksa mati
Satu-satu kita dipaksa menjadi nyeri
Satu-satu kita nanti terbakar api
Satu-satu dari kita jadi korban ambisi penguasa negeri”

Kerakusan politik kekuasaan yang menggonggong dari dalam perutmu
Nanti akan memabuat riuh nyalak ribuan serigala dari kelamnya waktu

Mari sini, dendangkan syiar sunyi dari ribuan suara yang dipendam
Duduk dilangit yang gerhana; mempertanyakan nurani
Yang remuk redam ditelan pesta pora malam kaum pejabat yang berdoa menjadi lebih kaya;
Sebab tak pernah bersyukur atas perut buncit yang menelan kepala anjing mentah-mentah

Korupsi-korupsi tambah menjadi
Kolusi di sana-sini menelan hutan sawah ladang dan lautan
Dan kita dipaksa berdiri mati membakar diri
Tak terima melihat neraka nyala di bumi

Bakar dada karang kami yang membeku Sondang
Nyalakan lentera generasi yang duduk meneduh di ufuk frustasi
Kobar nyalakan matahari dalam dada kami
Biar membakar seluruh negeri
Dengan suluh dari memar dadamu yang lebam meradang

#salam hormat kami, dari generasi kecewa yang frustasi dan tak tahu diri, tak tahu rasanya terbakar api; tak mengerti nyerinya nurani yang dikuliti kesadaran mencintai generasi nanti, salam hormat dan selamat jalan…bahwa bagi kami nanti kematian hanya istirahat panjang; jangan berhenti bermimpi tentang negeri; Indonesia yang makin merobek nurani;

Jakarta, 12 Desember 2011

 
 
Surat untuk Sondang
(ajeng kesuma)

Sondang,
aku menuliskan surat ini ketika kau sudah tak lagi bisa hadir di tengah-tengah aksi,
katakanlah ini surat penyesalanku, yang tak peka membaca gelisahmu,
sebagai orang yang mungkin pernah berada dalam satu barisan bersamamu,
dalam aksi kamisan, dalam suara untuk munir, dalam teriakan untuk marsinah,
atau apapun itu yang menjadi bara kemarahan kita.

Sondang,
aku menuliskan surat ini untukmu sebagai bentuk permintaan maafku,
yang membiarkan gelisahmu menjadi bara yang membakar tubuhmu sendiri,
yang terlalu banyak berteriak tapi tak mampu memilih jalan keberanian sepertimu,
yang hanya bisa melantunkan doa-doa dan mencerca negara saat kematianmu,
yang memaki bangsa ini karena tetap diam menyaksikan tubuhmu yang membara perlahan menghitam dan menjadi abu.

Sondang,
aku menuliskan surat ini, agar kau bisa membacanya disana,
di rumah barumu,
tempat kau, munir, marsinah, udin, elang dan para pemberontak lainnya bertemu,
bacakanlah surat ini dihadapan mereka dengan suaramu yang lantang,
sampaikan;
bahwa jiwamu dan mereka masih hidup bersama kami,
bahwa kemarahanmu dan mereka membangunkan tidur lelap kami,
bahwa gelisahmu dan mereka membuka jalan perlawanan kami,
bahwa keberanianmu dan mereka menjadi tamparan bagi nyali kami,
bahwa perih di lukamu dan mereka mengingatkan kami pada derita di negeri ini,

Sondang,
aku menuliskan surat ini, sebagai rasa hormatku padamu,
pada keteguhan pendirianmu,
pada keras hatimu,
pada jalan pemberontakanmu,
pada cinta untuk bangsamu,
pada rasa kemanusiaanmu,
juga pada pengorbananmu,

dan jauh di dalam lubuk hati penguasa,
di balik wajah dan tubuh yang angkuh dan pongah,
mereka menangis, berteriak dan melolong
menyaksikan jelang kematianmu
tepat didepan pagar istana mereka

Sondang,
Jiwamu tetap bersama kami,
dalam barisan pemberontakan.

(‘jeng, bdg. 131211. Dalam semangat pagi, dibawah hangat matahari dari celah langit timur, kutuliskan surat ini sebagai hormat untuk Sondang Hutagalung dan mereka yang masih jadi korban penguasa).

 
 
 

Bakarlah Semangat! (puisi heri latief)

setelah tragedi sondang bakar diri
perubahan politik tak kan terjadi
orang sibuk urusan dirinya sendiri
riwayat solidaritas massa terbatas?

diatur tangan tangan tak kelihatan
mari kita menyumpahi mimpi
di balik skandal perkara korupsi

century, century, century
awas, tante sri mau balik lagi

isu demi isu membanjiri laptopmu
di antara dongeng dan fakta ada emosi
siapa lagi yang percaya bacot politisi
silat lidah pembohong jadi panutan?

bakarlah semangat!
rapatkan barisan demi persatuan!

Amsterdam, 10/12/2011

 
 
 
 
Sondang, Hanya M’nyala Abadi
*sementara apakah aku akan tetap tinggal rangka belaka
(puisi andreas iswinarto)

m’nyalalah nyala pijar apimu sondang
menembus atmosfer yang membuat kelu
menembus atmosfer berbangkai
penguasa yang lalim

menerobos
langit atas langit
cakrawala atas cakrawala
palung atas palung

melintasi
tanah, air, udara, tubuh, jiwaku
sungguh hanya abadi m’nyalamu

bakarlah bakar tubuhku
yang kini menjelma sekrup, onderdil dan mesin
bila tidak tinggal rangka

bakarlah bakar hingga luluh lantak
leleh serupa cor logam tuangan
menjelma manusia
lahir kembali
agung
dan mulia

tempa tempalah

mulutkui yang bisu
dong deng dong deng dong deng

telingaku yang tuli
dong deng dong deng dong deng

mataku yang buta
dong deng dong deng dong deng

lidahkui yang kelu
dong deng dong deng dong deng

hatiku yang kecut
dong deng dong deng dong deng

kaki tangankui yang lumpuh
dong deng dong deng dong deng

nuraniku yang tumpul dan membatu
dong deng dong deng dong deng

hingga
mulut
telinga
mata
lidah
hati
kaki
tangan
nuraniku
jadi palu bagi kepala batu
penguasa yang lalim
dong deng dong deng dong deng

bara luka jadi api

 
 
Api Diri (Sondang Hutagalung)
Oleh Risman A Rachman

Kawan, akhirnya kau menyediakan dirimu menjadi kayu yang menyala api agar rakyat sebagai besi-besi perlawanan segera tertempa menjadi rencong, keris, belati, pedang dan segala rupa ketajaman untuk bangkit bersatu, melawan

Kawan, akhirnya dengan api diri kau memberi tanda di mana segala ketajaman harus diarahkan, istana. Ya, istana. Bukan di mana-mana. Tapi, di sini, tempat dirimu berdiri, menjadi api, sebagai tanda segala ketajaman harus diarahkan.

Kawan, akhirnya dengan api diri kau memberi kabar terang sekali bagaimana rakyat mesti berkorban untuk menghentikan penindasan. Sama seperti zaman penjajahan, yakni pengorbanan. Dan kau sudah memberi kabar yang terang agar tiada lagi yang dikorbankan sia-sia di kegelapan kekuasaan. Ya lewat mesiu, ya lewat uang, ya lewat jabatan, juga lewat kata-kata serta citra.

Kawan, kami telah menghormati perjalananmu dengan gelar sarjana kehormatan dan gelar pahlawan mahasiswa sambil terus mengasah mata rencong, keris, belati, pedang keberanian untuk datang ke istana, entah kapan.

Kutaradja, 13 Desember 2011

 
 
gerimis air mata dan garis api
(puisi andreas iswinarto)

siang ini kukira makin susut digarap mendung
kita pun terhisap hanyut ditudung kelu
dan terasing
dari api ……………

terlalu jauh kembaramu api
hanya tertinggal titik dan jejak

tapi usahlah cemas
selalu ada gemuruh di bawah tanah, di palung laut
tak jemu menendang-nendang langit yang penuh dan memberat

hingga langit retak
lalu pecah
pada curah gerimis air mata
pada tambur gerimis garis api

menderas, membuih, menghanyutkan
membara, memijar, membakar

istana-istana
yang korup, sewenang-wenang, tanpa keadilan
berpendar-pendar pijarnya menjadi hangus
lalu hanyut ke selokan-selokan desa, kampung dan kota
akhirnya ke laut

(19.12.2011)

 
 

Elegi buat Sondang (oleh: Hegel) *

7-12-17.00 wib
Depan Istana Negara
Basah tubuh bersimbah minyak
Api menyala membakar
Raga jiwa
Setengah terbang
Surga terbuka
Malaikat tersenyum

Letih sudah melawan
Perjuangkan surga di bumi
Mimpi-mimpi trus mengusik
Harapan hidup tersemat lekat
Sarjana hendak diraih
Tapi kuasa membungkam
Rakyat melarat
Lapar melilit
Miskin merajam
Hak-hak dirampas
Penindasan tiada ujung!

7-12-17.00 wib
Depan Istana Negara
Basah tubuh bersimbah darah
Api membakar
Perbuatan adalah kebenaran
Diam
Konsisten
Lampaui teori-teori
Doktrin-doktrin gerakan

Bila kau yakin
lakukan saja
Karena tak ada beda
antara hidup dan mati
Pabila kau benar!

Bila kau yakin
Lakukan saja
Sampaikan derita kita
Tegak di hadapan kaum zalim
Karena tak ada beda
antara hidup dan mati
Pabila kau benar!

7-12-17.00 wib
Depan Istana Negara
Tanda zaman sudah kau mulai
Jutaan rakyat
kelak kan menguji iman
Lakukan saja
Karena tak ada beda
antara hidup dan mati
Pabila kau benar!

Kebenaran adalah tindakan
Tersingkap
Nyata
Diam
Konsisten
Perjumpaan hati
Kasih
Adil
Jujur
Sederhana
Saleh
Bijak
Smua yang indah di surga

Bila kau yakin
lakukan saja
Tanda zaman
sudah kau mulai
Jutaan kita
berbaris
‘kan menguji iman
Karena tak ada guna
hidup atau mati
Pabila kau salah!
Maka jadilah Sondang
Cahaya perlawanan rakyat!

(Pondok Kopi, 8-12-2011–17.00 wib)

 
 
Surat Sondang untuk Presiden
Oleh : Cucuk Suparno

Beginilah isi hati Sondang
Pemuda berani pembakar nurani
Mesti bikin malu seluruh negeri
Indonesia yang buta dan tuli
Bahagia jelata tinggal mimpi
Di antara puing reruntuhan harga tinggi

“Namaku Sondang!
Di mata Pak Presiden mungkin terbuang
Membela keadilan dipikir bikin onar
Membela rakyat dibilang anarkis
Membela hak asasi dicibir basi

Tapi,
Negeri ini membutuhkan kegilaan
Untuk membuka nurani senayan
Atau istana yang penuh borok luka
Dikelilingi manusia korup
Bertingkah suci tanpa jelaga.”

“Namaku Sondang!
Bakar diri adalah harga mati
Untuk keadilan terpuruk di toilet sepi
Di negeri yang gemar menggadaikan diri
Di negeri yang suka menelikung teman sendiri
Korupsi adalah panglima tertinggi”

Kutemukan surat Sondang ini
Di antara puing harapan
Panasnya api di jalanan
Di antara jejak para demonstran. (*)

 
 
Sajak Kepada Sondang
(edy firmansyah)

akhirnya kematian mengantarkanmu pada api
dibiarkannya lidah membara menjilat tubuh sendiri
berharap dijilat pula tubuh srigala-srigala berdasi
yang mengoyak harga diri
mengoyak juga berjuta-juta nasib yang pasi

lihatlah, ada bintang merah
menyembul dari sungai darah
sungai yang mengalir dari rumah-rumah miskin
sungai yang mengalir dari nadi-nadi angin
menghembuskan kematian begitu dingin
membawa cinta yang pergi datang kembali
mengalir ke dalam api

akhirnya kematian mengantarkanmu pada api
kulit yang melepuh, daging yang jatuh
dari kerangka tubuh
adalah genta yang ditabuh
untuk memanggil berjuta manusia berdaki
membawa obor mereka sendiri
mengepung istana
membakar penguasa
yang terus menanamkan dusta

akhirnya kematian mengantarkanmu pada api
aroma daging terbakar
menjelma harum bunga mawar
bagi hati yang tak tuli suara sunyi revolusi

 
 
Anak Moeda Bakar Diri
oleh edi sembiring

Toean, Anak Moeda ini jang berdiri di depan Istanamoe, boekan orang koerang sehat pikiran. Boekan joega oerang soeroehan bagai kerbaoe ditarik hidoengnja.

Toean, Anak Moeda ini berdiri tegar dalam njala api. Ja, tiang api jang ditatap Moesa ketika membawa bangsanja keloear dari Mesir. Tiang api jang menjadi tanda seroe jang tertonggak di depan istanamoe.

Ini seroean !!!
Ini peringatan !!!

Moengkin tak lama ia berdiri. Ketika pada akhirnja kakinja gemetar dan tersoengkoer….

Seperti itoe joega tatapnja pada nasib rejim Toean.

Merah Poetih melambaikan salam, dari tiang di depan istana,
….. diingatan terakhir.

(RIP. Sondang Hutagalung)

 
 

TERUNTUK SONDANG HUTAGALUNG – Fauzan Abschuetz Mahdami

Kawanku Sondang Hutagalung,
Mungkin sudah kau baca habis kisah Jun Tae IL
Yang meningatkanku akan seorang pemuda
yang menjadikan diri martir bagi perjuangan buruh di Korea
Mungkin juga kau mencermati dan hayati kisah Bouazizi di Tunisia
Atau kau ikuti kisah biksu di India atau Tibet atau kisah-kisah martir lainnya untuk sebuah tujuan mulia

Kawanku Sondang Hutagalung,
Kau sudah memilih dan memutuskan jalan itu
Kau resah dan gelisah atas nasib rakyat dan bangsamu
Kau korbankan dirimu untuk menyampaikan pesan kepada dunia
Bahwa seharusnya masih ada nurani dan martabat kita sebagai manusia
Kau mengingatkan pada sebuah nilai manusia dan kemanusiaan

Kawanku Sondang Hutagalung,
Kau gelisah atas nasib anak-anak bangsa ini yang tak bisa mendapatkan pendidikan layak
Kau marah atas nasib rakyat yang masih kelaparan, tak berdaya dan selalu dibodohi
Kau muak atas perilaku begundal politik dan ekonomi yang dengan rakus menggerogoti daging dan darah bangsa ini

Kawanku Sondang Hutagalung,
mungkin kau masih ingat lirik lagu “panggung sandiwara”
ternyata mereka memilih peran berpura-pura, kemunafikan
mereka jadikan istana dan gedung rakyat sebagai panggung yang megah
mereka perjualkan belikan nasib rakyat dan bangsa ini sambil tersenyum bengis
mereka memang tak peduli banyak gedung sekolah roboh
mereka memang tak peduli banyak anak bunuh diri
mereka memang tak peduli rakyat kelaparan
mereka memang tak peduli rakyat banyak dibunuhi
mereka memang tak peduli kerusakan lingkungan
Mereka remas dan pelintir hukum, walau mereka yang membuatnya
mereka hanya peduli untuk memuaskan nafsu syahwat kekuasaan dan kekayaan

Kawanku Sondang Hutagalung,
kau memilih menjadi percikan api
yang akan membakar ilalang kering agar menjalar
untuk menghanguskan kedurjanaan
untuk meruntuhkan kesombongan dan kerakusan
untuk menghancurkan kepongahan kekuasaan
untuk menghentikan sandiwara
Agar kita kembali melihat kenyataan
Bahwa masih banyak yang harus kita kerjakan
Mengembalikan nurani dan martabat
Untuk rakyat dan bangsa ini
Dengan mengorbankan hak asasimu yang paling mendasar
Semoga darah juangmu diterima keharibaan bumi pertiwi ini
Semoga Tuhan menerimamu dipangkuan-Nya
Selamat jalan kawanku, semoga kami dapat melanjutkan cita-cita dan perjuanganmu

 
 
 
 
Sondang…
(narasi dan gambar oleh Hang WS)

teror itu telah menghunjam hingga pada batas kata
bahkan umpatan sudah habis diserapahkan
tapi mereka tetap saja bisu dan tuli
sambil mengunyah beribu papa saudara seibu pertiwi
lantas..
sebentuk cinta telah menjadi bara membakar
mengabukan materi yang telah menjadikan fitnah berkepanjangan
tapi…
mereka tetap saja tak peduli
sambil menghitung sembilihan beribu nasib saudara seibu pertiwi.
Selamat jalan kawan..biarkan ragamu mati, tapi jiwamu akan bersemayam di jiwa-jiwa pencari kebenaran

 
 
 
Api (Sondang Hutagalung)
Tyo Prakoso

Menyalalah dan membakar tubuh
menagih akan keadilan yang semakin mahal untuk diperoleh
di negeri ini, Indonesia .
bahkan nyawa tak cukup menggadai atau merampasnya
hanya mereka yang setia dengan keyakinan atas segala perjuangan
Sondang Hutagalung !
api tak hanya membakar tubuhmu,kawan
yang gelisah dan resah dengan nusantara
tapi ikut juga membakar semangat kami, kita, dan rakyat Indonesia,
yang akan setia dengan perjuangan yang kita teriakan !
demi Aceh sampai Papua
demi kang ade, tukang sol septu dipasar pondok gede
yang digusur SAT POL PP
demi si Agus bocah kalimalang
yang harus bernyanyi dipinggir jalan
untuk merampok hak pendidikannya yang dicuri mereka yang tak punya hati .
dan demi kaum Marhaen yang setia dan cinta
dengan Pancasila & Indonesia
serta demi ibu pertiwi yang sedang meringis sedih
karna duka yang tak kunjung pergi.
Kita kan rapatkan barisan menuntut keadilan & perubahan !
api yang membara membakar mereka yang memiliki hati nurani & yang pantas dipredikati ‘manusia’
atas segala kelaliman & kezhaliman
mereka yang aman-nyaman-mapan dipucuk kekuasaan
mereka yang mengobral murah dan mensdustakan janji perjuangan 45′ dan 98′
kini kita, kami dan segenap bangsa Indonesia
menundukkan kepala sejenak untuk mengheningkan cipta
bagimu pahlawan
Sondang Hutagalung .
dan kami siap melanjutkan perjuangan
dengan segala kegelisahan-kegetiran-keresahan yang terlanjur memuncak
kami tidak percaya !!
R I P
( Revolutionery In Peace )
Djakarta, 12/12/11

api pembebasan di negeri ngeri
(puisi andreas iswinarto)
ini negeri negri
di layar televisi jadi tontonan
sebugil-bugilnya, seporno-pornonya
celeng biru, celeng kuning, celeng hitam, celeng putih, celeng hijau, celeng loreng, celeng merah, celeng coklat, celeng oranye…..
pesta pora rakus hasil meremas, memerah, memeras kering ibu pertiwi
pesta pora rakus hasil meremas, memerah, memeras tandas rakyat jelata
 
dan kulantunkan lagi dengan menghentak-hentak…..
malam akan juga usai
menatah perih pada debar-debarnya
lalu mohon diri untuk waktu mati
 
sondang terus hidup dalam matinya
dan siapa yang ingin mati dalam hidupnya?
mari tabur bunga boeat sondang
nyalakan api pembebasan
m’nyalalah nyala
Dari Dia yang Terbakar
(wildan pramudya)
Tuan paduka penghuni istana
sudah lama dia bersuara tentang ketidakadilan, tapi tak pernah kau dengar
barbait parau ikhwal kemiskinan dia teriakkan, tak pernah jua kau hirau
tulikah tuan? Atau pintu dan jendela istana tertutup terlalu rapat
sehingga tuan tak pernah mendengar, tak bijak bermaklumat ?
 
Tuan
dia yang selalu bersuara, kini sudah tak bersuara
dia yang selalu berteriak, tak lagi bisa berteriak, terbujur hitam diam
karena dia sudah menjadikan diri arang, membakar diri di depan istanamu
bukan untuk pencitraan politik, bukan pula frustasi!
tapi karena suara, kata dan teriakannya tak pernah kau dengar
 
Ia memangggang tubuhnya, biar tuan keluar dari istana membelalak mata
peduli pada jutaan jelata di luar sana, yang sudah lama sekarat
dia menghanguskan jasad, agar tuan kasat melihat
hidup mereka yang tekapar lapar dengan harapan yang makin terkelupas
dia harus menanggung erang, menambus kulitnya yang belulang
agar tuan dan semua aparat bertobat, mengingat perihnya duka:
mereka yang terluka
yang terpenggal
yang tergusur
yang terkubur
Tuan paduka penghuni istana
dia memilih mati muda dengan cara tak biasa
bagimu mungkin ia dikira gila atau putus asa
tapi bagi kami tidak! ia adalah tanda bermakna satu: perlawanan!
agar negeri ini tidak bernasib tubuh yang dibakar sendiri oleh sang tuan
sebelum semua harapan hangus di lepuh nyeri
2011
Ode buat Sondang Hutagalung
(puisi Thendra Malako Sutan)
api rabu yang membakar dirimu menyalakan jiwa hari lain;
dentang lonceng perlawanan, nadi kemiskinan, ketidakadilan
negara yang dijalankan oleh dusta bersama.
korporasi-konspirasi seperti zombie,
menghisap nafas hutan basah,
menghisap darah rahim tanah,
menghisap cahya bawah laut,
menghisap hangat matahari tropik,
menciptakan kematian dan tulang di mana-mana…
masa depan adalah kuburan.
 
api rabu yang membakar dirimu
adalah api bawah tanah…
Desember 2011
SONDANG SANG PEMBERANI
Achanq Hadar
Aku baru terbaring di pusara ini kemarin,
terasa damai telah tunaikan tugas tuk bangsa ku tercinta,
sedang poranda, rakyat nelangsa dari keangkuhan dan ketamakan penguasa bangsa ku sendiri,
 
biarkan aku dalam kesendirian di sini, tak perlu dijenguk hanya membuang waktu, baiknya digunakan memulai perubahan dengan “tindakan” meski tidak seperti yang ku lakukan,
 
bagi yang masih hidup raga, jiwa, nurani, harus bisa mengusir penguasa biang kehancuran bangsa itu dari istana, sekarang…
sebelum pusaraku kering oleh matahari, lekang oleh hujan dan daging ku lebur,
 
jangan tunggu dan berlama lama, seprti aku yang tidak menunggu dan menunda nunda, tiada kata apalagi basa basi tuk revolusi, kecuali tindakan !
kerna “revolusi adalah pelaksanaan kata kata” yang sering didengungkan RENDRA yang akan ku temui di sini…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s