Kudeta Suharto, Genosida 1965-1966 dan Putar Haluan Kebijakan Negara : Menelisik Masuknya Kuda Troya ‘Kapitalisme’ Dari Universitas-universitas dan Yayasan-yayasan di Amerika Serikat

simak pula

THE SHADOW PLAY DAN / CIA REGIME IN INDONESIA : KETERLIBATAN PEMERINTAH AMERIKA SERIKAT DALAM GENOSIDA 65-66

Akumulasi Kapital (Akumulasi Primitif) dan Genosida 1965-1966 [Kajian Makro dan Lokal Banyuwangi, Timor, Flores)

Genosida Politik 1965-1966, Kudeta, Penjarahan Kekayaan Alam dan Penjajahan Baru

Ekonomi Politik Genosida 65-66 : Tak Hanya Ratusan Ribu Kepala, Proklamasi 17-8-1945 Pun Ditebas (kumpulan artikel)

Membongkar‘Pembenaran’ Genosida 1965 dan Kekerasan Budaya Orde Baru (Mengenang Wijaya Herlambang)

[ARSIP] Manipol/Usdek, Resopim, Dekon : Garis Besar Haluan Negara Masa Demokrasi Terpimpin / GBHN Terakhir Sebelum G30S dan Kudeta Suharto

Genosida Politik 1965-1966 dan Hilangnya Satu Generasi Intelektual Indonesia

Genosida Intelektual 1965 dan Perampasan 16 Institusi Pendidikan ‘Kiri’

*ilustrasi cover Yayak Yatmaka

*************

US ocials in the 1960s believed that integrated technical, military and economic assistance programmes would stabilise and modernise the Indonesian economy while plugging holes in the containment dike being breached by PKI activists and Soviet and Chinese ocials. But this was a contested strategy, vulnerable to domestic critics in the US, dependent upon Western-oriented techno-crats in Indonesia and Sukarno’s willingness to adopt policies urgedupon it by the US and the IMF, and contingent upon Washington’sallies playing roles that complemented its regional policies. Chief among these unforeseen contingencies was Britain’s formation of Malaysia out of the remnants of its Southeast Asian empire in theearly 1960s. Indonesia’s opposition to Malaysia’s creation in late 1963 would lead over the next two years to a low-level military confrontation with Malaysia (Konfrontasi), Britain and, indirectly, the United States. Konfrontasi also accelerated Indonesia’s gravitation toward China and away from the USSR, and accelerated political polarisa-tion and economic collapse in Indonesia. By the time of the Sep-tember 30th Movement, the US and many of its allies viewed the wholesale annihilation of the PKI and its mass base as an indispen-sable prerequisite to Indonesia’s reintegration into the international political system, and supported the establishment of a modernisingmilitary regime as the logical means of achieving this aim.

Selengkapnya “Dimensi Internasional Pembunuhan Massa di Indonesia, 1965-1966,” (The International Dimensions of the Mass Killings in Indonesia, 1965-1966) in Bernd Schafer, Ed., Indonesia and the World in 1965/1966 (Goethe Institut and Gramedia: Jakarta, 2012). 

 

“Indonesia’s ‘Accelerated Modernization’ and the global discourse of development,” Diplomatic History 33:3 (June 2009), 467-486 – Brad Simpson

 

simak studi/kajian Bradley Simpson lebih lanjut

Artikel (Kajian) Ilmiah Bradley Simpson Terkait Genosida 1965-1966 – Bradley Simpson Articles on Indonesian Genocide/Massacre 1965-1966 

 

economist-with-guns

 

Mafia Berkeley dan Pembunuhan Massal di Indonesia

Kuda Troya Baru dari Universitas-universitas di Amerika Masuk Indonesia

 

versi asli

 

The Berkeley Mafia and the Indonesian Massacre* By David Ransom

 

 

North American Universities and the 1965 Indonesian Massacre: Indonesian Guilt and Western Responsibility – Peter Dale Scott

 

The “Big 3” Foundations and American Global Power by Inderjeet Parmar

(“Ford, Rockefeller, and Carnegie”)

*cermati bagian Case Studies of Foundation Programs Indonesia: Prerequisites for a Coup D’etat

 

In 1971, while on a consulting mission for the Ford Foundation, Geertz had spent time in social science faculties on several Indonesian university campuses; in some of them as many as one-third of all staff had lost their jobs in the anti-communist purges of 1966-7. During this visit he had also spent time in Jakarta as guest of the Ford Foundation, an agency which, having close connections to the US embassy and the CIA as well as the Indonesian military and cabinet, was well in touch with the emerging facts about the involvement of the US government and the Indonesian army in orchestrating the anti-PKI campaigns of 1965-66.


For all these reasons, Geertz was, at that time, probably as well informed as any foreign scholar about the actors and processes of Indonesia’s massacres, both at national and at local level. Like many others, I expected that Geertz would sooner or later decide to put this knowledge to use in one of the typical, reflective essays for which he had become so famous, to help us understand this extraordinary and dreadful tragedy in Indonesia’s post-colonial experience. So far as I know, however, no such essay exists. In the twenty years that followed the killings Geertz alluded to them in only a few scattered references.

 

Geertz’s avoidance of any serious discussion of the Indonesian mass murders of 1965–66, and what they mean for our understanding of Indonesian politics, is both puzzling and revealing. This does seem to be a good example of what Wertheim in his later years called the “sociologists’ blind spots”, or the “sociology of ignorance” [Wertheim (1984) (1975)]. One dimension of this, about which Wertheim has written, is Geertz’ chronic blindness to class inequalities in Javanese society. Many young researchers of the 1970s, both Indonesian and foreign, had become convinced that the picture of harmonious, poverty-sharing village communities established in such writings as Agricultural Involution was not right. As Wertheim remarked, Geertz’s vision of rural Javanese society mirrored the blindness of colonial and post-colonial élites, whose idea of the harmonious and homogeneous village community was derived from, and promoted by, the village élite themselves (Wertheim 1975: 177-214; cf. Utrecht 1973: 280). There is certainly a striking lack of fit between Geertz’s accounts of Javanese homogeneous rural and small-town culture and the many violent political conflicts in the region both before and after his fieldwork.

Selengkapnya Professional Blindness AndMissing The Mark ~ The Anthropologist’s Blind Spots: Clifford Geertz On Class,Killings And Communists In IndonesiaBen White

 

Perancang Ekonomi Orde Baru – historia.id

Kebijakan ekonomi Widjojo dianggap lebih menekankan pertumbuhan dan pasar bebas. Dituduh sebagai Godfather “Mafia Berkeley.”

Bagaimana Widjojo Nitisastro Merancang Ekonomi Orde Baru? – tirto.id

 

Perubahan politik pasca-G30S 1965 mengubah arah ekonomi Indonesia. Menghadapi kebutuhan mendesak untuk mengatasi masalah ekonomi yang serius, Soeharto berpaling pada sekelompok ekonom muda dari Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (UI). Mereka adalah Widjojo Nitisastro, Ali Wardhana, Mohammad Sadli, Subroto, dan Emil Salim. Soeharto mengenal mereka ketika mengikuti kursus di Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (Seskoad) di Bandung di mana mereka kerap jadi pengajar.

Pada Januari 1966, Sejumlah ekonom mendiskusikan pemecahan masalah ekonomi dan keuangan di Universitas Indonesia. Pada Mei, diskusi serupa kembali digelar. Saran-saran yang muncul dari seminar-sem inar itu jadi kebijakan ekonomi Kabinet Dwikora yang Disempurnakan dan mempengaruhi rumusan-rumusan ketetapan MPRS tahun 1966 yang menjadi tonggak Orde Baru.

Komitmen Orde Baru pada pemecahan masalan ekonomi itu diperkuat ketika Angkatan Darat menghelat Seminar AD II di Bandung pada 25 Agustus 1966. Widjojo dkk, ditempatkan di Subkomite Masalah Ekonomi, bertugas menyusun naskah mengenai jalan keluar untuk menstabilkan dan merehabilitasi perekonomian. Rekomendasi para ekonom itu diterima tanpa diskusi berkepanjangan. “Seminar ini memberi pimpinan Angkatan Darat –yang merupakan unsur penting Orde Baru– ‘buku masak’ berisi ‘resep-resep’ untuk menangani masalah-masalah ekonomi Indonesia yang serius,” ujar Mohammad Sadli.

Tak lama sesudah seminar itu, 12 September 1966, mereka diangkat sebagai Staf Pribadi Ketua Presidium Kabinet. Ketika Soeharto resmi menjabat presiden, mereka menjadi Tim Ahli Ekonomi Presiden, dengan penambahan Menteri Perdagangan Sumitro Djojohadikusumo, Menteri Perhubungan Frans Seda, dan Gubernur Bank Indonesia Radius Prawiro.

Selengkapnya Riwayat Masuknya Modal Asing Ke Indonesia – historia.id

Fifty Years of Indonesian Development: “One Nation,” Under Capitalism … by Brian McCormack

 

Making Manpower: The Ford Foundation’s Building of Postcolonial Political Economy in India and Indonesia by Brandon Kirk Williams University of California, Berkeley

How was the Market Economy Implanted in Developing Countries? The Cases of Chile and Indonesia Shin Yasui (Kobe University)

Seperti pengalaman Chili, Indonesia memulainya dengan kekerasan paling barbarik dalam sejarah kemanusiaan di abad lalu, ketika ratusan ribu orang diburu dan dibunuh, dengan tuduhan sebagai anggota atau simpatisan PKI, dan sebagian dikirim ke kamp-kamp isolasi Pulau Buru, tanpa proses pengadilan (J. Roosa, 2006, R. Cribb, 2002). Dan pembunuhan itu jelas-jelas di bawah dukungan kuat USA. Peristiwa ini sendiri tidak boleh dibaca sebagai peristiwa politik yang berdiri sendiri, tetapi jelas berhubungan dengan bagaimana sebuah masyarakat akan diorganisasikan menurut kaidah-kaidah ekonomi kapitalis pada masa-masa berikutnya. Apa yang terjadi adalah lahirnya sebuah rejim kapitalis, di mana ide-ide neoliberal – disuarakan kelompok teknokrat yang lazim disebut Berkeley Mafia (D. Ransom, 1970) – secara perlahan mulai dipraktekkan, misalnya, dengan membuka pintu secara lebar bagi investasi swasta asing. H. Farid (2005) menunjuk perkembangan ini sebagai bagian dari ‘primitive accumulation,’ proses penumpukan kekayaan yang bertumpu pada hak milik pribadi, yang didahului atau dilakukan dengan kekerasan yang berdarah-darah.

Kita sudah lihat bersama, segera setelah kekerasan brutal 1965, IMF dan Bank Dunia memainkan peran penting, bersama-sama dengan negara Barat, mendorong pemerintah Orde Baru menerapkan ekonomi kapitalis. Juni 1968, Presiden Bank Dunia Robert McNamara, mengunjungi Jakarta dan kemudian menempatkan stafnya di Jakarta dalam jumlah besar setelah kantornya di Washington (May, 1978). Rezim baru secepat kilat memperkenalkan kebijakan pro investasi asing, yang dimusuhi di masa sebelumnya. Di antaranya, untuk menghilangkan trauma nasionalisasi, maka pemerintah mengeluarkan UU No.1/1967 tentang Penanaman Modal Asing (PMA), yang menjamin tidak terjadi nasionalisasi atau pencabutan hak. Pemerintah juga merangsang investasi asing dalam bentuk pengurangan atau pembebasan pajak (tax holiday). (dipetik dari bag 2 artikel Arianto Sangaji

selengkapnya Neoliberalisme – Arianto Sangaji Bagian 1, Bagian 2

Widjojo Nitisastro, Mafia Berkeley, dan Restorasi Ekonomi Indonesia – Made Supriatma

CGI, Mafia Berkeley, dan Penghapusan Utang – Dani Setiawan

Dari Kisah “The Berkeley Mafia”

Catatan atas Esei di bawah ini penting kerna isinya dengan gamblang dan jelas menunjukkan betapa bahkan sejak tahun 1971 pun, yaitu tahun penerbitan esei di majalah TEMPO, Goenawan Mohamad adalah pendukung serius dari Mafia Berkeley dan kebijakan ekonomi Neoliberal mereka! Begitu seriusnya Goenawan Mohamad membela Mafia Berkeley, kebijakan ekonomi Neoliberalnya dan pihak asing di belakang keduanya (yang sekarang kita tahu adalah Amerika Serikat) hingga eseinya di bawah terkesan begitu propagandistik dan jadi pamflet murahan! (Boemipoetra)

 *tanggapan Goenawan Mohamad terhadap artikel The Berkeley Mafia and the Indonesian Massacre* By David Ransom (baca di bagian atas)

simak 700 ‘entry’ lainnya pada link berikut

Daftar Isi Perpustakaan Genosida 1965-1966

Road to Justice : State Crimes after Oct 1st 1965 (Jakartanicus)

Definisi yang diusulkan D. Nersessian (2010) untuk amandemen/ optional protocol Konvensi Anti-Genosida (1948) dan Statuta Roma (2000) mengenai Pengadilan Kejahatan Internasional. (disalin dari Harry Wibowo)
13047818_10209343119272764_8338060706038815101_o13043485_10209343122352841_1135692553504633931_n (1)

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s