Memoar Oei Tjoe Tat : Warisan Pengalaman untuk Angkatan Muda dari Seorang Loyalis Soekarno (yang Dipenjarakan Suharto)

simak pula

Penyingkiran dan Pemenjaraan 21 Menteri Loyalis Sukarno Pasca G30S dan Supersemar 

 

 

Oei Tjoe Tat (OTT) dan Sukarno tidak bisa dilepaskan satu sama lain. OTT dikenal sebagai loyalis tulen Bung Besar dan tidak pernah sekalipun mengkhianati kepercayaannya. Sekalipun rezim politik sudah berganti, ia tetap berpegang teguh pada prinsip hidupnya sebagai seorang Sukarnois. OTT menolak berkolaborasi mendiskreditkan Sukarno, meski beberapa kali kesempatan itu hadir di depan matanya.

Penahanannya jelas bersifat politis ketimbang yuridis. Ia difitnah terlibat G30S dan dipaksa mendekam di penjara selama belasan tahun. Namun tidak pernah sedikit pun ia menyesali jalan hidupnya. Jeruji besi tidak membuatnya gentar.

 

selengkapnya Sejarah Hidup Oei Tjoe Tat, Loyalis Bung Karno hingga Akhir Hayat – tirto.id

 

Oei Tjoe Tat, Loyalitas Tiada Akhir – berdikarionline

 

****

 

Oei Tjoe Tat [1922-1996] – Dialog Dengan Saksi Dan Pelaku Sejarah – “Tinggalkan Warisan Pengalaman Bagi Generasi Muda

tentang

Warisan Pengalaman Bagi Generasi Muda

KEADAAN EKONOMI SEPUTAR ORLA

RRC DAN G30S

 

Oei Tjoe Tat, Loyalis Soekarno Pembela Hak Etnis Tionghoa – okezone.com

 “I’m old now and will die some day. But people encouraged me to write my personal experience,” said Oei Tjoe Tat, a former minister to the late Indonesian President Sukarno, adding that Catholic priest Y.B. Mangunwijaya and Moslem leader Abdurrahman Wahid, two of the most influential religious leaders in Indonesia, also asked him to write the extraordinary story of his role in Indonesian history.

“They argued that it is not my own personal story. It belongs to the nation-state of Indonesia,” said the sad-eyed Oei, looking on life a little more brightly as he sat surrounded by his wife, his children, his grandchildren and more than 1,500 guests, comprised mostly of opposition political figures, human rights workers and scholars.

His final wish was fulfilled on that day. His biography, entitled Memoir of Oei Tjoe Tat: An Assistant to President Sukarno, had 20,000 copies in print. The 400-page biography was jointly edited by Indonesia’s number one novelist, Pramudya Ananta Toer, and young journalist Stanley Prasetyo Adi. Literary observers praised the memoir, saying that it is a well written biography — a rare commodity in Indonesia.

selengkapnya For Indonesia’s Oei Tjoe Tat, Memoirs Are an Epitaph – Andreas Harsono

 

Oei Tjoe Tat

 


Tentang Factfinding Commision / Komisi Pencari Fakta Korban Pembunuhan Massal ‘1965’ (sumber : Memoar Oei Toe Tat : Pembantu Presiden Soekarno – Hasta Mitra)

 

Factfinding Commission Komando Operasi Tertinggi terdiri dari Ketua/Menteri Dalam Negeri : Maj. Djen TNI Dr Soemarno. Yang beranggotakan Menteri Panglima Angkatan Kepolisian : Insp. Djen. Pol. Soetjipto Joedodihardjo; Menteri Penerangan : Maj. Djen. TNI Achmadi; Menteri Agraria : Hermanses SH; Menteri Negara d/p Presidium Kabinet : Oei Tjoe Tat; Ketua G.V/KOTI/Kol. TNI Soenarso; Drs Kilian Sihotang/Partai Kristen Indonesia; Chalid Mawardi/NU; Drs Zaini Mansur/PNI.. Tim ini mengunjungi daerah-daerah Bali, Jawa Timur, Jawa Tengah dan Sumatera Utara antara tanggal 27 Desember hingga tanggal 6 Januari 966.

Laporan resmi menyebutkan bahwa korban tewas berjumlah 78.000 orang dan jumlah orang yang ditahan berkisar 106.000 belum termasuk Bali.

Namun demikian dalam Memoarnya, Oei Tjoe Tat menyebutkan kepada Presiden Sukarno yang memanggilnya secara pribadi bahwa korban bisa 5 hingga 6 kali (angka resmi) yakni lebih kurang 500.000 atau 600.000. Dalam memoar itu disampaikan pula bahwa ketika ia menanyakan kepada salah satu anggota tim Achmadi, yang kemudian menyebutkan perkiraan sepuluh kali lipat dari angka resmi. Dalam memoar Oei Tjoe Tat menceritakan secara singkat perjalanan tim pencari fakta termasuk kendala yang dihadapi tim ini, selain itu ia mengatakan bahwa pembunuhan itu masih berjalan terus dan bahkan makin meningkat.

 

simak pula

Berapa Jumlah Korban Pembantaian Massal 1965-66? [Bukan Cuma Angka, Mereka Bernama dan Sepenuhnya Manusia]

 

periksa pula

Jejak Langkah Oey Hay Djoen [Tapol 001] : Dari Gerilyawan Kota, Parlemen, Buru hingga Buku (1929-2008)

Tan Swie Ling :”Riungan dan Tegar Hati, Bekal Bertahar di Tengah Kegilaan”* lGenosida Politik 1965-1966

Jejak Yang Dihilangkan : Sumbangsih Siauw Giok Tjhan dan Baperki I Genosida Politik 1965-1966 

Oei Hiem HWIE : Dari Terompet Masyarakat, Pulau Buru Hingga Medayu Agung

 

 

 

 

 

simak 600 ‘entry’ lainnya pada link berikut

Daftar Isi Perpustakaan Genosida 1965-1966

Road to Justice : State Crimes after Oct 1st 1965 (Jakartanicus)

Definisi yang diusulkan D. Nersessian (2010) untuk amandemen/ optional protocol Konvensi Anti-Genosida (1948) dan Statuta Roma (2000) mengenai Pengadilan Kejahatan Internasional. (disalin dari Harry Wibowo)
13047818_10209343119272764_8338060706038815101_o13043485_10209343122352841_1135692553504633931_n (1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s