‘penghormatan/pemulihan harkat’ para korban pembantaian massal “65 : bagi mereka yang terkubur; tanpa doa; tanpa upacara; tanpa bunga (kisah dari wonosobo, plumbon, purwodadi – jateng, maseans – bali, sikka – ntt) #kuburanmassal  

‘penghormatan/pemulihan harkat’ para korban pembantaian massal “65 : bagi mereka yang terkubur; tanpa doa; tanpa upacara; tanpa bunga (kisah dari wonosobo, plumbon, purwodadi – jateng, maseans – bali, sikka – ntt) #kuburanmassal 

 

 “Mangku takkan memperlakukan sahabatnya seperti itu. Dia membungkus jasad sahabatnya dengan hormat, membawanya menyeberangi selat. Sesampai di daratan Sumatera, Mangku membopong tubuh kaku kera itu menuju daratan yang agak tinggi, menatap selat.

Mangku tegak di atas lutut menghadap lubang. Berdoa beberapa saat, lantas dia menimbuni kuburan itu dengan tanah. Juga air mata. “Persis sebagaimana kau dikuburkan ini, begitulah kematian yang kuinginkan. Mati baik-baik, kawan. Diiringi doa….”

dipetik dari cerpen Martin Aleida “Mangku Mencari Doa di Daratan Jauh”

 

****

 

 

Perindu “Rekonsiliasi Ruh”

Puisi Romo Budi Aloysius Budi Purnomo.

Dialah Mbah Kelik warga Plumbon penutur cerita saksi sejarah yang merindukan “Rekonsiliasi Ruh” agar bangsa ini damai sejahtera

Para kurban itu –

Mereka PKI – katanya

ditembak sepihak

mati

lalu tumbang

terlempar ke lubang

terkubur

tanpa doa

tanpa upacara

      tanpa bunga    

mbah Kelik merindukan

agar Ruh-Ruh Mereka Bahagia

apakah kerinduan kita?

paling tidak aku

ikut merindukan juga

16.12.2014

11.11

*dalam buku “Rinduku Lahir Menjadi Penyair”

“Gagasan yang diusung dari penisanan ulang adalah perihal kebersamaan dengan melibatkan sebanyak mungkin elemen masyarakat. Untuk melakukan hal tersebut, penisanan dilakukan dengan tiga cara: secara Islam, secara Katolik, dan secara Kejawen. Kegiatan ini juga melibatkan unsur mahasiswa dengan beragam latar belakang, antara lain: GMNI DPC Semarang, PMII Undip, IMM Ibnu Sina Undip, Exsara, RBSS, Komunitas Payung, dan lain sebagainya. Setelah sosialisasi sepanjang bulan September 2014-Mei 2015, beberapa hari sebelum acara dimulai kepanitaan mahasiswa dibentuk. Warga sendiri menyambut dengan antusias, dalam persiapannya berkoordinasi dan secara gotong royong bersama dengan mahasiswa menyiapkan perlengkapan acara. Prioritas utama adalah pelayanan dan persiapan terburuk pengamanan para eks-tapol yang telah berusia lanjut. Tajuk utama dari acara ini mengadopsi ide dari Mbah Kelik: Rekonsiliasi Roh, bahwa kedamaian bukan hanya untuk mereka yang hidup, namun juga kepada mereka yang telah tiada.
Acara berlangsung lancar, dengan dihadiri oleh warga, Pemkot, Camat, Lurah, Perhutani, Ketua Banser Jawa Tengah, mahasiswa, jurnalis, kawan pegiat HAM dari Kendal dan lain sebagainya. Tiap-tiap perwakilan tersebut turut memberikan testimoni. Isu-isu ancaman akan adanya kekerasan yang sempat muncul sebelumnya tidak terjadi. Upacara penisanan diawali dengan sambutan-sambutan, antara lain dari Kesbangpol mewakili Pemkot Semarang, Camat, Lurah, dan kemudian doa bersama. Sembari menaiki bukit menuju kuburan, shalawatan didengungkan, diiringi oleh saxophone dari Romo Aloysius Budi. Nuansa haru tidak tertahankan, baik eks-tapol, keluarga korban, dan mahasiswa, menangis baik pada saat pembacaan doa maupun ketika lagu Bagimu Negeri dinyanyikan.”
Dipetik dari Rekonsiliasi Roh ala Mbah Kelik di Plumbon, Semarang  – Rian Adhivira
*******
 
“.. tapi apapun juga yang saya dapatkan, biarpun cuma secuil tulang dari ayah saya itu sudah jadi kebahagiaan..”
-Ibu Sri Murhayati (anak almarhum Muhadi)
Penggalian Kuburan Massal dan Pemakaman Kembali Tulang Belulang Anggota Keluarga Yang Ditemukan di Kuburan Massal di Wonosobo

******
MASEAN’S MESSAGES – Masean Jembrana

Suliksa menambahkan pembongkaran kuburan peristiwa 1965 ini juga adalah wujud penghormatan bagi mereka yang harus jadi korban dalam suasana politik yang memanas saat itu.

“Sebagai umat Hindu, kita meyakini yang meniggal harus dapat upacara agar arwah mereka tenang. Belum tentu juga mereka bersalah,” katanya sambil siaga memandu proses pembongkaran lewat pengeras suara.

*********

“Pada hari ini kita berkumpul juga untuk mendoakan secara saudara-saudari kita yang telah meninggal 50 tahun lalu pada Peristiwa 1965. Orang-bisa yang meninggal bisa jadi mereka bersalah, tapi kesalahan tidak boleh kemudian menjadi alasan untuk menghabisi mereka. Kita orang Kristen harus mendoakan mereka agar jiwa mereka diterima dalam persekutuan. Di dalam kasih Tuhan. Dalam perayaan ekaristi ini kita mau mendoakan saudara-saudara kita yang sudah meninggal dan menempuh akhir hidupnya secara tidak adil. Yesus yang datang ke dunia untuk membawa revolusi sosial mengundang kita untuk berani menguak kebenaran masa lalu dalam masyarakat kita juga di bangsa kita…”

“Salah satu cara yang diajarkan Yesus dan itu ada dalam kitab suci adalah menguak kebenaran. Karena hanya kebenaran yang membebaskan kita. Tanpa kebenaran tidak ada rekonsiliasi, tanpa kebenaran tidak ada kedamaian. Tanpa kebenaran tidak ada hidup tanpa konflik.” tambahnya.

“Pada bulan Mei ini kita mendoakan agar saudara kita yang meninggal secara tidak adil bisa damai..” demikian dari Romo John. Prosesi berikutnya adalah persembahan dari jemaat. Hasil bumi berupa seikat besar singkong, keladi, sayuran dan telur ayam dipersembahkan dan ditata di meja. Romo John membacakan doa “Keselamatan bagi warga Dobo, bagi para arwah korban 65 yang dilupakan..”

10300875_800933699931438_1359493308107667764_n

9674-azemdoyong-655x360

TABUR BUNGA: Ketua YPKP 65 Pusat Bedjo Untung bersama para peziarah melakukan tabur bunga di lokasi kuburan massal korban Tragedi 65 di Pandanwangi, Pemalang (28/8). [Foto: YPKP’65/Hum]

190825_113650_ziarah-penggarit-655x360

PEZIARAH: Ratusan peziarah bergambar bersama di dekat lokasi kuburan massal Penggarit, Taman, Pemalang (25/8) seusai melaksanakan prosesi tabur bunga. [Foto: YPKP’65/Hum]

71961435_565909247512196_433557277580984320_n

YPKP 65 Berikan Data Temuan 364 Kuburan Massal Tragedi 1965 ke Kejagung 

simak 700 ‘entry’ lainnya pada link berikut

Daftar Isi Perpustakaan Genosida 1965-1966

Road to Justice : State Crimes after Oct 1st 1965 (Jakartanicus)

14542544_1036993449746974_4443364972569517121_o

13047818_10209343119272764_8338060706038815101_o13043485_10209343122352841_1135692553504633931_n (1)
Definisi yang diusulkan D. Nersessian (2010) untuk amandemen/ optional protocol Konvensi Anti-Genosida (1948) dan Statuta Roma (2000) mengenai Pengadilan Kejahatan Internasional. (disalin dari Harry Wibowo)

Bookmark and Share

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s