Fragmen-fragmen Revolusi Sosial yang (di) Hilang (kan) dari REVOLUSI dan Sejarah Indonesia

 

Revolusi Agustus, Revolusi Sosial

Iqra Anugerah

 

Masa-masa awal kemerdekaan begitu bergejolak. Ada kekosongan rezim, kekalutan, dan kebingungan. Tetapi orang lupa, ada banyak hal-hal lain di luar itu. Ada upaya-upaya independen untuk mengisi kekosongan politk. Ada usaha-usaha untuk menggerakkan roda ekonomi dan kemudian mengelolanya secara demokratis. Ada harapan yang membuncah tentang dunia yang baru, a world turned upside down, dunia yang lebih baik.

Epos sejarah ini tercatat dalam sejarah versi OrBa sebagai masa ‘revolusi fisik’. Sejarah versi ini, yang kita pelajari di sekolah-sekolah, menyatakan bahwa masa revolusi fisik adalah masa ‘perjuangan bersenjata’ melawan ‘penjajah asing’ yang terkadang eksesnya bisa ‘mengerikan’ – pejabat dan bangsawan lokal menjadi korban ‘amarah rakyat’, misalnya. Dari sini kita tahu sumber satu varian nasionalisme Indonesia yang begitu picik, yang militeris dan anti ‘asing-aseng’. Versi sejarah ini juga merupakan suatu penggambaran sejarah yang bermasalah, dan kita tahu, ada lebih banyak cerita di balik itu.

Anton Lucas (1989) dalam Peristiwa Tiga Daerah: Revolusi dalam Revolusi, mencatat bahwa masa-masa ‘revolusi fisik’, yang ia sebut sebagai revolusi sosial, bukanlah sekedar kekacauan dan avonturisme politik. Ia mencatat bahwa:

“Peristiwa Tiga Daerah adalah suatu peristiwa dalam sejarah revolusi Indonesia yang terjadi antara Oktober sampai Desember 1945 di Kabupaten Brebes, Tegal, Pemalang, di Keresidenan Pekalongan (Jawa Tengah), di mana seluruh elite birokrat, pangreh praja, (residen, bupati, wedana, dan camat), dan sebagian besar kepala desa, “didaulat” dan diganti oleh aparat pemerintahan baru, yang terdiri dari aliran-aliran Islam, Sosialis, dan Komunis.” (hal. 1).

Dalam bukunya, Lucas memaparkan bagaimana kondisi rakyat di tiga daerah tersebut di masa-masa terakhir penjajahan Belanda di Indonesia. Di tengah-tengah cengkeraman kolonialisme dan imperialisme, massa rakyat tidak punya suara. Jangankan untuk berbicara, untuk makan saja susah karena hasil panen sering diambil secara semena-mena. Tentu tetap ada yang beruntung dalam kondisi seperti itu: para elit lokal yang kedudukannya tetap terjamin dalam masyarakat kolonial. Ditambah lagi Fasis Jepang datang dan merampas segala sumber daya rakyat dan memobilisasi tenaga mereka untuk keperluan ekspansionisme militerisnya.

Di dalam kondisi seperti itulah, massa rakyat berusaha bertahan dan berlawan, baik secara langsung dan konfrontatif maupun secara diam-diam. Dan ketika momen kemerdekaan datang, maka momen itu segera dilihat sebagai sebuah kesempatan politik. Lucas mencatat massa rakyat, para penduduk desa yang merupakan bagian dari lapis-lapis paling tersubordinasi dan termarginalkan dalam struktur sosial masyarakatnya, berhimpun, mengadakan rapat-rapat umum, menunjuk secara langsung wakil-wakil terpercaya dari masing-masing golongan mereka – baik Islam, Nasionalis, Sosialis, maupun Komunis, dan melakukan redistribusi kekayaan desa.

The Indonesia Revolution – Review

Heather Sutherland

 

  

State and Revolution in the Making of the Indonesian Republic – Norman Joshua

 


Marxist attitudes to social revolution – Anthony Reid

 

 

[Sumatera Timur dan Aceh]

 

THE BIRTH OF THE REPUBLIC IN SUMATRA

Anthony Reid

 

The Blood Of The People Revolution And The End Of Traditional Rule In Northern Sumatra – Anthony Reid

*Aceh dan Sumatera Timur


Patologi Sebuah Revolusi: Catatan Anthony Reid tentang Revolusi Sosial di Sumatera Timur, Maret 19461 Wara Sinuhaji Staf Pengajar Departemen Ilmu Sejarah Fakultas Sastra USU

 

 

CLASS AND ETHNIC CONFLICT IN INDONESIA’S DECOLONIZATION PROCESS: A STUDY OF EAST SUMATRA – Michael van Langenberg

 

What was the Social Revolution of 1946 in East Sumatra?

Said, H. Mohammed (Cornell University Southeast Asia Program, 1973-04)

 


Melawan Lupa Metro TV – Revolusi Sosial Sumatera Timur


Negara Sumatera Timur

Pulihnya Kekuasaan Melayu – historia.id

Revolusi sosial menyingkirkan kekuasaan sultan-sultan Melayu. Demi melindungi kepentingan penduduk pribumi, didirikan Negara Sumatera Timur.

PERANG CUMBOK SEBUAH REVOLUSI SOSIAL DI ACEH (1946-1947) – Tengku Puteh

ULAMA DAN ULEE BALANG: POTRET REVOLUSI SOSIAL DI ACEH TAHUN 1945-1946 – Heryati, S.Pd., M.Hum. 

[Peristiwa 3 Daerah : Tegal, Brebes, Pemalang]

 

Social Revolution in Pemalang, Central Java, 1945

Lucas, Anton 

The Bamboo Spear Pierces the Payung : The Revolution against The Bureaucratic Elite in North Central Java in 1945

Dia memilih menekuni sejarah Indonesia ketimbang meneruskan studi pertaniannya. Berjasa menyatukan serpihan fragmen revolusi sosial di wilayah pantai utara Jawa Tengah.

 


[Banten – Tangerang]

 

Banten in times of revolution

Else Ensering

**Social revolution in Tangerang and Banten (hal 144)

 

Revolusi ala Soviet di Banten HISKI DARMAYANA 

 

 

Kudeta Gagal si Komunis Ce Mamat di Banten semasa Revolusi 1945 – tirto.id

 

Achmad Chaerun, Bapak Rakyat Tangerang – historia.id

Cerita tentang mereka yang terbakar semangat revolusi kemerdekaan. Ternoda insiden rasialis.

[Surakarta]

Revolution and Social Tensions in Surakarta 1945 — 1950 Soejatno 

[Depok]

Gejolak Revolusi di Selatan Jakarta (Depok) – historia.id

Revolusi bukan hanya menjatuhkan banyak korban tapi juga mengangkat para garong sebagai raja lokal.

 

Gedoran Depok, Tentang Revolusi Sosial – ANDY RIZA HIDAYAT

 

lain-lain

De-colonising Indonesian Historiography Paper delivered at the Centre for East and South-East Asian Studies public lecture series “Focus Asia”, 25-27 May, 2004 Henk Schulte Nordholt*

De-colonising Indonesian historiography

A history without people

People without history

Towards a de-colonisation of Indonesian historiography

 

Of rice and revolution The politics of provisioning and state–society relations on Java, 1945–49 Tuong Vu 

 

 

SOME PRELIMINARY OBSERVATIONS ON WEST SUMATRA DURING THE REVOLUTION Audrey Kahin

Front Rakyat dan “Dual Power” di Sumatera Barat – Rudi Hartono

 

BANDUNG IN THE EARLY REVOLUTION. 1945-1946. A Study in the Social History of the Indonesian Revolution. JOHN R. W. SMAIL.


Laporan Indept tirto.id


Sisi Hitam dan Kacaunya Revolusi Indonesia

Masa Bersiap Pasca-Merdeka: Masa Ngeri Tak Ada Sedapnya

Sisi Lain Revolusi: Angkat Diri Jadi ‘Jenderal Nagabonar’ & Menteri

 

Kudeta Gagal si Komunis Ce Mamat di Banten semasa Revolusi 1945

simak 550 ‘entry’ lainnya pada link berikut

Daftar Isi Perpustakaan Genosida 1965-1966

14542544_1036993449746974_4443364972569517121_o
13047818_10209343119272764_8338060706038815101_o13043485_10209343122352841_1135692553504633931_n (1)
Definisi yang diusulkan D. Nersessian (2010) untuk amandemen/ optional protocol Konvensi Anti-Genosida (1948) dan Statuta Roma (2000) mengenai Pengadilan Kejahatan Internasional. (disalin dari Harry Wibowo)
Bookmark and Share

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s