Melucuti Propaganda Hitam Orba Seakan-akan Komunisme (PKI) Identik Dengan Ateisme, Ajaran Anti Tuhan dan Anti Agama

BAGIAN 1

 

Lama-kelamaan Hoax-Induk itu hadir seakan-akan sebuah fakta. Seakan-akan PKI itu ancaman terhadap bangsa-negara. Seakan-akan Komunisme identik dengan ateisme dan merupakan musuh agama. Seakan-akan tahun 1965 PKI pernah memberontak kepada negara. Seakan-akan Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) yang dekat dengan PKI pernah menari-nari telanjang di Lubang Buaya dan menyayat bagian tubuh para jendral yang diculik pada 1965.

dipetik dari Heryanto, Ariel (2018) “Dari Kencing Onta sampai PKI”, Mojok

versi inggris

Heryanto, Ariel (2018) “The biggest hoax of all: the 30 September Movement”, Indonesia at Melbourne,16/01/2018

 

“Komunis” dan “Komunisme” dalam Berbagai Cerita Rakyat

Dipetik dari buku Mematahkan Pewarisan Ingatan: Wacana Anti-Komunis Dan Politik Rekonsiliasi Pasca-Soeharto – Budiawan;

 

Bagian ini memaparkan praktik-praktik wacana anti-komunisme dalam kehidupan seharihari yang terdapat dalam bentuk berbagai cerita rakyat. Cerita-cerita yang akan disajikan berikut ini merupakan bentuk ingatan kolektif secara nasional, yang lebih merupakan hasil penanaman secara politik dan sosial, ketimbang merupakan pengalaman historis. Ceritacerita itu tidak mengacu pada waktu dan tempat tertentu. Kebanyakan cerita-cerita itu dimulai dengan frase temporal seperti misalnya “konon pada suatu waktu di jaman PKI”. Frase ini mungkin saja mengacu ke saat-saat ketika pengaruh politik PKI di panggung politik nasional sangat dominan, berkat dukungannya yang vokal pada proyek antineokolonialisme Soekarno pada paro pertama 1960-an.80

 

Selain itu kisah-kisah tersebut muncul dan menyebar secara luas setelah kejatuhan Soekarno, mengikuti kampanye militer secara besar-besaran dan sistematik terhadap PKI, dan pembunuhan serta pemenjaraan massal kaum komunis” dari Oktober 1965 hingga pertengahan 1966. Dengan kata lain kisah-kisah ini merupakan dengan parafrase terminologi Clifford Geertz – “fakta sosial” yang terjadi “sesudah fakta”,81 atau kisahkisah post factum. Bahkan jika cerita-cerita itu punya dasar historis, namun biasanya ditujukan untuk membatasi atau bahkan memutar-balik “fakta”. Oleh karenanya, arti penting kisah-kisah semacam itu tidak terletak pada soal kebenaran sejarahnya, dalam arti seberapa faktual kisah-kisah itu, tetapi lebih pada arti pentingnya dalam praktik hidup sehari-hari. Tingkah-laku dibatasi oleh ruang dan waktu. Karena itu penempatan praktik- praktik yang dikisahkan dalam cerita-cerita rakyat di dalam konteks historis menjadi perlu untuk bisa menangkap arti sosial cerita-cerita itu sendiri.

 

……dua kisah paling populer mengenai ateisme kaum komunis dan komunisme yang dituturkan dalam jaman Orde Baru. Kisah pertama menggambarkan “bagaimana seorang guru di sebuah Taman Kanak-Kanak PKI membuktikan tentang tidak adanya Tuhan kepada murid-muridnya”: Suatu ketika di jaman PKI, sasaran penyebaran paham ateisme bukan hanya di kalangan orang dewasa saja, tapi juga di kalangan anak-anak. Bahkan anak-anak Taman Kanak-Kanak juga diracuni dengan ide seperti itu.

 

Sebagai contoh, seorang guru mengajarkan para muridmuridnya untuk minta kembang-gula kepada Tuhan. Mengikuti apa yang diucapkan gurunya, anak-anak itu mengucapkan bersama-sama sambil menutup mata dan menadahkan tangan mereka: “Ya Tuhan, berilah kami bonbon.” Kemudian guru bertanya: “Sekarang buka matamu. Apakah ada kembang gula di tanganmu?” Anak-anak itu menjawab: “Tidak, Bu.” Bu Guru menyahut. “Tentu saja tidak. Itu berarti Tuhan itu tidak ada.” Kemudian katanya lagi kepada anak-anak: “Sekarang, mintalah kepada gurumu!” Sambil menutup mata dan menadahkan tangan mereka, anak-anak itu berkata: “Ya, Guru, berilah kami kembang-gula.” Ketika anak-anak itu “berdoa”, Ibu Guru menaruh kembang-gula di telapak tangan anakanak, dan kemudian berkata: “Baiklah anak-anak. Sekarang bukalah matamu. Apakah ada kembang-gula di tanganmu?” Mereka semua serempak menyahut: “Ya, bu.” Ibu Guru menyahut: “Tentu saja! Mengapa? Karena gurumu memang benar-benar ada, di sini, di depan kamu semua. Tapi Tuhan? Tidak! Jadi, kamu semua tidak perlu percaya pada apa yang tidak ada.

 

” Cerita rakyat kedua mengenai “pementasan sandiwara rakyat PKI tentang ‘Matinya Tuhan’”.82 Pada suatu ketika di masa kejayaan PKI, propaganda tentang ateisme benar-benar digalakkan melalui berbagai media. Salah satu di antaranya melalui pertunjukan ketoprak. 83 Pada suatu kesempatan PKI mementaskan lakon tentang “Matinya Tuhan”. Dalam pementasan itu, pemain yang berperan sebagai Tuhan diceritakan mati dibunuh. Pada hari berikutnya, si pemain benar-benar mati. Inilah akibat dari mencoba menyangkali adanya Tuhan.

 

Tempat-tempat ibadah keagamaan juga digunakan untuk mempropagandakan pemahaman yang mereduksi komunisme pada ateisme, dan bersamaan dengan itu menyebarkan ideologi negara, Pancasila. Kisah-kisah seperti tersebut di atas juga diucapkan oleh khatib di masjid-masjid. Dalam hampir setiap doa untuk meneguhkan iman supaya tidak tergoda oleh orang-orang kafir, khatib akan selalu mengingatkan para jemaah terhadap “sifat-sifat “kaum komunis””, yang mereka gambarkan sebagai kafir yang sekafir-kafirnya. Doa-doa semacam itu bukan hanya mengandung pernyataan perang suci melawan “kaum komunis”, tetapi juga melawan godaan untuk menjadi “komunis”. Dalam konteks ini “komunis” adalah “si Lain”, yang tidak hanya bisa berada di luar sana, tetapi juga bisa di dalam sini. Dengan demikian “komunisme” dapat menjelma di dalam diri. Maka tidak aneh jika kemudian perkataan “komunis” sangat sering dipakai untuk mengutuk apa saja yang dianggap jahat di dalam masyarakat Indonesia. Perkataan itu tidak hanya ditujukan pada orang yang secara politik berhubungan dengan PKI.


disarankan membaca selengkapnya buku yang diangkat dari disertasi Budiawan ini Mematahkan Pewarisan Ingatan: Wacana Anti-Komunis Dan Politik Rekonsiliasi Pasca-Soeharto – Budiawan;

 

 

Mengoreksi Cara Berpikir Kaum Orbais Melihat Komunis – Roy Murtadho (indoprogress)

 

Bagaimana rezim orba dan kaum orbais melihat komunisme dalam konteks sejarah Indonesia? Pertama, mereka menganggap komunisme (PKI) sebagai ajaran anti Tuhan dan anti agama. Namun sejauh pembacaan penulis, tak ada satu teks tertulis sekalipun dalam semua dokumen PKI yang mensyaratkan dan menganjurkan anggotanya untuk menjadi ateis dan anti agama. Dalam dokumen-dokumen resmi PKI atau dalam hampir semua pikiran tokoh-tokoh PKI, yang menggema hanya anti Imperialisme, anti kapitalisme dan anti feodalisme. Selebihnya tidak. Maka kampanye kaum orbais yang mengatakan bahwa PKI dengan sendirinya ateis terang keliru dan menyesatkan.[4]

 

Kedua, PKI dituduh sebagai anti pancasila. Tuduhan anti Pancasila merupakan turunan dari tuduhan anti Tuhan. PKI harus dibumihanguskan karena oleh Orde Baru dianggap mengajarkan anti Tuhan dan dengan demikian anti Pancasila (sila pertama). Tuduhan ini jelas tidak berdasar karena sejak semula PKI menerima Pancasila dan menjadi partai yang konsisten mengambil jalan revolusioner melawan Belanda. Namun sayangnya, sedikit dari pelajar dan pemuda di negeri ini yang memahaminya karena nama PKI telah dihapus dari lembaran sejarah bangsa dan ingatan kita. Sebagai contoh. Seorang Amir Syarifudin, yang merupakan otak sumpah pemuda 1928, mantan Menteri Pertahanan dan Perdana Menteri di era revolusi kemerdekaan yang nantinya hidupnya berakhir secara tragis ditembus timah panas tentara di masa kabinet Hatta. Namanya, pengorbanannya untuk Indonesia, dihapus dari sejarah Indonesia.[5] Figur lain seperti Soemarsono, pemimpin pertempuran 10 November 1945 di Surabaya,[6] dicoret dari sejarah Bangsa Indonesia.

 

Ketiga, melihat komunisme sebagai paham yang menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya. Bagi kaum orbais, perjuangan kelas dan jalan revolusioner marxisme dianggap sebagai sikap semau-maunya, brutal, dan tak tahu aturan. Pekikan Marx, “This bursts asunder. The knell of capitalist private property sounds. The expropriators are expropriaded” (Sekam akan meledak bertebaran. Lonceng kematian hak milik pribadi kaum kapitalis telah berbunyi.Tukang rampok sekarang dirampok),[7] dianggap oleh mereka sebagai landasan pembenaran bahwa Marx dan marxisme brutal. Padahal membincangkan parameter kekerasan akan menggiring siapapun pada medan perdebatan yang tak ada sudahnya, karena hampir semua ideologi di dunia ini memiliki dimensi kekerasannya sendiri. Bahkan, kalau boleh jujur, agama apapun di dunia ini yang mengajarkan keluhuran dan kebajikan, tak ada yang tak besimbah darah selama rentang perjalanan sejarahnya. Maka menghakimi Marxisme sebagai satu-satunya ideologi penganjur kekerasan sama saja dengan menuding diri sendiri.


selengkapnya Mengoreksi Cara Berpikir Kaum Orbais Melihat Komunis – Roy Murtadho 

 

 

BAGIAN 2

Kupas Singkat 01: Marx dan Agama


Marxisme dan Ateisme – Muhammad Al-Fayyadl (indoprogress)

Rentang pemikiran Marxisme & Agama sebagai Candu Rakyat – Tony Firman (indoprogress) 

Antara Iman dan Pembebasan – Tony Firman (indoprogress)

Memaknai (lagi) ‘Agama adalah Candu’ Milik Marx – Dhianita Kusuma Pertiwi (indoprogress)

Muhammad Al-Fayyadl: “Pada Level Aksiologis, Islam dan Marxisme menjadi Sangat Kompatibel”

BAGIAN 3

DN Aidit, Agama dan Pancasila – Villarian (indoprogress)

DN Aidit dan Agama – Yunantyo Adi

“Kaum komunis sadar, dengan menerima Pancasila yang sila pertamanya adalah percaya kepada Tuhan YME berarti juga paham tidak boleh sama sekali membuat propaganda anti-agama di Indonesia. Hal ini sungguh kami patuhi dengan sepenuh hati karena kami kaum komunis sama sekali tidak berminat menyibukkan diri dalam propaganda semacam itu.” – Aidit

Wawancara DN Aidit: “PKI menentang pemretelan terhadap Pancasila” (historia)

Wawancara Aidit dengan Solichin Salam ini koleksi Komando Operasi Tertinggi (KOTI) yang tersimpan di Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI). Arsip ini telah terbuka untuk publik.

Religiusitas Aidit, Tragedi Abdullah – Iswara N Raditya (tirto)

Arsip-artikel Muhidin M Dahlan

 

Comite Central PKI Mengucapkan Selamat Hari Raya 1 Sjawal 

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

CC PKI Mengucapkan Selamat Hari Natal. Damai ya Ummat! 

Berlebaran bersama Central Comite Partai Komunis Indonesia 

 

Khotbah Idul Fitri dari Komunis

 

 

BAGIAN 4


Gus Dur dan Marxisme-Leninisme –Roy Murtadho

Gus Mus: Bagi Gus Dur, Orang Komunis Bukan Kafir  – tempo.co

kompilasi Gus Dur, Maaf, Rekonsiliasi dan Ketetapan MPRS No. XXV Tahun 1966

 

kompilasi LUKA BANGSA ‘1965’ : WARISAN GUS DUR, SYARIKAT INDONESIA DAN REKONSILIASI KULTURAL DI AKAR RUMPUT

 

kompilasi Artikel Aan Anshori,Muhammad Al-Fayyadl, Roy Murtadho Tentang “Kiri, Islam dan Genosida 1965-1966”

 

 

BAGIAN 5

 

Islam vis a vis Komunisme? – JAVIN

 

Santri dan Marxisme – Muhammad Al-Fayyadl (indoprogress)

Para Haji di Persimpangan Kiri – Petrik Matanasi (tirto)

 

 SEJARAH YANG DIHILANGKAN : “ISLAMISME DAN KOMUNISME” HADJI MOHAMMAD MISBACH DI ZAMANBERGERAK

Kisah ‘Haji Merah’ Dari Sumatera Barat – berdikarionline

Sayid dan Komunis dari Kalimantan – Petrik Matanasi – tirto

Ahmad Khatib Datuk Batuah: Haji Kiri, Istikamah di Jalur Merah – Iswara N Raditya -tirto

Sofyan Baraqbah : Sayid Komunis yang Diburu Tentara Baret Merah – tirto


Hasan Raid : Perjuangan Seorang Muslim Komunis 

simak pula

Komik Aji Prasetyo :  Produk Propaganda (Membongkar Hoax Orba)  

HANTU-HANTU GENTAYANGAN : KAPAN KAMBUHNYA BAHAYA PKI?

FITNAH DAN DUSTA KEJI DI BALIK LEGENDA LUBANG BUAYA (DAN GERWANI SEBAGAI KUMPULAN PEMBUNUH DAN SETAN)

Negara Jangan Cuci Tangan : Stop Mengkambinghitamkan Amuk Massa (Konflik Horisontal) dan Menyangkal Keterlibatan Negara (Konflik Vertikal)

Simak 1200 ‘entry’ lainnya pada link berikut

Daftar Isi Perpustakaan Genosida 1965-1966

Road to Justice : State Crimes after Oct 1st 1965 (Jakartanicus)

14542544_1036993449746974_4443364972569517121_o
13047818_10209343119272764_8338060706038815101_o13043485_10209343122352841_1135692553504633931_n (1)
Definisi yang diusulkan D. Nersessian (2010) untuk amandemen/ optional protocol Konvensi Anti-Genosida (1948) dan Statuta Roma (2000) mengenai Pengadilan Kejahatan Internasional. (disalin dari Harry Wibowo)
Bookmark and Share

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s