[Memoar Misbach Tamrin] KERJA MANUSIA DAN MATAHARI -Sudut-sudut Cerita Masa Silam (bagian I) l Genosida Politik 1965-1966

PENGANTAR SUDUT-SUDUT CERITA MASA SILAM

 

Penulisan kali ini terbit. Demi untuk yang akan datang. Dalam memetik sekuntum bunga sebuah sudut cerita.Dari belukar pengalaman sekelompok manusia anak bangsa yang terenggutkan hak kebebasan hidupnya selaku warga negara

ilustrasi karya-karya perupa Sanggar Bumi Tarung

 
 

Perpisahan karya Misbach Tamrin

Eksekusi dipinggir jurang karya Misbach Tamrin

Digiring ke kuburan massal karya Sediono SP

16266033_1642862246017187_6014609633629552039_n

Penulisan kali ini terbit. Demi untuk yang akan datang. Dalam memetik sekuntum bunga sebuah sudut cerita.Dari belukar pengalaman sekelompok manusia anak bangsa yang terenggutkan hak kebebasan hidupnya selaku warga negara.

Di manakah saat-saat sudut cerita itu terjadi? Tak lain pada selama kurun waktu, ketika sejak meletusnya peristiwa ’65. Suatu peristiwa masa lalu yang betapapun sudah berlangsung kurang lebih setengah abad.Namun, bagi mereka yang selalu bertekad melawan lupa, tak pernah pudar dalam ingatan dan kenangan.

Bagi saya pribadi yang mengalami secara langsung.Baik selaku saksi, maupun sebagai pelaku sejarah yang utuh.Sudut cerita ini, sedaya upaya mungkin jauh terurai dari fiktif.

Seorang kawan, pengasuh tabloid “Urbana” Budi Dayak Kurniawan.Pernah menyarankan kepada saya beberapa tahun yang lalu.Agar supaya saya dapat menuliskan pengalaman yang paling berkesan selama 13 tahun selaku tapol di Kalsel. Lantas saya pikirkan dan renungkan kebelakang, atas apa yang terjadi disana. Ternyata, memang benar rupa-rupanya bukan tidak ada hal-hal yang menarik untuk dituliskan.

Masih segar dan terang benderang dalam ingatan saya. Bahwa penderitaan atau duka derita yang dirasakan oleh para tapol dalam sebuah oase kehidupan kamp tahanan yang tersebar di seluruh tanah air. Tidak sama sebangun, tapi masih agak serupa. Katakanlah, kebanyakan tak jauh berbeda di antara daerah-daerah Nusantara yang ada, satu sama lain.

Kecuali, buat beberapa daerah tertentu. Misalkan Pulau Buru, sebuah daerah tanah gersang dan tandus di kawasan perairan laut Maluku sana. Juga Jawa Timur dan Jawa tengah, karena pengalaman terjadinya aksi-aksi sepihak perkara tanah.Di sini, terjadi sebelumnya pengebonan dan pembantaian massal.Baik secara acak maupun sistimatis.

Minus Jawa Barat, sedikit agak longgar, tanpa terlalu ketat represinya terhadap kehidupan para tapol.Barangkali faktor adab budaya etnis Sunda di tanah Priangan yang riang dan ramah ini.Relatif aman tanpa gejolak yang berarti.Tidak seperti daerah-daerah tetangganya di sebelah timur.

Begitu pula di daerah-daerah Sumatera, rata-rata hampir cukup keras represinya.Terutama Sumatera Utara dan Aceh. Saking kerasnya represi pelanggaran HAM berat terhadap korban peristiwa ’65 di Sumatera Utara ini. Sehingga membuat sutradara film Joshua Oppenheimer dalam karya dokumenternya “The Act of Killing” dan “Senyap” mengambil obyek lokasi di daerah ini.

Sedangkan di Kalsel selaku tempat lokasi penulis ditahan selama 13 tahun. Relatif aman, hampir sama dengan di Jawa Barat. Jika di daerah tetangga dekatnya Kalteng, terjadi eksekusi yang agak cukup massal terhadap para tokoh pengurus Partai dan ormasnya di lokasi KM 27.Maka di sini tak ada pengebonan dan pembantaian massal.Tapi, bukan berarti tidak ada korban disini. Memang ada sekitar 2 hingga 3 orang yang tewas akibat penyiksaan dalam saat interogasi. Dan sekitar 6 orang yang mati diberondong karena lari meninggalkan kamp tahanan.

Nah, kembali ke substansi penulisan ini.Mengenai sebuah sudut (fragmen) cerita “suka-duka” seseorang yang terenggutkan hak azasi kemanusiaannya.Dalam arti bukan semata-mata tentang “duka-derita” dari pengalaman seorang tapol peristiwa ’65 saja, di daerah Kalsel.Seperti yang mungkin terbayangkan oleh imajinasi pembaca.Suatu sisi gelap dari seorang pesakitan yang menderita akibat menjadi pecundang.Mereka teraniaya oleh sistem suatu rezim.Di balik tragedi, masih bisa mereka nikmati juga humor-humor yang lucu selaku komedi hidup.Dalam arti tertawa dibalik tangis.

Memang, di sini saya tak berupaya seperti memetik bunga di taman yang asri dan indah.Tapi menjemput kelopak bunga bagaikan helai-helai bulu rambut yang terserak diatas debu dan abu dari puing-puing yang telah hangus. Membutiri pernik-pernik peristiwa dan rangkaian kejadian-kejadian yang saling berjalinan dengan cita rasa kemanusiaan yang bernuansa psikologis.Ketika gelombang situasi politik bergejolak melanda tanah air kita.Membawa mala petaka, tanpa terbayangkan sebelumnya.

Demikianlah, kata-kata pendahuluan dari pengantar penulisan tentang sudut-sudut cerita tentang pengalaman seorang tapol selama ditahan dalam peristiwa ’65 yang lalu.Ditutup dengan suatu pernyataan.
Bahwa, semua bahan cerita masih terkandung dalam memori di benak saya.Akan saya tuangkan kepada pembaca, melalui perangkat gad-get saya, ketikan demi ketikan.Mungkin berupa. Baik serupa cerpen atau reportase literer secara bersambung (serial)..Maupun jenis bentuk literasi apapun juga, itu nanti.Sayapun tak tahu. Semuanya akan mengalir. Ibarat ilham yang terkunyah-kunyah lewat konsumsi santapan makan malam yang menyegarkan mata dari kantuk. Semoga!

 

PELARIAN DI HUTAN PEGUNUNGAN MERATUS (Bagian Pertama)

Di atas ketinggian punggung salah satu tebing pegunungan Meratus yang melandai ini, saya duduk bersendiri, sambil menatap pandang yang jauh.Angin berhembus perlahan, menggoyang dedaunan semak di sisi saya.Lima orang kawan bersama saya sedang merebahkan diri, masimg-masing tenggelam dalam lamunannya sendiri.

Di kejauhan, sepanjang anatomi tubuh pegunungan yang tampak seolah menggelinjang bagai seorang ibu sedang terbaring menyusui anaknya.Dengan warna kebiruan yang melangut, samar-samar tepian gelombang garis diatasnya, seakan sedang bercumbu berkecupan dengan awan-awan putih yang berarak.

Saya menghela nafas dengan hirupan udara yang terasa masih segar di sore itu. “Kenapa, kini kami berada disini?”,seakan berbisik dengan perlahan suara pertanyaan mengetuk pikiran dalam benak saya. Di kawasan sebuah hutan pedalaman Hulu Sungai Utara, bagian daerah Kalsel.Mungkin ini salah satu hutan perawan, tak pernah terjamah orang lain sebelumnya.Kami menyusup kemari, tak peduli melalui di antara belukar belantara bersemak onak dan duri.

Selama sudah beberapa hari, kami menjelajahi hutan ini.Hanya karena untuk menghindari penangkapan dari aparat penguasa.Masuk hutan belantara yang tak bisa ditandai dalam peta di atlas.Tapi kami sadar, ini berarti, bahwa kami sudah berada dalam status pelarian politik lokal.Kami mengira mereka pasti mencari dan memburu.Ketika mereka tahu kami telah menghilang dari rumah kami tinggal.Berapa orang kawan-kawan kami yang sudah masuk tahanan, dalam istilah penguasa “diamankan”.Kami tak tahu persis.

Matahari sore semakin turun condong ke barat.Dari sini, memang menganga ruang terbuka, sehingga pemandangan masih cukup terang.Walaupun di sekitar kami tinggal, sebuah gua yang terlindung pohon dan semak, kian dinaungi bayang kegelapan.
Selama dalam perjalanan pelarian.Merambah jalan-jalan setapak yang kebanyakan sudah kabur ditutupi semak.Kami berupaya menghindari berpapasan dengan orang atau siapapun.Masing-masing tampilan sosok kami disamarkan dengan kamuplase selaku kaum tani.Kebetulan di antara kelompok kami, terdapat petani benaran yang sedikit tahu tentang lingkungan hutan disini.

Saya teringat akan Jum’at pagi, tgl 1 Oktober 1965. Ketika saya kebetulan bertugas memonitor setiap warta berita nasional dari Jakarta, di kantor penerbitan harian “Gelora Trisakti” di Banjarmasin. Dari sanalah tersiarnya berita kejutan yang cukup mengagetkan saya.Berarti, suatu cetusan kabar yang menjadi biang sebab dari pelbagai akibat yang terjadi kemudian. Termasuk sebagai jawaban yang paling jitu atas pertanyaan : “Kenapa kami sekarang harus berada disini?”

Ledakan berita yang begitu menghangatkan dan mengguncangkan pagi Jum’at yang masih dingin itu, puncaknya berbunyi : “Komandan Tjakrabirawa Letkol Untung telah berhasil menyelamatkan Revolusi Indonesia dan Presiden Soekarno dari kudeta Dewan Jenderal”. Tampaknya sebagai kabar yang maju alias progresif revolusioner.Tapi naluri saya terasa digelayuti harap-harap cemas.

Jika ini suatu pertanda perubahan kekuasaan kearah semakin kiri.Koq, saya merasa tidak yakin dan percaya.Walaupun sebelumnya situasi politik memang semakin memanas.Tapi dadakan berita yang tersiar di pagi hari itu, benar-benar di luar prediksi kami.Sehingga seharian Jum’at itu, disamping terus memonitor situasi. Kami sibuk membenahi sesuatunya untuk menghadapi keadaan darurat yang pasti akan semakin gawat.

Ketika sekitar tengah hari, kami mendengar lewat radio, bahwa Dewan Revolusi telah terbentuk.Terdiri dari tokoh-tokoh militer dan sipil.Ditambah dengan pengumuman kenaikan dan penurunan pangkat militer. Sampai malam sekitar jam 21.00 WIB terjadi perubahan drastis. Jenderal Suharto tampil lewat RRI mengumumkan, bahwa melalui komando tangannya, Angkatan Darat (AD) telah kembali memegang kendali kekuasaan.Serta telah memberitahukan tentang terjadinya penculikan terhadap sejumlah perwira tinggi oleh oknum kelompok pimpinan Untung.

Hari sudah semakin gelap.Matahari senja kian turun merendah, seakan bersiap melindungkan diri di balik punggung pegunungan Meratus.

Beberapa teman ada yang secara merayap menuruni jalan setapak menuju ke bawah.Di antara batu-batu cadas yang kami anggap selaku tangga untuk mencapai sungai kecil yang tak jauh dari gua tempat kami menyembunyikan diri dengan aman.

Di sana mereka mandi seadanya, sambil mengambil air wudhu. Mungkin selama ini, mereka tak selalu taat menunaikan sholat lima waktu, karena kesibukan kerja yang sangat rutin. Tapi, di sini, di tengah hutan dalam sebuah gua yang cukup seram ini.Njali mereka berubah menjadi surut hampir mendekati titik nol. Kembali menyerahkan diri untuk bersandar kepada kekuatan “Yang Maha Kuasa”.Selaku pelindung dari segala ancaman bahaya.
Dan matahari harapan yang masih bisa mereka usung untuk mempertaruhkan nasib hidup tersisa kedepan.Telah tenggelam di balik saat-saat magrib……
***

TERPASUNG DALAM “PENGAMANAN” ( Bagian Kedua )

Pada sebuah lobang disalah satu celah pinggiran tebing gunung.Kami memperoleh ruangan untuk bersembunyi dengan aman.Katakanlah ini semacam sebuah gua batu cadas dalam ukuran, sekitar 2 x 4 M, dengan tinggi 3 M lebih.Masih cukup untuk tidur sebanyak 6 orang secara berdempetan.Memang situasi keberadaan kami di sini, mengingatkan kesederhanaan orang-orang primitif di zaman batu.Bayangkan ironisnya rona nasib kami, bagaikan sebuah mimpi di siang bolong.

Tapi, karena sebelumnya, lobang gua ini tempat bersarang kelelawar (kalong).Maka keadaanya sangat kotor.Terpaksa kami bersihkan, sampai cukup layak untuk ditinggali.Lantainya kami lapisi dedaunan sebanyaknya.Sehingga menjadi lebih tebal, setelah digelar selimut diatasnya.Buat kami berbaring dan tidur, agak sedikit enak.

14694674_120300000630277026_1421301799_n
ilustrasi karya Misbach Tamrin

Boleh dibilang beruntung, jika di antara kami masih sempat, masing-masing membawa segala sesuatunya untuk keperluan pelarian masuk hutan.Meski terpacu oleh ketergesaan.Dikejar ancaman operasi penangkapan yang sudah mulai dilakukan aparat polisi dan militer, relatif cepat.Keputusan lari ke hutan secara bulat disetujui oleh semua kami.

Tapi persediaan bahan makanan yang kami bawa, hanya cukup untuk bertahan selama 2 minggu.Padahal masa pelarian kami sampai hari ini, sudah berlangsung sekitar 3 minggu lebih.Hampir mendekati 1 bulan.Sehingga jatah makanan yang hanya cukup buat selama setengah bulan itu, terpaksa lebih kami hemat lagi. Sebagai tambahan usaha, semua kami bergerak untuk mencari apa saja yang bisa dimakan di sekitar hutan tempat kami tinggal ini.

Terkadang kami berhasil mendapatkan jamur hutan yang tak beracun, dikumpulkan cukup banyak bersama daun kenikir sebagai asupan.Di sungai kecil berarus deras dengan batu-batu jeram yang dangkal dan berlumut.Tidak sulit bagi kami untuk mendapatkan ikan gabus gunung yang cukup hanya ditangkap dengan tangan.Di salah satu pojok dalam gua, kami buat tungku keperluan memasak dan membakar ikan. Kami berupaya agar supaya api tungku dan asapnya tak mudah tampak dari jauh. Di waktu malam, lampu lilin cuma kami pakai di mana perlu.

Kini, hari Saptu pada awal minggu keempat masa pelarian kami di hutan pegunungan Meratus ini.Kemarin, kami berenam berunding, dengan keputusan, mau tak mau dari di antara kami harus ada yang berangkat menghubungi seseorang.Persediaan “logistik” sudah kian kritis.Lagi pula selama ini kami buta situasi.Di antara kami tidak ada yang sempat teringat untuk membawa radio transistor.Hal yang sangat vital terlupa.

Dalam kelompok pelarian politik lokal ini, terdapat pemuda remaja Andy, berusia sekitar 16 tahun.Ia aktivis “Pemuda Rakyat” cabang Tabalong, anak ortu ibu Dayak dan ayah Bugis. Memang Andy tampak cerdas dan terampil.

Sedangkan saya, meski punya orang tua dan keluarga yang tinggal di daerah ini.Namun, karena sudah lama merantau di Jawa.Selama 5 tahun sekolah di ASRI Yogya.Dan kemudian bertugas di Banjarmasin selaku pimpinan Lekra.Dengan alasan saya di daerah ini tidak begitu dikenal oleh aparat penguasa.Maka saya ditunjuk sebagai utusan bersama Andy selaku pengawal.Sekaligus penunjuk jalan.

Kami berangkat di subuh yang dingin, menuruni tebing kearah sungai kecil.Dari jauh, sekitar setengah km, kami melihat keatas.Gua tempat kami tinggal lenyap menghilang ditutupi semak belukar yang rimbun.Terbayang wajah 4 orang kawan yang tinggal. Tadi melepas kami dengan was-was bercampur rasa rawan. Seolah-olah kami akan berpisah lama dan selamanya tanpa kembali lagi kegua. Memang misi kami sangat penting, namun berisiko cukup tinggi dan sangat berbahaya. Maklum selama ini kami sama sekali buta situasi dan lingkungan.

Andy berjalan di depan saya. Ia melangkah gesit dengan “butah” (keranjang rotan) tergantung di punggungnya dan berselempangkan parang “mandau” dipinggang. Layaknya seorang anak Dayak yang lincah.Kami menyusuri pinggir sungai, dengan arah menuju ke selatan.Terkadang Andy mencabut parang mandaunya untuk menebas semak, akar pohon dan batang rotan yang berseliwiran merintangi jalan di hadapan kami.

Kami berdua terus berpacu, sambil meretas jalan.Sampai kemudian menemukan jalan setapak yang sudah biasa dilalui orang-orang dan para petani karet pada umumnya.Pemandangan pegunungan Meratus yang permai dan indah di arah pandang terbuka, jauh di samping kami.Hanya kadang-kadang saja kami nikmati.Perhatian kami terutama terus berupaya berpacu dengan waktu, mempercepat langkah perjalanan.
Bagi saya pribadi, menyusup di antara hutan belantara yang lebat ini, boleh dikatakan jarang dan langka.Bahkan, seingat saya belum pernah sebelumnya.Pilihan kami masuk hutan, sebenarnya bukan hanya terdorong untuk menghindari penangkapan saja.Meski kami tahu, alternatif di antara lari masuk hutan dan bertahan di tempat untuk siap ditangkap. Relatif menanggung resiko dan konsekwensi bahaya yang sama. Pasti tak terhindarkan bagi nasib pejuang politik yang telah ditakdirkan hidup menyerempet bahaya.

Namun, jika lari masuk hutan dianggap merupakan langkah provokatif, terpancing oleh naluri romantisme pembelajaran ideologi dan politik yang kami dapat selama ini.Maka masih kami anggap di saat-saat itu. Sebagai solusi pilihan, punya harapan lain yang cukup signifikan.

Dalam sejarah yang kami baca lewat buku-buku perjuangan Mao dan Che Guevara.Bahwa revolusi yang benar-benar revolusioner, di negara-negara sedang berkembang.Terutama di negeri nasion-nasion tertindas, jarang diterima dan diperoleh melalui perjuangan parlementer.Melainkan dirintis mulai dari gerilya di hutan-hutan melalui perjuangan bersenjata, seperti di Kuba dan Tiongkok.

Tapi, apakah disini, di tanah air kita Indonesia.Yang walaupun juga sudah berpengalaman dalam perang gerilya sebagai pemicu dalam memenangkan Revolusi Agustus 1945 atas penjajahan kolonialis Belanda.Betapapun revolusinyanya masih belum selesai.Namun situasi dan kondisi nasionalnya berbeda dengan kedua negeri tersebut diatas.Apakah di sini, bisa berlaku pula?

Kini sangat nyata jawabnya. Ketika pertanyaan yang menghentak di benak kepala saya itu dihadapkan dengan realitas keras yang rawan di depan perjalanan kami. Semua itu hanya sebagai acuan teori yang sangat tak gampang terlaksana lewat praktek di lapangan.Ia kini, adalah sebuah bayangan fatamorgana menggelantung dikejauhan yang tak mungkin terjangkau. Di sini, sungguh tak meyakinkan.Lain dan berbeda tantangannya. 
Lantas saya terkejut dari lamunan khayali.Tatkala kami berpapasan dengan seorang petani penyadap karet di tengah jalan.Kami tak sempat menghindar.Dan kami terus berlalu, menjauh dari petani karet yang sempat menatap kami dengan mata curiga itu.
Meski topi rotan telah saya tekan lebih dalam ke bawah menutupi separo jidat kepala saya.Tapi rupanya mungkin petani karet itu agak terheran oleh pakaian katelpak biru dan ransel punya ayah (buruh Pertamina) yang saya pakai.Sudahlah lupakan saja, kami terus melangkah cepat, berpacu dengan matahari senja yang semakin menurun. 
Sesudah magrib, kami pun memasuki desa Makupom.Tadi, kami sempat beristirahat sekitar sejam lebih di bawah pohon yang cukup terlindung.Sambil dengan sengaja menunggu hari menjadi gelap.Jalan ke arah rumah yang dituju masih agak temaram.Di kiri dan kanan, rumah-rumah penduduk agak jarang.Saat temaram itu, ada dua hingga tiga orang penghuni kampung berpapasan dengan kami.Tampaknya mereka cuek saja, tanpa curiga.

Saya tidak meragukan atas peran Andy yang telah mengidentifikasi tentang “kawan” yang bakal kami temui. Dari info Andy, tuan rumah yang akan kami kunjungi adalah seorang aktivis tani sederhana yang dapat dipercaya. Andy sudah beberapa kali bertamu. Tapi, ia pernah ke sini terakhir kali, sudah setengah tahun yang lalu. Jadi, setelah peristiwa G30S meletus, kami sama sekali tidak tahu perkembangannya kemudian.

Harapan kami ia bisa membantu mengusahakan keperluan logistik untuk kami bertahan selaku pelarian. Juga kami perlukan sebuah radio transistor pemantau situasi, yang barangkali ia dapat mencarikan.

Setelah Andy mengetuk pintu.Tak lama kemudian pintu terbuka.Dan situan rumah muncul dengan wajah sangat terkejut melihat kami. Dengan terpaksa, sambil menjenguk kekiri dan kekanan luar rumah, ia menyilahkan kami masuk dengan cepat. Di dalam rumah, selama beberapa menit ia tampak bersikap kaku. Seakan ia sedang bergulat untuk meredam rasa kegelisahannya. Lantas begitu saja ia menyuruh isterinya yang tengah berada di dapur untuk menyediakan makan malam buat kami. 
Ketika kami makan malam bersama, kelihatan situan rumah mulai tenang dan ramah.Sambil makan kami saling bertanya jawab. Lantas ngobrol berlanjut sehabis makan, sambil dengan santai mengisap rokok kretek yang disediakan tuan rumah. Tentu, saya coba juga melaporkan sekedarnya tentang penganalisaan perkembangan situasi politik sejak peristiwa G30S meletus.Betapapun, mengenai situasi terakhir kami sendiri tak tahu, alias buta samasekali.

Kemudian situan rumah menyilahkan kami beristirahat. Setelah ia menggelar kasur tipis dan dua buah bantal ditengah ruangan rumah. Kami berdua telah menuruti kehendaknya.Dengan segera kami berbaring melepaskan lelah, sehabis perjalanan merambah hutan seharian penuh. Saya tidak terlalu menghiraukan, ketika beberapa lama kemudian ia mengajak Andy menemaninya keluar rumah. 

Saya merasa lega dan bersyukur.Bila kali ini, kami dapat menikmati makan malam bersama yang jauh lebih enak dan begizi. Ketimbang selama sekitar tiga minggu lebih, berada di gua sana. Kami selalu makan seadanya, di bawah standar darurat.

Rupanya tuan rumah selaku aktivis petani Dayak yang sederhana ini, keberadaan sosial ekonominya relatif cukup mapan. Bukan saja terbukti dari perabot seisi rumahnya yang cukup lumayan.Juga dari sumber bahan makanan yang dimilikinya.Tadi kami sangat lahab dan kenyang oleh asupan makanan dan sambal terasi yang disajikan isterinya.
Kini, dampak makan terlalu kenyang ini, mulai terasa dengan merambatnya rasa kantuk yang juga didorong oleh kelelahan fisik.Meski kami tak sempat memandikan diri, karena hawa udara di daerah pegunungan di malam hari sangat dingin menggigilkan.Entah berapa lama terlelap dalam keadaan semacam itu.Hanyut terbuai kenikmatan mimpi di bawah sadar. 

Tiba-tiba gelegar dobrakan pintu depan yang diterjang sepatu-sepatu larsa. Membangunkan kesadaran pikiran dalam benak saya menjadi terjaga dari tidur nyenyak.Sebelum saya sempat berupaya bangkit berdiri, benturan keras dari tumbukan popor bedil menerpa rahang dagu saya. Sambil saya dengar teriakan kasar mereka menghardik dan membentak saya penuh ancaman : “Angkat tangan! Menyerahlah! Jika melawan, kami tembak!”.

Darah muncrat memercik mengenai katelpak biru yang masih saya pakai tak tergantikan.Lantas beruntun sepatu-sepatu larsa menendang tubuh saya entah dari mana-mana, secara bertubi-tubi.Sejenak saya terhuyung-huyung, hingga kemudian jatuh tersungkur mencium lantai.

Kesadaran saya masih berfungsi, terbukti saya rasakan dari perihnya rasa sakit yang tak terperikan. Sehingga saya sempat berpikir, di balik dera-an yang tak kenal henti. Terus menghantam tanpa ampun.Diperlukan kiat tertentu untuk menangkis serangan mereka berikutnya yang bisa membinasakan dan mematikan hidup saya itu.Lalu saya segera membuat trik pura-pura pingsan, dengan melumpuhkan diri sampai tampak tak berdaya lagi.

Ternyata tampaknya berhasil.Mereka mulai meredakan siksaannya kepada diri saya.Tapi rupanya mereka mengetahui juga atas getaran gerak tubuh dan dengusan nafas saya.Sehingga tak lama kemudian terasa mereka menarik kedua tangan saya kebelakang dan mengikat sekuatnya dengan tali belati.Rupanya tak cukup sebatas dipergelangan tangan saya saja ikatannya.Tapi juga melilit kepinggang dan badan saya lainnya.Kini saya benar-benar terpasung.

Demikianlah, bagi nasib saya yang tengah na-as. Penjelajahan seorang pelarian politik lokal yang bebas bergerak di tengah hutan pegunungan Meratus ini.Telah berakhir dengan tragedi musibah yang getir dan menyakitkan.Untung saja saya tak sempat terlanjur dieksekusi mati.Ketika di antara 7 orang petugas polisi Hansip yang menggerebek kami.Salah seorang mencoba menyayat atau menyembleh leher saya dengan parang mandau yang tadinya ditangan Andy yang tertinggal di rumah.

Hanya karena seseorang kebetulan bekas teman saya di SD, kini menjadi camat di daerah kejadian, kenal saya.Dia menyelamatkan nyawa saya yang melarang anak buahnya mengeksekusi.Karena suatu alasan, bahwa saya harus segera diserahkan ke komite resort militer setempat.

Namun, tadinya saya sempat diangkut mereka lewat mobil pick-up tua.Ketengah kerumunan orang ramai pada saat-saat malam minggu. Di sebuah kota kecil pedesaan yang tak jauh dari tempat kejadian penangkapan (TKP). Saya diarak dan dipertontonkan mereka di bawah terang sinar lampu petromax.Selaku pesakitan seorang pecundang PKI yang dianggap kelas kakap.Tertangkap basah oleh operasi tertib kampung, sebagai hasil sukses kebanggaan mereka yang spektakuler.

Bagaimana nasib Andy dan sang tuan rumah yang keluar menghilang, beberapa saat sebelum saya digerebek ?Saya tak tahu, hanya tinggal tenggelam secara misterius.Saya merasa tak berhak untuk mencurigai mereka sebagai penghianat terhadap saya.

Namun, kemudian ketika saya diangkut terkapar dalam truk yang terpacu menuju Tabalong. Sebuah kota yang kebetulan sebagai tempat tinggal keluarga saya bersemayam. Serta barangkali juga sebagai tempat pembuangan sampah (TPS) saya selaku tahanan, buat waktu berjangka panjang. Dalam suatu label sebutan mereka dengan istilah yang cukup keren : “pengamanan”. Terdengar dari obrolan para pengawal militer yang membawa saya dalam satu truk. Bahwa satu peleton tentara dikerahkan untuk memburu dan menangkap 4 orang kawan saya yang berada di gua sana. Dengan membawa Andy sebagai penunjuk jalannya.
***

AWAL PERTAMA SEBAGAI TAPOL (Bagian Ketiga)

Lolos dari lobang jarum keselamatan atas eksekusi mati. Itu adalah rasa syukur pertama yang dipanjat kan keatas. Bersyukur kepada “Yang Maha Kuasa,” telah menjadi keniscayaan bagi mahluk manusia yang dianugrahi hidup.Apalagi bagi insan kamil yang teraniaya. Hidup itu indah! Atau pakar estetikaTjernisevsky katakan lagi, bahwa keindahan itu adalah kehidupan.Tak bisa dipungkiri.

Namun, ancaman berikutnya yang lebih besar tetap menganga dan menggelantung bagai tali gantungan untuk menjerat leher. Atau nyawa ini masih berada diujung laras peluru. Sebab, sekali jejak langkahmu menginjak pintu gerbang perjuangan politik. Kau harus siap mengorbankan apa saja yang kau miliki. Termasuk jika perlu kepalamu siap untuk melayang.

47859-192084_10150146163622938_8286520_o
ilustrasi “Interogasi Orde Baru”,karya perupa pendiri SBT 1961 Amrus Natalsya

Jadi, tak apa jika di pagi itu, setelah kau bak sampah terlempar di tempat pembuangan akhir (TPA). Kau bagai bola dipimpong oleh tendangan beberapa orang prajurit secoret penjaga tahanan, yang tak ada kerjaan lain. Kecuali mendemonstrasikan kegagahan jiwa kebrangasannya, bahwa anjing bisa lebih ganas dari tuannya. Biar sakit, asal bisa hidup! “Biar ganting asal jangan pagat” (Biar nyaris putus, asal jangan putus). Memang ngeri, ketika mendengar suara dari penjaga : “Mereka ini bagai “haruan” (ikan gabus) dalam kurungan. Tinggal tunggu saat “mencatuki” (menotok) kepalanya saja lagi”.

Hari ini, saya secara imajiner, terdaftar sebagai anggota TPA juga.Tapi TPA singkatan Tempat Pembuangan Awal (bukan akhir) selaku Tahanan Politik (TAPOL).Syukur dan mending jadi tapol, ketimbang bangkai.Begitulah naluri dan cita rasa saling campur aduk, ketika menginjak tangga pertama dari kamar tahanan.

Memang, mungkin lancar-lancar saja bagi kawan kami yang diciduk aparat sedang berada dirumahnya masuk tahanan. Secara etis selaku manusia terhormat, petugas bilang : “Sekedar untuk diamankan. Diamankan dari pengeroyokan massa”.Tapi bagi kami yang ditangkap dari pelarian?Nah, pasti dianggap mereka tangkapan berat.Apalagi semua mereka yang ditangkap dalam pelarian itu kelas kakap.Para pimpinan partai dan ormas setempat.

Tapi bayangan pikiran atau prediksi, tak selalu sesuai kenyataan.Dari bacaan sejarah, dalam Peristiwa Madiun semua pimpinan top PKI dieksekusi habis.Tapi di sini, setelah sehari saya ditangkap, saya dikunjungi ibu dan keluarga saya dirumah tahanan. Saya kaget,dan merasa heran alias aneh. Koq, bisa begitu cepat saya boleh dikunjungi keluarga.Siapa yang memberi tahu?Ternyata yang memberi tahu keluarga saya, bahwa saya ditangkap, justru Komandan Kodim setempat.Hanya karena isteri si komandan berkaitan keluarga dengan ibu saya.

Nah, berarti telah tercatat dalam benak saya, buat yang kedua kalinya saya memperoleh mukjizat kemujuran.Pertama, nyawa saya diselamatkan dari eksekusi, oleh seorang camat yang kenal saya sebagai teman semasa di SD. Keduanya, oleh Komandan Kodim telah sedikit membuka kelonggaran tehnis bagi nasib saya di awal promosi selaku tapol. Betapapun, tentu sebatas yang bisa ia bantu. Sedangkan prinsip yang digariskan oleh politik dan ideologi negara yang berkuasa tetap dipegangnya teguh.Tanpa boleh tersentuh oleh toleransi atau kompromi dengan keluarga sekalipun.

Tapi hal itu hanya sebagian sisi perak dari awan kelabu yang mengepul. Tentu duka deritanya akan lebih panjang dari serangkum suka duka yang bisa diraih. Selama dalam status kehidupan tapol yang telah tertelikung kebebasan bergeraknya sebagai warga negara.Justeru ketika dalam keadaan teraniaya semacam ini, selalu diperlukan berpikir positif.Senantiasa berupaya meniti dipucuk-pucuk buih dari gelombang ombak yang bergemulung di atas samudera kehidupan.

Semisal apa yang telah terjadi dibalik kegembiraan saya menerima kunjungan ibu dan keluarga saya lainnya yang membawakan bingkisan makanan dan pakaian untuk saya. Terutama sang ibu kandung yang memandang saya dengan tangisan yang menggerimis dan berderai. Tak kuasa oleh kesanggupan dan ketegaran jiwa jantan saya yang selama ini cukup teruji.Untuk menahan air mata yang terpaksa juga harus menetes. Saya sedih, karena sudah pasti, dampak dari ulah anaknya pembawa “aib” lingkungan masyarakat terbanyak di kota ini,akan menjadi beban seluruh keluarga.

Sudah hampir sebulan sejak peristiwa G30S terjadi, saya sama sekali tak tahu bagaimana perkembangan situasi diluar? Tapi lewat bahasa tubuh dan suara-suara yang terdengar dari mereka.Terutama dari obrolan para penjaga.Ditambah oleh naluri dan intuisi yang tumbuh di bawah sadar saya.Perubahan dan peralihan kekuasaan tampaknya semakin nyata.Kian memudarkan harapan untuk situasi bisa berbalik kembali.Bahkan, dari selintingan berita yang terselip dari obrolan para penjaga. Bahwa, pemeriksaan alias interogasi para tahanan sudah akan segera dimulai.

Dengan demikian, beban tekanan sebenarnya yang harus dihadapi dengan persiapan diri berlipat ganda. Tak lain, kecuali di saat-saat penginterogasian. Di sini, adalah merupakan babakan awal pergulatan fisik dan mental dari pertaruhan nasib seorang tahanan politik. Bahkan, ini semacam momen dramatis dari cerita Shakespeare “Hamlet” dengan kata kuncinya yang terkenal :”To be or not to be”. Hidup atau mati, alternatif pilihan dari pertarungan pikiran kemana kita harus berpihak.Suatu tantangan yang amat dilematis.Betapapun, saya tak pernah mengalami sebelumnya.Tapi dari bacaan mengenai riwayat (biografi) para pejuang politik pada umumnya, hal ini merupakan kepastian pahit getir hidup yang tak terhindarkan.

Hanya sekitar 5 hari saya berada sedirian terlokalisir di rumah tahanan pertama. Kemudian saya dipindahkan untuk dikumpulkan bersama semua tahanan diseluruh kabupaten Hulu Sungai Utara, di kota Murung Pudak (Tabalong). Di sebuah gedung yang tadinya tempat pertunjukan, hiburan, sekaligus resto dan koperasi Pertamina.Semua tahanan yang kebanyakan kaum buruh itu dikumpulkan disini.

Nah, di sini saya berjumpa lagi dengan 4 kawan-kawan, yang tadinya selama hampir sebulan bersama saya tinggal di gua. Minus Andy, yang konon kabarnya oleh penguasa, ia di pulangkan ke Makassar, kampung halamannya. Kami tidak tahu apakah di sana status nasib Andy, apakah selaku tapol atau tidak. Dugaan kami , Andy dipulangkan sebagai balas jasa atas perannya membantu penguasa “mengamankan” kami semua dengan lancar.

Dari cerita keempat kawan, malam itu juga mereka ditangkap oleh sepeleton tentara, dengan membawa Andy selaku penunjuk jalannya.Saat mereka sedang terlelap tidur nyenyak di dalam gua, mereka dikejutkan oleh bunyi letusan peluru yang serempak ditembakkan ke atas. Berhamburan selongsong peluru di depan gua. Yang untung saja semua tembakan yang mubazir itu tak sempat ditaburkan kepada mereka.

Di hari pertama saya dipindahkan, pada malam harinya, beberapa kawan dari ormas tani pengurus ranting, mulai diperiksa oleh tim interogator yang terkenal bengis dan kejam. Waktunya selalu tak lama setelah sholat isa, ditandai dengan deruman bunyi mesin mobil truk di luar gedung.Bunyi mesin truk yang mendatang, telah merupakan sinyal yang amat traumatis bagi semua tahanan. Sebagai pertanda akan tiba saatnya siapa saja yang akan dijemput petugas mendapat giliran untuk “digojlok” alias disiksa di ruang pemeriksaan. Memang sudah menjadi standar baku, bagi interagator bagaimana bisa memeras sipesakitan dengan berbagai cara untuk mengaku atas setiap kemungkinan perencanaan G30S yang mereka tak ketahui. Dan menggali pengakuan sebenarnya dari sel-sel jaringan kekuatan partai dan ormas untuk terciduk sampai keakar-akarnya, tanpa ada yang tersisa.

Sudah menjadi kebiasaan yang rutin, sepulang mereka dari pemeriksaan.Selalu mereka kembali dengan tubuh babak belur.Dengan muka lebam, penuh bengkak yang kadang berdarah-darah.Anehnya, suatu hal yang mungkin merupakan mukjizat keberuntungan, masih terdapat di dalam ruang tahanan ini.Seorang penghuni berusia tua, berkumis dan berjenggot putih. Ditakdirkan berada di tengah kami sebagai tabib pelipur lara yang berwibawa dan bijak. Bagi pesakitan tahanan yang telah dipulangkan dari pemeriksaan, dengan tubuh babak belur, penuh bengkak. Hanya dengan sentuhan sekali baluran beras-kencur di tangan “sang penghuni tua”, sipesakitan besoknya kembali pulih sehat wal afiat…..
***

INTEROGASI (Bagian Keempat)

14593531_120300000628792296_849368215_n
ilustrasi foto,adalah karya lukisan Misbach Tamrin berjudul “Interogasi”.

Ruang dan waktu, merupakan dimensi kepastian yang mutlak dalam kehidupan manusia.Sejemput “ruang-dalam” dari sempalan dunia hukuman negara yang berkuasa, kini adalah tempat kami semua terdampar.Di mana para tapol yang meringkuk dalam ketidakbebasan.Atau suatu keterbatasan lingkup gerak dan pandang.Semakin mengerucut secara massif lini demi lini.Bahkan, dipotong (crossing) dengan amat drastis tanpa ampun.

Sebenarnya ada hikmah yang dipetik.Di sini, adalah semacam “oase” hunian para mahluk manusia.Kembali merenungkan diri secara filosofis, tentang makna hakekat kehidupan.Setelah pulang dari pengembaraan hidup luaran yang liar. Tanpa pernah tersadar, bahwa siapapun orangnya ia pasti ditentukan oleh bioritme waktu. Dalam arti seperti bunyi pribasa “waktu beredar, manusia bertingkah”.

Betapapun juga, di ruang dalam ini, meski tertutup dari dunia bebas.Di sinilah kita bertemu makna hidup sesungguhnya.Berapa lama kita berbaring menengadah keatas.Menatap latar plapon di bawah atap gedung yang dianggap sebagai barak tahanan ini.Ketika jam-jam tertidur dalam malam yang panjang.Sebagian telah tersita oleh saat-saat melek terjaga.Tanpa kegiatan produktif yang berarti.Kecuali banyak merenung dan merenung.Tapi rasanya lebih bermanfaat ketimbang lamunan khayali yang sia-sia.Tak berguna lagi disini.

Setelah kami berada di sini. Betapa sangat berartinya kebebasan menghirup udara di alam terbuka, di luar sana. Dengan berjemur di bawah sinar matahari pagi sumber oksigen yang memancar.Penuh muatan spektrum warna yang digandrungi kaum impresionis.Semuanya terlimpah secara gratis.Tanpa sempat kita manfaatkan fungsinya dengan baik selama berada di luar.

Rindu atas kesegar-bugaran kesehatan seorang individu dalam memetik dan mengecap hak demokrasi warga negara secara normal.Kini begitu terasa bermakna manfaatnya.Ketika demam panas menyerang hampir diseluruh tubuh ini.Sentuhan tangan ajaib yang dibalurkan dengan polesan minyak beras-kencurnya dari petani tua yang berjenggot putih itu.Masih belum mempan menghilangkan sepenuhnya radang rasa sakit dan ngilu sampai ketulang, hanya dalam dua hari. Karena dampak “gojlokan” tim interogator sedemikian keras menggebuk tubuh saya hingga berdarah-darah. Ketika saya mendapat giliran diperiksa tim interogator pada masa babak akhir pemeriksaan tahanan
.
“Kamu, sebagai tokoh Lekra, di partai PKI,apa kedudukanmu?”, tanya kepala juru interogator. Menjadi pangkal krusial debatebel di antara si interogator dan sipesakitan yang tak seimbang.Sehingga pada ujung-ujungnya terjadilah penyiksaan yang parah sebagai pelanggaran hah azasi manusia.

“Tentu kamu kesini dari Banjarmasin dapat tugas PKI, bukan?”,tukas sang interogator yang tak bisa berlanjut lagi. Hanya karena tak keluar jawaban dari saya untuknya. Sedangkan saya jatuh pingsan oleh berondongan pukulan lewat “gojlokan “ yang hampir mematikan.

Jika ketika saya tertangkap dalam penggerebekan pada masa pelarian itu dulu.Saya sempat mengambil kiat trik untuk berpura-pura pingsan.Sebelum mereka memberondong pukulan lebih mematikan. Maka kali ini segala macam kiat trik tak mempan sama sekali untuk bisa saya lakukan. Di sini, musuh yang saya hadapi telah terlatih secara khusus terstruktur dan terprogram.Dalam mengkombinasi di antara pemeriksaan dan penyiksaan. Dengan target menggali alias memeras sumber informasi semaksimal mungkin, dengan memaksa sipesakitan melalui berbagai cara tekanan fisik dan mental yang sudah diatur secara baku.

Pemeriksaan terhenti, tanpa diteruskan dengan sengatan strom listrik manual terhadap saya.Yang telah mereka persiapkan sebagai alat perangkat “pemeras” pengakuan dari sipesakitan.Sebab saya dianggap selaku tokoh Lekra daerah Kalsel yang memungkinkan untuk diperas pengakuan sumber infonya secara optimum.Tapi kini sementara saya dipulangkan kembali ketempat tahanan.Sampai kemudian diulang lagi lebih dari satu kali saat saya dianggap sehat, bahkan untuk beberapa hari.Ketimbang dengan kebanyakan para tahanan lainnya yang dianggap relatif awam, rata-rata selesai dalam satu hari pemeriksaan.

Kontak komunikasi antar manusia dalam interogasi memang sangat dekat. Namun,melalui suatu pendekatan yang kontras. Saling bertolak belakang dan bermusuhan dalam posisi tak seimbang satu sama lain. Dialog terjadi lewat bahasa pertanyaan yang menekan bagai ancaman hunusan pedang. Dengan jawaban yang sulit tercabut dari sumber kata-katanya yang selalu terbungkam tanpa perisai apapun.Kecuali dihadang dengan mempertaruhkan ketahanan fisik yang terus didera penyiksaan tak manusiawi.Sedangkan situasi mental sipesakitan akibatnya pada hancur berantakan.

Terkadang dialog didominasi sepenuhnya oleh sumpah serapah yang amat kasar dari dendam kesumat sang interogator. Lebih terasa menyakitkan ketimbang berondongan pukulan dengan menggunakan buntut ikan pari sekalipun. “Biar kamu mampus masuk neraka, jahanam kafir!”,bentak sang interogator. Tanpa peduli atas korbannya yang jatuh teler dalam erang rintihan setengah mati.Menahan rasa sakit yang tak terperikan oleh siksaan para tukang pukulnya.

Tapi cerita pengalaman para teman-teman tahanan awam lainnya, ternyata tak luput juga dari suatu kelucuan yang getir.Kadang muncul lewat obrolan dan gurauan yang membuat ruang tahanan berderai terhibur oleh gelak tawa mereka.Hanya karena petikan cerita tentang pengalaman mereka dalam pemeriksaan.

Ada yang mengenai seseorang ditanya interogator: “Kamu jadi apa, sebelum jadi guru silat?” Dengan lugunya siterperiksa menjawab lugas : “saya sebelum jadi guru, jadi murid!” Di dalam tahanan teman-temannya meledak tertawa.Padahal sipesakitan babak belur menanggung resiko atas jawabannya disaat diinterogasi.Tambahan lagi kisah tentang “ormas” cukup menggelitik.”Ormasmu ikut mana?”, tanya si pemeriksa. Si tapol menjawab: “Ormas sepupu saya itu, sudah pulang ke kampungnya.” Berderai tawa teman-teman yang bergerombol saling mendengarkan cerita di dalam ruang tahanan.Tapi, sebaliknya si pemeriksa tidak tertawa, malah marah sambil menggamparkan tinjunya kepada si tapol.Karena si tapol dianggap melecehkannya dengan pura-pura blo’on. Padahal si tapol memang tak tahu benaran, bahwa ormas adalah singkatan organisasi massa. Saking awam dan buta hurupnya.

Begitu pula teman lainnya punya kisah yang tak kurang lucunya. Ketika si pemeriksa bertanya : “Di kampung ini ada puluhan tuantanah. Ada Haji Adul, Haji Darham, Haji Latif dan banyak lagi. Kami lihat kamu gali lubang yaa?”. Sahut sipesakitan: “Tidak ada , pak! Si interogator sudah paham sekali dan hapal atas lakon korbannya.“Tidak tahu” dan “tidak ada”, adalah dua kata stereotif penyelamatan diri bagi si pesakitan yang harus ditukar dengan gebukan awal. “Bohong kamu yaa?, itu lubang dibelakang rumahmu , lubang apa? “ Jawaban si tapol mulai goyah oleh tendangan keras sepatu larsa.“Itu saya gali untuk buat sumur pak”.

Si interogator mulai naik pitam menghardik : “Tanahmu itu masih cukup luas untuk mengubur 7 orang tuan tanah. Nah, berapa lubang yang bakal kamu buat?”Menyebut dua kata stereotif itu sudah tak ada gunanya lagi.Gebukan mulai meraja-lela bertubi-tubi menerpa tubuh si tapol. Dari pada menahan lebih perih lagi rasa sakit menghadang pukulan berikutnya, terpaksa ia berdusta : “Dua buah, pak”

Lho,koq semakin garang terjangan sepatu larsanya. “Wah, terlalu sedikit, tolol!Si interogator semakin keras dan kuat pukulannya membuat si tapol bertambah kelenger.“Lima, sepuluh, dua puluh lima, aduh! Ampun Pak! Gebukan kian menjadi-jadi.“Terlalu banyak, bangsat!Tanah belakang rumahmu tak muat sebanyak itu,”teriak si pemeriksa dengan bengis. “Kalau begitu, terserah bapak saja, berapa jumlahnya”,raung si terperiksa, sebelum jatuh terkapar setengah pingsan. Lantas berderai tawa teman-teman memecah kelengangan di dalam ruang tahanan.

Begitulah ironi hidup kemanusiaan di dalam oase duka derita para tapol.Terkadang terselip juga suka dukanya.Tatkala lelucon yang getir dan naïf yang penuh ketidakadilan, singgah menggelimangi ruang tahanan di salah satu sudut tanah air kita ini. Dari segi pertimbangan hukum yang mana, kenapa mereka di sini harus menderita terkapar ikut kena getahnya, akibat perbuatan makar di pusat pemerintahan Jakarta sana?

Asal muasal peristiwa G30S yang mengorbankan 7 jenderal terjadi jauh disana.Tapi, di sini saya tahu siapa mereka sebenarnya, orang-orang awam buta huruf yang tak tahu menahu atas kaitannya dengan PKI dan ormasnya.Kenapa mereka turut dilibatkan, diraup dan digaruk masuk tahanan oleh suatu rezim baru yang telah berhasil merebut kekuasaan?

Pemeriksaan melalui berbagai interogasi yang naïf seperti lelucon getir dari kisah-kisah para tapol tersebut di atas, merupakan ulah rezim yang dipaksakan untuk suatu kepentingan pencitraan. Bahwa penguasa mencoba memenuhi aturan baku pengadilan para tapol, di hadapan mata dunia. Dengan mengklasfikasi secara hukum dalam golongan A, B, dan C menurut keterlibatan atau kesalahannya. Padahal betapa kontroversial dan paradoksnya langkah penyelesaian hukum semacam ini, penuh kerancuan yang mubazir dan sia-sia…….
***

DI KERJA PAKSAKAN DI ALAM TERBUKA (Bagian Kelima)

14694679_120300000629705178_467925693_n
“Kerja Paksa”, (cat minyak, 120×180 cm, Th 2007), karya lukisan Sudiono SP (alm).

Hampir tiga bulan kemudian, masa pemeriksaan telah berlalu.Berarti selama waktu itu pula, kami para tapol di gojlok dalam semacam bagaikan godokan“kawah candradimuka” ini.Untung saja di antara semua tapol yang berjumlah sekitar 120-an orang di dalam ruang tahanan ini. Tak seorangpun yang tewas dalam pemeriksaan. Padahal rata-rata semua mereka tanpa kecuali tersiksa setengah mati.

Cuma terdapat hal yang sedikit agak menggembirakan.Ada beberapa orang tahanan dibebaskan atas saringan hasil dari pemeriksaan.Kami perkirakan, mereka adalah yang dianggap tak ada sangkut pautnya untuk diperkarakan.Mereka kebanyakan sudah berumur lanjut.Dari semua tahanan yang kami tandai relatif awam, dalam arti tak tahu menahu atas kaitannya dengan peristiwa G30S. Ada sekitar tiga orang yamg masih dibilang remaja, dibawah usia tujuh belasan.

Dari pihak golongan mereka yang sebenarnya tak pantas diraup, digaruk dan dikuras oleh penguasa itu.Betapapun sebagiannya, katakan sekitar dua puluhan lebih yang telah dibebaskan.Namun masih banyak lagi, di antara mereka yang tersisa di dalam tahanan ini.Memang mereka benar-benar “wong cilik”, pekerja serabutan mencari nafkah sehari-hari untuk sesuap nasi demi hidup keluarganya.Hidup mereka rata-rata relatif miskin alias melarat.

Tapi celakanya bagi nasib mereka.Justeru karena kemelaratannya.Telah dicurigai oleh penguasa selaku sarang komunis.Punya mata pencarian sebagai tukang bakso, tukang tambal ban, servis sepeda dan lain-lain.Dapat dianggap merupakan kamuplase kader partai yang bisa jadi adalah otak “Gestapu” yang berbahaya. Begitulah tuduhan naïf intel penguasa.

Saya merasa amat kasihan terhadap mereka.Sebagai korban kekeliruan atas penterapan paradigma asumsi logika-formil.Dari petugas penguasa yang menafsirkan secara sangat subyektif atas fakta.Bahwa komunisme dapat bersarang dan berkembang ditengah kemiskinan masyarakat.

Juga selama dalam masa pemeriksaan.Justru karena awam dan buta hurufnya yang memang tak tahu menahu benaran atas kondisi dan situasi politik.Sering menjadi sasaran penyiksaan yang luar biasa tak terukur.Karena dianggap berbohong, pura-pura blo’on dan bodoh.Dituduh untuk menutupi kekaderan sebenarnya.

Baiklah, syukur juga mereka sebagian sudah bisa dibebaskan. Bahwa tim pemeriksa dari pihak penguasa, tidak tampak kentara bekerja secara sembarangan. Tidak asal garuk saja dengan kejam tanpa manusiawi.Buktinya, di balik pencitraan yang harus ditegakkan, yang tak bersalah dibebaskan.Begitulah kiat penguasa yang baru menang dalam perebutan kekuasaan.Sedangkan pihak yang kalah selaku pecundang yang terkapar. Pada gilirannya akan menjadi korban permanen. Langgeng dalam penganiayaan dan penderitaan yang entah sampai kapan berakhir.

Tadinya dari pada tinggal bangkai yang terbuang dipinggir got, masih lebih baik menjadi tapol. Tapi sekarang bagi mereka kembali pulang kemasyarakat.Tentu lebih baik ketimbang selaku tapol yang terkurung.Padahal, sebenarnya masih belum tentu bagi mereka yang kemudian keluar tahanan. Dengan terlanjur membawa ciri atau cap bahaya laten. Baik sebagai bekas (ex) tapol, maupun mantan Organisasi Terlarang (OT).Di mana dan kapanpun terus terbawa-bawa secara melekat.Sejak di dalam hingga di luar tahanan.

Apakah mereka bisa kembali lagi menjadi benar-benar sebagai warga negara yang baik tanpa cacat?”Atau tak ada bedanya dengan kebanyakan warga lainnya yang terbebas dari sentuhan diskriminasi dan stigmanisasi?Sehingga mereka tak begitu mendapat kesulitan hidup berbaur di tengah masyarakat? 
Banyak hal yang dipertanyakan bagi nasib mereka yang dianggap telah terlibat langsung atau tak langsung oleh peristiwa G30S ini. Yang jawabnya akan lebih terurai dalam rangkaian serial cerita demi cerita dari pengalaman seseorang tapol selama belasan tahun. Yang kini berada di batas tanda kilometer awal dari perjalanan nasib suka dukanya.Dalam suatu ikatan dan jalinan duka derita hidup yang panjang.

14741760_120300000626298793_79897425_nPekerja Tapol, (cat minyak,100×135 cm, Th 2005), karya Suhadjija Pudjanadi

Setelah terasa begitu lama dalam penantian secara traumatis atas kelanjutan masa pemeriksaan yang kini mulai jarang terjadi. Sedangkan bunyi derum mobil truk disetiap malam sesudah sholat isa, tidak terdengar lagi sebagai tanda panggilan. Maka satu-satunya saat yang ditunggu selaku hiburan menyenangkan.Bagi mereka yang kebanyakan berstatus buruh Pertamina.Adalah menunggu kiriman makanan dari keluarganya di rumah.

Ransum makanan yang tersedia diberikan oleh penguasa di dalam tahanan.Dua kali sehari, relatif cukup bertahan menurut standar minimal.Seompreng nasi dengan lauk sepotong ikan asin atau telur dadar dan sayur asam dan bening kacang panjang. Itu sudah menjadi acuan rutin yang sudah baku. Kita bisa maklumi kemampuan ekonomis pemerintah baru yang baru merebut kekuasaan.Dari pemerintahan terdahulu dengan mewariskan krisis ekonomi yang parah.Akibat sengaja dikondisikan oleh mereka sendiri untuk memuluskan perebutan kekuasaan secara politis.

Di dalam ruang tahanan ini.Kesetia-kawanan (solidaritas) dan jiwa kegotongroyongan di antara sesama tapol memang merupakan ujian yang menantang.Tadinya terdapat di antara individu mereka yang melahab makanan kiriman keluarganya dengan bersendiri menghadap tembok.Tapi berkat peran nasehat orang tua yang berkumis dan berjenggot putih itu.Yang terkenal bijak dan berwibawa.Maka kemudian diatur, setiap kiriman makanan dari keluarga di rumah.Terutama lauknya, dikumpulkan semua untuk dibagi secara merata dalam kebersamaan.Meski masing-masing mendapatkan bagian serba sedikit.Tapi cukup sebagai penambah ransum makanan tapol yang sudah ada.

Satu hal yang kadang mereka terlupa.Bagaimana keluarga mereka di rumah, mengatur untuk menyisihkan kiriman makanan di samping untuk mereka sendiri bersama anak-anak. Ketika sang ibu sendirian menghadapi tantangan hidup, tanpa suami yang sedang ditahan. Masih cukup lumayan hanya bagi yang tetap menerima gajih suaminya dari perusahaan.Tapi jika sudah tidak lagi, bayangkan?
Demikianlah problema keluarga dari tantangan individual para tapol ikut menjadi pikiran saya. Tiba-tiba sekitar jam sembilan pagi, pintu utama ruang tahanan terbuka berderak. Dengan bergabung dalam suatu rombongan tingkat perwira militer setempat, komandan Kodim menyampaikan pengumuman secara langsung. Singkatnya, bahwa mulai besok para tapol akan diangkut kesuatu tempat untuk dipekerjakan.

Bagaimanapun, di balik rasa gembira akan menghirup udara bebas di luar. Tentu terselip juga kecurigaan prasangka politis, di antara kebutaan situasi selama ini. Jangan-jangan kita akan dibawa ke pelenyapan. Wajar rasa was-was semacam ini melintas dibenak para tapol. Yang telah membaca buku tentang nasib pengalaman tragis dibawah kekuasaan fasis dalam sejarah.

Tapi, mau tak mau, kita terpaksa berserah diri kepada yang di atas.Tatkala ketiga truk besar yang membawa kami meluncur boyongan kealam luar.Dengan dikawal ketat oleh puluhan tentara bersenjata.Dari tempat tahanan semula yang telah kami tinggalkan.Sebagai suatu permukiman tertutup yang kami lalui selama tiga bulan.

Masih terngiang dalam ingatan kami atas peringatan keras komandan Kodim :”Jangan sama sekali kalian mencoba untuk lari. Jika tidak ingin tewas oleh lontaran peluru penjaga kalian!” 
Ternyata setelah kami tiba di permukiman baru, di mana kami akan tinggal. Adalah suatu daerah hutan gugusan pegunungan Meratus yang tidak terlalu jauh dengan wilayah pelarian kami tempo hari.Bagi saya ini suatu takdir kebetulan yang agak lucu juga.

Dari petunjuk yang kami baca dan dengar dari order para penjaga militer. Kami bersegera akan membangun barak tempat tinggal terlebih dahulu. Sebelum nanti kami akan dipekerjakan menjinamid gunung batu. Kemudian bongkahan batu besarnya dipecah lagi dengan amar.Menjadi keping-keping batu sekepal genggam tangan.Lantas nanti diangkut lewat keranjang rotan ke jalan raya buat pengerasan lapisan alas jalan.

Tentu rasa syukur pertama yang perlu dipanjatkan do’a keatas.Adalah bahwa kami benar-benar dipekerjakan.Bukan untuk dilenyapkan lewat pembantaian massal.Rasa syukur kedua, ialah menghirup seleluasanya udara bebas di tengah hutan belantara pegunungan Meratus yang indah.

Di sini, oksigen sebagai sumber untuk pernafasan hidup.Begitu kaya berlimpah, bisa dihirup dengan gratis.Sinar matahari pagi yang penuh spectrum warna buat kesegaran kesehatan manusia, selalu terbuka menganugerahkan manfaatnya kepada kami Ketimbang disekap di dalam gedung tertutup yang pengab.

Meskipun di kerja paksakan oleh penguasa di bawah moncong bedil penjaga yang cukup ketat.Bagaimanapun mau tak mau para tapol yang tengah dirundung penganiayaan atas hak azasi kemanusiaannya ini, dipaksa juga untuk berpikir positif.Mensyukuri kepada setiap hasil bioritme hidup yang masih ada terlimpahkan.

14658292_120300000629343231_2052775573_n
“Gejolak Kerja” (cat minyak,110×175 cm, Th 1962), karya lukisan Misbach Tamrin.

Peran kerja yang dimiliki manusia, membuat ia merupakan mahluk tertinggi. Lewat kerja ia dapat merubah keadaan. Jadi, sebenarnya kerja itu indah.Segi atau sisi inilah yang kita petik hikmah dan manfaatnya. Betapapun para tapol sekarang, barangkali akan diperlakukan seperti apa yang terjadi dalam legenda sejarah.

Mungkin saja seperti para budak yang secara tak manusiawi dikerahkan atas perintah sang raja membangun candi Borobudur. Atau seperti para kawula rakyat yang terjajah di zaman kolonial di manfaatkan oleh penguasa Deandels lewat kerja rodinya membangun jalan dari Anyer ke Panurakan yang banyak memakan korban itu.Dan boleh jadi juga diperlakukan layaknya “romusha” di zaman Jepang, yang kerja paksanya terkenal kejam itu.

Nantinya kita tak tahu pasti.Tapi dalam perkiraan berkat doktrin ajaran “Pancasila” Bung Karno yang mungkin masih melekat terwariskan kepada aparat penguasa yang telah memenangkan perebutan kekuasaan itu. Legenda kerja paksa yang telah meninggalkan tragedi yang mengenaskan dalam sejarah masa lalu itu, tak akan terulang kembali……. 
***

KERJA MANUSIA DAN MATAHARI (bagian 6)

Kerja, ternilai begitu indah, setelah dipandang dan dinikmati buah hasil jadinya.Itu terasa bagi kami, ketika berada di dalam barak yang kami bangun hanya dalam sehari, di tengah hutan belantara ini.Setelah pengerahan hampir seratus orang tenaga tapol melabrak dengan kerja kilat secara gotong royong.Boleh jadi juga dirasakan oleh kaum budak di zaman dulu.Setelah mereka selesai membangun candi Borobudur yang begitu megah.

Persoalannya yang krusial adalah dalam “proses” pengerjaannya. Tatkala dalam rangkaian proses kerja paksa yang diderita kaum budak, berada di bawah sistem perbudakan dari kekuasaan raja. Sehingga dalam konteks ini, nilai kerja jauh dari pengamatan estetis.Karena kerja telah tercemar atau terdistorsi oleh cacat ketidakadilan.

Di sini, kerja manusia terbanting nilainya.Tereksploitir oleh sistem penindasan kekuasaan klas yang tidak hanya memeras keringat dan darah.Tapi juga airmata. Di zaman perbudakan hingga feodal, tuan budak dan tuan tanah alias raja sebagai dewa pemeras dan penindas yang kejam.

14699980_120300000628488881_2117446352_n
Ket.: Ilustrasi Lukisan , karya Misbach Tamrin, berjudul “Kerja Manusia dan Matahari” (akrylik di atas canvas, 150×100 cm, Th 2016).

Sedangkan dizaman kapitalisme , sang pemilik modal tidak saja memeras keringat kaum buruh. Tapi juga menghisap dan menyedot “nilai lebih” dari upah kaum pekerja yang merubah dunia ini.Melalui mesin robot tehnologi perdagangan pasar bebasnya yang bagaikan gurita dengan perpanjangan tangannya menjarah nasion-nasion tertindas di mana-mana, di dunia.

Sehingga secara makro nasib manusia dalam sejarah.Di era yang “cerah” bagi kaum elit, termasuk mereka klas menengah keatas yang kebanyakan mengandalkan “kerja-otak”.Namun, “kelam” bagi umat yang terbanyak, terutama kaum rakyat pekerja sedunia.Dengan ketergantungan upah “kerja-badan”nya yang menguap.Disamping lewat peluhnya yang mengering. Tapi juga tergelontor melalui cerobong asap pabrik perusahaan multi nasional pemilik modal yang kini sedang pada jaya-jayanya. Jauh, sangat jauh dari impiannya mendapatkan upah sesuai dengan hasil kerjanya.Suatu ciri pertanda yang cukup indah dari kehidupan sistem pra masyarakat adil dan makmur yang menjadi idaman semua orang.

Di bawah terang cahaya lampu minyak tanah yang berkelap-kelip adanya terbatas.Pada malam pertama kami berada di kawasan hutan belantara yang disebut Sungai Bura ini.Kami semua terbaring melepas kelelahan.Sehabis dikerahkan dalam kerja massal membangun barak, selama seharian penuh. Sebuah barak berukuran panjang kurang lebih 15 meter,dan lebar 5 meter.

Untuk tempat tinggal para penjaga yang mengawal kami, dibuatkan tempat khusus yang agak lebih baik.Letaknya tak seberapa jauh dari barak kami.Cukup untuk ditinggali oleh mereka yang berjumlah selusin orang itu.

Beragam batang pohon yang tumbuh merapat di sini.Tinggal hanya tebang pilih.Dapat digunakan buat tiang dan lantai barak.Dedaunan dari semak belukar yang rimbun.Terutama daun pohon rumbia yang banyak tumbuh berkelompok di pinggir sungai.Cukup memadai dan cocok sebagai atap pernaungan dari terik panas matahari dan hujan.

Dari segi kemanfaatannya bagi kami.Hutan di sekitar kami punya potensi yang begitu kaya.Sebagai sumber yang tak pernah kering.Dengan daya gunanya yang multi fungsi bagi prospek keberadaan kami selama di sini. Tentu sangat berbeda seandaikata mesin tehnologi perusahaan kapitalis multi nasional yang menanamkan investasinya di sini misalkan di bidang batu bara dan kelapa sawit. Maka nasib hutan tropis kita yang termasuk kawasan yang kaya dengan oksigen “paru-paru dunia” ini.Akan terobok-obok menjadi telanjang dan gundul. Sekaligus malah sebagai produk berlimpah gas asam arang (CO2) melalui asap pembakaran hutan yang melanda tanah air kita. Bahkan, kepada negara-negara tetangga.

Lagi pula disini, kita jangan coba-coba berpikir provokatif.Dalam memanfaatkan peluang kelonggaran bergerak di hutan ini.Untuk suatu kepentingan pelarian bergerilya yang bernuansa perlawanan politis.Jika tak ingin menjadi korban konyol yang sia-sia.Buat dijadikan, bagai bangkai babi hutan yang terjebak dalam zona radius daya tembak para pemburu penembak jitu.

Di antara keawaman pengetahuan kami dalam hal strategi dan taktik militer.Tentu kami tak tahu persis. Atas pertimbangan apa penguasa berani berspekulasi memanfaatkan tapol masuk hutan. Tapi lewat asumsi perkiraan.Penguasa tak mau terlalu rugi oleh keluar “ongkos-buta” buat memberi makan para tapol.Tanpa usaha produktif.

Dengan kekuatan cuma selusin tenaga penjaga bersenjata yang mengawal kami.Bukan tidak mungkin dari segi pengamanan.Selain selusin penjaga yang berbaur dengan tapol. Masih ada saf-saf pelapis yang lain disekitar hutan ini. Tentu saja sudah dalam kondisi lingkungan hutan yang mereka perhitungkan secara matang.

Sehingga selaku penangkal kemungkinan para tapol untuk melarikan diri, tentu penguasa sudah siap sedia menghadapinya.Ditambah dalam kandungan asumsi lainnya.Bisa jadi juga penguasa dengan sengaja membuat perangkap cadangan (reserve}.Jika para tapol melarikan diri atau memberontak.Maka berarti secara kebetulan kami telah masuk dalam setting penguasa. Bagaimana cara meniadakan keluar “ongkos-buta” buat memberi makan para tapol yang merupakan beban berat bagi mereka itu. Nah, tentu semua kami para tapol paham betul. Buat apa cari penyakit lain untuk menambah penderitaan yang sudah berada dipuncak ini.

Begitulah, kami para tapol telah dimanfaatkan oleh penguasa Pemda Daerah untuk suatu kepentingan usaha produktif.Dengan dikerja paksakan selaku kuli-kuli bangunan.Mengerjakan pengerasan jalan raya rute Kalsel-Kaltim.Dalam ukuran panjang jalan hingga sampai batas mana.Kami tak mengetahui.

Tugas pokok kami adalah memecah dan mengangkut batu-batu gunung.Dari lokasi pendinamitan ke jalan raya yang jarak jauhnya sekitar 2 kilometer.Dengan mendinamid gunung batu yang dilakukan petugas khusus dari Zeni TNI Angkatan Darat.Menjadi pecahan bongkahan batu besar yang tersebar disekitar kaki pegunungan.Buat seterusnya bongkahan batu besar itu dipecah lagi menjadi keping-keping batu sekecil kepal tangan.Lantas diangkut oleh para tapol ke jalan raya untuk pengerasan lapisan permukaan jalan.

Di antara para tapol, dipilih tenaga pemecah batu yang diperkirakan punya kemampuan dan pengalaman.Ternyata rupanya ada beberapa orang yang mencukupi syarat ditugaskan untuk itu. Mereka rata-rata tenaga usia muda berbadan tegap dan kekar.

Selainnya dalam jumlah yang terbanyak adalah kelompok pengangkut keping-keping batu.Hasil pecahan bongkahan batu yang dibedel dengan amar (palu godam) oleh para pemecah batu.Pecahan keping batu sekecil kepal tangan dimuat dalam keranjang rotan.Lantas diangkut oleh para tapol selaku kuli-kuli dengan berombongan berjalan kaki secara beriringan dalam perjalanan cukup jauh dari hutan kejalan raya.Di sekitar pinggiran jalan raya batu-batu itu ditumpuk.Untuk selanjutnya diampar dan disusun oleh petugas kelompok lannya lagi di atas permukaan jalan.

Ketika senggang, dapat kita saksikan suatu pemandangan taferil dari pandangan jauh.Di satu penjuru tampak para kawan-kawan tapol yang terpilih bekerja memecah batu.Dengan badan telanjang yang mengkilap berminyak keringat, otot-otot mereka terkena sinar matahari.Mereka mengayun gerak ritmis dengan palu godam (amar) ditangannya menghantam bongkahan batu gunung.Sekali hentakan pukulan amar, bongkahan batu itu ambrol. Memang di tangan ahlinya yang sebelumnya mempelajari urat-urat batu, ia kerjakan dengan mudah. Tapi, saya sendiri pernah mencoba yang bukan ahlinya.Dengan pukulan berulang-ulang, tetap bongkahan batu tak bisa pecah.Ada rahasianya untuk memecah batu.

Di penjuru yang lain. Di mana saya sendiri juga termasuk kelompok penjunjung dan pemikul keranjang berisi kepingan batu di atas bahu.Tapi kadang ada menjunjung di atas kepala.Mereka berjalan, layaknya kuli-kuli pengangkut batu berbaris beriringan menuju ke jalan raya sepanjang 2 kilometer.Dalam pengalaman saya yang kurang terbiasa, perjalanan mengangkut batu ini merupakan kerja manusia yang menguras tenaga.Saya terpaksa banyak menurunkan keranjang junjungan selama beberapa kali istirahat.Tak peduli dilihat penjaga.Untung saja mereka bisa memaklumi saya.

Atas pemandangan dua penjuru ini, jika dilukiskan diatas kanvas secara realis, bisa cukup indah.Namun juga mengharukan, karena kegetiran penderitaannya yang kurang manusiawi. Dalam imajinasi, boleh saja gambaran yang tampak di kelopak mata, mengingatkan akan legenda sejarah dari kerja paksa dan kerja rodi yang termasyhur itu. Tapi,walau dialami secara langsung oleh saya sendiri. Betapa keras, kerja-badan yang terperas di sini.Sayapun secara pribadi tetap masih merasa.Apa yang menjadi pengalaman semacam ini. Masih bisa diterima dengan rasa gembira.Kenapa?

Hal ini bersangkutan dengan karakter manusia secara psikologis.Memang di sini kita bekerja dengan tanpa kebebasan.Suatu kondisi yang sudah berlipat kali dipahami dan dimaklumi.Sebagai nasib pentakdiran yang tak terhindarkan.Hidup kita sudah dalam pilihan.Betapapun berujung dengan fase semacam ini.Ditengah perjalanan kita yang mungkin masih panjang.

Menyedari status kita sebagai korban suatu pertentangan politik dan ideologi.Dihadapan penguasa zalim yang baru menang merebut kekuasaan.Di sini diwakili oleh para penjaga bersenjata selaku pengawal kami para tapol yang sedang dikerja paksakan. Tapi mereka secara individu adalah produk sistem masyarakat yang sempat tersentuh ajaran “Pancasila” Bung Karno yang juga bernasib sama dengan kami. Sangat berbeda dengan zaman perbudakan Borobudur, kolonial Daendels dan romusha Jepang.

Pada suatu hari, di bawah panas terik matahari di musim kemarau.Para tapol seperti biasa, secara prosais dan rutin dikerja paksakan.Kelompok pemecah batu dengan tenaga yang tak pernah surut.Tetap masih membedel gumpalan batu sebesar pondok kecil.Dengan irama ayunan amar ditangannya.Melalui bahasa tubuh yang cukup tangkas dan gagah, penuh semangat.Sedangkan kelompok pengangkut batu dalam keranjang rotan, masih tetap secara beriringan berjalan kaki menuju kejalan raya.Melalui jalan setapak meretas semak belukar sepanjang sekitar 2 kilometer.

Saya termasuk dalam kelompok pengangkut batu ke jalan raya yang sudah cukup terbiasa.Sehingga berjalan lancar, tanpa terasa terlalu berat lagi.Ketimbang tadinya, semula bagi saya merupakan beban fisik yang sangat melelahkan.Kini, sudah tidak perlu banyak lagi menurunkan keranjang batu untuk beristirahat berkali-kali.Setibanya di jalan raya, setelah mengeluarkan batu dari keranjang ketumpukannya dipinggir jalan. Terdengar suara panggilan nama saya oleh penjaga yang mengawal kami.

Ternyata yang memanggil saya adalah sersan Maulana (bukan nama sebenarnya). Ia termasuk petugas jaga kami yang bagi saya pribadi relatif baik. Secara keseluruhan, parameter sebagai ukuran kriteria baik di sini, dalam arti sikap kemanusiannya.Namun, memang ada satu di antara selusin mereka.Yaitu kopral Bejo yang terkenal “keras” yang berbahaya bagi kebanyakan para tapol.Pengertian keras di sini, untuk tidak dikatakan kejam.

Sersan Maulana yang kebetulan sedang bertugas menjaga tapol yang bekerja mengampar dan menyusun batu di jalan raya.Memanggil saya untuk memberi tahu bahwa saya mendapat kiriman dari keluarga saya di Murung Pudak (Tabalong). Tertulis alamat sipengirim atas nama ibu saya. Selama ini terkadang kami para tapol mendapat kiriman melalui titipan bus yang kebetulan lewat menuju Samarinda (Kalsel-Kaltim).Selain itu, tanpa diminta, sering kali para penumpang di dalam bus memberikan sesuatu makanan atau rokok kepada tapol yang sedang bekerja, setahu petugas.

Mengenai kiriman keluarga yang para tapol terima lewat petugas.Ada yang mau menerima sebagian kiriman yang di berikan.Tapi ada juga tak tega.Hal itu tergantung kepada kelegowoan masing-masing daya nalar petugas.Ransum makan antara tapol dan petugas diatur berbeda.Buat para tapol ada petugas dapur yang ditunjuk kepala pengawal melayani makan teman-temannya.Sedangkan buat para petugas jaga, punya tukang masaknya sendiri secara khusus.

Di saat-saat kami kembali kelokasi pusat tempat pengambilan batu-batu.Tiba-tiba di tengah perjalanan ada seorang kawan memberi tahu kami agar supaya berkumpul di lapangan lokasi kerja.Atas perintah kopral Bejo.Kemudian semua pekerja tapol berkumpul apel di lapangan.Di bawah terik matahari pada tengah hari itu.

Ternyata, ada suatu perkara yang melibatkan seorang tapol bernama Bambang yang akan dieksekusi hukuman oleh kopral Bejo. Rupanya Bambang disaat-saat istirahat melepas lelah.Di tengah perjalanan, karena begitu amat dahaga dipanas terik matahari itu. Lantas ia menyelinap memetik sebuah kelapa muda di kebun orang kampung dekat jalan raya. Tanpa seizin yang punya.

Hukuman yang menimpa Bambang ditentukan oleh kopral Bejo.Agar supaya semua pekerja tapol yang berjumlah sekitar 80-an orang itu.Harus menggampar muka Bambang, masing-masing dua kali pukulan kiri kanan.Secara bergantian.Setiap pukulan harus keras.Ada pukulannya lemah lembek, malah mendapat tendangan kopral Bejo.

Tapi anehnya, sangat mengherankan.Setelah menerima pukulan keras sebanyak 160 (2×80) kali.Bambang seperti kebal tak bergeming tanpa merasa kesakitan. Dan segera bergaul kembali dengan teman-temannya dengan enjoy saja. Seolah kejadian itu berlalu begitu saja, tanpa berkesan apa-apa.

Demikianlah, insiden krusial yang semacam ini, dialami para tapol selama dikerja paksakan penguasa di tengah hutan ini, tak terhindarkan terjadi.Konflik-konflik di antara manusia yang saling bertentangan kepentingan.Dalam komunikasi yang tak seimbang ini.Di antara para petugas jaga yang mewakili sebagai aparat penguasa.Versus pekerja tapol yang digembalakan selaku pecundang dan pesakitan, berlangsung secara prosais.Tanpa terlepas dari gangguan tindakan kriminal.

14741183_120300000633353100_2058393399_n
Ilustrasi lukisan kedua, karya Amrus Natalsya, berjudul “ Tangan-2 yang Agung” (cat minyak di atas canvas, 150×100 cm, Th 1961).

Semestinya Bambang harus menjaga disiplin moral sebagai seorang tapol.Betapapun dahaganya, pantang mencuri kelapa muda orang kampung. Bayangkan! Sebagai pembelajaran.Dalam perjalanan “Long-March” dari Revolusi Tiongkok yang dipimpin Mao.Hanya karena tidak hati-hati menginjak tanaman kaum tani saja, seorang prajurit tentara Merah terpaksa dieksekusi mati atas kesalahannya.Apalagi mencuri.Begitu tinggi moral disiplin perjuangan dalam revolusi yang menjadi acuan.

Tapol memang berbeda dengan tahanan kriminal.Kelemahan kesedaran ideologi dan politik dari para tapol yang sedang dikerja paksakan di sini.Justru dalam tekanan penderitaan semacam ini.Adalah wajar, dan bukan ironi.Jika merebak bermunculan dengan jelas berbagai penyakit ideologis yang sebelum peristiwa G30S dalam keadaan terselubung. Sehingga kita patut mencurigai terhadap semua apa yang terselubung itu. Adalah biang sebagai pencerminan adanya kegagalan total dari perjuangan selama ini. Itu kita akui sebagai oto-kritik yang sia-sia, ibarat nasi sudah jadi bubur.
***

TANRANGSULI (Bagian Ketujuh)

Pada batas tanda kilometer perjalanan disaat-saat kini. Kita semisal berada di ketinggian dataran status-quo. Hari ini tertanda, anno tahun 2016. Tatkala saya telah saksikan lewat Metro TV berita tentang kemenangan tokoh konservatif kanan Donald Trump sebagai presiden Amerika yang ke-45. Mengalahkan Hillary Clinton yang tadinya diharapkan selaku presiden wanita pertama. Ini fenomena dunia yang mengejutkan.Seperti halnya juga terjadi beriringan waktu di dalam negeri, dengan berita demo damai besar-besaran atas perkara penistaan agama yang dilakukan tersangka Ahok yang diikuti oleh ratusan ribu umat Islam Dan beberapa pekan yang lalu begitu merebak berita di tanah air perkara kasus pembunuhan yang luar biasa menarik perhatian massa selama berbulan-bulan. Si terdakwa Jessica yang disangka sebagai pembunuh dengan racun sianida atas sahabatnya sendiri Mirna selama kuliah di Australia, keduanya etnis Tionghoa WNI, telah divonis 20 tahun penjara oleh Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

Untuk saat sebentar dan sementara waktu, saya tercenung oleh kejadian peristiwa dunia dan tanahair yang menggemparkan ini. Di saat-saat saya sedang berupaya mengumpulkan memori kenangan masa lalu..Demi melanjutkan tulisan bersambung tentang cerita pengalaman saya sebagai tapol selama 13 tahun. Buat kali ini saya merasa tersendat-sendat, agak lebih lama dari biasa dalam meneruskannya.Karena halangan berbagai gangguan. Termasuk oleh berita situasi kontemporer dunia yang begitu menarik perhatian itu.

15095689_1615290958774316_4488167965158459913_n

Itu semua fenomena yang terjadi di hari ini. Sebagai salah satu tanda dinamika perubahan yang amat menonjol.Ketimbang dengan apa yang terjadi di masa lalu. Lantas bagaimana dengan melihat kedepan? Berbicara tentang masa datang. Akan banyak berbagai perkiraan daya bayang (imajinasi) yang bisa dituliskan.Tapi semua itu dilihat seperti meraba-raba. Bahan data selalu terpulang kepada berdasarkan pengalaman yang ada. Sehingga masa datang cendrung merupakan ulangan dari masa lalu yang bersifat mekanis. Padahal kebenaran selalu berjalan secara dialektis. Tentu, masa datang banyak mengandung perubahan yang berbeda dengan masa lalu.

Sedangkan tentang masa lalu. Karena ia telah kita raih menjadi milik kita. Melalui proses perjalanan yang dialami dan dikhayati.Jika kita tuliskan sebagai rekaman memori akan seperti bagaikan air sungai yang mengalir deras. Tanpa kendala berarti untuk menghalang-halangi. Asal selalu dalam ingatan melawan lupa.

Dalam konteks kesewaktuan semacam ini, saya teringat akan tulisan Pram “Nyanyi Sunyi Seorang Bisu”. Sebuah novel jurnal tentang penderitaan dan perjuangan para tapol di kamp konsentrasi “gulak-tropis” Pulau Buru yang tandus dan meranggas.

Judul novel Pram yang begitu puitis penuh makna yang dalam itu. Ternyata dapat saya temukan juga secara verbal dalam sosok seorang gadis Dayak yang sederhana, lugu, jujur dan jenaka. Ibarat sebuah bunga yang sedang mekar. Bukan juga seperti kerakap tumbuh di atas batu. Hidup enggan, mati tak mau. Sepatutnya, ia tumbuh diketandusan tanah musim paceklik kemarau panjang yang tak berujung. Ia adalah lambang metafora nasib keteraniayaan mahluk manusia yang melata ternista.. Tatkala dewa penguasa bumi menurunkan bala bagi kehidupan umat yang tadinya damai sentosa.

Disini, bayangan judul novel Pram yang puitis, namun krusial dan tragis itu, terlindap. Tatkala kami para tapol yang tadinya dimukimkan di tengah hutan sungai Bura, dipindahkan kekawasan daerah pedesaan yang lebih terbuka. Kini, lingkungan kami berada, ditempatkan di sekitar masyarakat pedesaan yang disebut Marindi. Penduduk setempat kebanyakan terdiri dari etnis Dayak yang sederhana yang kebanyakan beragama kaharingan.. Mata pencaharian mereka pada umumnya bertani.

Di desa Marindi, kami para tapol ditempatkan pada beberapa rumah bekas gudang yang dikosongkan.Agak sedikit menyenangkan bagi kami berada di tengah masyarakat orang kam pung yang sederhana. Walaupun dibatasi oleh penjaga militer yang relatif longgar. Dibanding dengan di sungai Bura, di tengah hutan jauh di sana. Kelonggaran bergerak para tapol, terutama disebabkan antara tapol dan penjaga sudah saling kenal lama. Terjalin rasa percaya mempercayai dalam batas tertentu. Sangat tergantung oleh peran pendekatan daya nalar para tapol sendiri dalam pergaulan. Dengan para penjaga, selaku manusia juga. Meski senjata api tak lepas dari tangannya.
Persoalan lain yang timbul juga tak terhindarkan. Kini, selaku tapol yang tadinya diisolir di tengah hutan, boleh digaulkan dengan orang-orang kampung. Sesama sipil, tapi berbeda status. Mereka pada umumnya kebanyakan kaum tani etnis Dayak yang sederhana dan lugu.Rata-rata hidup miskin. Tanpa pendidikan yang memadai. Sawah-sawah mereka bukan diatas rawa./ Tapi di punggung pegunungan Meratus yang hutannya dibakar sebelumnya secara berpindah. Mereka menebar benih di antara puing-puing kayu

Kami tetap dikerja paksakan untuk perbaikan jalan oleh penguasa. Tapi kali ini kami memperbaki jalan-jalan di kampung yang banyak pada rusak. Tugas kami disini menata keping-keping batu di atas permukaan jalan yang diangkut dari gunung melalui truk-truk. Pengangkutan batu gunung dari tempat pendinamitan dilakukan oleh para tapol dari kelompok kabupaten lain yang menggilir kami.

15073309_1615291448774267_8479631473044002793_n

Nah, tidak jauh dari barak kami, tinggal selaku tetangga, keluarga pak Darsyam. Seorang petani Dayak bersama isteri dan seorang anak gadisnya yang cantik. Pagi-pagi sekali mereka bertiga turun dari rumah yang bertiang tinggi. Pergi ke pehumaan di atas sebuah bukit dari bagian pegunungan Meratus. Sore menjelang senja mereka pulang. Kami sering berpapasan dengan mereka di setiap hari. Saat juga rombongan kami pulang dari kerja paksa perbaikan jalan, yang jaraknya kurang lebih satu setengah pal dari barak kami.

Selama di Marindi,saya terkadang tidak dipekerjakan memperbaki jalanan. Dibanyak waktu saya disuruh penjaga melukis foto dari mereka, di dalam barak. Ternyata mereka tahu saya juga pelukis, dari kawan tapol lainnya. Nah. ini merupakan tugas awal dari bakat yang saya punyai, dieksploitir oleh aparat penguasa yang mengawal kami. Suatu kesempatan yang memang bagi saya pribadi, cukup menguntungkan, dalam jangka waktu yang tertentu.. Tapi, bukan berarti pekerjaan melukis lebih enteng ketimbang mengangkut batu dalam keranjang. Kadang saya kesulitan mempersiskan wajah dari potret foto dalam lukisan hitam putih dari bahan jelaga lampu minyak tanah. Karena melukis drawing sudah lama tidak saya lakukan dalam latihan-latihan sebelumnya. Karena banyak kesibukan menangani organisasi, sebelum ditahan.

Suatu hari kopral Maulana, ketika sedang bertugas jaga dibarak, mengajak saya pergi kepondok pak Darsyam di atas bukit. Saya disuruhnya membawa peralatan lukis saya dan segulungan kertas gambar. Peralatan dan bahan lukis saya di dapat dari upaya bantuan kopral Maulana sendiri yang membelikannya di kota Tanjung. Berupa pensil. cat air, kwas, stip penghapus, dan kertas-kertas.

Rupanya kopral Maulana tertarik dengan anak gadis pak Darsyam. Saya disuruhnya melukis sang gadis yang memang buat di kampung Marindi ini merupakan “primadonna” yang menarik perhatian, karena kecantikannya. Walaupun gadis desa Dayak ini, tuna rungu, alias bisu dan tuli. Tapi ibarat bunga mawar, meski penuh duri dan dimanapun ia tumbuh tanpa lepas dari cacatnya. Tetap bunga mekar berkembang yang selalu banyak mengundang kumbang, kupu-kupu dan belalang lainnya untuk berkerumun mendekatinya. Maka di pagi yang cerah itu, kami berangkat naik bukit.
Setibanya di pehumaan di atas bukit, tampak dari jauh pak Darsyam serdang bekerja mencangkul tanah garapannya. Karena kami sudah saling mengenal dari kunjungan sebelumnya. Pak Darsyam hanya menunjuk ke pondoknya. Dengan maksudnya yang kami bisa tebak, menyilahkan kami boleh bertamu di pondok saja. Rupanya pak Darsam seakan sudah tahu, bahwa kopral Maulana memang senang dan menaksir anak gadisnya.
Di pondok, sang ibu, isterinya pak Darsam sedang menggoreng pisang tanamannya sendiri. Sedangkan anak gadisnya yang sering dipanggil dengan sebutan Tanrangsuli itu tengah menganyam bakul rotan. Kopral Maulana menyapa mereka, sambil meletakkan senjatanya bersandar di dinding. Sayapun meletakkan alat lukis saya di lantai dekat pintu. “Assalamualaikum,mohon maaf. Boleh kami singgah sebentar di sini? Kami perlu istirahat melepas lelah di pondok ini, sehabis berburu,” kilah kopral Maulana berpura-pura. Mereka berdua selaku penghuni pondok hanya tinggal mengangguk, diantara rasa kaget dan malu.

Tanpa banyak ngomong tentang hal lainnya lagi, langsung kopral Maulana bilang : “ Biarkan saja Tan tetap dalam keadaan sedang mengayam begitu. Pak Tamrin mau lukis Tan.” Sang gadis Dayak itu dengan rikuh sambil malu-malu tersipu. Saya langsung mengeluarkan alat-alat lukis dan kertas gambar beserta papan lapiknya. Kemudian si ibu menyuguhi kami minuman teh dan sepiring pisang gorerng.

Memang di sana berkelindan keindahan wajah penuh kesederhanaan. Terpendam berbagai dimensi keaslian (originalitas) yang alami. Pancaran kejujuran dan sikap lugu yang betapapun mengandung nuansa keprimitifan. Dari kebanyakan para penghuni di pedalaman pulau Borneo yang tak banyak tersentuh oleh budaya pendatang dari luar ini. Tapi kecantikan alami yang bagi saya begitu langka ini. Mungkin hanya pernah saya lihat, mirip seperti salah satu foto repro patung klasik “Dewi Venus” dari Yunani. Leher jenjang terbungkus kulit putih kuning seperti warna gading. Sepasang mata yang jernih membening. Di bawah sepasang alis yang melentik bagai selembar bulu elang yang sedang melayang.
Sungguh jarang saya temukan keindahan wajah semacam ini. Tatkala selama ini saya banyak berada di kota. Kecantikan wajah para gadis di kota, kesan saya kebanyakan bersifat instan. Terlapis oleh berbagai polesan make-up yang tidak asli alias palsu. Memang penilaian semacam ini bernuansa subyektif. Mungkin karena selama ini, seumur 23 tahun saya sudah masuk tahanan. Sedangkan cinta remaja belum sempat terhiraukan. Tinggal apatis oleh keranjingan berkarya dan berorganisasi.

Saya tahu, dalam kesempatan berada disini, saya tak mungkin bisa merampungkan lukisan ini. Sehingga lewat goresan pensil saya hanya bisa merekam esensinya lewat sketsa. Nanti setelah di dalam barak, baru bisa saya warnai dengan cat air. Tapi rupanya kopral Maulana, tampaknya cukup merasa puas melihat hasil sketsa saya. Meski sementara saya asyik bergumul dengan tarian pensil saya dalam hitungan menit menjelang jam. Ia lebih banyak terpukau oleh pesona wajah si gadis, juga seperti saya. Betapapun tanpa suara dan dialog. Dalam kebisuan dan kesunyian saat-saat itu, pesona dari suatu kecantikan yang alami berkelindan. Menguasai benak dan pikiran kami.

Setelah kurang lebih sekitar dua jam, kami berada di pondok pak Darsyam. Menjelang tengah hari, kami pulang menuju barak menuruni bukit. Debur angin pegunungan terasa lebih segar menerpa kami. Dihati kami terasa lega seperti telah digembirakan dan dipuaskan oleh pesona kecantikan wajah yang selama ini langka kami temukan. Tentu, bukan sesuatu yang aneh dan mengherankan. Jika kedua kami menyimpan perasaan yang sama terhadap sang gadis. Kopral Maulana adalah aparat penguasa. Disamping senjata di tangannya, ia adalah orang bebas. Berbeda dengan sikon keberadaan saya, selaku pecundang atau pesakitan yang sedang terbelenggu. Tapi, apakah saya tidak boleh atau tak punya hak untuk jika seandaikata jatuh cinta pertama kepada gadis dayak yang mempesonakan itu?

Secara pribadi di antara kopral Maulana dengan saya, dalam pergaulan sesama pemuda lajang cukup baik.Banyak berbagai faktor pengikat persahabatan kami selama beberapa bulan ini. Sehingga secara khusus, kopral Maulana jauh lebih dekat dengan saya, ketimbang di antara selusin pengawal jaga lainnya. Memang sesungguhnya di bawah sistem kekuasaan yang berlaku. Kami berdua dibedakan dan dipisahkan oleh faktor kepentingan klas politik dan ideologi. Tetapi secara kemanusiaan kami sangat bersahabat akrab oleh karena saling pendekatan pribadi. Tapi mengenai perkara cinta?

Nah, ini soal lain lagi. Ini sudah menyangkut ranah di lubuk dalam dari hati dan perasaan manusia. Dalam laut bisa diduga, tapi dalam hati siapa yang bisa menduga? Begitulah, diam-diam kami saling memendam gesekan (friksi) dalam persaingan perebutan lahan cinta di hati Tanrangsuli, setangkai bunga yang sedang mekar di atas bukit. Tapi, bagaimanapun saya berpikir harus tahu diri. Siapa saya. Keniscayaan status saya selaku tapol yang tak berdaya. Sehingga saya lebih bersikap banyak membantu mendampingi kopral Maulana dalam pergumulan perkara yang bernuansa semacam skandal ini.

Kami berdua tak peduli lagi bahwa gadis desa yang cantik ini adalah tuna rungu, alias bisu dan tuli. Selama ini kami banyak berdialog dengan bahasa isyarat dan gestur tubuh. Tapi justru dengan cara pendekatan yang penuh kekurangan ini, anehnya rasa empati untuk tak dikatakan perasaan cinta, semakin berkembang di hati kami. Namun, tanpa terhindarkan diikuti pula dengan banyak lainnya. Adalah wajar di antara pengawal jaga sendiri, bukan hanya kopral Maulana saja yang tertarik dengan Tanrangsuli. Termasuk juga yang cukup mengherankan, kopral Bejo yang terkenal keras itu. Sehingga semakin membuat biang keruwetan (komplikasi) yang berdampak jauh terhadap nasib kami nantinya. Karena di antara kawan-kawan tapol lainnya ada juga yang nimbrung lebih menambah kekacauan.
Nah, bermula dari tatkala lukisan potret Tanrangsuli telah selesai saya kerjakan dengan bahan cat air yang bermerk “Guitar”. Memang sebelum rampung samasekali, kopral Maulana dan saya semakin sering kerumah pak Darsyam di atas bukit. Sehingga Tanrangsuli sendiri kian sadar diri alias semakin mengerti dan paham atas arti dari hubungan kami. Persoalannya yang timbul, sebelum dibawa pulang kopral Maulana ke rumahnya di Tanjung. Lukisan Tanrangsuli terlanjur banyak dilihat oleh banyak orang. Termasuk diantara para pengawal jaga. Akibatnya hubungan kami dengan Tanrangsuli telah terbuka, bukan rahasia lagi.

Tapi, alasan saya melukiskannya karena pesanan kopral Maulana. Tentunya tak usah mengherankan semua pengawal jaga sudah biasa, setiap giliran bertugas dibarak, selalu menyuruh saya membuatkan lukisan potret buat diri dan keluarganya. Namun, tanpa terhindarkan lagi, akibat biang lukisan Tanrangsuli telah membuka gesekan front pertentangan atau pertikaian lebih tajam diantara internal para pengawal jaga.

Puncaknya, ibarat bagaikan bunyi pepatah, gajah bentrok dengan gajah, pelanduk terjepit di tengahnya menjadi korban. Saya kemudian diperintahkan kopral Bejo kembali dipekerjakan seperti semula. Di jalanan bersama para tapol lainnya. Tidak lagi bertugas melukis di barak.Sedangkan kedekatan saya dengan kopral Maulana selama ini. Berangsur-angsur mulai merenggang. Bahkan, kemudian kami tidak pernah kontak lagi, sampai akhirnya kopral Maulana dipindahkan kekesatuan lain.

Perubahan atau peralihan situasi bagi saya adalah biasa dan lumrah. Karena ketergantungan secara total atas nasib para tapol oleh perlakuan apapun dari penguasa. Tak lama setelah kopral Maulana dipindahkan. Saya bersama lima kawan yang dulu ditangkap di dalam gua. Diperintahkan oleh tim interrogator, ditarik kembali kekota Tanjung. Untuk menjalani pemeriksaan ulang.

Sebuah bus pengangkut tahanan dari penjara kota Tanjung, menjemput kami di desa Marindi. Saat itu matahari sore sedang menurun di atas pegunungan Meratus. Di halaman barak, bus yang kami tumpangi mulai bergerak untuk berangkat. Kawan-kawan tapol lainnya masih belum pulang dari kerja rodi perbaikan jalan. Sehingga kami tak sempat melepas perpisahan dengan mereka. Kebetulan kopral Bejo selaku petugas jaga di barak yang biasanya bermuka angker. Saat-saat melepas kami. tampak berubah menjadi ramah mengandung haru. Kami bersalaman, salam kemanusiaan. Rupanya kopral Bejo yang terkenal keras untuk tidak dikatakan kejam, di antara para pengawal jaga. Masih punya perasaan halus yang tersimpan. Kami sedikit agak heran.

Ketika bus berlalu meninggalkan barak tahanan yang sempat kami tinggali sekitar dua bulan. Saya memandang kearah di atas bukit, di mana pondok pak Darsyam berada jauh di sana. Terbayang wajah Tanrangsuli dengan kecantikannya yang alami, jarang ditemui. Kepergian kopral Maulana yang disusul pula oleh saya, kami tidak tahu apakah ia merasa kehilangan ? Apakah ia juga tahu, bahwa ia telah menjadi bunga rebutan yang membuat pertikaian krusial di antara pengawal jaga ? Bahkan kopral Maulana yang mungkin benar-benar jatuh cinta kepadanya, telah terbuang dari sini, karena mendapat sanksi oleh atasannya?

Saya tidak tahu buat menjawab semua pertanyaan itu. Karena kontak hubungan di antara kami telah terputus.Saya tidak berani untuk mencoba menemuinya. Untuk pamit mengucap perrpisahan. Karena saya seorang tapol. Di mana hak-hak selaku orang bebas telah hilang terenggutkan, Apa lagi bagi Tanrangsuli seorang tuna rungu yang terniscayakan secara alami tak berdaya. Ia punya kesunyian yang abadi dan membisu buat selamanya. Hanya kecantikannya merupakan keindahan yang eksotis, tersembunyi di tengah belukar pegunungan Meratus ini. Suatu kecantikan yang terabaikan tak kan tersentuh. Bagai bunga mawar hutan berduri, terjaga oleh jin dan peri di antara totem-totem Dayak yang demonis.

Bus yang kami tumpangi kian melaju sambil berpacu dengan matahari menjelang tenggelam. Desa Marindi semakin jauh. Di depan sana, langit senja yang lembayung seolah masih memantulkan wajah Tanrangsuli yang enggan pudar meredup. Wajah oval dengan rautan sepasang mata ras Mongol yang langka terus memburu dalam imajinasi. Kemudian menghilang,tatkala saya tersadar. Bahwa kami kini adalah sebagai tapol berada dalam bus yang akan mengirim kami kembali kedalam penjara.
***

NUANSA HARGA DIRI MANUSIA (bagian kedelapan)

15665394_1628383320798413_8434130343942474983_n

Setelah magrib, kami tiba di penjara Tanjung. Kami mengangkut barang-barang bawaan dari dalam bus, masuk melalui pintu gerbang berplat besi. Begitu kami berada di dalam, terdengar berderak pintu ditutup.Disusul bunyi gemerincing kunci pintu penjara. Pertanda awal kami menjadi tahanan politik (tapol) yang disekap di antara dinding tembok yang berbingkai kawat berduri.

Selama sekitar setengah tahun, kami berada dalam status tahanan dipekerjakan. Jadi berarti kini 
kami sedang memulai hidup di penjara, buat pertama kali. Saya teringat dengan sebaris puisi AS Dharta, penyair Lekra, yang berbunyi: “sebutkan segala penjara, itu adalah aku”. Secara imajiner bisa saja seorang penyair menyebut dirinya penjara secara metafor. Sebagai lambang keterpasungan, tidak saja terhadap kebebasan jiwa, tapi juga dari segi biologis seseorang. Dan kini realitasnya kami rasakan secara langsung. Ketika sipir penjara menggiring kami menuju sel khusus yang terpisah dengan kerangkeng hunian narapidana kriminal.

Ruangan sel khusus tempat kami dimukimkan, berukuran sekitar 5 x 4 meter. Sedikit lebih besar ketimbang ruangan gua di hutan pegunungan Meratus. Ketika dulu tempat kami tinggal bersembunyi dalam pelarian sebelum ditangkap. Terasa cukup aneh dan lucu. Ternyata kami bisa berkumpul kembali dalam suasana yang sama. Meski dalam situasi dan kondisi berbeda. Tapi jelas di sini jauh lebih baik, bersih dan aman dibanding dengan di gua. Masih cukup longgar tikar digelar buat merebahkan diri dan tidur bagi kami yang berjumlah 6 orang.

Namun, setelah kemudian beberapa minggu kami berada di sini/ Ternyata jadwal pemeriksaam kembali yang pernah kami dengar dijanjikan, belum pernah muncul. Apa sebabnya, kami tidak tahu. Padahal kami sudah lama mempersiapkan diri untuk menghadapinya/ Kami tahu, keenam orang dari kami dianggap merupakan tokoh kelompok pimpinan partai tingkat cabang. Sedangkan saya pribadi dikwalifikasi sebagai petugas dari tingkat daerah yang berada di Banjarmasin. Sehingga status kami disisihkan terpisah dari kelompok tapol lainnya.

Selain itu juga kami tahu pula masa pemeriksaan merupakan momen yang krusial. Diperlukan kesiapan fisik dan mental. Bahkan, ada kecenderungan rasa trauma di antara kami. Sebab ketika di awal pemeriksaan dulu. Tim interogator telah memperlakukan kami begitu kejam. Hampir boleh dikatakan berada di antara hidup dan mati. Menghadapi penyiksaan yang tak terperikan.

Jadi keberadaan kami di dalam penjara, kini tinggal hanya makan dan tidur. Terasa begitu membosankan. Ketimbang kebiasaan kami selama sebelumnya dipekerjakan di alam luar. Makan jatah penjara, meski di bawah standar. Seompreng nasi dengan ikan asin. Tanpa sayur dan asupan lainnya. Tak menjadi soal bagi kami. Karena terkadang sejak kami berada di sini. Masing-masing kami mendapat kiriman makanan dari keluarga di rumah, rata-rata sekali seminggu. Dan sekali-sekali kami masih diperbolehkan memasak sendiri makanan tambahan. Namun, kehilangan jadwal kegiatan produktif, seperti yang kami dapat sebelumnya saat dipekerjakan di luar, membuat perasaan tidak nyaman.

Sepanjang hari berada di dalam penjara, tanpa kegiatan berarti. Ini memang tantangan yang menjadi masalah.bagi seseorang manusia yang kebebasannya terpasung. Bergerak secara fisik di seputar ruang sel sulit dilakukan. Buat berolah raga kecil demi kesehatan di setiap pagi. Tapi terdapat halaman yang lebih luas di luar ruang sel. Di sekitar sinilah kami bisa berjalan-jalan keliling setiap hari membuat pergerakan badan. Terutama ketika pagi berlimpah sinar matahari, sambil rehat kami duduk-duduk berjemur di halaman. Begitulah tata sibuk bermanfaat yang bisa kami raih Selain memang masih ada yang bisa ditunggu. Disamping semisal waktu ritual sholat, sesudah berudhu dan mandi selaku acara rutin. Juga kesempatan menjemput ransum makanan dari dapur umum penjara. Paling menyenangkan jika yang telah lama ditunggu-tunggu dan diharapkan muncul. Adalah menerima tamu dari keluarga yang membawa kiriman. Tapi itu hanya terkadang di antara kesempatan yang relatif jarang.

Namun, yang lebih berat lagi tantangan dihadapi sipesakitan hidup di dalam penjara ini, adalah secara mental. Seisi di dalam benak tempurung kepala kami, tentu muatannya berbeda dibanding jika berada di alam bebas. Sementara pikiran yang terkumpul hingga membeludak dalam kurungan. Jalan keluar (out-put) nya terasa begitu sempit di sini. Inilah beban terbesar yang di derita dan ditanggung oleh seorang penjarawan, ketimbang dengan orang bebas. Dalam arti kehilangan kebebasan lengkap dengan berbagai kemudahan yang tadinya didapat untuk menuangkan hasil renungan pikiran yang terakumulasi secara over produktif. Sehingga semakin lama kian terkungkung menjadi beban terberat. Menindih benak pikiran di tempurung kepala ini.

Jadi, betapapun rutinitas kegiatan kehidupan sehari-hari begitu sederhana. Namun, karena dilakukan secara tertutup, tanpa akses dengan dunia luar. Di situ letak tekanan yang berat sebagai beban pikiran yang menindih kehidupan seorang tapol yang kebebasannya terenggutkan. Maka itu mesti ada jalan keluarnya untuk menetralisir tekanan beban tersebut. Jika ingin tak ditenggelamkan oleh arus rasa frustrasi berkepanjangan.

Sehingga pada waktu, saya berpikir dan teringat. Bagamana selama berada di dalam penjara ini dapat menciptakan tata sibuk sendiri yang berarti dan bermanfaat. Memang sebelumnya pernah terkadang terbetik di benak ini. Bahwa bakat melukis dan menulis yang dimiliki. Maka sebenarnya di sinilah tempat dan saatnya bisa dimanfaatkan. Sebagai suatu tanggap darurat yang bisa dikerjakan.

Jika selama di Marindi saya sudah begitu aktif melukis hitam putih dan aquarel. Kenapa di sini tidak? Dan dulu di sana saya melukis sebagai ganti kerja yang dipaksa. Kini, di penjara ini sedikit agak bebas ketimbang di Marindi. Walaupun lebih tersekap dan tertutup. Apapun yang bisa dikerjakan disini. Terserah apa mau kita sendiri. Memang terasa agak ironis. Koq, di dalam penjara terdapat peluang semacam ini.

Di dalam kamar sel, saya membuka-buka buku catatan harian. Di mana selama ini tidak begitu rutin saya isi berdasarkan jadwal. Padahal dalam rangkaian pekan-pekan yang berlalu, banyak kenangan menarik yang perlu dtuliskan. Terutama mengenai apa yang terjadi di desa Marindi. Masih melekat dalam ingatan perpisahan dengan Tanrangsuli yang tak berkesampaian. Gadis desa yang eksotis itu.sangat pantas buat ditulis dalam catatan harian ini. Saya merasa heran sendiri, kenapa tentang Tanrangsuli tak sempat tercatat. Padahal selama ditahan, bahkan di dalam penjara ini. Melukis dan menulis tak ada larangan. Kami bersukur, ketimbang dalam cerita-cerita dalam buku yang kami baca. Hal itu tidak dimungkinkan.

Sejak pagi itu hingga malam, buku catatan harian saya telah beberapa lembar halaman terisi tentang Tanrangsuli. Saya mencoba menuliskannya merupakan suatu sajak panjang, semacam balada. Gadis yang eksotis itu, saya tampilkan secara simbolis bagaikan setangkai bunga yang tumbuh di pegunungan Meratus yang membumi. Sebagai pewakil kehidupan para petani Dayak di sini. Yang hidup sederhana, untuk tidak dikatakan agak primitif. Pertanda yang orisinal, di sinilah kita dapatkan.

Kedalaman peran manusia atas ketergantungannya dengan alam sebagai sumber kehidupan yang tak pernah kering. Dimana peralihan setiap musim berkelindan mewarnai dinamika keberadaan para penghuninya. Keterpaduan jiwa manusia dengan seisi alam yang sinergis,sebagai rahim kehidupan sosial manusia satu sama lain untuk menjalin ikatan silaturahmi secara tulus. Dari sinilah dimulai asal muasal kebersamaan orisinal hidup manusia. Bersatu dalam keniscayaan menghadapi tantangan alam. Seperti yang diterbitkan pertama kali dalam masyarakat komunal primitif dalam sejarah.

Pembagian kerja dalam masyarakat demikian diatur secara sangat sederhana. Jika kaum wanita bertugas mengurusi bercocok tanam. Termasuk garis belakang tempat tinggal beserta dapur mempersiapkan makanan. Maka kaum lelaki tugasnya berburu. Kebersamaan yang guyub terniscaya di sini, justru karena ketergantungan dengan alam. Begitulah melalui ungkapan syair balada, saya tuliskan di catatan harian, sosok Tanrangsuli selaku lambang suatu masyarakat sederhana. Dengan pelbagai kemurnian lakon dan tingkah kehidupan manusia sedehana yang lugu, lugas, langka dan indah.

Sampai pada gilirannya lewat suatu perkembangan secara dialektis terjadi peretasan secara perlahan tapi pasti. Munculnya campur tangan asing dari luar, ibarat bala bencana yang datang mencabik-cabik kemurnian yang ada. Sebagai biang timbulnya klas dalam sistem masyarakat yang memecah belah keindahan harmoni persekutuan manusia dan alam. Menjadi pertentangan di antara manusia sendiri.Masyarakat terpecah dan terbelah alias terdistorsi di antara klas penindas dan tertindas. Ini termasuk pertanda dari rona dan ironi kemalangan suatu tragedi sejarah dunia.

Menjelang tengah malam, di bawah sinar lampu 80 watt yang menerangi kamar sel kami, penulisan balada Tanrangsuli tersendat oleh kantuk yang mulai tak tertahan lagi.Dengkur nafas tidur teman-teman yang telah lama terlelap mulai sayup terdengar. Pertanda keasyikan tidur mereka menulariku keseluruh tubuh yang semakin lelah. Berarti menulis juga benar-benar telah cukup menguras tenaga dan pikiran.

Kemudian dalam keadaan masih digelayuti kantuk yang berat, setelah tidur lagi sehabis sholat subuh. Sekitar jam enam pagi, kami dibangunkan petugas sipir penjara untuk bersiap akan dibawa keluar. Dibawa menuju kemana, kami tidak tahu. Tapi kami disuruh tidak membawa alat atau barang apa-apa. Berarti kami bukan untuk dipindahkan. Dengan cepat kami menyiapkan diri. Dan tidak sampai seperempat jam, kami sudah berada di luar penjara. Dengan dikawal 2 orang opas penjara bersenjata laras panjang, kami disuruh berjalan kaki menuju tempat yang tak diketahui oleh kami.

Sejumlah 6 orang tapol, merupakan rombongan kecil yang berbaris jalan kaki dengan dibuntuti opas penjara bersenjata di belakangnya. Orang-orang di sekeliling pinggir jalan yang kami lewati, pada melihat kepada kami dengan perhatian yang tertarik. Terasa kebanyakan melalui pandang yang sinis. Ini baru kali pertama kami selaku tapol menjadi barang tontonan khalayak ramai di kota Tanjung. Apalagi kami berjalan melewati pasar. Kira-kira mungkin mereka tertarik, karena ini semacam pameran atau contoh monster manusia-manusia kejam yang terkenal disebut komunis atau PKI. Sangat dibenci masyarakat, karena telah mengorbankan “para pahlawan revolusi”.

Ternyata kami dibawa menuju ketengah lapangan bola di tengah kota. Di sana terlihat semua teman-teman tapol yang tadinya dipekerjakan di Marindi. Mereka sedang dikerahkan untuk secara massal membersihkan lapangan dari sampah-sampah yang berhamburan, sehabis perayaaan tujuhbelas agustusan selama beberapa hari. Dari jauh tampak mereka bagaikan semut mengerumuni remah-remah yang tersebar di seluruh arena lapangan. Sedangkan penonton dipinggir lapangan sambil berbisik membicarakan tontonannya. Seperti layaknya sebagai kelanjutan pertunjukan tujuhbelasan.

Kami kemudian bergabung bersama mereka. Setelah opas pengawal kami berbicara dengan kepala pengawal rombongan tapol yang terdahulu. Nah, kami berenam mulai ikut bekerja mengumpulkan sampah-sampah yang berserakan disekeliling lapangan. Masing-masing kami diberikan sebuah bakul sebagai tempat mengumpulkan sampah. Nanti setelah penuh, lantas dibawa dan dibuang kedalam bak sampah dipinggir lapangan.

Bekerja merupakan kegiatan positif dan produktif manusia yang sangat bermanfaat bagi kehidupannya sendiri. Mengkhayati manfaat kerja bagi kami telah teruji oleh praktek langsung selaku tapol yang dipekerjapaksakan Meski dipaksakan oleh perintah diluar kehendak kami. Karena kerja telah menjiwai diri kami. Bahkan, menjadi naluri yang kental melekat.Maka perlakuan penguasa terhadap kami.selaku tapol. Yang walaupun terkadang kurang manusiawi, sudah lama tidak menjadi masalah bagi kami. Apalagi ketika kami dipekerjakan di hutan rimba pegunungan Meratus. Kami telah terbiasa pasrah menerimanya dengan rasa senang. Kerja dalam hubungan antara manusia dan alam ternyata tetap terasa indah.

Namun, tatkala kami dipekerjakan dalam keadaan berada di sini, terasa sangat berbeda. Di sini, kami dirambati kesadaran, kembali kepada status sebenarnya. Selaku insan yang malang. Seolah sebagai manusia kehilangan segala-galanya. Rasa malu, rasa bersalah dan harga diri menggelantung dengan sergapannya yang nenyakitkan. Kenapa masih harus kami rasakan hingga kini komplikasi perasaan semacam ini? Padahal secara ideologis, ini jelas adalah keluhan atau ratapan borjuasi kecil yang cengeng.

Fakta yang kami hadapi sekarang. Suatu kenyataan, bahwa terjadi pembantingan harga diri manusia secara dramatis untuk tidak dikatakan tragis. Memang dalam konteks dirasakan oleh seorang borjuasi kecil. Ketika kami dianggap semacam barang tontonan. Bukan hanya karena kami para tapol yang dikerjapaksakan memungut sampah-sampah selaku hukuman. Namun juga inilah sebagai contoh orang-orang PKI yang atheis, tak beragama, anti Tuhan dan sebagainya. Semuanya terbuka secara telanjang di bawah terang terik matahari.

Dulu, hampir setahun yang lalu. Di tengah lapangan ini juga. Saya berada di sini, tentu dalam keadaan berbeda. Saya ketika itu dengan rapi memakai jas berpidato atas nama front nasional dari Lekra Daerah yang didatangkan dari Banjarmasin. Bicara mengenai soal kebudayaan. Saya ingat sekali, dengan semangat berorasi secara retoris dihadapan khalayak ramai. Mereka menyambut dengan tepuk sorak, disetiap yel-yel pidato saya diucapkan dengan tekanan intonasi yang tinggi.

.
Nah, itu kenangan masa silam. Sangat kontras alias bertolak belakang perbedaannya dengan keadaan kini. Saya tidak tahu. Apakah teman-teman penjabat serekan saya dulu itu, juga berada di pinggir lapangan menonton kami. Ah, apa perlu dipikirkan ? Itu hanya rekayasa subyektif saya saja/ Sebaiknya disikapi dengan cuek saja. Tapi, apa arti harga diri? Situasi di lapangan tampak seperti arena pertunjukan. Para tapol masih bergelut dengan sampah, di bawah terik matahari. Sedangkan para polisi pengawal tapol pada duduk-duduk bernaung di bawah pohon. Tidak jauh dengan kumpulan orang-orang yang menonton.

Manusia sebagai mahluk alam punya nilai dan harga yang sama. Diantara semua umat satu sama lain.Namun, terjadi perbedaan atau gradasi yang bersegi banyak, setelah manusia berkembang sebagai mahluk sosial. Apalagi kemudian timbul klas-klas di dalam masyarakat. Secara garis besar, di antara 2 klas yang saling bertolak belakang. Yaitu klas penindas dan tertindas.

Nah,apa yang dikatakan atau disebut “harga-diri”itu, berada pada masa klas-klas timbul di dalam masyarakat. Di mana setiap individu secara perorangan dalam kehidupan bermasyarakat saling tergantung dan bersaing satu sama lain. Dalam mempertahankan keberadaan (eksistensi)nya. Mereka masing-masing berjuang memperkuat individu dirinya. Di setiap pergesekan (friksi) di ranah kehidupan.Dengan berbagai hasil prestasi di bidang lapangan masing-masing. Dari sini terbentuklah apa yang di namakan harga diri itu. Pada setiap individu manusia dalam persaingan hidupnya di dalam masyarakat berklas.

Perjuangan demi berprestasi melalui kegiatan di bidang masing-masing untuk pembinaan dirinya telah menjadi naluri individual yang bersifat subyektif. Sehingga melahirkan berbagai pola terbentuknya harga diri seseorang. Bisa atas dasar oleh karena kekuasaan, kekayaaan, pendidikan dan bermacam prestasi di lapangan hidup lainnya.

Namun, sebenarnya nilai harga diri yang sejati dimiliki oleh manusia adalah sebagai mahluk alam. Manusia dan alam merupakan kesatuan hakiki yang sinergis. Andaikan manusia tak terpecah diantara manusia sendiri menjadi klas-klas mayarakat yang saling berbeda dan bertentangan. Betapa fantastis dan indahnya dunia ini.

Prospek kemajuan, baik dalam pembangunan SDM, maupun SDA jauh lebih meninggi dan meluas. Karena sudah melintas di lingkungan area jagat raya alam semesta. Hubungan komunikasi adalah antar planet ke planet. Di sana tehnologi telah berkembang pada puncak mutakhirnya, oleh peran manusia memanfaatkan bantuan alam sedemikian maha canggih. Hanya bersama alam sebagai sahabat berkolaborasi manusia.Tak ada terganggu oleh recok antar manusia. Tak ada penindasan dan penghisapan manusia oleh manusia. Dan tak ada klas-klas dalam masyarakat.

Namun, apa boleh buat, itu hanya mimpi dari impian science-fiction semata-mata.Ternyata harga diri yang kami miliki kini adalah produk masyarakat berklas. Bahkan telah terbelah dan terdistorsi menjadi dua sisi pandang dengan masing-masing kepentingannya. Di antara klas penindas dan tertindas. Sejak terjadinya sistem penghisapan atas manusia oleh manusia.

Dimulai pada zaman peralihan komunal primitif keperbudakan. Hingga, melalui feodalisme ke kapitalisme. Di mana pada masa renaisance dalam sejarah, terjadi pencerahan atas nilai individu kemanusiaan. Bahwa sebagai acuan kriteria baik atau buruk dari suatu harga diri seseorang, dinilai dari hasil perbuatan prestasi hidupnya. Dan pemilikan perorangan atas alat produksi adalah merupakan kunci dasar yang menentukan karakteristik utama dalam penilaian harga diri seseorang manusia.

Jadi rasa malu dari martabat harga diri yang dijatuhkan. Misalkan tadinya dari seorang penjabat terpandang menjadi tapol yang dikerjapaksakan sebagai kuli pembuang sampah. Adalah tergolong masuk dalam kategori perasaan komplikasi borjuasi kecil. Melalui ukuran kriteria ideologis.

Namun secara manusiawi, hukuman atau sanksi politik yang mendera kami selaku tapol sekarang ini. Bagaimanapun juga mau tak mau. Tetap terasakan mengandung berbagai kerugian moral yang besar. Rasa bersalah, rasa malu, penyesalan, kebencian, dendam kesumat,dan amarah. Semuanya bergumul menjadi kesatuan tantangan penderitaan yang tak terhindarkan.

Hampir seharian penuh kami dikerjapaksakan dalam pembersihan sampah di lapangan. Jika semua tapol yang didatangkan dari Marindi, dipulangkan ketempat pemindahan baru dipinggran kota. Keenam orang kami kembali pulang kepenjara. Di saat-saat matahari akan tenggelam di balik atap-atap rumah yang berjajar disepanjang jalan yang kami lalui……

***

 
 
 
 
 

Simak 700 ‘entry’ lainnya pada link berikut

Daftar Isi Perpustakaan Genosida 1965-1966

 

 
Road to Justice : State Crimes after Oct 1st 1965 (Jakartanicus)

 

 

14542544_1036993449746974_4443364972569517121_o

Bookmark and Share

 

13047818_10209343119272764_8338060706038815101_o13043485_10209343122352841_1135692553504633931_n (1)

 

Definisi yang diusulkan D. Nersessian (2010) untuk amandemen/ optional protocol Konvensi Anti-Genosida (1948) dan Statuta Roma (2000) mengenai Pengadilan Kejahatan Internasional. (disalin dari Harry Wibowo)
Bookmark and Share
 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s