‘biografi’ Agam Wispi : “tanah dan darah/ memutar sedjarah/ dari sini nyala api/ dari sini damai abadi”

poster Hari Tani oleh Nobodycorps Internationale Unlimited
Agam Wispi
Matinya Seorang Petani
(buat L. Darman Tambunan)
1
depan kantor tuan bupati
tersungkur seorang petani
karena tanah
karena tanah
dalam kantor barisan tani
silapar marah
karena darah
karena darah
tanah dan darah
memutar sejarah
dari sini nyala api
dari sini damai abadi
 
2
dia jatuh
rubuh
satu peluru
dalam kepala
ingatannya melayang
didakap siksa
tapi siksa cuma
dapat bangkainya
ingatannya ke jaman-muda
dan anaknya yang jadi tentara
—ah, siapa kasi makan mereka?—
isteriku, siangi padi
biar mengamuk pada tangkainya
kasihi mereka
kasihi mereka
kawankawan kita
suram
padam
dan hitam
seperti malam
 
3
mereka berkata
yang berkuasa
tapi membunuh rakyatnya
mesti turun tahta
 
4
padi bunting bertahan
dalam angin
suara loliok* disayup gubuk
menghirup hidup
padi bunting
menari dengan angin
ala, wanita berani jalan telanjang
di sicanggang, di sicanggang
di mana cangkul dan padi dimusnahkan
mereka yang berumah penjara
bayi di gendongan
juga tahu arti siksa
mereka berkata
yang berkuasa
tapi merampas rakyatnya
mesti turun tahta
sebelum dipaksa
jika datang traktor
bikin gubuk hancur
tiap pintu kita gedor
kita gedor.
 
 
* Loliok ialah suling dari batang padi dalam sebutan kanak-kanak.
 

 

 

 

Pulang – Agam Wispi
dimana kau pohonku hijau
disini aku sudah jadibatu
hai perantau darimana kau
dari mana saja aku maumelekat jadi debu
di karet, di karet katamu
wahai chairil apa kaumasih disitu
atau lenyap dipasok batu
atau senyap sebelum tahun2000


ya Banda mengena jugayang kau bilang
tak seorang berniatpulang
pulang? kemana haruspulang
si burung samudera tanpasarang
bangga aku teringatSujoyono berani menuding
dan bilang untung akubukan anjing
ini juga modernisasiglobalisasi
kata-kata jadi keringkebudayaan baru
dari bawah sampai atas
tukang peras atau maling


puisi hanya kaulah lagitempatku pulang
puisi hanya kaulahpacarku terbang
puisi generasi baru yangbijak bestari menerjang
keras bagai granitcintanya bagai laut menggelombang


dimana kau pohonku hijaudalam puisimu wahai perantau
dalam cintamu jauh dipulau

BIOGRAFI AGAM WISPI 
Northern IllinoisUniversty Library

 

Unedited Stock Footage:Agam Wispi has lived in exile since the abortive Communist coup. in 1996, thisformer LEKRA writer returned to Indonesia for the first time since 1965. Thisfilm contains the raw stock footage taken in Jakarta, Indonesia, and Amsterdam,Netherlands, directed by Riri Riza and John McGlynn, this footage was used tocreate the biography of Agam Wispi in Indonesian Literary Figures” serieswhich features interviews with prominent Indonesian authors, poets andplaywrights. All films are in Indonesian and the final “On the Record:Indonesian Literary Figures” series is in Indonesian with English subtitles.A film log (in Indonesian) is also available as a text document. (***dalam 18 slot rekaman video)
 
 
 

 

Made Mawut mengaransemen dan menyanyikan lagu berjudul Latini,disadur dari puisi karya seorang eksil Agam Wispi. Pria ini terkenal sebagaipenyair yang menyuarakan ketidakberdayaan sebelum dinyatakan sebagai tapol.
Puisinya antara lain “Matinya seorang petani”, “Sahabat”, “Yang TakTerbungkam”, “Pulang”, dll terangkum dalam antologi puisi Agam Wispi. Salahsatu puisinya yang terkenal pada masanya yaitu “Latini”, syairnya dijadikanlagu sehingga mudah diingat oleh masyarakat.


Latini – Agam Wispi


Latini, ah Latini
gugur sebagai ibu
anak kecil dalamgendongan


Latini, ah Latini
gugur diberondong peluru
bayi mungil dalamkandungan


Tanah dirampas
suami di penjara
tengkulak mana akanberuntung?


Desa ditumpas
traktor meremuk palawija
pembesar mana akanberkabung?
Gugur Latini sedangMasyumi berganti baju
gugur Pak Tani dandadanya diberondong peluru
gugur jenderal, mulutnyamanis hatinya palsu


Beri aku air, aku haus
dengan lapar tubuh lemas
aku datang pada mereka
aku pulang padamu
sedang tanah kering dikulit
kita makan sama-sama
kudian muram
Latini, ah Latini
tapi, ah, kaum tani
kita yang berkabung akanmembayarnya suatu hari.





Menyambut pekan awal Oktober yang biasanya membawa isu ’65’ ke panggung terkini, rubrik IQRA Tempo, 9 Oktober 2017, menurunkan laporan tiga penyair terdepan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Ketiganya, bukan hanya sekadar penyair, tapi juga penggerak kebudayaan rakyat.

simak juga

 
Sumber: Bintang MerahNomor Special Jilid II, Dokumen-Dokumen Kongres Nasional Ke-VI Partai KomunisIndonesia, 7-14 September 1959. Yayasan Pembaruan, Jakarta 1960


simak pustaka eksil selengkapnya

Klayaban di Negeri Asing – Kompilasi Kisah-kisah Para Eksil 1965 

 

 

 

simak 700 ‘entry’ lainnya pada link berikut

Road to Justice : State Crimes after Oct 1st 1965 (Jakartanicus)

 

14542544_1036993449746974_4443364972569517121_o

13047818_10209343119272764_8338060706038815101_o13043485_10209343122352841_1135692553504633931_n (1)

 

Definisi yang diusulkan D. Nersessian (2010) untuk amandemen/ optional protocol Konvensi Anti-Genosida (1948) dan Statuta Roma (2000) mengenai Pengadilan Kejahatan Internasional. (disalin dari Harry Wibowo)

Bookmark and Share

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s