(men-) ‘Subversi’ Sejarah (Produk Propaganda Orde Baru/Palsu) Yang Hegemonik dari Bangku Sekolah

 

 
 
 
Pada era Reformasi, seorang guru sejarah yang masih mengandalkan buku paket yang telah ada (produk resmi pemerintah Orde Baru) akan mengalami kebingungan dalam mengajarkan materi sejarah pada anak-didiknya, karena materi buku paket/buku ajar sejarah yang diajarkannya hanya mengakui kebenaran tunggal, berbeda dengan informasi yang diterima para murid dari berbagai media massa. Berkenaan hal tersebut, tidak jarang diantara para guru sejarah dituduh para peserta anak didik telah membohonginya. Hal ini seperti yang dialami Dewi Hariani seorang Kepala Sekolah SDN 15 Pontianak
 “Terus terang, kami sebetulnya dituduh siswa membohongi mereka. Misal ketika kami mengajarkan tentang materi G.30.S/PKI atau Supersemar.*
[IG. Krisnadi]
 
Dulu, sejarah adalah made in Soeharto. Kita tidak boleh bercerita di luar versi resmi pemerintah, dimana peristiwa 65 diceritakan sebagai gerakan kudeta yang idenya dari PKI. Cerita ini selalu didengung-dengungkan. Murid sekolah bahkan diwajibkan mengunjungi Lubang Buaya. Dalam sejarah versi mereka, tempat tersebut merupakan lokasi pembunuhan keji 7 Jendral Revolusi oleh PKI. Tidak sampai disitu, tiap tahunnya film G30S/PKI yang berisi sejarah 65 versi Orde Baru diputar di TV.
Setelah Reformasi, informasi mulai terbuka. Buku-buku yang menggugat sejarah versi pemerintah mulai bermunculan. Sistem pengajaran sejarah jadi berbeda dengan era sebelumnya. Saya meminta anak-anak mencari informasi dari berbagai sumber seperti buku, internet dan lain lain, kemudian mereka diminta membuat analisis dalam diskusi-diskusi terbuka di kelas. Di saat itulah anak-anak bertanya, “ Mengapa terjadi pembunuhan massal hingga ke desa-desa? ”, “Mengapa yang dibunuh itu perwira-perwira senior Angkatan Darat, bukan Angkatan Laut atau Angkatan Udara? “. Jadi anak-anak diajak berfikir dan bertanya secara kritis. Masalah PKI tidak se-sensitif 25 tahun yang lalu.
[Ratna Hapsari (Mantan Ketua Assosiasi Guru Sejarah Indonesia)]
 
Mulanya saya pribadi sedikit ragu memutarkan film Jagal kepada para peserta didik. Bisa jadi, pemutaran film tersebut tidak sesuai dengan harapan saya. Apalagi aksi saya ini belum pernah dilakukan guru-guru sejarah sebelum saya. Biasanya guru-guru sejarah sebelum saya menyampaikan narasi sejarah Gestapu menggunakan pola lama, seperti yang ada di dalam buku.
Betapa terharu diri ini saat peserta didik merasa antusias menonton film tersebut. Di hati saya terbersit untuk tetap memutarkan film itu kepada seluruh peserta didik. Beruntungnya, materi di kelas XII adalah materi yang mengulas peristiwa-peristiwa pemberontakan. Dengan begitu, ada beribu alasan memutarkan film Jagal andai pihak sekolah melarang aksi saya.
[Diah Wahyuningsih Naat – Guru SMA]
 
cb829-copy2bof2bp1210918 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

 

 

 

 

 

unduh buku Yang Kelewat di Buku Sejarah – Pamflet Generasi

 

 
 
 Copy of P1200616
 
 
 

 

Komik Produk Propaganda karya Aji Prasetyo

 

 
12345678910111213
 
 

 

 

Simak 1100 ‘entry’ lainnya pada link berikut

Daftar Isi Perpustakaan Genosida 1965-1966

 
Road to Justice : State Crimes after Oct 1st 1965 (Jakartanicus)

 

 

14542544_1036993449746974_4443364972569517121_o

Bookmark and Share

 

13047818_10209343119272764_8338060706038815101_o13043485_10209343122352841_1135692553504633931_n (1)

 

Definisi yang diusulkan D. Nersessian (2010) untuk amandemen/ optional protocol Konvensi Anti-Genosida (1948) dan Statuta Roma (2000) mengenai Pengadilan Kejahatan Internasional. (disalin dari Harry Wibowo)
Bookmark and Share
 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s