Jejak Karya Seniman LEKRA Bachtiar Siagian Yang Dilenyapkan : Dari Drama Batu Merah Lembah Merapi, Film Turang hingga Violetta l Genosida Politik 1965-1966

 

Bachtiar Siagian dan Basuki Resobowo dalam rapat Dewan Juri Festival Film Asia Afrika 1964 di gedung Ganefo. Foto: Koleksi Oey Hay Djoen/ISSI
Dimuat dalam surat kabar Bintang Timur, 12 Juni 1960.
 
 

Ringkasan Manuskrip Memoar Bachtiar Siagian (1923-2002)

 

Violetta (1962) 
Dimuat dalam Aneka No 10 Tahun IX, 1 Juni 1958
*kajian film Turang karya Bachtiar Siagian
 turang
Poster Film “Turang”
(sumber posterjadoel.blogspot.coml”)
OH TURANG
Oh Turang Turangku turang
Ijadah deleng erdilo
Megersing Pagena mejile
Ijadah me kap sapo terulang
Kutimai kam Turangku turang
Oh Turang turangku turang
Ijadah me kap kam kutimai
Cirem nari ukurku o turang
Seh ulina o turangku turang
Reff
Kubayu tanda mata mejile
Man inget ingetenta duana
Oh turang turangku turang
Begiken sorangku o turang
Oh turang tedeh kal ateku
Ijadah me kap kam kutimai
Aloi aku turangku turang
Lagu ciptaan Sersan Mayor Hasyim Ngalimun ini menjadi soundtrack film dengan penyanyi Tuti Daulai (disalin dari artikel dibawah)

Ini adalah lagu yang dimaksud dinyanyikan oleh Bastanta P Sembiring

 

113 payung hitam aksi kamisan andreas iswinarto

DRAMA

 

*diantaranya dipentaskan karya Bachtiar Siagian Batu Merah Lembah Merapi

PUISI-PUISI BACHTIAR SIAGIAN DARI PENJARA ORBA

 

dikirim JJ Kusni, pekerja biasa di Koperasi Restoran Indonesia Paris kala Musim Dingin 2008
Menjelang pergi ke Indonesia akhir tahun 2007 lalu, saat membongkar berkas-berkas lama, tiba-tiba aku mendapatkan sebundel berkas diketik di atas kertas warna merang. Kertas-kertasnya pun sudah sangat gampang sobek jika kita membukanya tidak dengan hati-hati. Aku sendiri sudah lupa, darimana aku mendapatkan kumpulan puisi dan renungan ini. Satu-satunya yang masih kuingat bahwa pada masa “kuat-kuat”nya Orde Baru Soeharto, aku memang banyak sekali mendapat kiriman naskah-naskah yang ditulis dari pulau pembuangan dan penjara di Indonesia . Termasuk naskah ini. Sebagian kecil dari naskah-naskah itu sudah kusiarkan bersama teman-teman dalam bentuk sangat sederhana. Sebagian terbesar , aku jadi sangat menyesal sendiri, tidak terawat dan entah di mana sekarang. Sebagian kecil yang sudah kami siarkan adalah tulisan Hersri Setiawan ,”Di Sela-sela Intaian” dan  “Pledoi Kolonel Latief” [sekarang sudah diterbitkan di Indonesia].
Karya-karya yang ditulis langsung dari pulau pembuangan dan penjara, selain merupakan saksi sejarah yang hidup, kukira karya-karya demikian memperlihatkan pergulatan seorang anak manusia menarung maut dan menolak kalah. Setia pada martabat kemanusiaan dan mimpinya. Bahwa menjadi manusia bermartabat dan berharga diri bukanlah sesuatu yang sederhana. Mimpi dan cinta itu pun seharga kepala. Menagih kesanggupan memilih.
Dengan penilaian begini, maka aku merasa sangat gembira telah mendapatkan kembali kumpulan tulisan berjudul “Catatan Kemarau” [CK] dan “Mencari Dalam Sepi” [MDS], karya Bachtiar Siagian, salah seorang pekerja filem terkemuka dari Lembaga Filem Indonesia Lekra. Dari tangannya antara lain telah lahir filem “Turang”, drama “Batu Merah Lembah Merapi”…
CK dan MDS menghimpun karya-karya Bachtiar Siagian antara tahun 1967 hingga tahun 1975 bertandakan Salemba dan Nusakambangan [NK]. Melalui “Kronik dan Dokumentasi Wida” ini, aku akan siarkan karya-karya Bachtiar Siagian tersebut, sebagai penghormatanku kepada beliau, sekaligus sebagai bentuk usahaku mencari keluarganya dan menyerahkan karya-karya Bachtiar Siagian ini kepada mereka yang berhak memilikinya. Sampai aku menggoreskan kalimat-kalimat ini, aku masih kehilangan jejak Bachtiar. Aku sama sekali tidak tahu, beliau di mana. Apakah masih hidup atau sudah tiada. Kalau meninggal di mana makamnya? Aku tidak ingin karya-karya ini hilang seperti halnya dengan banyak karya orang lain, ketika berada ditanganku — seorang penghuni “kemah” perjalanan. Mencegah hal buruk begini, maka paling tidak memasukkannya ke dalam dokumentasi, maka tulisan-tulisan Bachtiar Siagian yang ia gores di saat menarung ajal memenangi hidup, sedikit demi sedikit akan kusiarkan selengkapnya.
Bisakah penyiaran karya-karya ini dipandang sebagai salah satu bentuk tanggungjawab, saling hormat dan solidaritas bersastra? Entahlah. Yang kukehendaki agar kita bisa bebas dari subyektivisme, seperti yang dikatakan oleh Chairil Anwar dalam puisinya “Catetan TH. 46” : “keduanya harus dicatet, keduanya dapat tempat”.
Adanya karya-karya seperti karya Bachtiar ini, karya yang tidak mendapat peluang terbit pada masa Orde Baru, barangkali menunjukkan bahwa pada periode itu selain ada sastra yang muncul, ada pula sastra yang tidak muncul. “Underground literary” jika boleh meminjam istilah Supriadi Tomodihardjo dari Köln, Jerman.
Beberapa diantaranya
[Tanpa judul]
Sekelumitpun Kasih
menyala di dada
Ia mampu
menantang derita
Salemba 1967
PERNYATAAN
I
Aku adalah aku
Dan Kau adalahg kau
Tetapi di dirimu ada aku
Dab di diriku ada Kau
Kita — kau dan aku — adalah pernyataan
Tentang keburukan dan kebaikan
Tentang kekuatan dan kelemahan
Tentang keterbatasan dan ke-tak-terbatasan
Tentang tahu dan tak tahu
Tentang ada dan tak ada
Tentang keganjilan dan kegenapan
Tentang kemuliaan dan kehinaan
Aku adalah aku
Yang senantiasa memerlukanmu
Dan Kau adalah Kau
Yang selalu memerlukanku
Kita ini awal dan akhir
Awal dari ketiadaan
dan akhir dari keberadaan
Kita penerima dan pengambil keputusan
Kita saling membenci dan mengasihi
Kita mengasihi karena saling memerlukan
Kita membenci karena saling berebutan
Kita menjadi sombong dan takabur
Di hadapan Sesuatu yang tak terukur
Kita ini sombong dalam kedunguan
Dan takabur dalam kelumpuhan
Kau adalah aku
Dan aku adalah Kau
II
Kita banggakan senyum dusta
dan pernyataan hampa
Kemuliaan; itulah aku
Keperkasaan; itulah aku
Ke-tak-terbatasan: itulah aku
dan ketika membanggakankedunguan itu
Kau hirup udara yang pernah kuhirup
Kuteguk air yang pernah kau minum
Di bumi yang tunggal ini
Yang bukan milik kita
tetapi memberikan segalanya
Pernahkah kau pertanyakan dirimu
Di hadapan hatimu sendiri
Siapakah aku?
Pernahkah kau pertanyakan
Siapa gerangan kita, kau dan aku
Di hamparan bumi yang bukan milik kita
Tetapi memberikan segalanya?
Kau adalah aku
Aku adalah kau
Kita adalah kau dan aku
Yang bukan hanya milik kita
III
Suatu saat kita terdampar
Di persimpangan tak bertanda
Kau paksa aku ke sana
Kudesak kau ke sini
Kita jadi serakah
pada keakuan sendiri
Kita terlupa
bahwa kau adalah aku
dan aku adalah kau
kita gila dalam keserakahan
di ladang yang bukan kita punya
lalu tenggelam kehilangan arti
dalam kilau impian sendiri
***
Riuh Di Keheningan
I.
Aku ini anak perbatasan
Dari dua dunia berpapawan
Antara kasih dan kebencian
Antara kekosongan dan kberadaan
Kupikul segenap beban pertanyaan
Yang menyerpih dari balik pengalaman
Apabila nanti terhempas ke tepi
Aku menari-cari di hati sendiri
II.
Di hamparan kelam
Sepi bergumam
Hati dipagut
Rindu yang kalut
Lalu terasa nyeri
Berhari-hari
Gemerlap di kelam ini
membekas sekilas lintas
Dan hanguslah mimpi
Di beku kawat berduri
III.
Baju yang terus koyak
Kutampali lagi
Tak henti-henti
Betapa gerangan menampali
Hati yang robek
Dan pikiran yang koyak?
IV.
Ketika harapan berpapasan
Dengan segala yang tak terpegang
Terasalah semua
Yang disebut hampa
Tetapi hidup bukan kehampaan
Yang terasa di kejatuhan
Ia madu
Bagi yang mampu
Dan bencana
Bagi yang buta
V.
Jika kedunguan dan keserakahan
Membebani hari nurani
Pasir pun dianggap permata
Dan kejujuran tak berharga
VI.
Di larut sendja ini
Berebutan segala tanya
Satu yang paling terasa
Kedunguan sendiri
VII.
Segala yang menjulang ke puncak
Sekali kan jatuh ke bumi
Dan pulanglah segalanya
Ke batas semula
YANG TERSISA
Sekali aku tiba di persimpangan
yang ada hanya diri sendiri
Matahari membekas di kering rumput
dan daun membusuk dibelaian embun
Di kejauhan tak berjarak ini
yang terasa hanya kehampaan
desah hati yang luluh
pada segala yang runtuh
Yang kini masih tersisa
Adalah tawa berbalut tanya
tentang makna segala cita
di hati manusia
Permisan, Mei 1974.
BIARLAH
Mungkinkah hidup ini
sejumlah pertanyaan
yang tercecer di perjalanan
dan pada suatu persimpangan
kita menunggu jawaban
Ah, persetan
biarlah berlalu
pertanyaan yang dulu
Permisan, Mei 1974.

 

Simak 800 ‘entry’ lainnya pada link berikut

Daftar Isi Perpustakaan Genosida 1965-1966

 

Road to Justice : State Crimes after Oct 1st 1965 (Jakartanicus)

 

14542544_1036993449746974_4443364972569517121_o




13047818_10209343119272764_8338060706038815101_o13043485_10209343122352841_1135692553504633931_n (1)

 

Definisi yang diusulkan D. Nersessian (2010) untuk amandemen/ optional protocol Konvensi Anti-Genosida (1948) dan Statuta Roma (2000) mengenai Pengadilan Kejahatan Internasional. (disalin dari Harry Wibowo)
Bookmark and Share

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s