Membikin Terang ‘Ingatan Revolusi, Aksi Massa dan Sejarah Indonesia’ (*) yang Digelapkan

*Ingatan Revolusi, Aksi Massa dan Sejarah Indonesia dipetik dari sub-judul buku Max Lane Unfinished Nation.

 

 

 

 

“Dengan melihat pembantaian massal tahun 1965 sebagai gerakan kontra-revolusioner juga akan mempermudah kita untuk mengerti bahwa gerakan ini adalah revolusi pada dirinya sendiri. Artinya, sekalipun merupakan ‘kontra-revolusi,’ pembantaian ini adalah sebuah revolusi. Dia melakukan reorganisasi kekuatan kelas sosial yang memiliki ideologinya sendiri. Semua kekuatan yang tidak berada dalam gerbong kelas dan ideologi kontra-revolusi yang diciptakan oleh militer Orde Baru harus diberangus dan diberantas habis.”

(Pembantaian Massal 1965 Sebagai Gerakan Kontra-Revolusioner – Made Supriatma)

 

“Dari perspektif ekopol, genosida 65 itu bukan hanya sekadar patahan dari perjalanan sejarah perjuangan bangsa Indonesia yang diproklamasikan pada 17 Agustus 1945. Genosida itu lebih tepat disebut sebagai pembalikan sejarah ke periode pra 17 Agustus 1945. Jika proklamasi mencanangkan kemerdekaan dari segala bentuk penindasan dan penghisapan manusia atas manusia lainnya, maka pasca 1965 Orba adalah sebuah rezim yang didirikan di atas tumpukan tulang-belulang rakyat sebangsa yang dibunuhnya secara massal. Jika proklamasi mengamanatkan pembangunan manusia Indonesia yang seutuhnya, dalam pengertian sadar akan hak-hak politik dan ekonomi-sosial-budayanya, maka pasca 65 kekuatan rakyat yang sadar politik dan teorganisir ini dibabat hingga ke akar-akarnya. Aktivitas rakyat cukup di lapangan ekonomi saja, lebih khusus lagi sekadar bekerja untuk cari makan. Jika proklamasi mencanangkan kemerdekaan dari ketergantungan pada pihak asing, rezim orba dengan sepenuh jiwa tunduk pada kepentingan negara-negara kapitalis maju. Bukankah ini persis seperti masa kolonial pra 17 Agustus 1945? Inilah pembalikan sejarah itu.”

 

 

Pengendalian kelas penguasa atas ingatan nasional dan kelas – yakni sejarah – adalah ciri khas masyarakat kelas dalam segala bentuknya. Kekejaman dan dan sifat merusaknya nyaris sebanding dengan subversifnya suatu ingatan atau pengalaman masa silam kelas teritindas. Dalam kasus Indonesia, ingatan itu mempunyai potensi yang sangat besar untuk menumbangkan dominasi politik dan ideologis elite penguasa yang sangat kecil dan telah memerintah Indonesia sejak 1965 – kaum elit Orde Baru. Kelas penguasa dan kaum elit politik dan intelektual yang melayaninya kini telah 45 tahun menulis dan menulis suatu sejarah baru Indonesia, menghapuskan dalam sejarah itu suatu peran yang serius untuk kelas-kelas tertindas dalam menentukan perjalanan perkembangan politik Indonesia.

(Max Lane dalam Prolog Buku Sejarah Alternatif Indonesia yang ditulis oleh Malcolm Caldwell dan Ernst Utrecht – Penerbit Djaman Baroe)

Menurut Made Supriatma pembantaian massal 1965 sebagai gerakan kontra-revolusi melakukan ‘reorganisasi kekuatan kelas sosial yang memiliki ideologinya sendiri. Siapa saja kekuatan yang tidak berada dalam gerbong kelas dan ideologi kontra-revolusi yang diciptakan oleh militer Orde Baru harus diberangus dan diberantas habis’.

Dan ini adalah kemunduran dalam perjalanan sejarah bangsa ini, bangsa ini kembali ke masa pra 17 Agustus 1945 seperti disampaikan Coen. Selain menghilangkan jutaan rakyat yang dibantai, dibungkam dan dipenjarakan, 20 tahun perjalanan perjuangan dan pergulatan bangsa ini telah tersapu bersih pula, dihilangkan.

Tidak hanya itu kemudian Suharto dan Orde Baru “menghapuskan dalam sejarah itu suatu peran yang serius untuk kelas-kelas tertindas dalam menentukan perjalanan perkembangan politik Indonesia” demikian Max Lane. Tak lain karena penguasa Orde Baru sadar bahwa ingatan mempunyai potensi yang sangat besar untuk menumbangkan dominasi politik dan ideologis kekuasaan.

Kembalinya ingatan akan peran sejarah itulah, ingatan akan ketertindasan kelas, ingatan Revolusi dan Aksi Massa pada akhirnya turut menyumbang amunisi untuk memampukan rakyat menumbangkan Suharto.

 

Berikut ini kami pilihkan beberapa video yang terdiri dari beberapa film dokumenter, rekaman kompilasi pidato Soekarno dan beberapa lagu yang relevan untuk merefleksikan dan menguatkan cuplikan dan rangkuman narasi Made Supriatma, Coen Husein Pontoh dan Max Lane diatas. Sekaligus penghormatan untuk Pramoedya Ananta Toer, yang jejak suaranya akan kita temukan dalam hampir semua film yang dipilih, disamping prolog yang memang protagonisnya adalah Pramoedya Ananta Toer sendiri

 

Prolog:

https://www.youtube.com/watch?v=4pJgo8GS5fw&t=153s

Jalan Raya Pos – De Groote Postweg

 

 


 

Soekarno “I hate imperialism.”

 

 

 

The New Rules of the World – John Pilger

 

 

 

The Shadow Play (CIA roles in Indonesian Killings of 1965-1966)

 

Kado Buat Rakyat Indonesia (bagian 2)

 

 

 Batas Panggung 

bila ada kesulitan mengakses film ini sila kunjung langsung

 
 

 

 

 

 

Indonesia in Revolt: Democracy or Death

 

 

 

Lagu Darah Rakyat

Internasionale Indonesia

 

Lontar – Darah Juang (Jon Tobing Cover)

 

Simak 700 ‘entry’ lainnya pada link berikut

Daftar Isi Perpustakaan Genosida 1965-1966

 
Road to Justice : State Crimes after Oct 1st 1965 (Jakartanicus)

 

14542544_1036993449746974_4443364972569517121_o

Bookmark and Share

 

13047818_10209343119272764_8338060706038815101_o13043485_10209343122352841_1135692553504633931_n (1)

 

Definisi yang diusulkan D. Nersessian (2010) untuk amandemen/ optional protocol Konvensi Anti-Genosida (1948) dan Statuta Roma (2000) mengenai Pengadilan Kejahatan Internasional. (disalin dari Harry Wibowo)
Bookmark and Share

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s