Cerita-cerita dari 1965 Indonesia, Dihidupi Setiap Hari #1965setiaphari

#1965setiaphari adalah sebuah proyek berkesinambungan untuk mengumpulkan cerita-cerita personal tentang 1965 Indonesia, dan mendistribusikannya lewat media sosial. Sebagai monumen yang hidup dan berkesinambungan, proyek ini berusaha menyebarkan satu cerita, dalam berbagai format, setiap hari, agar cerita-cerita yang bersangkutan dengan 1965 tetap hidup.

tujuan kami

#1965setiaphari menyatukan orang-orang yang tersangkut dengan peristiwa-peristiwa 1965 dan akibatnya, menyatukan kita, sebagai manusia, melampaui batas geografis dan celah generasi. Proyek ini bertujuan mengingatkan, meningkatkan kesadaran dan pengetahuan, berkomunikasi, mencari keterhubungan.

harapan kami

Dengan menunjukkan bahwa cerita-cerita ini dialami oleh sekian banyak orang – yang melampaui definisi kiri/kanan, salah/benar, korban/pelaku – proyek ini juga diharapkan meningkatkan kesadaran tentang peristiwa-peristiwa 1965 di Indonesia dan di seluruh dunia.

 

kenapa cerita?

Anita Sobron:

“Saya lahir dan tumbuh besar di eksil, di mana kami selalu harus berpindah-pindah dan tiap kali berubah nama. Jadi perubahan bagi saya adalah hal biasa. Tapi, ada satu hal yang tidak pernah berubah: rapat-rapat almarhum ayah dan ibu – setiap kali rapat, setiap kali rapat. Selalu bicara tentang ’65. Sejak saya lahir, sampai saya dewasa. Apa-apa ’65, sedikit-sedikit ’65.
Suatu hari saya merasa sangat kesal dengan ini dan bilang kepada ayah, “Ayah, kenapa sih kalian ini orang-orang tua – selalu bicara tentang ’65. Mau apa sih? Bukannya hidup itu harusnya melihat ke depan, tidak terpaku di belakang?” Ayah tertegun dan tampaknya tergelitik, dia tertawa, “Betul juga Nit, lucu ya? Jadi kau panggil kami ini ‘Kaum 65’, begitu ya?”
Anak-anak saya, karena dekat dengan almarhum Kakeknya, pastinya juga dapat cerita tentang ’65, begitu mereka cukup umur untuk bisa berpikir dan bertanya. Sebenarnya, meskipun saya kesal dengan kebiasaan ini, saya pikir anak-anak saya beruntung juga. Tentu sebagai manusia kita semua suatu saat pasti akan berusaha mencari akar kita – lihat saja anak yang diadopsi, begitu tahu bahwa mereka diadopsi, biasanya selalu berusaha mencari asal-usulnya. Bagaimana pun juga, itu adalah bagian dari hidup saya, bagian dari hidup almarhum Kakek dari anak-anak saya.
Saya pikir cerita-cerita ini penting untuk diteruskan, karena cerita-cerita ini adalah akar kita.”
#living1965 #1965setiaphari
Silakan simak dan kirimkan cerita-cerita / #1965setiaphari–mu di

http://1965setiaphari.org/

dua cerita diantaranya

“Mo long kon fa!”

Sebelum kejadian-kejadian yang dimulai tahun 1965, keluargaku multi-bahasa. Aku belum lahir waktu itu – jadi ini aku dengar sebagai cerita masa lalu. Keluargaku di sebuah kabupaten beberapa jam dari Makassar berbahasa Bugis dengan orang-orang lokal, berbahasa Indonesia dengan orang-orang yang tidak berbahasa Bugis, dicampur dengan bahasa Khek (Hakka) antara anggota keluarga.
Setelah 1965, semuanya berubah. Aku lahir dalam situasi keluarga yang dipenuhi ketakutan. Saking takutnya, keluargaku seolah-olah memisahkan diri dari kehidupan lokal, dan ini mereka lakukan lewat bahasa. Aku ingat benar, dulu di keluargaku setiap ada yang bicara, selalu diselesaikan dengan frase “mo long kon fa” – yang artinya “jangan sembarangan ngomong” – dan desisan panjang yang membungkam, “Sssst! Mo long kon fa!” Begitu takutnya keluargaku, sampai-sampai ketika aku masuk TK, aku baru sadar bahwa aku tidak bisa berbahasa Indonesia.
Di tengah-tengah keluarga yang seperti ini, Papaku cukup berani. Dia punya kebiasaan mengajak anak-anaknya jalan keliling kota, sampai ke pinggiran-pinggiran dan pelosok-pelosok. Suatu hari ketika aku berusia sekitar 10 tahun, kami lewat di depan penjara militer di Makassar. Papaku menyebut bahwa kakekku pernah dipenjara di sana. Mamaku, seperti biasanya, langsung membungkam, “Ssst! Mo long kon fa!” katanya.
Aku tidak pernah bertanya lagi, dan Papaku tidak pernah bercerita lebih. Tapi insiden ini selalu aku ingat. Yang aku tahu dari papaku waktu itu adalah bahwa kakekku dipenjara karena dituduh PKI padahal sebenarnya sama sekali tidak terlibat. Keluarga kemudian diharuskan membayar untuk mengeluarkan kakekku – dan pemerasan ini terjadi bertahun-tahun.
Untuk kontribusiku ke 1965setiaphari.org, aku berusaha mencari tahu lebih banyak lewat salah satu tanteku. Lagi-lagi, dia langsung membungkam, “Ssst! Mo long kon fa!” – saking kagetnya. Dia heran kenapa aku bisa tahu, karena perihal kakekku ini tidak pernah dibicarakan dalam keluarga. Detail-detail yang akhirnya dia sampaikan kepadaku juga membuatku takjub atas perlakuan yang begitu tak-berperikemanusiaan terhadap keluargaku. Karena dia masih sangat terluka dan ketakutan, Tanteku juga heran kenapa yang begini harus diungkit-ungkit lagi. Tapi aku rasa ini harus kuceritakan, meskipun secara anonim untuk menjaga perasaan keluargaku.

Anonim

#1965setiaphari

#living1965

Lalu Hening…

Ayah saya adalah pengusaha tailor. Para tukang jahit yang dipekerjakan ayah saya di rumah rata-rata berasal dari Klaten dan Solo. Di tahun 80an, saat saya masih di bangku SD, saya mendapati ruangan paling belakang – yang biasanya hanya ramai dengan suara banyak mesin jahit – tiba-tiba riuh dengan pembicaraan soal tubuh-tubuh yang dibantai dan dilemparkan ke sungai yang membuatnya berubah merah.

“Tentara yang bantai orang-orang itu.”

Ora mung tentara. Wong-wong sipil sing dikongkon tentara yo akeh sing mateni.”*

“Iya, mereka dianggap PKI, lalu dibunuhi kayak ayam. Diputus kepalanya lalu dibuang ke kali.”

Horor sekali cerita mereka.
Saya tak tahu apa yang membuat mereka mulai bicara tentang kisah horor itu. Saya menduga pemicunya adalah film Pengkhianatan G30S/PKI yang baru saja diluncurkan di bioskop lalu beberapa saat kemudian dijadikan tayangan di TVRI. Saya ingat saya dan murid-murid lain dibawa guru untuk menonton film itu di gedung pertunjukan. Saya juga ingat beberapa kali saya terpaksa menutup mata dengan tangan karena adegan-adegannya yang penuh darah dan kekejaman.
Saya ingat saya yang masih kecil itu kemudian memandang PKI sebagai sesuatu yang membangkitkan rasa ngeri. Salah satu tetangga saya, Pak X, yang saya dengar ada sangkut-pautnya dengan PKI, suka saya amati diam-diam seolah-olah setiap detiknya akan ada kemungkinan ia mengeluarkan sesuatu yang tajam dan akan membunuh semua orang dengan kejam. Yang saya herankan, kedua orangtua saya kok biasa-biasa saja setiap bertemu dengan Pak X. Malah mereka sering mengobrol selayaknya kawan akrab. Ketika saya tanyakan kepada orangtua saya kenapa berteman dengan Pak X yang katanya orang PKI, jawaban mereka tidak panjang, “Memangnya kenapa kalau orang PKI? Pak X orang baik.”
Saya bingung.
Ketika saya dengar cerita horor tentang sungai merah di ruang belakang itu, yang sebagian diceritakan oleh mereka yang katanya melihat sendiri, saya tak tahan untuk tidak bertanya,
“Jadi yang jahat sebenarnya siapa sih?”
Mereka yang mendengar pertanyaan saya hanya saling memandang satu sama lain. Tak ada jawaban jelas. Beberapa saat kemudian ruangan pun hening dari suara orang bercakap-cakap. Hanya suara mesin jahit yang terus berbunyi.
Dan pertanyaan saya di tahun 80an itu adalah satu dari pertanyaan awal yang kemudian bertumpuk-tumpuk di tahun-tahun berikutnya tentang benar tidaknya sejarah buatan Orde Baru tentang PKI dan 1965.

Sari Safitri Mohan

#1965setiaphari #living1965

* Terjemahan bahasa Jawa: “Tidak cuma tentara. Orang-orang sipil yang disuruh tentara juga banyak yang membunuh.”
P1220206

Simak 700 ‘entry’ lainnya pada link berikut

Daftar Isi Perpustakaan Genosida 1965-1966

 
Road to Justice : State Crimes after Oct 1st 1965 (Jakartanicus)

14542544_1036993449746974_4443364972569517121_o

Bookmark and Share

 

13047818_10209343119272764_8338060706038815101_o13043485_10209343122352841_1135692553504633931_n (1)

 

Definisi yang diusulkan D. Nersessian (2010) untuk amandemen/ optional protocol Konvensi Anti-Genosida (1948) dan Statuta Roma (2000) mengenai Pengadilan Kejahatan Internasional. (disalin dari Harry Wibowo)

 

Bookmark and Share

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s