After the Killing of 1965-66 (and the fall of Suharto in 1998), Where is the left? (Kompilasi Inside Indonesia)

The killings of 1965-66

 

Inside Indonesia [edition-99-jan-mar-2010]
The killings of 1965-66 Robert Cribb and Michele Ford
Even now, Indonesians find it difficult to face the traumatic events of the past
Accomplices in atrocity – Brad Simpson
The mass killings of 1965-66 in Indonesia were international, not just local, events – and the US played an important role
Killing for God – Greg Fealy
When Nahdlatul Ulama members killed communists, they believed they were doing it for God
Terror in Tandes – Dahlia Gratia Setiyawan
Two villagers from the rural fringe of Surabaya recall the most frightening night of their lives
Hunted communists -Vannessa Hearman
Many of those accused of being communists fled to South Blitar after the Surabaya crackdown, only to become the target of the Trisula Operation in 1968
Survival through slavery – Taufik Ahmad
Suspected communists who survived the killings of 1965-66 in South Sulawesi spent the next 20 years working for the military in an isolated jungle camp
I’m still here – Annie Pohlman
Forty-five years later, survivors are telling their stories about their suffering in detention
Sensitive truths – Katharine McGregor
The exhumation of mass graves from 1965-66 is a fraught and dangerous business
Dictionary of a disaster – John Roosa
This mini-encyclopedia explains some of the key terms pertaining to the events of 1965-66

 d8f8c-copy2bof2bp1210918

407cc-copy2bof2bp1200556

Where is the left?

 

Inside Indonesia Edition 107: Jan-Mar 2012
What’s wrong with contemporary Indonesia? Katharine McGregor
An old leftist looks back at his career in politics, and at the state of Indonesia today
Islamism yes, communism no! – Vedi R. Hadiz
Islamism is taking hold in parts of Java that used to be bastions of the left
Fighting for land – Dianto Bachriadi
Rural social movements have a rich history in Indonesia, and they have recorded significant achievements in recent years
Locating the power of labour – Benny Hari Juliawan
Workers are not a dominant force in political life, but they are far from being powerless
Pathways to a people’s president – Jeffrey A. Winters
If Indonesians are going to find a candidate to oppose the oligarchs, they need to start organising now
Still an age of activism – Edward Aspinall
Left-wing politics are fragmented, but left-wing ideas are surprisingly influential
Copy of IMG_0239
1559575_730334326991376_1647257969_n

Rewriting history

 

Inside Indonesia Edition 68: Oct-Dec 2001
Untold stories – Ann Laura Stoler
On the other side of 1965 lay a vibrant Indonesia worth remembering
A soldier’s historian – Kate McGregor
New Order generals needed new history books. Nugroho Notosusanto was their man.
Out of the black hole – Hilmar Farid
After the New Order, the lid on Indonesia’s past is beginning to lift
The Act of Killing and The Look of Silence Review
 
Review: When perpetrators speak – Jess Melvin
Joshua Oppenheimer’s groundbreaking new film raises disturbing questions about why perpetrators of the 1965-66 mass killings still enjoy impunity for their actions
An interview with Joshua Oppenheimer – Jess Melvin2
The filmmaker explains that The Act of Killing exposes the imagination of terror
Review: An act of manipulation? -Robert Cribb
Joshua Oppenheimer’s The Act of Killing is a bold, disturbing and ultimately unsatisfactory exploration of the place of violence in modern Indonesia
Interview: Oppenheimer on The Look of Silence
Following on from the award winning documentary The Act of Killing, director Joshua Oppenheimer talks about making his second film The Look of Silence and its impact in Indonesia and around the world.
Film review: Refusing to forget – Jess Melvin
The Look of Silence exposes the festering wound of impunity
Film Review: Connecting with killers- Vannessa Hearman
The Look of Silence is a conversation and confrontation between perpetrators and survivors of the violence, but most of all it is about connection
Silencing The Look of Silence – Grace Leksana
There are some ominous signs that justice for past crimes, including the 1965 mass killings, is off the government’s agenda
berikut adalah beberapa tulisan dan petikan tulisan pengantar buku 

Sejarah Gerakan Kiri Indonesia untuk Pemula

Yayak Yatmaka, dkk.

Cetakan 1 Februari 2016 Ultimus Bandung

 

12809529_540196932818765_5693215206876564794_n10606048_540196966152095_2738825112480842896_n1923440_540196979485427_4776253541564303887_n
1385654_539420836229708_7061096670263745079_n12832498_539420899563035_5528823536614646801_n12802963_539420946229697_3865850171026924483_n
12938189_551820264989765_1647503545057097518_n12512790_551820278323097_4478442714077160232_n12039750_551820294989762_4864160213490141326_n12417554_551820304989761_2068261941845784438_n11216834_551820318323093_6716707183876758549_n
12924602_552052681633190_886079734247209726_n12919851_552052748299850_2140552692595955548_n
10525374_551100088395116_7808964753637100298_n10308247_551100105061781_2342891747798957768_n12932602_551100125061779_8041025726930150899_n
1936200_541112432727215_1543978851511864940_n
1935286_541112452727213_8948067036631711350_n1623784_541112489393876_2288931186035262740_n
1545927_540742596097532_7874356705228183262_n-1
944856_540573369447788_1929629241273430999_n12832306_540573392781119_2724610780908407119_n
12931223_551438881694570_8765339852820816996_n
12321196_551438891694569_118084628984544622_n12321563_551438905027901_6643652887325905927_nm
16650366_1459107667463868_2109990890_n16507747_1459107794130522_1579846251_n16522980_1459107864130515_1625907984_n16522837_1459108000797168_1619618910_n16559061_1459108084130493_1114872119_n

“I Gusti Agung Ayu Ratih”, Penulis Prakata SGKIuP, “Belajar Menerima Bali yang Berbeda” :

“….Bungkam tak berarti lupa. Kejayaan industri pariwisata tidak berhasil memupus ingatan sebagian orang Bali akan 1965 sebagai tahun malapetaka. Mereka menjadi korban penyerangan sekaligus saksi bagaimana anggota keluarga, kerabat dan kawan-kawan mereka dikejar-kejar, ditangkap, dan dibunuhi seperti tikus sawah; digiring ke pinggir laut dan dieksekusi secara massal; atau, bahkan diminta mati di merajan (tempat persembahyangan bagi leluhur keluarga). Setelah pembersihan fisik usai, mereka yang tersisa tidak hidup nyaman dan tenang. Mereka mengalami pengucilan di lingkungan keluarga besar, banjar, dan desa; mereka tak beroleh kesempatan menyelenggarakan upacara pelebon (kremasi), sebagai bentuk penghormatan terakhir, bagi anggota keluarga yang telah dimusnahkan. Memang diantara para korban dan keluarganya ada yang memperoleh keuntungan dari industri pariwisata dan hidup cukup layak. Namun, ada saat-saat mereka harus berhadapan dengan para pelaku penganiayaan yang tidak jarang masih kerabat atau tetangga dekat. Kenangan tentang kengerian dan kepedihan pun meruap dalam beragam bentuk: pergunjingan di dalam keluarga, umpatan dalam diam, sampai kutukan agar si pelaku dan seketurunannya beroleh sial — karmapala. ……”

“Nompi Anom Astika”, penulis Kata Pengantar di SGKIuP: 

“…….Barangkali ada semacam ketakutan dari aktivis Kiri masa kini untuk dikait-kaitkan dengan tradisi Kiri masa lalu, walaupun ditangkap dan dipenjarakan atas tuduhan penyebarluasan ideologi komunis pada masa sekarang, beban penderitaannya jauh lebih ringan dibanding penderitaan yang dialami para korban keganasan Tragedi 1965. Tetapi yang perlu dipahami, adalah bahwa ketakutan tersebut berhasil melegitimasi operasi penghancuran pengetahuan Kiri oleh Orde Baru, penghancuran pengetahuan yang membawa Indonesia menuju kemerdekaannya, dan bangkit besar harga diri di antara bangsa-bangsa pada masa Soekarno. ….”

“ECE Edi Cahyono”, Penulis Prakata SGKIuP, “Kelas Buruh Riwayatmu Kini”:

“…….Pasifikasi buruh dilakukan dengan membentuk serikat tunggal FBSI yg kemudian SPSI. Pengenalan Hubungan Industrial Pancasila (HIP) yg memposisikan buruh sebagai partner pengusaha – bukan berlawanan. Setiap terjadi konflik industrial diselesaikan dengan melibatkan unsur militer seperti Koramil maupun Kodim. Mungkin anda belum lupa seorang buruh perempuan bernama Marsinah dihabisi secara membabi buta di kantor Kodim Porong, Sidoarjo – Jawa Timur. Istilah buruh diubah menjadi karyawan, sebuah langkah jenial menghapus makna kelas dari buruh. Sementara sebutan demonstrasi atau mogok diubah ke: unjuk rasa. Seolah ini urusan sepasang kekasih. Nama Departemen Perburuhan diubah ke Departemen Tenaga Kerja yang sebutannya dalam bahasa Inggris adalah Man Power Department. Kata yang tidak lazim digunakan karena itu melecehkan kaum perempuan. Banyak negara menggunakan nama Labour Department. Pilihan kata yang sekilas ‘bermain-main’ ini sebenarnya sarat dengan kepentingan politik: depolitisasi…..

Di luar itu, Soeharto tetap melakukan pembunuhan terhadap warga negara dengan judul DOM Aceh, Papua, Timor Timur, Tanjung Priok, Kedung Ombo, Petrus, dsb. Dia adalah jagal terbesar dalam sejarah umat manusia. Berjuta warga negara dibunuh….”

Dr.Dede Oetomo”, Penulis Prakata SGKIuP “Mengapa Perlu Jujur Menghadapi Kenyataan” :
“….Dalam pengalaman saya membaca tentang masyarakat-masyarakat lain yang bisa menghadapi kenyataan sejarahnya yang tidak elok, dan bergaul dengan kawan-kawan dan sahabat dari masyarakat-masyarakat itu, pada hemat saya mereka menjadi suatu masyarakat yang hidup dengan jujur, bukan masyarakat yang hidup dengan kebohongan dan kemunafikan seperti yang sekarang masih kita alami di masyarakat Indonesia.
Tidak berlebihanlah, dan saya pun cenderung setuju, apabila ada pemikir yang menduga bahwa kita orang Indonesia menghadapi setumpuk masalah budaya dan kemasyarakatan saat ini karena kita sudah lama menutup-nutupi sebagian sejarah kita dan tidak membolehkan perspektif kiri digunakan untuk melihat sejarah kita….”
“Dede Mulyanto”. Penulis Prakata SGKIuP “Sebetulnya Ini Buku Tentang Marxisme Untuk Pemula” :
“…Dalam politik, mereka membelokkan semangat perlawanan rakyat, tak hanya terhadap penjajah sebagai kapitalis penghisap yang cuma peduli mengakumulasi kekayaan demi kekayaan itu sendiri dengan bertopang pada dalil, sadar atau tidak, humanisme universal, tapi juga keturunan-keturunan mereka kelak membelokkan alur sejarah Indonesia dari sejarah perlawanan rakyat pekerja (kaum tani dan buruh) yang tertindas di bawah kaki-kaki kapitalisme menjadi sekadar parade kesuksesan tokoh-tokoh besar saja. Mereka membuang rakyat pekerja, para korban sekaligus pelaku sebenarnya dari sejarah perlawanan, dari ingatan kita, melalui buku-buku sejarah mereka. …”

“Longgena Ginting”, Penulis Prakata SGKIuP, “Kapitalisme dan Krisis Lingkungan Hidup”:

“…Kita juga perlu menegaskan kedaulatan dan hak-hak rakyat atas wilayah dan masa depan pemanfaatan tanah tersebut. Kedaulatan pangan dan enerji adalah merupakan hak rakyat dalam mengontrol produksi pangan dan enerji untuk memenuhi kebutuhan mereka. Kita perlu menegaskan bahwa untuk segera menghentikan eksplorasi dan eksploitasi enerji fosil seperti minyak, batu bara dan gas jangan sampai menghancurkan lahan-lahan pangan. Kita perlu menegaskan perlunya reforma agraria sejati dan demokratisasi akses terhadap tanah sebagai cara untuk menjamin kedaulatan pangan dan enerji. Model agribisnis saat ini yang menguasai jutaan hektar lahan untuk monokultur adalah bentuk penguasaan lahan yang tidak adil.

Kedaulatan pangan dan enerji perlu didasarkan pada prinsip-prinsip pertanian ekologis dan didasarkan kebutuhan masyarakat lokal serta ekonomi nasional. Kita menolak model agribisnis yang tidak berkelanjutan dan yang memarginalkan masyarakat, sebagai salah satu dari penyebab utama perubahan iklim dengan karena model-model ini mengakibatkan penyerobotan dan penguasaan lahan. Model pengelolaan sumberdaya alam saat ini telah menyebabkan kehancuran alam dan terus berkembang melakukan ekspansi ke wilayah-wilayah seperti Papua. Kita harus mendukung hak-hak penuh masyarakat lokal dan penduduk asli atas teritori mereka. Kita harus menghentikan deforestasi di seluruh nusantara. Kita perlu memajukan pertanian skala keluarga yang otonom, kita perlu mendukung kebijakan publik yang menjamin kredit dan bantuan teknis sehingga pertanian pedesaan dapat menghasilkan pangan dan enerji mereka secara mandiri….”

“Harri Wibowo”, Penulis Prakata SGKIuP, “Kiri,Awal Mula dan Kini” :

“….Penerbitannya harus kita tempatkan dalam arus sejarah negeri ini di mana kaum Kiri dan gerakan Kiri yang sebelum 1965 identik dengan perlawanan garda depan terhadap kolonialisme dan imperlaisme, namun setelah itu dianggap oleh Orde Baru sebagai musuh negera nomor satu.

Namun Kiri di Indonesia sesungguhnya tidak pernah mati, baik sebagai pemikiran maupun perlawanan terhadap segala wujud eksploitasi dan penindasan. Tentu saja ia berubah, baik dalam starategi dan taktik-taktiknya seiring dengan perubahan kapitalisme yang dipaksa menyesuaikan diri dengan konjungtur dan krisis ekenomi-politik yang melanda berbagai belahan dunia dalam mellinium ini. Dalam konteks mutakhir, Kiri berarti solidaritas kerja bersama untuk pembebasan dan emansipasi sosial. Kredo kolektivitas inilah yang menghidupi karya ini….”

“Yunantyo Adi S”, Penulis Prakata SGKIuP, “Rekonsiliasi Roh Peristiwa 1965 di Dusun Plumbon Semarang”

“….Hadir pula para pemerhati, guru besar Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Unnes Prof. Wasino, dosen sejarah FIS Unnes Tsabit Azinar Ahmad, pemerhati sejarah Rukardi. Rohaniawan Romo Aloys Budi Purnomo dan Kiai Khambali (Kendal) memimpin doa. Ketua Ansor Jateng Hasyim Asy’ari datang menyusul dan mengadakan tahlilan di makam massal. Pejabat Badan Kesbangpol Kota Semarang Djati Prijono mewakili wali kota meresmikan makam dan memberikan sambutan. Wakil Adm Perum Perhutani KPH Kendal Rovi Tri Kuncoro memberi sambutan dan meresmikan nisan. Lurah Wonosari Sulistiyo maupun Camat Ngaliyan Heroe Soekandar hadir dan turut memberi sambutan. Datang juga ketua-ketua RT, ketua RW, pengurus pemberdayaan Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH), serta tokoh-tokoh masyarakat setempat maupun sesepuh-sesepuh. Aparat kamtibmas dari Polrestabes Semarang, Polsek Ngaliyan, Koramil Ngaliyan, Babinsa, maupun keamanan kampung, pada hadir dan turut menerima tamu, baik tamu dari pihak keluarga korban maupun para tokoh masyarakat. Dari pihak korban, empat keluarga korban di antaranya hadir, yaitu keluarga Darsono, Sachroni, Joesoef, dan Soerono. Dari delapan identitas korban yang telah diketahui, memang hanya empat di antaranya yang diketahui keberadaan keluarganya.

Peresmian nisan itu berlangsung haru. Bermula dari tangis Sri Martini (61) pecah ketika meletakkan nisan dan melihat nama ayah angkatnya, Joesoef, tertera di nisan, membawa perasaan yang sama bagi kebanyakan yang hadir. Mata Prof. Wasino tampak berkaca-kaca menyaksikan itu, saat diberikan waktu berbicara, ia berucap,”Jujur saja saya terharu, saya tidak mampu menahan perasaan. Bagaimanapun antara manusia dan leluhurnya itu ada ikatan batin, ketika anggota keluarga selama puluhan tahun ini tak tahu keberadaan leluhurnya, kemudian sekarang bertemu di sini, tangis haru itu tak bisa lagi dicegah. Saya, kami semua di sini pun ikut merasakan apa yang menjadi kerinduan Bapak-Bapak Ibu-Ibu….”

Beberapa hari sebelum hari-H penisanan, warga dan panitia gotong-royong kerja bakti dipimpin Lurah Sulistiyono bersih-bersih kampung. Penduduk pun mendirikan tratak dan menyediakan kursi-kursi bagi para tamu tak jauh dari lokasi makam massal. Malam hari sebelumnya warga mengadakan acara melekan di lokasi tratak….”

“Aminuddin TH Siregar”, Penulis Prakata SGKIuP, “Gerakan Kiri di Indonesia, Sekedar Pengantar” 

“….Yang menarik kehadiran kitab-kitab sejarah tersebut tetap saja tidak bisa diterima dengan mudah apalagi dipakai untuk meyakinkan orang di Indonesia, atau sekurangnya menimbulkan sejarah seimbang – kalau tidak bisa dibilang obyektif dalam menilai peran kaum kiri. Mengapa hal itu bisa terjadi?

Sejumlah kalangan menunjuk rezim Orde Baru sebagai dalang dalam mendemonisasikan kaum kiri dan mengecilkan kontribusi mereka melalui kampanye masif sejak 1965. Rezim itu berhasil menanam benih kebencian di dalam kehidupan masyarakat yang menempatkan kaum kiri dan gerakan-gerakannya sebagai kaum terkutuk yang haus darah. Usaha-usaha pemulihan, rekonsiliasi sejarah yang diharapkan bisa menata ulang pemahaman baru – atau setidaknya menumbuhkan sikap obyektif dalam memahami sejarah nasional tidak jarang malah menemukan jalan buntu. Alih-alih, dewasa ini di sudut-sudut jalan, masih terpampang spanduk-spanduk reaksioner yang mengingatkan siapa saja – sekaligus menimbulkan “rasa takut” akan “bahaya laten komunis”. Celakanya, kaum intelektual dan sejarawan yang ingin “membela” sejarah kaum kiri malah dicap antek-antek PKI. Tuduhan tersebut, sejauah yang saya amati, justru tidak menyurutkan minat orang meneliti kaum kiri di Indonesia. Ketidakadilan historiografi nasional terhadap gerakan kiri di Indonesia (atau komunisme itu sendiri) akan senantiasa membuat orang terpancing untuk memperjuangkannya. Cukup masuk akal, diamati dari perspektif itu, kontribusi kaum kiri seakan terkubur di tengah-tengah gempita kemenangan kaum nasionalis kanan yang dominan dalam menghias wajah sejarah sejak 1965. Dampak lain akibat demonisasi kaum kiri sejak tahun itu memunculkan rasa sungkan, kalau tidak bisa dibilang ketakutan, di mata mereka yang ingin memahaminya secara lebih obyektif. Terkecuali sarjana-sarjana Barat, di Indonesia, penelitian sejarah kaum kiri ini masih dilakukan secara “malu-malu”, diganjal rasa takut, sehingga kurang dilakukan secara komprehensif.

Dengan pendekatan komikal, buku ini sekurangnya tidak hanya ingin menghapus bayang-bayang rasa takut itu, tapi berhasil menyajikan sejarah gerakan kaum kiri cukup lengkap. Terlepas dari berhasil-tidaknya teknik penyampaian sejarah dengan komik – seperti yang dilakukan oleh tim buku ini, buku “sejarah gerakan kiri untuk pemula” ini memang perlu dipahami lebih seksama. Pendekatan komik seperti buku ini dalam beberapa hal akan memudahkan orang memahami gagasan-gagasan di balik gerakan kaum kiri yang memang rumit.

 

 

Simak 1100 ‘entry’ lainnya pada link berikut

Daftar Isi Perpustakaan Genosida 1965-1966

 
Road to Justice : State Crimes after Oct 1st 1965 (Jakartanicus)

14542544_1036993449746974_4443364972569517121_o

Bookmark and Share

 

13047818_10209343119272764_8338060706038815101_o13043485_10209343122352841_1135692553504633931_n (1)
Definisi yang diusulkan D. Nersessian (2010) untuk amandemen/ optional protocol Konvensi Anti-Genosida (1948) dan Statuta Roma (2000) mengenai Pengadilan Kejahatan Internasional. (disalin dari Harry Wibowo)
Bookmark and Share
 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s