Semai Phala – Rekonstruksi Sosial Korban Tragedi Nasional 1965 di Solo, Pati dan Bali (ebook dan film dokumenter)



Semai Phala
Sutradara: Yayan
Wiludiharto, 2017
Institut Sejarah Sosial Indonesia dengan dukungan Yayasan Tifa


Mereka adalah korban/penyintas Tragedi’65 di tiga daerah yaitu Solo, Pati, dan Bali. Tidak mudah menata kehidupannya kembali. Ekonomi dan relasi sosialnya hancur lebur. Stigma dan deskriminasi seperti tembok penghalang kehidupan. Meskipun begitu mereka bertahan. Bahkan kini menjadi penyemai kebaikan di lingkungannya tinggal.

 

 

Rekonstruksi Sosial
Korban Tragedi Nasional 1965 di Solo, Pati dan Bali

Penelitian rekonstruksi sosial korban/penyintas peristiwa kekerasan 1965 merupakan penelitian keberlanjutan dari Tahun yang Tak Pernah Berakhir (TYTPB) yang kami selenggarakan tahun 2000. Fokus penelitian TYTPB adalah pengalaman penderitaan korban, penyintas dan keluarganya akibat dari peristiwa kekerasan 1965-66. Korban/penyintas dalam buku TYTPB penuh dengan linangan air mata dan hidup yang kelam. Juga, di dalam TYTPB korban/penyintas bercerita tentang pengalaman relasi sosial mereka yang hancur.

 

Sementara itu, pada penelitian rekonstruksi sosial ini kami menitikberatkan cerita pengalaman korban/penyintas dalam membangun kembali relasi sosial mereka yang hancur dan pengabdian mereka di masyarakat hingga dapat diterima secara penuh. Dalam ruang lingkup rekonstruksi sosial ini semangat mereka tidak kunjung padam untuk membangun kebudayaan bangsa Indonesia yang beragam. Walaupun dalam penelitian rekonstruksi sosial ini kami menekankan pada pengabdian korban/penyintas terhadap lingkungan masyarakatnya, kami perlu pula untuk memaparkan kerusakan relasi sosial mereka akibat dari peristiwa kekerasan 1965. Kerusakan relasi sosial ini kembali ditata oleh korban/penyintas dengan cara yang berbeda di setiap daerah.

 

Dari penelitian di tiga daerah yaitu Bali, Pati dan Solo, masing-masing wilayah terdapat kekhususan, terutama dari struktur sosial yang melingkupinya. Misalkan, wilayah Pati masih cukup kuat tekanan militernya dalam mengawasi para penyintas 1965. Kepentingan apa yang melandasi militer bersikap menekan terhadap penyintas di sana? Kami akan mendiskusikan masalah ini di bagian struktur sosial di wilayah Pati. Demikian pula dengan Solo, ketika penahanan para korban menggunakan gedung kraton salah satunya adalah Sasono Mulyo (gedung untuk pengangkatan raja) dan Balai Kota, gedung pemerintah. Hal yang sama dengan Bali, apa yang menyebabkan korban/penyintas dan pelaku dapat hidup berdampingan. Persoalan kekhususan di masing-masing wilayah penyintas erat kaitan dengan struktur sosialnya.

 

Sudah lima puluh tahun lebih korban peristiwa 30 September 1965 dapat bertahan dan tidak merasa dendam terhadap pelaku. Sikap mereka berhasil melalui perjalanan pahit, bahkan dewasa ini kehidupan mereka telah berada pada batas “melampaui rekonsiliasi”. Untuk memperjelas proses perjalanan mereka, perlu dibahas tiga hal yakni konteks penghancuran relasi sosial korban; bagaimana proses mereka kembali ke masyarakat; dan pencapaian yang mereka peroleh bersama dengan masyarakat.
(disalin dari pengantar buku)

 
 

simak

Rekonstruksi Sosial Korban Tragedi Nasional 1965 di Solo, Pati dan Bali 

 

 
penelitian sebelumnya
 


nvy

TAHUN YANG TAK PERNAH BERAKHIR: MEMAHAMI PENGALAMAN KORBAN 65 (ED. AYU RATIH, HILMAR FARID DKK)

 

 

Simak 700 ‘entry’ lainnya pada link berikut

Daftar Isi Perpustakaan Genosida 1965-1966

 

Road to Justice : State Crimes after Oct 1st 1965 (Jakartanicus)

 

 

14542544_1036993449746974_4443364972569517121_o

Bookmark and Share

 

13047818_10209343119272764_8338060706038815101_o13043485_10209343122352841_1135692553504633931_n (1)

 

Definisi yang diusulkan D. Nersessian (2010) untuk amandemen/ optional protocol Konvensi Anti-Genosida (1948) dan Statuta Roma (2000) mengenai Pengadilan Kejahatan Internasional. (disalin dari Harry Wibowo)

 

Bookmark and Share

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s