‘Dance of the Missing Body’ : Mengenali Tubuh Menari dan Sejarah Kekerasan bersama Rachmi Diyah Larasati

 

dance of the missing body

 

“Dancing the Violent Body of Sound” by Diyah Larasati  (choreographer and cultural theorist)  and Guerino Mazzola  (free-jazz pianist/composer and mathematician)

Dalam video ini Dyah menyampaikan bahwa ketika belajar teknik tari (dalam performance ini) dari neneknya, dia juga mendengar dari neneknya kisah-kisah tentang apa yang terjadi di lingkungannya tentang teman-temannya penari neneknya yang berbagi teknik ini yang kemudian dihilangkan dalam peristiwa genosida 65 ini.

Pernyataan Dyah ini ada di menit 9.48 – 10.31 dengan latar cuplikan film dokumentasi geger genosida 65

Saya meneliti bentuk-bentuk seni yang diambil dari para penari yang dituduh punya hubungan dengan komunis. Banyak dari mereka yang dibunuh atau dipenjarakan tanpa pernah diadili. Bentuk-bentuk seni itu kemudian dilucuti dari keterkaitan politik dan sejarahnya, dan dimasukkan ke dalam kebijakan promosi pariwisata dan kurikula pendidikan formal. Pegawai negeri yang menarikan Gandrung Banyuwangi dalam suatu misi kesenian, misalnya, meski menari sangat bagus, makna tubuhnya berbeda, karena tak ada yang diperjuangkan.
Kategorisasi tari tak ada hubungannya dengan politik tubuh karena proses penyejarahannya sudah dipotong sejak masa itu. Yang terjadi adalah produksi replika yang mendukung projek amnesia dari negara. Tubuh yang dihilangkan dari penari-penari yang dihilangkan itu dilupakan dan digantikan oleh replika tubuh menari yang penuh pesona, bersekutu dengan negara melalui lembaga-lembaga pendidikan dan pemerintah daerah, dan ditempatkan di depan sebagai representasi ideal dari bangsa di pasar global.
dyah1
Ia menggunakan tubuh dan ingatan sebagai arsip yang hidup.
‘Pertama, saya ingin mendudukkan ingatan dan tubuh sebagai sebuah arsip. Materiality of remembering—bagaimana mewujudkan ingatan, secara simbolis dan politik’, ujarnya. ‘Kedua, mendudukkan wacana kebijakan negara sebagai sebuah ranah sosial dan politik yang dikaitkan dengan keberadaan tubuh, yang dilahirkan sebagai nilai estetik dan dogma negara,’ tambahnya.
Dipetik dari ‘Para Penari Yang Hilang’ – Siti Maimunah, reportase dari  Kuliah Umum Buku “The Dance That Makes You Vanish. Cultural Reconstruction in Post—Genocide Indonesia

 

[PluralArtMagazine Tube] Rachmi Diyah Larasati performs at the opening night of artist Dadang Christanto’s exhibition, M I S S I N G, at Wei-Ling Contemporary in Kuala Lumpur in September 2018.

 

baca juga artikel THE VANISHING [Dadang Christanto’s exhibition, M I S S I N G] 

 

dyah
Kuliah Umum Buku “The Dance That Makes You Vanish. Cultural Reconstruction in Post—Genocide Indonesia.” oleh: Rachmi Diyah Larasati – Dikutip dari etnohistori.org
The Dance That Makes You Vanish. Cultural Reconstruction in Post–Genocide Indonesia (University of Minnesota Press, March 1, 2013) adalah sebuah buku yang mengupas bagaimana politik bentuk tari dan tubuh tari dimediasi sebuah sistem bernegara yang mengakibatkan penghilangan penari dalam konteks 1965 dan sesudahnya. Kajian estetik politik ini melihat diskriminasi tubuh tari melalui pemetaan pemahaman intensitas perbedaan pandangan politik sosial dan penggunaan agama untuk menjadikan kekerasan sebagai bahasa yang dilegitimasi sebagai alat pembentukan nilai baru dalam sebuah pergantian kekuasaan.
Berdasarkan metode etnografi, analisis materialisasi sejarah dan kesejarahan, Larasati mendudukkan kajian post colonial dalam mewacanai politik nasional dan lokal dalam hubungannya dengan konsumsi makna tubuh tari di dalam terjemahannya pada sistem hubungan internasional—(merumuskannya dengan metodologi penggolongan secara politik budaya dunia: seperti yang dilakukan oleh Edward Wadie Said dan Marta Elena Savigliano). Secara lebih jauh—Larasati menginterogasi materialisasi kesejarahan melalui pengalamannya sendiri ketika menari dalam perlindungan sistem kenegaraan (kesenian yang ter-institusi dalam misi-misi kesenian dan praktek kenegaraan) dibandingkan dengan ingatan pembelajaran “informal” dari tubuh-tubuh di sekelilingnya, dari sebuah desa yang “merah.”

Larasati memetakan keterhubungan kekerasan lokal-nasional secara ideologi yang ironiknya berbalik arah: Tubuh Tari dan Pelakunya, dianggap bermakna secara ideologi—sehingga legitimasi penggolongan kategorisasi tubuh-tubuh yang mampu mengancam negara, memberi ancaman terhadap stabilitas kenegaraan yang ditimbulkan (seperti kajian yang disebut: “replica” dan reproduksi oleh Walter Bendix Schönflies Benjamin dan Michael Taussig, “unruly body” by Michel Foucault, “witnessing”: Diana Taylor). Tetapi dalam pemetaan kasus 1965—dan sesudahnya ini, menjadi berbeda dengan berdasarkan pada pengalaman tubuh tari sebagai metoda archive itu sendiri, yang bisa berbicara dan memproduksi kesejarahan baru (Assia Djebar, Jean-Luc Nancy, Anna Lowenhaupt Tsing and Macarena Gomez-Barris, Gayatri Chakravorty Spivak).
Dengan menggunakan contoh-contoh ingatan yang dimediasi, termediasikan dan munculnya ingatan yang berbeda dan produksi materialisasi sejarah yang bertabrakan secara narasi. Larasati memfokuskan metodologi ingatan akan ruang, estetika dan politik kekerasan dalam masa Orde Baru dan sesudahnya sebagai ruang untuk memikirkan ulang etik dan sejarah. Memfokuskan penelitiannya pada masa 1965 dan sesudahnya, Larasati dalam buku ini mencoba melihat konsumsi estetik tradisional yang “indah” tidak menjamin pengertian kemanusiaan, karena politik pandang dan makna secara spekulatif ditandai dengan konteks sosial yang bisa direkonstruksi secara waktu dan ruang bagi pelaku. Maka, penggolongan keikutsertaan kesenian dan tubuh tari yang pernah dimusnahkan dalam ingatan baru, tidak menjamin perlindungan secara kewarganegaraan melainkan cenderung tercakup dalam sistem neoliberal baru.

IVAA | Etnohistori | Kotak Hitam Forum | PUSdEP Sanata Dharma
Rekaman Kuliah Umum Lengkap
369-lentera-pembebasan

Glimpses of BIARI: Diyah Larasati: Gandrung, Memory and the female form of east Java. – Watson Institute

lain-lain
Seni Politik, Politik Seni – Rahmi Diyah Larasati & Antariksa

Simak 700 ‘entry’ lainnya pada link berikut

Daftar Isi Perpustakaan Genosida 1965-1966

Road to Justice : State Crimes after Oct 1st 1965 (Jakartanicus)

14542544_1036993449746974_4443364972569517121_o



13047818_10209343119272764_8338060706038815101_o13043485_10209343122352841_1135692553504633931_n (1)
Definisi yang diusulkan D. Nersessian (2010) untuk amandemen/ optional protocol Konvensi Anti-Genosida (1948) dan Statuta Roma (2000) mengenai Pengadilan Kejahatan Internasional. (disalin dari Harry Wibowo)
Bookmark and Share

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s