Penghancuran PNI Loyalis Sukarno/Nasionalis-Radikal (PNI Ali Sastroamidjojo – Surahman) dan Penyingkiran Kaum Marhaenis Dalam Genosida 1965-1966

 

…….

 

PNI pun ikut terseret menjadi korban operasi intelijen dan politik rezim Orde Baru. PNI yang dipimpin Ali Sastroamidjojo dan Surachman, oleh media-massa pro tentara kemudian diplesetkan menjadi “PNI Asu“. Secara sistematis, tokoh-tokoh PNI yang beraliran nasionalisme-radikal diincar dan ditangkap rezim militer pimpinan Jenderal Soeharto. Terutama Surachman, yang kemudian dituduh sebagai orang PKI yang menyusup ke dalam PNI. Tuduhan itu didasarkan pernyataan sikap PNI tentang Peristiwa Gestok, yang ditandatangani Surachman sebagai sekjen. Salah satu butir pernyataan yang dikeluarkan tanggal 1 Oktober 1965 itu berbunyi: “Menyatakan penghargaan setinggi-tinginya kepada prajurit yang telah menunjukkan kesetiaan mereka dalam menyelamatkan Pemimpin Besar Revolusi/Bapak Marhaenisme Bung Karno.“
………
 



Salah satu hal penting yang termaktub dalam Deklarasi Marhaenis adalah menerima Marxisme sebagai sumber ideologi partai. Dengan itu, para pemimpin PNI untuk pertama-kalinya menciptakan kemungkinan untuk memberi bentuk ideologis yang lebih koheren bagi radikalisme sosial yang selalu tersebar di berbagai bagian partai. Penerimaan Marxisme memungkinkan penggunaan alat analisis sosial dengan tradisi yang panjang dan luas dibaliknya. Lebih dari itu, kenyataan Marhaenisme dirumuskan kembali semata-mata dalam istilah ini (“marhaenisme adalah marxisme yang diterapkan di Indonesia“) menandakan adanya maksud untuk sungguh-sungguh berupaya merombak partai dengan cara lain. (Rocamora, hal. 383-384)
Retorika Deklarasi Marhaenis, seperti dicatat Rocamora lagi, bukanlah sekedar tanggapan taktis terhadap iklim Demokrasi Terpimpin, melainkan merupakan tanda-tanda perubahan nyata sikap PNI terhadap isu-isu dasar yang berkembang saat itu. Pimpinan PNI mulai menatap kondisi-kondisi domestik serta kelompok yang dalam tingkah lakunya memberi peluang bagi imperialisme. Gerak politik PNI berhasil mengimbangi PKI dan tokoh-tokoh Angkatan Darat dalam pentas politik nasional. Salah satu pembuktian itu adalah acara peringatan milad PNI, 4 Juli 1965, yang membuat Bung Karno terkagum-kagum.
disalin dari Surachman, Nasionalis yang Terlupakan – Koran Sulindo (link terlampir dibawah)
 
 
Di dalam saling hantam, dari luar digembosi.
Tragedi 1965 menjerat PNI menuju kehancuran.
  
Dibawah duet kepemimpinan Ali Sastroamidjojo- Ir. Surachman, PNI mengalami masa pasangnya. Faksi nasionalisme-radikal mewarnai dinamika partai, hingga mampu mengimbangi gerak-langkah PKI.
sumber : koransulindo
 
 
Kerap kritis terhadap kaum kiri, namun dibubarkan karena dicap sebagai media kiri
 

 

 

Lembaga kebudayaan yang bernaung di bawah PNI ini hanya bernapas pendek, lahir di sekitar Dekrit Presiden Soekarno, turut mati ketika Soekarno dan Soekarnois dihancurkan Orde Baru setelah peristiwa 1
Oktober 1965
Tak lama setelah Peristiwa 30 September 1965, Ali Sastroamidjojo sempat ditawan oleh rezim Orde Baru. Meski begitu, sampai mengembuskan napasnya yang terakhir, 17 Maret 1975 (di usia 72 tahun), Ali Sastroamidjojo tetap menyebut diri sebagai seorang nasionalis sekaligus marhaenis.

 

 
sumber koransulindo
 
 
Sejak Februari 1966, Surachman dinyatakan sebagai buronan oleh rezim militer Orde Baru. Ia memang sengaja melarikan diri untuk menghindari penangkapan dan siksaan yang telah dialami kawan-kawannya sesama Soekarnois, termasuk sejumlah menteri kabinet terakhir Soekarno. Surachman kemudian bersembunyi di Malang Selatan-Blitar, dimana ia pernah menjadi tentara pelajar (TRIP) semasa perang kemerdekaan. Kebetulan di wilayah itu sejumlah tokoh PKI menggalang basis perjuangan bersenjata untuk melawan rezim Orde Baru.
 
“Masuk akal bila kemudian ia (Surachman) bergabung dengan buron-buron lainnya, tanpa memperdulikan afilisasi politik mereka. Wajar baginya bersembunyi di wilayah Malang Selatan-Blitar, dimana ia
menjadi tentara pelajar di masa revolusi. Hal itu tidak cukup membuktikan bahwa ia anggota PKI sebelum 1965,“ tulis Rocamora.
 
Pada Juli 1968, Surachman tertangkap saat tentara melalukan operasi militer di Malang Selatan-Blitar. Karena penyiksaan yang hebat selama diinterogasi, ia mengalami luka parah. Dan tak lama kemudian, meninggal dunia. Usianya menjelang 42 tahun.
 

 

 

 

 

Tiba-tiba terjadi Peristiwa 30 September 1965, yang menjadi titik balik kehidupannya. Terhitung 3 Oktober, Sulindo dan Berita Minggu, serta sejumlah surat-kabar lainnya, dilarang terbit oleh tentara. Edisi terakhir Sulindo terbit tanggal 2 Oktober 1965.

 

Dua minggu kemudian, persisnya tanggal 18 Oktober, Satyagraha ditangkap aparat keamanan. “Saat itu, saya dan John Lumingkewas mau menjemput Karim DP di tempat persembunyiannya di Bandung. Begitu sampai di tempat itu, ternyata sejumlah tentara sudah ada di sana. Akibatnya, saya dan John juga ikut ditangkap.”
 
John Lumingkewas adalah Presidium GMNI, sedangkan Karim DP ketika itu menjabat Ketua PWI. Karim DP sempat buron karena namanya tercantum dalam Dewan Revolusi, yang diumumkan Letkol Untung—komandan G30S. Mereka—Satyagraha, Karim DP, dan John Lumingkewas—pun dibawa dengan jip tentara ke Jakarta. “John diturunkan di tengah jalan. Saya dan Karim langsung dibawa ke penjara Salemba. Saat itu sudah menjelang tengah malam. Kami ditempatkan di blok N, masing-masing di satu sel. Karena kelelahan, saya langsung tertidur. Ketika bangun pagi, saya kaget sekali. Waktu mau mandi, saya ketemu Letkol Untung, Kolonel Latief, dan Nyono.
Ternyata blok N merupakan tempat tokoh-tokoh utama G30S ditahan,” kenang Satyagraha.
Setelah pemeriksaan intensif selama sebulan, Satygraha kemudian dipindahkan ke blok Q, yang kebanyakan tahanannya adalah dari kalangan intelektual dan seniman. Di blok Q ini mendekam tokoh-tokoh seniman, antara lain Pramoedya Ananta Toer dan Sitor Situmorang. Sitor adalah salah seorang sastrawan terkemuka Indonesia, yang juga Ketua Lembaka Kebudayaan Nasional (LKN)—organ kebudayaan PNI
 
 



Sitor, yang menjadi bagian dari kelompok pendukung Soekarno, pun turut ‘disasar’ oleh rezim baru pimpinan Soeharto. Ia djebloskan ke penjara Gang Tengah Salemba di tahun 1967 tanpa proses peradilan.
Delapan tahun lamanya ia mendekam di penjara. Selama itu pula ia tetap konsisten menjadi seorang Soekarnois tanpa ada maksud secuil pun untuk ‘cari aman’ dengan mengingkari pendiriannya.
 
 

 

 

 
 



Nationalism In Search Of Ideology: The
Indonesian Nationalist Party, 1946-1965
(telah diterjemahkan ke dalam bahasa indonesia Nasionalisme Mencari Ideologi – Graffiti Pers)
 

 

This book is based from Joel Rocamora’s doctoral thesis for Cornell University where he arguesthat “any serious study of the Guided Democracy period must take into account the role, not only of the Partai Komunis Indonesia (PKI), but also of the other parties, in creating the conditions of intensified conflict and generalized tension which led to the calamitous events of late 1965 and early 1966.”

 

 
 



 
 


 
 

 

simak 700 ‘entry’ lainnya pada link berikut

Daftar Isi Perpustakaan Genosida 1965-1966

Road to Justice : State Crimes after Oct 1st 1965 (Jakartanicus)

14542544_1036993449746974_4443364972569517121_o
 
13047818_10209343119272764_8338060706038815101_o13043485_10209343122352841_1135692553504633931_n (1)
Definisi yang diusulkan D. Nersessian (2010) untuk amandemen/ optional protocol Konvensi Anti-Genosida (1948) dan Statuta Roma (2000) mengenai Pengadilan Kejahatan Internasional. (disalin dari Harry Wibowo)
Bookmark and Share
 


 
 


 
 


 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s