Kado Joshua Oppenheimer Untuk Indonesia : Trilogi ‘The Act of Killing’ (Jagal), The Look of Silence (Senyap), The Globalization Tapes (Tetralogi + Disertasi)

 

*Judul disertasi Joshua Oppenheimer ‘Show of Force film, ghosts and genres of historical performance in the Indonesian genocide’

Film ini berbicara tentang titik terpenting dari seluruh sejarah Republik Indonesia. Hadirnya film ini sendiri merupakan sebuah peristiwa sejarah yang sulit dicarikan duanya. Satu-satunya bandingan yang layak disebut adalah 4 novel karangan Pramoedya Ananta Toer pada 1980’an selepas dari pembuangan di pulau Buru : Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca. (dari tinjauan film Jagal)

terjemahan Indonesia dengan pemendekan
(tinjauan film Senyap)

Proyek Jagal bermula dari sebuah film tentang gerakan buruh perkebunan di sekitar Medan: Globalization Tapes. Metode produksi film ini mirip Jagal: ada ruang ekspresi yang dibuka seluas-luasnya untuk subjek dokumenter. Para buruh saling mewawancarai dan menuturkan sendiri kisahnya lewat voice-over yang liris sepanjang film. Ada pula role-playing yang asyik. Jika dalam Jagal para pelaku diminta memerankan korban, di film ini buruh berpura-pura memainkan peran agen IMF dan World Bank yang membujuk penduduk kampung agar mau menerima pinjaman usaha.
Persis yang ditulis Stoler, sejumlah besar buruh ini transmigran Jawa. Sebagian adalah survivor peristiwa ’65 yang anak-cucunya pun bekerja di kebun yang sama. Perkebunan itu milik Socfindo (dulu bernama Socfin), yang sudah ada di sana semenjak 1909, sempat dinasionalisasi pemerintah tahun 1965, dan kemudian dikembalikan lagi ke pengusaha Belgia tahun 1968, dua tahun setelah genosida.
Dalam satu bagian, para buruh membahas peran lembaga-lembaga keuangan internasional di Indonesia semenjak jaman baheula. Dalam obrolan itu, ada garis lurus yang mereka tarik dari pemusnahan massal dan dihancurkannya PKI tahun 1960-an, masuknya lembaga-lembaga tersebut, hingga nasib mereka sekarang. Salah seorang dari mereka angkat bicara: ‘tapi kita belum bisa memastikan itu karena belum ada saksi mata yang berani mengatakan seperti itu. Belum ada orang PKI yang berani mengatakan seperti apa gerakan mereka dulu.’
Kita tidak hanya bicara tentang ingatan kekerasan massal di sini. Yang implisit dalam Jagal lantas dieksplisitkan dalam Globalization Tapes. Yang satu: ingatan-pelaku/korban. Yang lainnya: ingatan-ekonomi/politik. Ingatan, barang yang kini nampak mudah diobral itu, tidak bisa direlativisasi dalam Globalization Tapes. Tak usah buru-buru kembali ke tahun 1960-an: konteks seperti itu pun seringkali dilepaskan dari obrolan-obrolan tentang kekerasan sektarian yang marak beberapa tahun belakangan. Orang bicara trauma, pelupaan, dan sisanya etika.
* Unduhan masih tersedia di:
* Jagal: www.actofkilling.com
* Senyap: www.thelookofsilence.vhx.tv
 
 
 
JAGAL (The Act of Killing) Anwar Congo dan kawan-kawannya menari-nari sepanjang adegan musikal, menyiksa tahanan dalam adegan gangster bergaya film noir, lalu berkuda melintas padang rumput melantunkan yodel koboi. Upaya Anwar membuat film mendapatkan sambutan meriah dalam acara bincang-bincang di televisi, sekalipun Anwar Congo dan kawan-kawannya adalah pembunuh massal.
Medan, Sumatera Utara. Ketika pemerintah Indonesia digulingkan oleh militer pada 1965, Anwar dan kawan-kawan ‘naik pangkat’ dari preman kelas teri pencatut karcis bioskop menjadi pemimpin pasukan pembunuh. Mereka membantu tentara membunuh lebih dari satu juta orang yang dituduh komunis, etnis Tionghoa, seniman, dan intelektual.
Dalam film Jagal, Anwar dan kawan-kawan berusaha menyampaikan imajinasi mereka tentang pembantaian yang mereka lakukan ke dalam sebuah film fiksi. Sebuah upaya justifikasi heroisme yang perlahan berubah menjadi mimpi buruk. Jagal adalan sebuah cerita tentang para pembunuh yang menang, serta tentang masyarakat yang mereka bentuk. Film Jagal bukan kisah tentang Indonesia belaka. Ini adalah kisah tentang semua orang di dunia.
 
 
SENYAP (The Look Of Silence)
Melalui karya Joshua Oppenheimer yang memfilmkan para pelaku genosida di Indonesia, satu keluarga penyintas mendapatkan pengetahuan mengenai bagaimana anak mereka dibunuh dan siapa yang membunuhnya. Adik bungsu korban bertekad untuk memecah belenggu kesenyapan dan ketakutan yang menyelimuti kehidupan para korban, dan kemudian mendatangi mereka yang bertanggung jawab atas pembunuhan kakaknya—sesuatu yang tak terbayangkan di negeri dengan para pembunuh yang masih berkuasa.
 

The Globalization TapesShow of Force film, ghosts and genres of historical performance in the Indonesian genocideJoshua Lincoln Oppenheimer – University of the Arts London PhD Dissertation 2004

Joshua Oppenheimer on “The Act of Killing”: The VICE Podcast 034

Talk to Al Jazeera – Joshua Oppenheimer: Indonesia’s ‘regime of fear’

Wawancara dengan Joshua Oppenheimer, Sutradara Film ‘The Act of Killing’

VICE Talks Film: Joshua Oppenheimer on ‘The Look of Silence’

Adi Rukun – Berbagi Kisah “Senyap”

simak pula

Kajian-kajian Ilmiah Tentang Karya Film Joshua Oppenheimer “The Act of Killing” & “The Look of Silence” – Bibliografi Pilihan Aboeprijadi Santoso (Jurnalis, Dahulu di Radio Netherland) 

[111 Play List Video YouTube #Genosida65_66] Jagal, Senyap, Jembatan Bacem, Mass Grave hingga The Shadow Playing….. vis a vis G30S/PKI (*versi ORBA)

[Kompilasi Filmografi] Para Sineas dan Pekerja Film Mengungkap Jejak Sejarah Hitam Genosida / Kejahatan Kemanusiaan / Tragedi 1965-1966

Simak 1500 ‘entry’ lainnya pada link berikut

Daftar Isi Perpustakaan Genosida 1965-1966

 

Road to Justice : State Crimes after Oct 1st 1965 (Jakartanicus)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s