Fitnah dan Dusta Keji di Balik Legenda Lubang Buaya (dan GERWANI sebagai Kumpulan Pembunuh dan Setan) I Genosida 1965-1966

“Kontroversi keempat tentang diorama di Lubang Buaya menyangkut perempuan dari organisasi Gerwani yang melakukan pesta seks bebas, dan menarikan tari seksual yang dikenalkan sebagai ‘tari harum bunga’.

Peristiwa itu tidak pernah terjadi. Juga, ini kontroversi kelima, tidak ada kemaluan para jenderal yang disilet serta mata mereka yang dicungkil di Lubang Buaya seperti diberitakan pers militer selepas 1 Oktober 1965.

Visum et repertum yang dibuat dokter forensik membuktikan bahwa semuanya itu tidak benar.”

Dipetik dari artikel Sepuluh kontroversi Lubang Buaya – Asvi Warman Adam (Sejarawan LIPI)

“Ketika pada tanggal 1 Oktober 1965 enam orang jenderal dan seorang letnan diculik serta dibunuh, tak terbayang oleh seorangpun bahwa teror yang akan terjadi sebagai dampak peristiwa ini di kemudian hari ditanggung jutaan orang Indonesia, bahkan sebagai bangsa secara keseluruhan. Dalam usianya yang masih pendek, Republik muda ini harus menghadapi krisis yang begitu gawat. Presiden Sukarno memang berhasil menjaga persatuan. Menyusul kerusuhan regional tahun 1950an, beberapa partai politik dilarang dan beberapa tokoh dipenjara. Tetapi tahun 1965 adalah neraka yang benar-benar membara.

Zaman memang sudah lain, perekonomian porak poranda, dan ketegangan antara tentara dengan PKI, Partai Komunis Indonesia, makin menjadi-jadi. Tetapi tak seorangpun bisa meramalkan bahwa akan terjadi genosida, orang Indonesia membunuhi sesama orang Indonesia dengan korban sampai ratusan ribu orang. Tak lama setelah aksi kelompok G30S, yang dihentikan atas perintah Presiden Sukarno, Jenderal Soeharto turun tangan, dia menuduh PKI mengotaki dan melakukan pembunuhan itu. Ia mengumumkan bahwa PKI harus diganyang untuk “menyelamatkan bangsa”. Dalam langkah-langkah yang cekatan PKI dituduh atheis dan gila seks. Hal ini begitu membikin marah kalangan agama (baik Muslim maupun Kristen), sehingga mereka beramai-ramai membantai tetangga sendiri.

Pelecehan seks merupakan inti operasi ini. Perempuan-perempuan muda yang ada di sekitar Lubang Buaya, tempat para perwira militer itu dibunuh dan ditimbun, dituduh telah mementaskan tarian cabul, bahkan merayu, memotong kemaluan serta membunuh, termasuk mencungkil mata para perwira itu. Padahal sebenarnya mereka sedang mengikuti latihan sukarela dalam rangka kampanye ‘Ganjang Malaysia’ yang dilancarkan oleh Presiden Sukarno. Latihan seperti ini sudah pernah diikuti oleh ribuan sukarelawan lain. Sampai sekarang tidak diketahui siapa yang bisa dituding sebagai pihak yang bertanggung jawab atas kebohongan tak masuk akal ini, bahwa ada perempuan Komunis bejad yang melacurkan diri serta memperkosa, memotong kemaluan dan merusak tubuh perwira militer ini begitu mereka ditembak mati oleh kelompok G30S. Yang jelas secara umum propaganda atas perilaku para perempuan itu dipercaya yang kemudian menggerakkan kalangan agama serta milisia kanan untuk melakukan pembunuhan massal.”

dipetik dari Pelecehan seksual terhadap Gerwani: Kisah Atikah – Djamilah dan Djemilah – Saskia Wieringa

 
 
* merupakan versi ‘jurnal’ dari Tugas Karya Akhir yang ditulis oleh Lidya Apriliani yang berjudul “Konstruksi Perempuan Jalang terhadap Gerwani dalam Koran ‘Berita Yudha’ dan’ Angkatan Bersendjata’ paska G-30-S sebagai Kekerasan Berbasis Gender”.

 

 

Wieringa: Semua soal Gerwani Bohong, Tak Ada Tarian Telanjang

Sexual Slander and the 1965/66 Mass Killings in Indonesia: Political and Methodological Considerations – Saskia Eleonora Wieringa

‘Saya dituduh anggota Gerwani yang mencukil mata jenderal’/ bbc indonesia

ebook Penggambaran GERWANI sebagai Kumpulan Pembunuh dan Setan-Stanley

LUBANG BUAYA: MITOS DAN KONTRA-MITOS – Taum Yoseph Yapi

Lubang Buaya: Myth, Misogyny and Massacre

Gestok dan Kehancuran Gerakan Perempuan – Anna Maria

____________________________________________________________–

How Did the Generals Die Ben Anderson

tentang studi Ben Anderson ini simak wawancara

 

Bagaimana Para Djenderal Gugur? 

(terjemahan artikel Ben Anderson oleh Joss Wibisono

Dr. Liauw Yan Siang: Tak Ada Penyiksaan Terhadap 6 Jenderal (Bagian-1) – Alfred D. Ticoalu (wawancara)/Indoprogress

Dr. Liauw Yan Siang: Tak Ada Penyiksaan Terhadap 6 Jenderal (Bagian-2 Selesai) (wawancara)/Indoprogress

unduh dalam bentuk ebooknya

TIDAK ADA PENYIKSAAN TERHADAP 6 JENDERAL

wwc-1

 

alfred2
Visum et repertum kasus G30S 1965. Koleksi Alfred Ticoalu

Cerita Sugimin*, Pengangkat Jasad Jenderal dari Sumur Lubang Buaya (Tempo)

 

*salah satu dari 12 prajurit Korps Komando (KKO) Angkatan Laut, yang ikut dalam evakuasi tujuh jenazah dari sumur Lubang Buaya.

Apakah Para Jenderal Disiksa Seperti di Film G30S? (Tempo)

Kesaksian alm Hendro Subroto. Wartawan perang kawakan.

Penyiksaan Lubang Buaya Manipulasi Orde Baru – Tempo

 

 

Semua kesaksian itu dikuatkan oleh salinan dokumen visum et repertum yang oleh Arsip Nasional Republik Indonesia dinyatakan otentik dan menjadi dasar pembongkaran diorama tentang sejarah ’65 di gedung ANRI, Jalan Ampera Raya, Jakarta.
Dongeng penyiksaan, penyiletan, dan mutilasi para jenderal adalah salah satu hoax terbesar dalam sejarah Republik Indonesia yang sengaja diproduksi dan berakhir dengan pembantaian ratusan ribu hingga jutaan jiwa yang disebut-sebut sebagai tragedi kemanusiaan paling kelam setelah pemusnahan warga Yahudi oleh Nazi.
Belakangan, hoax ini hendak dilestarikan untuk kepentingan tertentu melalui pesan berantai untuk menggelar nobar film “Pengkhianatan G30S” yang sudah tak lagi diputar di TVRI sejak tumbangnya Soeharto karena sarat propaganda dan kebohongan sejarah (quote Dandhy Dwi Laksono)

Mengurai Fakta Peristiwa G30S dari Bangsal Forensik: Tidak Ada Pencungkilan Mata Seperti dalam Film – Intisari

 

Mengenang G30S: Inilah Hasil Otopsi Lengkap 7 Perwira TNI AD Korban G30S Berdasarkan Visum et Repertum –  Intisari

 

*Dalih Pembunuhan Massal* menegaskan hal yang sangat penting, bahwa G-30-S disalahtafsirkan secara sengaja, dipelintir dan dihadirkan kembali secara salah pula agar menjadi dalih untuk melancarkan operasi pembasmian yang menjadi salah satu kengerian terbesar dalam sejarah modern dunia.
*’Dalih Pembunuhan Massal* adalah buku yang ditulis oleh John Rossa. 

unduh 

Dalih Pembunuhan Massal: Gerakan 30 September dan Kudeta Suharto – John Roosa

 

the women and the general

dari Liputan Khusus CNN Indonesia

 

Lapisan Dusta di Balik Legenda Kekejaman Gerwani

Gerwani, yang Musnah Diterpa Badai Fitnah

Melacak Misteri di Balik Imajinasi Kengerian Gerwani

Meniti Lorong Waktu Lubang Buaya, Pusat Petaka 30 September

 

simak laporan khusus CNN Indonesia selengkapnya

Gerwani di Pusaran Misteri 1965

Gerakan Wanita Indonesia, Gerwani, adalah organisasi massa perempuan terbesar yang pernah hidup di Indonesia. Fitnah keji membuat Gerwani hancur setelah meletus Gerakan 30 September 1965.

http://www.cnnindonesia.com/nasional/focus/gerwani-di-pusaran-misteri-1965-3343/all

 

Urgensi Pelurusan Sejarah dan Kisah Perempuan Revolusioner -Asvi Warman Adam

Lapisan Dusta di Balik Legenda Kekejaman Gerwani

Propaganda vs Fakta soal Gerwani

Menjelajah Lubang Buaya, Menilik Awal Ajal PKI

Eyang Sri sang Penyintas Tragedi 1965

Kiamat Gerwani: Diburu Dibinasakan dari Pusat hingga Daerah

Meniti Lorong Waktu Lubang Buaya, Pusat Petaka 30 September

Kisah Getir Aktivis Gerwani dan Sidang Subversif

Gerwani, PKI, dan Kemelut Politik di Belakang Sukarno

Gerwani dan Aksi Ganyang ‘Tujuh Setan Desa’

Gerwani, yang Musnah Diterpa Badai Fitnah

Akhir Api Gerwani dan Serpih Kenangan Bersama Hartini Sukarno

Melacak Misteri di Balik Imajinasi Kengerian Gerwani

 

 

Kebohongan Tari Harum Bunga Gerwani di Lubangbuaya -Hasan Kurniawan / Sindonews

 

simak juga

Umi Sardjono, Sulami, Gerwani dan Genosida 65

 

001a7-012b13

 

simak 700 ‘entry’ lainnya pada link berikut

Daftar Isi Perpustakaan Genosida 1965-1966

 

Road to Justice : State Crimes after Oct 1st 1965 (Jakartanicus)

 

14542544_1036993449746974_4443364972569517121_o

Bookmark and Share

 

13047818_10209343119272764_8338060706038815101_o13043485_10209343122352841_1135692553504633931_n (1)

 

Definisi yang diusulkan D. Nersessian (2010) untuk amandemen/ optional protocol Konvensi Anti-Genosida (1948) dan Statuta Roma (2000) mengenai Pengadilan Kejahatan Internasional. (disalin dari Harry Wibowo)

 

Bookmark and Share

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s