Kesenian (Seniman) Rakyat dan Genosida 1965-1966 : Studi Kasus Pembungkaman Lagu Podho Nginang, Tari Buncisan, Bantengan dan Jaranan

 



“Saya terperanjat, sebab lagu yang saya nyanyikan bertahun-tahun lalu baru menyingkap rahasianya. Empat tahun sudah lewat sejak saya pertama berkenalan dengan lagu Podho Nginang, dan kali ini ia kembali mengganggu tidur saya.
Kotak arsip saya bongkar, partitur aransemen saya baca ulang. Lirik lagu tersebut makin menguatkan dugaan saya. Jelas, lagu itu tak ditulis pada masa penjajahan atau sebelumnya, melainkan pada masa “revolusi yang belum usai”.
Di ujung telepon, Yanu Kristiono tertawa kencang. Guru musik saya semasa SMA itu membenarkan dugaan saya. Ia juga sempat mendengar bahwa lagu yang ia temukan secara tidak sengaja itu memang dianggap sepaket dengan Genjer-Genjer – karya komponis Muhammad Arief yang ditulis pada masa pendudukan Jepang dan dibredel karena dianggap lekat dengan citra Partai Komunis Indonesia (PKI).”

 

Namanya Slamet, ia ingin
mempertahankan seni dan budaya Banyuwangi.

 

Di usianya ke-75, Slamet membuat sanggar seni bernama “Angklung Soren” untuk membangkitkan kembali seni tarinya. Pria yang akrab dipanggil Slamet Menur ini pernah bergabung dengan Lembaga Kesenian Rakyat (Lekra) pada tahun 1962. Slamet telah menciptakan beberapa kesenian tari dari lagu-lagu populer era 1960 sampai 1980-an…..
Sambil mendengarkan lagu Podho Nginang yang berkisah tentang perang Puputan Bayu di Belambangan, Slamet membuka catatan syair-syair yang masih dia ingat. Ada 50 lebih lagu banyuwangi sudah dia catat baru-baru ini, dan semua termasuk lagu tidak terdokumentasikan………………

 

Dalam konteks Banyuwangi, pemberangusan haluan seni realisme sosialis dilakukan melalui tindakan-tindakan pelarangan menyanyikan dan mendengarkan lagu-lagu yang dikarang oleh para seniman-seniman Lekra atau yang dianggap komunis. Lagu-lagu seperti Genjer-Genjer, Nandur Jagung yang dikarang oleh Mohamad Arief maupun Podo Nginang, Nelayan karangan Endro Wilis dengan begitu saja lenyap. Pemberangusan ini lantas
diikuti dengan tindakan kontrol melalui penyensoran. Kasus nyata tindakan kontrol ini adalah peniadaan nama Endro Wilis pada lagu-lagu karangannya yang dipublikasikan pada masa itu (karena Endro Wilis dianggap komunis) dan perubahan judul lagu Selendang Abang menjadi Selendang Sutro (Abang/Merah berkonotasi komunis). Depolitisasi produksi lagu-lagu Banyuwangi dimulai setelah Banyuwangi melewati masa ‘tanpa lagu’ selama sekira lima tahunan. Tindakan depolitisasi ini dilakukan dengan menggali nilai-nilai patriotik dalam sejarah Banyuwangi silam (Blambangan) yang direpresentasikan baik melalui tokoh-tokoh maupun episode-episode perlawanan





 

Podho Nginang Tradisional



 

.


Voca Erudita “Podho Nginang” Hongkong Int’l Youth & Children Coir
Competition

 

 

 

TARI BUNCISAN – BANYUMAS

 


Pasca tragedi nasional tahun 1965, ketika terjadi pemberangusan dan pembantaian terhadap kelompok progresif oleh militer dan eksponen politik kanan, seni buncis dilarang untuk tampil karena dituding menjadi bagian dari ekspresi politik PKI. Bukan hanya seni buncis, berbagai kesenian rakyat lainnya seperti Lengger, Jalantur dan Reog juga dilarang dipentaskan karena dianggap menjadi bagian dari kelompok komunis.
Pelarangan tersebut mulai melunak sejak rezim Orde Baru memberi peluang bagi perkembangan kebudayaan daerah yang dipandang sebagai bagian dari kebudayaan nasional sebagaimana tertuang di dalam Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN)
.

 

 


Sebagian pejuang yang memiliki kreativitas estetik pun berkesenian untuk menghibur diri. Salah satu kesenian yang dihasilkan adalah seni buncis. Konon kata ‘buncis’ merupakan jarwo dhosok yang berarti ‘bundhelan cis’. ‘Bundhelan’ dapat diartikan simpul, patron atau sesuatu yang dianggap bermakna, sesuatu yang harus dipegang teguh. Sedangkan ‘cis’ berarti perkataan yang keluar dari lisan. ‘Buncis’ dapat diartikan secara luas sebagai kata-kata para leluhur yang harus dipegang teguh, dijadikan sebagai dasar dalam perikehidupan. Lalu kata-kata apa yang dimaksud? Adalah kata-kata pemimpin perjuangan mereka; Pangeran Diponegoro. Bahwa ibarat ‘sedumuk bathuk senyari bumi’, jika harkat dan martabat kemanusiaan direndahkan serta sejengkal tanah wutah getih dikuasai orang lain’ maka harus dipertahankan hingga titik darah penghabisan. Demikianlah spirit keakuan ini terus dikobarkan untuk menggugah semangat juang para prajurit. Seni buncis pun kemudian dijadikan sebagai alat perjuangan. Buncis menjadi spirit untuk membangkitkan gairah mempertahankan bumi nusantara dari cengkeraman penjajah Belanda. Melalui spirit inilah, perjuangan terus dikobarkan hingga mencapai kemerdekaan pada tahun 1945.

 

“Ya, mau gimana lagi. Kami
sudah berusaha untuk melakukan regenerasi di desa, tapi tidak banyak yang
berminat. Masuk sekolah pun sulit,”
 





*kelompok seni buncisan satu-satunya yang masih bertahan di kabupaten Banyumas, menurut salah satu penuturan di video dokumenter ini

 

 

PERTUNJUKAN BANTENGAN

 

Seni Bantengan dianggap sebagai seni milik kaum nasionalis pada masa itu. Hal ini karena adanya kesamaan simbol antara kesenian tersebut dengan lambang Partai Nasional Indonesia yang menjadi wadah politik mereka. Sementara seni populer lain seperti jaran kepang, ludruk dan reog diidentifikasi sebagai seni milik kaum komunis (PKI). Kaum santri pun tidak mau ketinggalan dalam rivalitas ini. Mereka mengusung seni yang berhubungan dengan tradisi Islam Jawa serta kultur pesantren seperti pencak silat serta marawis.
Kompetisi politik yang merambah dunia seni itu diakhiri dengan tragedi politik tahun 1965 yang menghantam kelompok komunis atau kiri serta sebagian nasionalis loyalis Bung Karno. Seni Bantengan yang memang telah diasosiasikan sebagai seni kaum nasionalis terkena dampak dari penghacuran secara sistematis oleh rezim Orde Baru. Banyak kelompok seni Bantengan di Jawa Timur dibubarkkan paksa karena stigma sebagai kelompok seni yang berpihak pada PKI. Begitupun para seniman Bantengan yang dituduh komunis, padahal faktanya Bantengan lebih sering dikaitkan dengan kaum nasionalis PNI dimasa lalu.
 

 

Kontestasi politik kebudayaan yang mengemuka di Jabung ini ternyata tidak berlangsung lama. Munculnya tragedi politik yang kemudian dikenal dengan Peristiwa G30S itu seolah menyudahi kontestasi ideologi dan kebudayaan di daerah ini. Banyak seniman yang tiarap, bahkan menyimpan rapat-rapat umbul-umbul kesenian yang menjadi kebanggaan mereka. “Mereka sengaja menyembunyikan identitas, sebab mereka takut sekaligus trauma. Kesenian tradisi seperti bantengan dan jaranan, terlebih ludruk pada masa itu dianggap oleh penguasa sebagai kesenian komunis,” ungkap Dikri.
Praktis pasca tragedi 1965, seni tradisi seperti bantengan dan jaranan kepang dor menghilang dari pentas kebudayaan. Baru pada tahun awal 90an sejumlah seniman tradisi, seperti ludruk, topeng, jaranan, bahkan bantengan bangkit kembali. Namun kemunculan mereka kali ini tidak lagi mencerminkan kontestasi ideologi layaknya era sebelumnya. “Kesenian bantengan maupun jaranan sekarang ini bebas dari kepentingan politik. Kami bangkitkan kesenian ini untuk menghibur masyarakat, dan kami hanya ingin melestarikan tradisi leluhur yang diwariskan kepada kami”, ungkap Pak Dikri.
 
 

 




 

.

 

JARAN KEPANG

 

…..di samping mendapat hardikan para ulama, kesenian Jaran Kepang Dor ternyata juga menjadi wilayah perebutan politik kekuasaan. Pada era orde lama, jaran kepang banyak dikembangkan partai politik. Di daerah Jabung, Kabupaten Malang yang merupakan basis Partai Nasional Indonesia (PNI) berbagai kelompok jaran kepang didirikan. Demikian juga Lembaga Kebudayaan Nasional (LKN) yang merupakan sayap PNI, memproduksi
berbagai simbol dan jenis jaran kepang.
Partai Komunis Indonesia (PKI) melalui Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat) juga tak kalah keras dalam merebut massa melalui seni jaranan kepang. Di daerah Tumpang dan Poncokusumo, Kabupaten Malang, Lekra menjadi kekuatan dominan. Sementara di Kota Malang, daerah Blimbing, Sukun, dan Kedung Kandang merupakan lahan subur bagi penyemaian
kelompok-kelompok jaranan kepang baik yang dikelola oleh LKN maupun Lekra.
Namun jaman itu segera berakhir ketika berbagai kekuatan politik dihabisi oleh orde baru. Para seniman jaranan kepang terutama yang berbasis Lekra dibunuh. Sejumlah seniman jaranan yang masih hidup, belakangan banyak dipakai oleh Golkar untuk menyambut tokoh-tokoh politik atau pejabat yang datang ke daerahnya.
 
Tetapi tragedi 1965, tampaknya telah menjadi trauma yang berkepanjangan bagi kelompok kelompok jaranan kepang. Mereka harus menerima kenyataan pahit, distigmatisasi oleh kalangan agamawan dan penguasa sebagai komunis, padahal mereka tak tahu menahu seluk-beluk tentang Partai Komunis, atau ajaran komunis itu sendiri. Untuk meminimalisir stigma-stigma itu, seniman jaranan kepang banyak melakukan negosiasi, misalnya dengan menghadiri berbagai perayaan hari besar keagamaan yang biasanya diselenggarakan pemerintah.
 
Tahun 1965 adalah tahun yang sangat menyedihkan bagi seniman. Tahun itu semua seniman yang berbau komunis dibunuh. Punden-punden seperti di selomangleng dirusak. Orang-orang yang tidak beragama dianggap sebagai komunis harus dibunuh. Para seniman ludruk, ketoprak, wayang orang dan jaranan yang pernah terlibat dengan PKI dibunuh. Sepertinya seniman pada waktu itu tidak pernah ada yang hidup dengan tenang. Kemanapun kami melangkah selalu kami dihantui oleh rasa takut dan was-was secara terus menerus.
 
Setelah tahun itu jaranan sudah dianggap sebagai kesenian yang dilarang tampil di masyarakat. Jaranan adalah kesenianya orang-orang PKI. Masyarakat juga memiliki pandangan yang negatif terhadap jaranan. Akhirnya pasca tahun 1965 sampai tahun awal 1970an kesenian jaranan lumpuh total. Hal ini dikarenakan seniman jaranan takut dcap sebagai komunis. Kecuali jaranan yang berlindung dibawah bendera LKN ataupun Lesbumi. Itupun hanya beberapa jaranan saja. Masayarakatpun juga sudah tidak mau lagi melihat jaranan.
 
Pada awal tahun 1970an kami bersama teman-teman mulai merintis jaranan yang sempat lumpuh. Teman-teman seniman pada saat itu rata-rata masih takut dengan klaim yang diberikan kepada jaranan. Para seniman masih trauma dengan peristiwa berdarah yang terjadi beberapa tahun sebelumnya. Seniman lebih banyak diam dan takut untuk berseni.
Klaim komunis dari kelompok-kelompok agamawan rupanya masih meghantui perasaan para seniman jaranan. Terlebih lagi jaranan itu juga diklaim masyarakat sebagai kesenianya orang komunis.







 

Sejak saat itu pula karakter jaranan sudah mulai terpolarisasi. Jaranan yang dibina Lesbumi, misalnya, menghilangkan unsur ndadi (trance) karena dianggap bertentangan dengan Islam. Sementara LKN memiliki kedekatan dengan komunitas tradisional jaranan yang abangan dan mengorganisir mereka melalui ingatan akan situs-situs seperti Joyoboyo, Selomangkleng, dan Pamenang. Adapun Lekra memanfaatkan jaranan sebagai media protes atas ketimpangan sosial-ekonomi yang sebagian besar diekspresikan oleh kaum buruh dan petani pedesaan. Maka tak aneh jika Lekra sukses membina ribuan basis komunitas jaranan di Kediri dan memenangkan PKI pada pemilu 1955 di Kediri mengungguli NU, PNI dan Masyumi.

 

 
Tragedi G 30 S 1965 yang PKI sebagai kambing hitamnya, menjadi titik awal matinya berbagai kesenian rakyat pada umumnya, termasuk jaranan. Banyak seniman di Kediri enggan berkesenian karena takut dituduh komunis. Hanya beberapa kelompok jaranan saja yang masih eksis, seperti Jaranan Sopongiro di Bandar dan Jaranan Trunojoyo di Pakelan. Itupun karena keduanya berinduk pada Lembaga Kebudayaan Nasional (LKN).

 

 
 
 
 
 
 

Simak 600 ‘entry’ lainnya pada link berikut

 

Daftar Isi Perpustakaan Genosida 1965-1966

Road to Justice : State Crimes after Oct 1st 1965 (Jakartanicus)

14542544_1036993449746974_4443364972569517121_o



13047818_10209343119272764_8338060706038815101_o13043485_10209343122352841_1135692553504633931_n (1)

 

Definisi yang diusulkan D. Nersessian (2010) untuk amandemen/ optional protocol Konvensi Anti-Genosida (1948) dan Statuta Roma (2000) mengenai Pengadilan Kejahatan Internasional. (disalin dari Harry Wibowo)
Bookmark and Share

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s