Aliarcham (dari Boven Digul) : Kita terima pembuangan ini sebagai risiko perjuangan…. [Sejarah Yang Dihilangkan]

Sumber foto Buku Boven Digoel oleh L.J.A. Schoonheyt
http://koleksitempodoeloe.blogspot.co.id/2014/08/ 

 

“Suatu pemberontakan yang kalah adalah tetap benar dan sah.Kita terima pembuangan ini sebagai risiko perjuangan yang kalah.Tidak ada di antara kita yang salah,karena kita berjuang melawan penjajah”.(Aliarcham) 

 

Aliarcham Mati Muda di Boven Digoel – tirto.id

 Aliarcham, Obor Yang Tak Pernah Padam – berdikarionline

KAWAN KOMMUNISTEN, LASJKAR BARISAN MERAH DI INDONESIA!
KORAN API – 1 FEBRUARI
1926
Surat MARDJOHAN DAN ALI ARCHAM Dari Pembuangan

Aliarcham – Sedikit Tentang Riwayat dan Perjuangannya

Penerbit: Akademi Ilmu Sosial “Aliarcham”, Jakarta,
1964

 

0christina30

 

Bagi kami kau tak hilang tanpa bekas. Hari ini tumbuh dari masamu. Tangan kami yang neneruskan. Kerja agung jauh hidupmu. Kami tancapkan kata mulia. Hidup penuh harapan. Suluh dinyalakan dalam malammu. Kami yang meneruskan sebagai pelanjut angkatan

 

Puisi Tante Jet (Henritte Rolland Holst) di Nisan Ali Archam

simak lanjut Puisi dan Perjuangan Tante Jet untuk Indonesia – tirto.id

Puisi: Pertemuan di Danau

*Kenangan akan Ali Archam

Agam Wispi (1930-2003)

 

danau putih

sajakpun putih

di Toba tenggelam sepenggal kasih

sampan telungkup

aku berenang megap-megap

ke tepi

tapi menang apalah

kalau indah hanya seperti buih

asap mesiu mengantarku ke danau
Manindjau

dan kenangan melayah ke duniaku
yang hijau

sungguh, danau tiada lagi putih
seremaja dahulu

dan kebahagiaan hanya tergenggam
bagi yang tahu

jip mendaki dan menyusur danau
Sentani

Kota Baru meraih jauh, kami berlari-lari

betapapun becermin rimbun daun
dan akar berjuntai

kemenangan yang remaja, padamu
juga hari-tua melambai

sampai aku di danau paling utara

Tondano, dukamu tak bisa kulupa

para lelaki tak pulang, entah
mengapa aku terkenang

pahlawan kebahagiaan mati di
tanah buangan: Ali Archam

dan di sini, diantar perjuangan
yang sedih

danau Batur, kubu dari lahar dan
abu menyembur

para turis kagum berpura sedih

tapi rakyat itu dengan tangannya
yang perkasa

jalan bergandengan dan bernyanyi

meski mengantar mayat ke kubur

Kintamani, 26 April 1964.

Kepada Aliarcham

Chalik Hamid

 

1

di bawah kabut kemelaratan di
kabupaten Pati

lahir seorang putra jantan di
desa Asemlegi.

 

si putra jadi dewasa dipapah kasih bunda

lalu pemberontakan petani Rembang
menggugah hatinya

internasionalisme membuka matanya

dan dimana-mana api menyala

pemberontakan tani melawan
Belanda.

 

dan dia ucapkan selamat tinggal pada pesantren lama

pada saminisme yang menyedat
dada.

 

2

hati meronta dan berlawan

karena beban berat tak
tertahankan.

 

oih, betapa indahnya sorga kehidupan dalam perjuangan

di mana-mana rakyat bangkit
berlawan

dengan senjata di tangan

tak takut pada tiang gantungan

tak peduli pada pembuangan

tak gentar maut mengancam.

 

alangkah teladan putra perkasa

dibusungkannya dada,
ditegakkannya kepala

ditantangnya pemerintah kolonial
Belanda.

 

3

Tanah Tinggi berpagarkan hutan
belantara

pandangan tersuruk pada
pohon-pohon raksasa

hidup terancam oleh binatang buas
mencari mangsa.

 

dan kala malam menelan senja

udara dingin mendekap tubuh
tersiksa

terasa dendam makin menyesak dada

terasa dendam makin menyala.

 

dalam pergulatan hidup dan derita

ia tunjukkan keteguhan jiwa:

“Suatu pemberontakan yang kalah

adalah tetap benar dan sah.

Kita terima pembuangan ini

sebagai risiko perjuangan yang
kalah.

Tidak ada di antara kita yang salah,

karena kita berjuang melawan
penjajah”. *)

 

dari pembaringan ditatapnya bintang

menahan perih tubuh telentang

betapa terasa nyeri oleh
paru-paru yang berlobang.

 

Sungai Digul mengalir ke hilir

berpadu deru kapal dan air
mendesir

di sini seorang patriot
menghembuskan napas terakhir

namun ia adalah karang di tengah
lautan

yang pantang tunduk kepada topan.

 

4

badai bisa mengamuk dan melanda

menerjang dan merusak segala

namun pahlawan tak bisa musnah

gugur dan jatuh bangkit kembali

setelah terpukul bangun kembali

karena ia adalah keharusan

yang lahir bersama zaman.

 

obor yang kau serahkan

terus kami nyalakan

dan akan kami persembahkan pada
generasi kemudian

dari tangan ke tangan

dari hati ke hati

dan obor itu tak pernah mati.

 

Baca lebih lanjut Keputusan Prambanan – Asep Sambodja



Tentang Boven Digul
Digoel, Tempat Pembuangan Para Pembangkang -tirto.id

Wawancara Takashi Shiraishi tentang Boven Digoel
“Berpuluh kawan di tiang gantungan, beratus-ratus melayang
jiwanya.
Laki dan istri dalam buangan, beribu-ribu di dalam penjara.Ya! ya! ya! Itulah yang akan, mendatangkan dunia kemerdekaan.Ayo, lawan kawan kita semua. Hancurkanlah si penjajah durhaka!”
 e-bookThe Phantom World of Digoel – Takashi Shiraishi

*Takashi Shiraisihi adalah penulis buku Zaman Bergerak :
Radikalisme Rakyat di Jawa 1912-1926
 

 
 
simak juga
 
 

simak 700 ‘entry’ lainnya pada link berikut

Daftar Isi Perpustakaan Genosida 1965-1966

 

 

 

 

 






 


Road to Justice : State Crimes after Oct 1st 1965 (Jakartanicus)

 

 

 

14542544_1036993449746974_4443364972569517121_o





Bookmark and Share

 







 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s