Trilogi Primadosa, Primadusta dan Primaduka : Wimanjaya Bertaruh Nyawa Membongkar Kejahatan Rezim Soeharto

 
 
sumber foto : google books, goodreads
 
 
Yang mengganggu bagi Soeharto itu buku ‘Primadosa’, isinya dosa Soeharto sebanyak tiga jilid. Kemudian buku ‘Primadusta’ tentang Supersemar sebanyak dua jilid, dan buku ‘Primaduka’ pembunuhan tiga juta rakyat Indonesia dari Sabang Sampai Merauke, dari Sangir
Talaud sampai Rote, dari Tahun 1965 sampai tahun 1998. Itu menjadi alasan pemerintah Soeharto memenjarakan saya,” kata pria yang diusia 83 tahun tersebut kepalanya masih dhiasi oleh banyak rambut yang masih berwana hitam.
 
 

 
Wimanjaya Bertaruh Nyawa
Membongkar Dosa Rezim Soeharto
Wimanjaya menulis trilogi buku yang mengungkap bobrok Orde Baru semasa Soeharto masih berkuasa. Alhasil, ia dituding gila, dimata-matai, diteror, sampai dipenjara.
 
Apa yang dipaparkan presiden pada kesempatan tersebut tidak lain terkait dengan buku yang ditulis oleh Wimanjaya. Primadosa:
Wimanjaya dan Rakyat Indonesia Menggugat Imperium Soeharto 
adalah judulnya.


Bukan hal yang mengherankan jika para perwira yang hadir saat itu terkaget-kaget. Sangat mengejutkan bahwa ada yang berani mengkritik apalagi menuduh orang nomor satu di Indonesia yang sudah berkuasa berpuluh-puluh tahun lamanya dan nyaris tak tersentuh.


Presiden tentu saja murka dengan tulisan Wimanjaya yang terhimpun di dalam buku tersebut. Di hadapan para prajurit negara yang siap membela sang panglima tertinggi itu, Soeharto menyebut Wimanjaya sebagai penulis gila yang ingin menjatuhkan namanya.
 
 
 

 
 

 
 

 
 

Gugatan Rp1 Miliar Korban Orde Baru Dikabulkan Pengadilan – cnn indonesia

 
 

 

 
 
 

Mengapa Kakek Renta Korban Orde Baru Dapat Ganti Rugi Rp 1 Miliar?

 

Simak 1400 ‘entry’ lainnya pada link berikut

Perpustakaan Genosida 1965-1966

   

Road to Justice : State Crimes after Oct 1st 1965 (Jakartanicus)

13047818_10209343119272764_8338060706038815101_o
13043485_10209343122352841_1135692553504633931_n (1)

Definisi yang diusulkan D. Nersessian (2010) untuk amandemen/ optional protocol Konvensi Anti-Genosida (1948) dan Statuta Roma (2000) mengenai Pengadilan Kejahatan Internasional. (disalin dari Harry Wibowo)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s