Peristiwa “Perang Saudara’ Madiun 1948 : Konflik Internal Tentara, Pemberontakan, atau Benturan Kuasa Politik/Ideologi (Inter-)Nasional ?

“Saya ini pelaku, saya saksi. Bahwa sampai kapan pun Peristiwa Madiun itu bukan suatu pemberontakan, tetapi penindasan dari satu pemerintahyang melaksanakan Red Drive Proposal dari Amerika Serikat, mau membasmi kaum kiri dan kami melakukan perlawanan. Lha Berontak Madiun! Berontak apa? Buktinya apa?”
Soemarsono, pejuang kemerdekaan Indonesia, penulis buku Revolusi Agustus (Hasta Mitra 2008)
,,,-qq
simak pernyataan Ariel Heryanto ini
(status facebook dan perbincangan seputar  isu tersebut)
Narasi resmi perlu dipelajari, karena meskipun sarat dengan kepentingan politis dan legitimasi kekuasaan, itulah narasi yang “terlanjur” beredar di ruang publik dan dipahami oleh masyarakat selama ini, bahkan sampai sekarang. Upaya untuk mengubah pemahaman yang sudah terlanjur beredar di masyarakat membutuhkan pengertian yang memadai atas apa yang telah terlanjur beredar itu.
Narasi dari para pelaku dan saksi mata seperti Soemarsono ini perlu didengarkan, karena meskipun berbeda dari narasi resmi yang selama ini beredar di masyarakat, apa yang mereka kisahkan merupakan ungkapan ingatan dari para saksi dan pelaku yang secara langsung mengalami dan terlibat dalam peristiwa sejarah saat peristiwa itu berlangsung. Bahwa kita setuju atau tidak setuju dengan apa yang mereka ingat dan ungkapkan, tentunya hal itu merupakan masalah lain.
Pada saat yang sama kita juga perlu mendengarkan narasi para sejarawan. Diharapkan, dalam meninjau sebuah peristiwa sejarah, para sejarawan tidak sekedar menggambarkan ulang apa yang terjadi dengan cara seakan-akan ia pernah mengalaminya sendiri, melainkan mendeskripsikan hasil “rekonstruksi” mereka berdasarkan kaidah-kaidah yang berlaku atas peristiwa tersebut, untuk kemudian menganalisisnya, mengekstrapolasinya, dan mengaitkannya dengan konteks yang lebih luas, termasuk kaitannya dengan masa kini. Uraian para sejarawan yang bersifat deskriptif-analitis diharapkan akan mampu menghasilkan suatu paparan yang lebih utuh, untuk kemudian diberi keterangan dan makna historis secara lebih proporsional.
Dengan demikian jika kita ingin secara sungguh-sungguh belajar dari Peristiwa Madiun kita perlu mempertimbangkan ketiga jenis narasi tersebut. Begitu pula kalau kita ingin memperlajari apa yang dialami oleh Mantan Perdana Menteri RI Amir Syarifuddin dan kawan-kawan dari Madiun. Dalam kaitan dengan ini tak boleh bahwa satu perspektif mendominasi apalagi meniadakan perspektif-perspektif lain. Lahirnya buku Revolusi Agustus memperkaya perspektif kita dalam meninjau kembali dan merefleksikan apa yang terjadi di Madiun pada tahun 1948 itu, berikut faktor-faktor pendorong dan dampaknya kemudian.
Satu hal yang kuat terasa ketika kita membaca buku Revolusi Agustus ini adalah tak dapat diragukannya komitmen dan dedikasi Soemarsono sebagai pelaku sejarah dalam usahanya memperjuangkan kepentingan rakyat dan bangsanya sejak muda hingga masa tuanya. Kiranya komitmen dan dedikasi serupa juga dimiliki oleh banyak orang lain dari generasinya Soemarsono, entah mereka yang berada di “persimpangan kiri” atau “persimpangan kanan” jalannya sejarah Indonesia. Kita berharap bahwa komitmen dan dedikasi yang sama juga akan lahir dari para pejuang rakyat pada generasi-generasi selanjutnya, termasuk generasi sekarang ini.***
dipetik dari Membaca buku Revolusi Agustus karya Soemarsono (Baskara T Wardaya)
soemarsono-revolusi-agustus
Berikut adalah paper yang disampaikan di dalam diskusi Madiun Affairs 1948 bersama Soemarsono
 
silah baca juga serial artikel Dahlan Iskan di Jawa Pos
Soemarsono, Tokoh Kunci dalam Pertempuran Surabaya (3 bagian)

SUPAYA BERSAUDARA KEMBALI – JAVIN TV

Tahun 1948, kebijakan Rekonstruksi dan Rasionalisasi (RERA) pemerintahan Hatta, mendapatkan penolakan dari laskar-laskar rakyat. Soemarsono, aktivis Pesindo, ikut pula terseret dalam kisruh yang kemudian dikenal sebagai Peristiwa Madiun. Tokoh sentral pertempuran 10 November Surabaya itu diangkat menjadi Gubernur Militer. Perang saudara di Madiun ini adalah satu dari sekian episode gelap sejarah Indonesia. Ia dapat dianggap menjadi semacam prolog tragedi yang lebih besar di tahun 1965.
The new intellectual climate in post–New Order Indonesia has shed light on the role of personal memory in uncovering forgotten aspects of Indonesia’s national past. One individual who has been placed under the spotlight is Sumarsono (b. 1921), one of the few surviving eyewitnesses of the Madiun Affair, an armed conflict between the Indonesian Communist Party and the Republican government in 1948. This article examines and evaluates Sumarsono’s narratives of Madiun between 1949 and 2008, and in doing so, offers a fresh analysis of the historiography of this critical turning point in the last years of the Indonesian Revolution (1945–49).

terjemahan bahasa indonesia sudah dibukukan

22308928_10214321423620184_3858873645162064445_n
bagian penutup atau kesimpulan
22281928_10214325170113844_6334758254967664219_n22281877_10214325169953840_2777272206092900475_n
 
FROM RUSSIA WITH LOVE? – John T. Sidel
Book Revies : Larisa M. Efimova. Stalin i Indonyeziya: Politika SSSR v otnoshenii Indonyezii v 1945–1953 godakh: Nyeizvyestniye Stranitsiy (Stalin and Indonesia: Soviet Policy towards Indonesia, 1945–1953: Unknown Pages). Moscow: Moscow State Institute ofInternational Relations, 2004. 183 pages.
 unduh buku

Stalin and Indonesia: Soviet Policy towards Indonesia, 1945–1953 Larisa M. Efimova 

0christina3
,,,-oo
,,,-
Pembelaan DN Aidit  di Pengadilan di Muka  Pengadilan Negeri Djakarta 24 Februari 1955
Pengantar Ben Anderson yang menerjemahkan naskah Soerjono ke dalam Bahasa Inggris
 =========
Lapoan Khusus KBR 68H  – Setengah Abad Menanggung Luka
Benang Merah Yang Dipaksakan
Buku PERISTIWA MADIUN: REALISASI DOKTRIN TRUMAN DI ASIA
Pengantar Penulis Suar Suroso
BUKU SUAR PENERANG SEJARAH YANG GELAP
BONNIE TRIYANA Sejarawan, Pemimpin Redaksi Majalah Historia
bagian selanjutnya dari buku ini menyoroti realisasi doktrin Truman dalam perang Korea dan Vietnam

313783_569569393067871_260729653_n
simak juga
426088_554628757895268_1976345161_n

Seperti dicatat wartawan Revolusioner, Soepeno, Presiden berujar takzim, “Saya harap Pak Musso, setelah kembali ke Tanah Air, bisa membantu menciptakan rust en orde.” Musso menjawab dalam bahasa Belanda, “Ik kom hier om orde te scheppen (Saya memang datang ke sini untuk menciptakan ketertiban).” (Edisi Khusus Tempo)

JALAN BARU UNTUK REPUBLIK INDONESIA | MUSSO – Ulasan Zen RS

unduJALAN BARU UNTUK REPUBLIK INDONESIA

Bertolak dari pidato Soekarno, Aidit meyakini Peristiwa Madiun adalah provokasi pemerintah Hatta-Sukiman-Natsir. Provokasi yang berkaitan dengan program Reorganisasi dan Rasionalisasi (Re-Ra) untuk membentuk tentara “profesional”
 
 
Tercatat sebagai ormas pemuda terbesar di masanya, Pesindo bernasib tragis karena dikaitkan Peristiwa Madiun 1948. Bagaimanapun, jejak Pesindo pernah mewarnai sejarah Republik Indonesia
 
 

simak 700 ‘entry’ lainnya pada link berikut

Daftar Isi Perpustakaan Genosida 1965-1966

Road to Justice : State Crimes after Oct 1st 1965 (Jakartanicus)

14542544_1036993449746974_4443364972569517121_o



13047818_10209343119272764_8338060706038815101_o13043485_10209343122352841_1135692553504633931_n (1)
Definisi yang diusulkan D. Nersessian (2010) untuk amandemen/ optional protocol Konvensi Anti-Genosida (1948) dan Statuta Roma (2000) mengenai Pengadilan Kejahatan Internasional. (disalin dari Harry Wibowo)
Bookmark and Share

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s