Dari Holocaust hingga Genosida 1965-1966 : Pembelajaran dan Solidaritas Kemanusiaan Lintas Batas

Orang tua ayahnya adalah pelarian dari tragedi holocaust. Kedekatan Joshua dengan kakek dan neneknya juga sedikit banyak telah memengaruhinya. “Kakek dan nenek saya melarikan diri dari Jerman pada saat yang tepat sehingga lolos dari holocaust. Saya mendengar mengenai holocaust jauh sebelum saya mendengar cerita dongeng Cinderella atau menonton Peter Pan. Saya tumbuh dan dibesarkan dengan sebuah pesan bahwa tujuan politik, seni, dan moralitas adalah untuk mencegah kekejian seperti holocaust, ataupun seperti pembantaian massal 1965 di Indonesia, berulang lagi di mana pun, kapan pun, kepada pada siapa pun,” cerita Joshua

 

 

 

 

buku berisi kompilasi tulisan dari akademisi, aktivis, penyintas serta foto-foto karya rupa dari belasan seniman indonesia
A conversation with Joshua Oppenheimer about how to make an effective documentary about genocide. – Dana Stevens
Butuh waktu 60 tahun bagi Jerman untuk setuju membuka arsip milik Nazi. Butuh berapa lama Indonesia ungkap kebenaran kasus-kasus HAM, termasuk tragedi 1965?  
The freedom enjoyed by German youth to ask critical questions and learn about the past from a variety of perspectives, became a recipe of purifying state-sponsored propaganda. This freedom is the missing element in Indonesia.
“How to Move On” – On History

Ketika anak muda Indonesia bicara tentang bagaimana Indonesia berdamai perlu dengan masa lalunya Dalam rangka merayakan Hari Kemerdekaan Indonesia, Afu bercermin dari pengalamannya selama berada di Jerman untuk mempertanyakan bagaimana Indonesia sendiri perlu berdamai dengan masa lalunya.






************************
Dialog Jerman – Indonesia // Pekan Budaya & Konflik di GoetheHaus
liputan detik.com
Gong pembuka pekan budaya ini adalah pemutaran film berjudul \\\’Spielzeugland\\\’, karya Jochen A. Freydank, pada Minggu (29\/9\/2013) lalu. Film pendek berdurasi 14 menit ini pernah memenangkan Piala Oscar pada tahun 2009 silam, sebagai film pendek terbaik.
Film ini menarasikan kondisi negeri Jerman pada 1942. Menggambarkan tentang kekerasan Nazi yang hendak mendeportasi kaum Yahudi ke kamp konsentrasi. Mengharukan tanpa menampilkan tindakan kekerasan Nazi.
Katrin Sohns, Kepala Program Budaya GoetheHaus menajabarkan alasan pentingnya film ini harus diputar. Katrin lahir dan dibesarkan di Jerman. Negara dimana masa lalu penuh kekerasan saat Adolf Hitler berkuasa pada 1933, terus menghantui.
\\\”Ia menjalankan sebuah pemerintahan diktatorial di Jerman, yang ditandai dengan teror dan kekerasan\\\” kata Katrin.
Katrin memaparkan rezim Nazi tidak hanya bertanggung jawab atas mulainya Perang Dunia II. Sepanjang tahun 1933 – 1945, mereka juga bertanggung jawab atas jatuhnya lebih dari 6 juta korban orang Yahudi dan minoritas lain yang secara sistematis dibunuh pada kamp-kamp konsentrasi.
\\\”Selama masa sekolah, dengan pelajaran sejarah kami selalu diingatkan akan masa lalu kami yang memalukan ini. Agar tidak pernah mengulangi hal ini.\\\”
Spielzeugland/Toyland | Oscar – Best Live Action Short Film | A Short Film by Jochen Alexander Freydank
Germany 1942: In order to protect her son Marianne Meißner tried to make him believe that the Jewish neighbours are going on a journey to “Toyland”. One morning her son has disappeared – the Jewish neighbours too. Toyland is a film about guilt, responsibility, small and big lies.
*Tahun 2015 Rangga Purbaya bersama fotografer Nora Schedler telah menggelar pameran fotografi “Stories Left Untold”
simak detilnya
”Stories Left Untold“, sebuah pameran foto yang dikuratori oleh Budi N.D. Dharmawan ini memotret jejak memori yang terlupakan dan terkunci di masa lalu dalam sejarah Jerman dan Indonesia melalui proses pencarian kebenaran yang sangat personal oleh dua fotografer muda. Pameran ini menampilkan karya dari fotografer Jerman, Nora Scheidler dan fotografer Indonesia, Rangga Purbaya. Pameran ini dibuka pada tanggal 2 Oktober 2015 di iCAN Gallery di Yogyakarta. Kami telah berbincang bersama kedua fotografer ini mengenai karya-karya mereka.
jerman indo
foto : antara
rangga1
Esai kuratorial pameran foto “Stories Left Untold” karya Nora Scheidler dan Rangga Purbaya, dikurasi oleh Budi N.D. Dharmawan
**************
at Campus Westend, Frankfurt, Germany.
14956378_10207334678153879_7500825830184398282_n
Buchvorstellung_Muenster_1
17201271_10208312864047915_3238415316723887251_n
tumblr_nmpj2fYOSY1ushyc1o1_1280
 
Road to Justice : State Crimes after Oct 1st 1965 (Jakartanicus)

 

14542544_1036993449746974_4443364972569517121_o

Bookmark and Share

 

13047818_10209343119272764_8338060706038815101_o13043485_10209343122352841_1135692553504633931_n (1)

 

Definisi yang diusulkan D. Nersessian (2010) untuk amandemen/ optional protocol Konvensi Anti-Genosida (1948) dan Statuta Roma (2000) mengenai Pengadilan Kejahatan Internasional. (disalin dari Harry Wibowo)

 

Bookmark and Share

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s