Daniel ‘Timbul’ Cahya Krisna : PULANG… #Eksil65 [pameran online] l Genosida Politik 1965-1966

41.jpg

 

1

 

karya-karya ilustrasi  Daniel ‘Timbul’ Cahya Krisna untuk novel PULANG – LEILA S. CHUDORI

 

 

 

Paspor dicabut, berpindah Negara, berpindah kota, berubah pekeerjaan, berubah keluarga… segalanya terjadi tanpa rencana.. Semua terjadi sembari kami terengah-engah berburu identitas seperti ruh yang mengejar-ngejar tubuhnya sendiri.
Dimas Surya.
*publikasi karya-karya ilustrasi ini dengan seijin Daniel “Timbul” , Leila S. Chudori dan pihak KPG sebagai penerbit. terima kasih untuk dukungannya.

2

La Lutte Continue

3
4

floating in a bloody river

5

empat pilar tanah air

6

“inside the body bag..”

7
Indonesia

ekalaya

8

flaneur

9

‘nrimo ing pandum’

Pulang Sebuah Novel

Paris, Mei 1968.
Ketika revolusi mahasiswa berkecamuk di Paris, Dimas  Suryo seorang eksil politik Indonesia bertemu Vivienne Deveraux, seorang mahasiswa Prancis yang ikut demonstrasi melawan pemerintah Prancis. Pada saat yang sama, Dimas menerima kabar dari Jakarta: Hananto Prawiro, sahabatnya, ditangkap tentara dan dinyatakan tewas. Dimas merasa cemas dan gamang. Bersama puluhan wartawan dan seniman lain, dia tak bisa kembali ke Jakarta karena paspornya dicabut oleh pemerintah Indonesia. Sejak itu mereka mengelana tanpa status yang jelas dari Santiago ke Havana, ke Peking dan akhirnya mendarat di tanah Eropa untuk mendapatkan suaka dan menetap di sana.
Di tengah kesibukan mengelola Restoran Tanah Air di Paris bersama tiga kawannya: Nug, Tjai, dan Risjaf—mereka berempat disebut Empat Pilar Tanah Air—Dimas, terus-menerus dikejar rasa bersalah karena kawan-kawannya di Indonesia satu persatu tumbang, dikejar, ditembak, atau menghilang begitu saja dalam perburuan Peristiwa 30 September. Apalagi dia tak bisa melupakan Surti Anandari—isteri Hananto—yang   bersama ketiga anaknya berbulan-bulan diinterogasi tentara.
Mei  1998.
Lintang Utara, puteri Dimas dari perkawinan dengan Vivienne Deveraux, menyatakan keinginannya untuk ke Indonesia dan merekam pengalaman keluarga korban tragedi September 30 sebagai tugas akhir kuliah. Apa yang terkuak oleh Lintang bukan sekadar masa lalu ayahnya dengan Surti Anandari, tetapi juga bagaimana sejarah paling berdarah di negerinya mempunyai kaitan dengan Ayah dan kawan-kawan ayahnya. Bersama Segara Alam, putera Hananto Prawiro, Lintang menjadi saksi mata apa yang kemudian menjadi kerusuhan terbesar dalam sejarah Indonesia: kerusuhan Mei 1998 dan jatuhnya Presiden Indonesia yang sudah berkuasa selama 32 tahun.
Judul : Pulang Sebuah Novel
Pengarang : Leila S. Chudori
ISBN : 9789799105158
KPG : 901120609
Ukuran : 200 x 135 mm
Halaman : 552 halaman
edisi awal
COVER PULANG yellow
edisi terbaru
9a

terlalu banyak doktrin

9b

drawing with me

9c

bloody letter

Advertisements

 

 
Road to Justice : State Crimes after Oct 1st 1965 (Jakartanicus)

 

14542544_1036993449746974_4443364972569517121_o

Bookmark and Share

 

13047818_10209343119272764_8338060706038815101_o13043485_10209343122352841_1135692553504633931_n (1)

 

Definisi yang diusulkan D. Nersessian (2010) untuk amandemen/ optional protocol Konvensi Anti-Genosida (1948) dan Statuta Roma (2000) mengenai Pengadilan Kejahatan Internasional. (disalin dari Harry Wibowo)
Bookmark and Share
 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s