Dari Temu Rindu, Selamatan Anak Cucu Sumilah hingga Gejolak Makam Keramat : Teaternya Perempuan Penyintas Yogyakarta Yang Tak Pernah Menyerah [KIPPER – Kiprah Perempuan]

Hari ini (15 Maret 2020) Kiprah Perempuan berulang tahun ke 14, kelahiran KIPPER tidak lepas dari perjuangan kawan kawan muda Nahdatul Ulama dalam wadah Syarikat Indonesia dan Fopper Ham organisasi pendamping korban 65. Dalam perjalananya sampai hari ini KIPPER dibantu banyak seniman, akademisi dan mahasiswa.
Cita cita perjuangan rekonsiliasi yang diperjuangkan kawan kawan NU tentu tidak akan mandek, karena tongkat estafet itu terus dilontarkan ke generasi ke generasi, sampai kapan?…tentu perjuangan harus selalu digerakkan dilakukan dan “dibunyikan”, janji janji elite politik tentu tidak menyurutkan langkah kawan kawan muda yang masih meluangkan waktu untuk bersama merajut kain merah putih yang tentunya milik kita bersama.
Kita telah melawan dengan sebaik baiknya, sehormat hormatnya
(Nyai Ontosoroh)
Kiprah Perempuan

[disalin dari facebook Supri Yadi]

andreas iswinarto - penjaga bumi7



Highlights of Theatre Performance
“Gejolak Makam Keramat”

 

 

Para penyintas Yogyakarta nan tak mudah menyerah – beritagar

Mereka Yang Tak Mudah Menyerah – Kompas Minggu

Tragedi itu Bernama “Gejolak Makam Keramat” – Arie
Kamajaya
 

SEMAAN TEATER TAMARA: ROMANTISME SEJARAH
SENI YANG ‘DIHILANGKAN’ – Ficky Tri Sanjaya*

 

Sema’an “Gejolak Makam Keramat”, Pentasnya Perempuan Penyintas YPKP65 

Learning from the survivors of1965 – the Jakarta Post 





Jalan Panjang Ekspresi Karya Agung Kurniawan – sarasvati

Jumat, 30 November 2018 di Selasar Barat FISIPOL UGM – Selamatan anak Cucu Sumilah adalah pertunjukan kolaborasi antara mahasiswa, peneliti, seniman dan ibu – ibu penyintas 65 yang mengangkat isu cara perempuan bertahan hidup dari pasca tragedi politik masa lalu dalam konteks saat ini. Pertunjukan ini digelar untuk mengenang dan memperingati perjuangan hidup salah satu penyintas 65 bernama Bu Sumilah yang baru saja wafat awal tahun ini. Dirancang sebagai pertunjukan interaktif dengan desain panggung panoptikon sebagai ide utamanya. Sebuah menara pengawas diletakkan di tengah – tengah panggung selama pertunjukan berlangsung. Pertunjukannya sendiri disusun dari peristiwa pengolahan masakan daging kambing menjadi sate dan pembacaan nukilan novel Rumah Kaca karya Pramoedya Ananta Toer yang dikelindankan dengan narasi perjuangan hidup Bu Sumilah sebagai salah satu penyintas 65. Peristiwa kekerasan 65 memang telah melahirkan banyak tokoh yang kemudian menjadi rujukan ketika orang membicarakan isu ini. tokoh – tokoh itu kemudian menjadi ikon ketika isu genosida itu diangkat. Pertunjukan ini mencoba melihat isu ini dari kacamata penyintas 65 yang bukan “siapa – siapa”. Dari kacamata seorang anak kecil berumur 14 tahun yang dipaksa menjadi tahanan selama 14 tahun bernama Sumilah. Pasca tragedi politik, Sumilah bertahan hidup dengan berjualan sate kambing sampai akhir hidupnya.

The voices of the oppressed from a satay stall – the Jakarta Post

Sumilah, Narasi Perempuan Yang Terus Hidup – konde.co

bagian 1  bagian 2

sebelumnya ibu-ibu penyintas Yogyakarta ini pernah mementaskan teater TEMU RINDU

This performance retell a story about lost, about happiness, about rights that were forcibly taken, about attrocities that happened to a family, to a group of people in a village who were accused of having a connection with the Indonesian Communist Party. Through performance, these survivors enacting agency, allowing their stories to fill in our space and engage us in a dialogue about what had happened to many families, children, friends, neighbors after the 1965 tragedy. [https://www.learning65.com/

 

 

 

Dengar Kesaksian Pengalaman dari Penjara

Kiprah Perempuan (KIPER) l Senin – Kamis l Dengar Kesaksian l 

 

Dibalik pilu dan sedihnya kisah masa lalu dikarenakan ketidak adilan akan pelanggaran Hak Asasi Manusia yang
dilakukan oleh para oknum tak bermanusiawi, ada secercah kebahagian dari para wanita kuat lanjut usia. Mereka tergabung dalam suatu organisasi yang dinamakan Kiper, yakni Kiprah Perempuan. Kiper merupakan paguyuban perempuan (korban 65) yang memiliki idealisme untuk tetap memperjuangkan keadilan dan kebenaran. Para perempuan kuat ini merupakan seniman pula, mereka mempunyai karya yang berupa syair lagu. Syair lagu itu ditulis dan diciptakan saat mereka terpenjara di Wirogunan, Yogyakarta. Lagu mereka lucu, sederhana, dan membekas di hati para
pendengarnya. Simak penampilan dari KIPER.. [Talitha]
 

sumber sorgemagz

 






 

Reclaiming Indonesia – Year of truth [Asia Ajar]

 

 

simak juga

JAGA JAGA : Penggalangan dana secara kreatif yang digagas oleh seniman, akademisi dan aktifis HAM yang peduli pada pelanggaran HAM Genosida 65 (Kiprah Perempuan – KIPPER)

[Situs Genosida Yogyakarta]  Benteng Vredeburg, Gedung Jefferson, UGM Hingga Luweng  Grubug

simak 1500 ‘entry’ lainnya pada link berikut

Daftar Isi Perpustakaan Genosida 1965-1966


Road to Justice : State Crimes after Oct 1st 1965 (Jakartanicus)

 

14542544_1036993449746974_4443364972569517121_o



13047818_10209343119272764_8338060706038815101_o13043485_10209343122352841_1135692553504633931_n (1)

Definisi yang diusulkan D. Nersessian (2010) untuk amandemen/ optional protocol Konvensi Anti-Genosida (1948) dan Statuta Roma (2000) mengenai Pengadilan Kejahatan Internasional. (disalin dari Harry Wibowo)

Bookmark and Share

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s