Sejarah Gerakan Kiri yang Dihilangkan l Genosida 1965-1966

Jasmerah – Memahami peristiwa genosida 1965 tidak akan mendalam dan komprehensif tanpa memahami dinamika perkembangan sejarah Indonesia khususnya sejarah gerakan kiri Indonesia yang selama ini dihilangkan dan dimanipulasi oleh rezim sejarah resmi atau penguasa. Oleh karena kami hadirkan pandangan berbagai kalangan aktivis dan akademisi tentang sejarah gerakan kiri Indonesia

Simak! Temuan dan Rekomendasi Majelis Hakim International People’s Tribunal 65
PUTUSAN AKHIR MAJELIS HAKIM IPT 1965 (teks terjemahan)  http://www.tribunal1965.org/id/putusan-akhir-majelis-hakim-ipt-1965/
Ringkasan Temuan dan Rekomendasi Sidang IPT 1965

poster-4 (1)




Waktunya Buku Kiri jadi Bahan Pembelajaran
History from Below: Sejarah Gerakan Kiri Indonesia untuk Pemula
Belok Kiri Festival : Membumikan yang terlupakan
Sejarah Gerakan Kiri Indonesia untuk Pemula
Yayak Yatmaka, dkk.
Cetakan 1
Februari 2016
Soft cover
lxxxiv + 528 halaman
Isi kertas art paper, 20 x 29 cm
ISBN 978-602-8331-65-4
buku ini diluncurkan melalui perayaan BELOK KIRI FESTIVAL
MANIFESTO
Belok Kiri.Fest adalah kerja kreatif kebudayaan dan intelektual yang digarap secara kolektif oleh kalangan muda negeri ini. Kerja ini adalah perayaan atas perjalanan sejarah gemilang bangsa kita, sejak kebangkitan semangat kebangsaan hingga perjuangan kemerdekaan melawan kolonialisme yang terjadi lebih dari tujuh dekade silam.
Namun, setengah abad yang lalu, cita-cita dan semangat emansipasi sosial para pendiri Republik ini , sayangnya, telah dihancurkan oleh suatu rezim yang disebut Orde Baru dengan Soeharto sebagai panglima tertingginya.
Lebih dari setengah juta manusia dibantai dan jutaan lainnya kehilangan hak-haknya sebagai warga negara Indonesia dan sebagai manusia. Mereka dikucilkan, disiksa, dan dipenjara tanpa diadili. Ratusan ribu orang diperbudak dalam kamp kerja paksa.
Orde baru bukan hanya menginjak-injak hukum. Orde Baru juga menciptakan ‘hukumnya’ sendiri, melancarkan propaganda dan teror dengan membasmi hingga ke akar-akarnya apa yang dalam bahasa universal dunia disebut sebagai kaum Kiri.
Kaum kiri adalah mereka yang mengembangkan suatu posisi kritis terhadap dehumanisasi akibat penghisapan dan penindasan kapitalisme.
Kaum Kiri adalah mereka yang mempertahankan nilai-nilai Kemanusiaan, Kemerdekaan, Kesetaraan dan Solidaritas dari ancaman penguasa represif dan kelompok-kelompok intoleran.
Kaum kiri juga adalah mereka yang siap berjuang bagi masa depan seluruh umat manusia yang demokratis dan emansipatoris.
Kaum kiri dimana pun adalah mereka yang siap mengambil sikap dan melawan semua bentuk penindasan dan penghisapan manusia atas manusia.
Sejarah Indonesia sarat dengan catatan sejarah dari gerakan dan tokoh-tokoh pergerakan yang berwawasan kiri. Kita mengenal tokoh-tokoh kiri yang dikenang sebagai guru bangsa seperti Kartini, Tjokroaminoto, Dewi Sartika, Rasuna Said, Soekarno, Hatta, S.K. Trimurti, Tan Malaka, Syahrir, dan Amir Syarifuddin.
Juga pejuang-pejuang revolusioner lainnya yang namanya kurang dikenal, seperti Haji Misbach, Siti Soendari, Ali Archam, Marco Kartodikromo, Semaoen, Najoan, Alimin, Darsono, Muso, Aidit, Nyoto, dan lain lain.
Semua gagasan, pikiran dan perjuangan garda depan yang sesungguhnya merupakan inti dari nasionalisme Indonesia dan perlawanan terhadap kolonialisme pun dibungkam, dilarang, dan dihancurkan oleh rezim Suharto dan antek-anteknya.
Belok Kiri Festival hadir sebagai ‘Ruang’ bersama. Dipersembahkan terutama bagi kaum muda, dan semua yang peduli terhadap masa depan Indonesia.
Belok Kiri. Fest ingin merangsang terjadinya pertukaran ide, perdebatan kritis dan kerjasama. Belok Kiri.Fest adalah Ruang Kita Bersama yang perlu kita jaga supaya tetap ada dan tetap Merdeka.
Kami akan terus membongkar propaganda Orde Baru. Karena hampir 18 tahun setelah lengsernya rejim militer Soeharto, narasi Orde Baru tentang Peristiwa 1965, Sejarah Gerakan Kiri, dan momok ‘ Bahaya Laten Komunisme’ masih terus direproduksi oleh pemerintah dan kelompok kelompok intoleran.
Propaganda Orde Baru adalah suatu upaya Pembodohan Publik yang kerap dipakai untuk membenarkan pemberangusan hak-hak dasar kita untuk berekspresi dan berkumpul.
Pelarangan terhadap Belok Kiri Festival dan pemutaran film “Pulau Buru Tanah Air Beta” dengan dalih keamanan dan politik perijinan adalah contoh terkini dari daftar panjang pelarangan-pelarangan yang terjadi belakangan ini.
Kami tidak akan pernah menyerah dan terus berjuang untuk merebut kembali hak-hak dan kemerdekaan yang telah dirampas oleh otoritarianisme Orde Baru selama 32 tahun. Kezaliman dan kebodohan yang terus dikumandangkan harus dihentikan.
Kita perlu melanjutkan semangat perjuangan para pendiri Republik tercinta ini seperti saat mereka merebut kemerdekaan dari tangan penjajah.
Oleh karena itu, kami akan tetap melawan seperti sikap kawan-kawan yang tersebar di seluruh pelosok Nusantara. Tugas kaum kiri adalah melenyapkan phobia kiri yang diwariskan oleh Orde Baru.
Mari membangun dan menguatkan solidaritas di antara kita, dengan merumuskan alternatif sikap kiri dalam melawan Kapitalisme Global yang adalah kanan.
Masa depan Indonesia adalah sebuah negri yang berkeadilan sosial, berperikemanusian, dan semakin demokratis, hidup bersama dengan merdeka, dalam kesetaraan dan keharmonisan dengan alam yang menghidupi kita semua.
Kami akan tetap berlawan. Kami menentang kezaliman dan pembodohan di negeri ini. Tetap berlawan: melawan lupa, melawan pembodohan, melawan propaganda Orba! Berjuang, berjuang, dan berjuang.
Belok kiri jalan terus!

bikin terang sumbangan gerakan kiri (yang dihilangkan dan digelapkan) untuk indonesia dan dunia
12809529_540196932818765_5693215206876564794_n10606048_540196966152095_2738825112480842896_n1923440_540196979485427_4776253541564303887_n
1385654_539420836229708_7061096670263745079_n12832498_539420899563035_5528823536614646801_n12802963_539420946229697_3865850171026924483_n
12938189_551820264989765_1647503545057097518_n12512790_551820278323097_4478442714077160232_n12039750_551820294989762_4864160213490141326_n12417554_551820304989761_2068261941845784438_n11216834_551820318323093_6716707183876758549_n
12924602_552052681633190_886079734247209726_n12919851_552052748299850_2140552692595955548_n
10525374_551100088395116_7808964753637100298_n10308247_551100105061781_2342891747798957768_n12932602_551100125061779_8041025726930150899_n
1936200_541112432727215_1543978851511864940_n
1935286_541112452727213_8948067036631711350_n1623784_541112489393876_2288931186035262740_n
1545927_540742596097532_7874356705228183262_n-1
944856_540573369447788_1929629241273430999_n12832306_540573392781119_2724610780908407119_n
12931223_551438881694570_8765339852820816996_n
12321196_551438891694569_118084628984544622_n12321563_551438905027901_6643652887325905927_nm
16650366_1459107667463868_2109990890_n16507747_1459107794130522_1579846251_n16522980_1459107864130515_1625907984_n16522837_1459108000797168_1619618910_n16559061_1459108084130493_1114872119_n

“I Gusti Agung Ayu Ratih”, Penulis Prakata SGKIuP, “Belajar Menerima Bali yang Berbeda” :

“….Bungkam tak berarti lupa. Kejayaan industri pariwisata tidak berhasil memupus ingatan sebagian orang Bali akan 1965 sebagai tahun malapetaka. Mereka menjadi korban penyerangan sekaligus saksi bagaimana anggota keluarga, kerabat dan kawan-kawan mereka dikejar-kejar, ditangkap, dan dibunuhi seperti tikus sawah; digiring ke pinggir laut dan dieksekusi secara massal; atau, bahkan diminta mati di merajan (tempat persembahyangan bagi leluhur keluarga). Setelah pembersihan fisik usai, mereka yang tersisa tidak hidup nyaman dan tenang. Mereka mengalami pengucilan di lingkungan keluarga besar, banjar, dan desa; mereka tak beroleh kesempatan menyelenggarakan upacara pelebon (kremasi), sebagai bentuk penghormatan terakhir, bagi anggota keluarga yang telah dimusnahkan. Memang diantara para korban dan keluarganya ada yang memperoleh keuntungan dari industri pariwisata dan hidup cukup layak. Namun, ada saat-saat mereka harus berhadapan dengan para pelaku penganiayaan yang tidak jarang masih kerabat atau tetangga dekat. Kenangan tentang kengerian dan kepedihan pun meruap dalam beragam bentuk: pergunjingan di dalam keluarga, umpatan dalam diam, sampai kutukan agar si pelaku dan seketurunannya beroleh sial — karmapala. ……”

“Nompi Anom Astika”, penulis Kata Pengantar di SGKIuP: 

“…….Barangkali ada semacam ketakutan dari aktivis Kiri masa kini untuk dikait-kaitkan dengan tradisi Kiri masa lalu, walaupun ditangkap dan dipenjarakan atas tuduhan penyebarluasan ideologi komunis pada masa sekarang, beban penderitaannya jauh lebih ringan dibanding penderitaan yang dialami para korban keganasan Tragedi 1965. Tetapi yang perlu dipahami, adalah bahwa ketakutan tersebut berhasil melegitimasi operasi penghancuran pengetahuan Kiri oleh Orde Baru, penghancuran pengetahuan yang membawa Indonesia menuju kemerdekaannya, dan bangkit besar harga diri di antara bangsa-bangsa pada masa Soekarno. ….”

“ECE Edi Cahyono”, Penulis Prakata SGKIuP, “Kelas Buruh Riwayatmu Kini”:

“…….Pasifikasi buruh dilakukan dengan membentuk serikat tunggal FBSI yg kemudian SPSI. Pengenalan Hubungan Industrial Pancasila (HIP) yg memposisikan buruh sebagai partner pengusaha – bukan berlawanan. Setiap terjadi konflik industrial diselesaikan dengan melibatkan unsur militer seperti Koramil maupun Kodim. Mungkin anda belum lupa seorang buruh perempuan bernama Marsinah dihabisi secara membabi buta di kantor Kodim Porong, Sidoarjo – Jawa Timur. Istilah buruh diubah menjadi karyawan, sebuah langkah jenial menghapus makna kelas dari buruh. Sementara sebutan demonstrasi atau mogok diubah ke: unjuk rasa. Seolah ini urusan sepasang kekasih. Nama Departemen Perburuhan diubah ke Departemen Tenaga Kerja yang sebutannya dalam bahasa Inggris adalah Man Power Department. Kata yang tidak lazim digunakan karena itu melecehkan kaum perempuan. Banyak negara menggunakan nama Labour Department. Pilihan kata yang sekilas ‘bermain-main’ ini sebenarnya sarat dengan kepentingan politik: depolitisasi…..

Di luar itu, Soeharto tetap melakukan pembunuhan terhadap warga negara dengan judul DOM Aceh, Papua, Timor Timur, Tanjung Priok, Kedung Ombo, Petrus, dsb. Dia adalah jagal terbesar dalam sejarah umat manusia. Berjuta warga negara dibunuh….”

1606983_514708415367617_2555771336120966008_n57991_509993742505751_2120722931832521753_n10291861_510000012505124_5736420387318960312_n12366193_509324635905995_2608067760574526108_n
Dr.Dede Oetomo”, Penulis Prakata SGKIuP “Mengapa Perlu Jujur Menghadapi Kenyataan” :
“….Dalam pengalaman saya membaca tentang masyarakat-masyarakat lain yang bisa menghadapi kenyataan sejarahnya yang tidak elok, dan bergaul dengan kawan-kawan dan sahabat dari masyarakat-masyarakat itu, pada hemat saya mereka menjadi suatu masyarakat yang hidup dengan jujur, bukan masyarakat yang hidup dengan kebohongan dan kemunafikan seperti yang sekarang masih kita alami di masyarakat Indonesia.
Tidak berlebihanlah, dan saya pun cenderung setuju, apabila ada pemikir yang menduga bahwa kita orang Indonesia menghadapi setumpuk masalah budaya dan kemasyarakatan saat ini karena kita sudah lama menutup-nutupi sebagian sejarah kita dan tidak membolehkan perspektif kiri digunakan untuk melihat sejarah kita….”
“Dede Mulyanto”. Penulis Prakata SGKIuP “Sebetulnya Ini Buku Tentang Marxisme Untuk Pemula” :
“…Dalam politik, mereka membelokkan semangat perlawanan rakyat, tak hanya terhadap penjajah sebagai kapitalis penghisap yang cuma peduli mengakumulasi kekayaan demi kekayaan itu sendiri dengan bertopang pada dalil, sadar atau tidak, humanisme universal, tapi juga keturunan-keturunan mereka kelak membelokkan alur sejarah Indonesia dari sejarah perlawanan rakyat pekerja (kaum tani dan buruh) yang tertindas di bawah kaki-kaki kapitalisme menjadi sekadar parade kesuksesan tokoh-tokoh besar saja. Mereka membuang rakyat pekerja, para korban sekaligus pelaku sebenarnya dari sejarah perlawanan, dari ingatan kita, melalui buku-buku sejarah mereka. …”

“Longgena Ginting”, Penulis Prakata SGKIuP, “Kapitalisme dan Krisis Lingkungan Hidup”:

“…Kita juga perlu menegaskan kedaulatan dan hak-hak rakyat atas wilayah dan masa depan pemanfaatan tanah tersebut. Kedaulatan pangan dan enerji adalah merupakan hak rakyat dalam mengontrol produksi pangan dan enerji untuk memenuhi kebutuhan mereka. Kita perlu menegaskan bahwa untuk segera menghentikan eksplorasi dan eksploitasi enerji fosil seperti minyak, batu bara dan gas jangan sampai menghancurkan lahan-lahan pangan. Kita perlu menegaskan perlunya reforma agraria sejati dan demokratisasi akses terhadap tanah sebagai cara untuk menjamin kedaulatan pangan dan enerji. Model agribisnis saat ini yang menguasai jutaan hektar lahan untuk monokultur adalah bentuk penguasaan lahan yang tidak adil.

Kedaulatan pangan dan enerji perlu didasarkan pada prinsip-prinsip pertanian ekologis dan didasarkan kebutuhan masyarakat lokal serta ekonomi nasional. Kita menolak model agribisnis yang tidak berkelanjutan dan yang memarginalkan masyarakat, sebagai salah satu dari penyebab utama perubahan iklim dengan karena model-model ini mengakibatkan penyerobotan dan penguasaan lahan. Model pengelolaan sumberdaya alam saat ini telah menyebabkan kehancuran alam dan terus berkembang melakukan ekspansi ke wilayah-wilayah seperti Papua. Kita harus mendukung hak-hak penuh masyarakat lokal dan penduduk asli atas teritori mereka. Kita harus menghentikan deforestasi di seluruh nusantara. Kita perlu memajukan pertanian skala keluarga yang otonom, kita perlu mendukung kebijakan publik yang menjamin kredit dan bantuan teknis sehingga pertanian pedesaan dapat menghasilkan pangan dan enerji mereka secara mandiri….”

“Harri Wibowo”, Penulis Prakata SGKIuP, “Kiri,Awal Mula dan Kini” :

“….Penerbitannya harus kita tempatkan dalam arus sejarah negeri ini di mana kaum Kiri dan gerakan Kiri yang sebelum 1965 identik dengan perlawanan garda depan terhadap kolonialisme dan imperlaisme, namun setelah itu dianggap oleh Orde Baru sebagai musuh negera nomor satu.

Namun Kiri di Indonesia sesungguhnya tidak pernah mati, baik sebagai pemikiran maupun perlawanan terhadap segala wujud eksploitasi dan penindasan. Tentu saja ia berubah, baik dalam starategi dan taktik-taktiknya seiring dengan perubahan kapitalisme yang dipaksa menyesuaikan diri dengan konjungtur dan krisis ekenomi-politik yang melanda berbagai belahan dunia dalam mellinium ini. Dalam konteks mutakhir, Kiri berarti solidaritas kerja bersama untuk pembebasan dan emansipasi sosial. Kredo kolektivitas inilah yang menghidupi karya ini….”
10603412_514782412026884_6148137919191374303_n

“Yunantyo Adi S”, Penulis Prakata SGKIuP, “Rekonsiliasi Roh Peristiwa 1965 di Dusun Plumbon Semarang”

“….Hadir pula para pemerhati, guru besar Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Unnes Prof. Wasino, dosen sejarah FIS Unnes Tsabit Azinar Ahmad, pemerhati sejarah Rukardi. Rohaniawan Romo Aloys Budi Purnomo dan Kiai Khambali (Kendal) memimpin doa. Ketua Ansor Jateng Hasyim Asy’ari datang menyusul dan mengadakan tahlilan di makam massal. Pejabat Badan Kesbangpol Kota Semarang Djati Prijono mewakili wali kota meresmikan makam dan memberikan sambutan. Wakil Adm Perum Perhutani KPH Kendal Rovi Tri Kuncoro memberi sambutan dan meresmikan nisan. Lurah Wonosari Sulistiyo maupun Camat Ngaliyan Heroe Soekandar hadir dan turut memberi sambutan. Datang juga ketua-ketua RT, ketua RW, pengurus pemberdayaan Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH), serta tokoh-tokoh masyarakat setempat maupun sesepuh-sesepuh. Aparat kamtibmas dari Polrestabes Semarang, Polsek Ngaliyan, Koramil Ngaliyan, Babinsa, maupun keamanan kampung, pada hadir dan turut menerima tamu, baik tamu dari pihak keluarga korban maupun para tokoh masyarakat. Dari pihak korban, empat keluarga korban di antaranya hadir, yaitu keluarga Darsono, Sachroni, Joesoef, dan Soerono. Dari delapan identitas korban yang telah diketahui, memang hanya empat di antaranya yang diketahui keberadaan keluarganya.

Peresmian nisan itu berlangsung haru. Bermula dari tangis Sri Martini (61) pecah ketika meletakkan nisan dan melihat nama ayah angkatnya, Joesoef, tertera di nisan, membawa perasaan yang sama bagi kebanyakan yang hadir. Mata Prof. Wasino tampak berkaca-kaca menyaksikan itu, saat diberikan waktu berbicara, ia berucap,”Jujur saja saya terharu, saya tidak mampu menahan perasaan. Bagaimanapun antara manusia dan leluhurnya itu ada ikatan batin, ketika anggota keluarga selama puluhan tahun ini tak tahu keberadaan leluhurnya, kemudian sekarang bertemu di sini, tangis haru itu tak bisa lagi dicegah. Saya, kami semua di sini pun ikut merasakan apa yang menjadi kerinduan Bapak-Bapak Ibu-Ibu….”

Beberapa hari sebelum hari-H penisanan, warga dan panitia gotong-royong kerja bakti dipimpin Lurah Sulistiyono bersih-bersih kampung. Penduduk pun mendirikan tratak dan menyediakan kursi-kursi bagi para tamu tak jauh dari lokasi makam massal. Malam hari sebelumnya warga mengadakan acara melekan di lokasi tratak….”

“Aminuddin TH Siregar”, Penulis Prakata SGKIuP, “Gerakan Kiri di Indonesia, Sekedar Pengantar” 

“….Yang menarik kehadiran kitab-kitab sejarah tersebut tetap saja tidak bisa diterima dengan mudah apalagi dipakai untuk meyakinkan orang di Indonesia, atau sekurangnya menimbulkan sejarah seimbang – kalau tidak bisa dibilang obyektif dalam menilai peran kaum kiri. Mengapa hal itu bisa terjadi?

Sejumlah kalangan menunjuk rezim Orde Baru sebagai dalang dalam mendemonisasikan kaum kiri dan mengecilkan kontribusi mereka melalui kampanye masif sejak 1965. Rezim itu berhasil menanam benih kebencian di dalam kehidupan masyarakat yang menempatkan kaum kiri dan gerakan-gerakannya sebagai kaum terkutuk yang haus darah. Usaha-usaha pemulihan, rekonsiliasi sejarah yang diharapkan bisa menata ulang pemahaman baru – atau setidaknya menumbuhkan sikap obyektif dalam memahami sejarah nasional tidak jarang malah menemukan jalan buntu. Alih-alih, dewasa ini di sudut-sudut jalan, masih terpampang spanduk-spanduk reaksioner yang mengingatkan siapa saja – sekaligus menimbulkan “rasa takut” akan “bahaya laten komunis”. Celakanya, kaum intelektual dan sejarawan yang ingin “membela” sejarah kaum kiri malah dicap antek-antek PKI. Tuduhan tersebut, sejauah yang saya amati, justru tidak menyurutkan minat orang meneliti kaum kiri di Indonesia. Ketidakadilan historiografi nasional terhadap gerakan kiri di Indonesia (atau komunisme itu sendiri) akan senantiasa membuat orang terpancing untuk memperjuangkannya. Cukup masuk akal, diamati dari perspektif itu, kontribusi kaum kiri seakan terkubur di tengah-tengah gempita kemenangan kaum nasionalis kanan yang dominan dalam menghias wajah sejarah sejak 1965. Dampak lain akibat demonisasi kaum kiri sejak tahun itu memunculkan rasa sungkan, kalau tidak bisa dibilang ketakutan, di mata mereka yang ingin memahaminya secara lebih obyektif. Terkecuali sarjana-sarjana Barat, di Indonesia, penelitian sejarah kaum kiri ini masih dilakukan secara “malu-malu”, diganjal rasa takut, sehingga kurang dilakukan secara komprehensif.

Dengan pendekatan komikal, buku ini sekurangnya tidak hanya ingin menghapus bayang-bayang rasa takut itu, tapi berhasil menyajikan sejarah gerakan kaum kiri cukup lengkap. Terlepas dari berhasil-tidaknya teknik penyampaian sejarah dengan komik – seperti yang dilakukan oleh tim buku ini, buku “sejarah gerakan kiri untuk pemula” ini memang perlu dipahami lebih seksama. Pendekatan komik seperti buku ini dalam beberapa hal akan memudahkan orang memahami gagasan-gagasan di balik gerakan kaum kiri yang memang rumit.

simak 700 ‘entry’ lainnya pada link berikut

Daftar Isi Perpustakaan Genosida 1965-1966

 

 

Road to Justice : State Crimes after Oct 1st 1965 (Jakartanicus)

14542544_1036993449746974_4443364972569517121_o

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s