Dadang Christanto : Genocide 1965-1966 [IN RED; DARAH ITU MASIH SEGAR JENDERAL] [pameran online bagian 1]

Dari Sekolah Desa di Australia Perupa Indonesia Dadang Christanto Melawan Lupa

7e44f-a1


.

foto-foto karya ini dihimpun dari facebook Dadang Christanto dan pemuatannya atas seijin yang bersangkutan. 
hormatku kamrad 
(admin lentera di atas bukit)
 
simak juga

SATU (1965-66)

 

 
HUJAN MERAH
Tanah merah
Sungai merah
Bau merah
Waktu merah Dan di tempat sunyi
Seorang ibu menetek bayinya
dengan tetesan air susu berwarna merah.
(DC)
 
 
 
 
SEMBILAN (1965-66)

.

 
 
ENAM (1965-66)
 

 “Tribute to Gerwani”.




 “Tribute to Gerwani”.
 
 
 “Tribute to Gerwani”.
 
 

BON



Mungkin kata Bon dari bahasa Belanda.

Kata bon sudah jarang digunakan, sudah termasuk kata jadul. 

Dalam pergaulan sehari-hari dulu, bon ini berarti berhutang atau pinjam. 
“Ngebon sik ya Bu” (Hutang dulu ya Bu), adalah kalimat yang kerap di dengar
oleh para pelajar/masiswa kepada Ibu empunya warung yang baik hati di kota Jogja.
“Dibon” atau “dipinjam”, bisa menjadi kata menakutkan dan mengerikan. Bahkan diartikan berhadapan dengan ajang sebuah kematian, bagi para Tapol pada jaman awal Orba/militer menumpas PKI dan para simpatisannya.

Mereka yang dibon, berarti Tapol diambil dari sel tahan untuk diinterogasi (baca disiksa). Dan cara menyiksa ini Orba ahlinya. Dari yang paling ringan main bentak, kepruk, sundut api rokok, setrum, jari tangan di injak dengan kaki meja yang diduduki beberapa orang, dll. Hingga leher dijerat dengan kawat sampai mati. Lihat saja film “Act of Killing”, seperti dipratikan oleh Anwar Kongo dkk.Eh….mereka para penyiksa yang tangannya belepotan darah dan para jagal ini masih aman-aman saja, tak tersentuh hukum lho.

(DC)
 
 
LIMA (1965-66) 
menghitung korban

.

 
IN RED (1980).


Karya ini menggambarkan tindak kekerasan yang dilakukan sehari-hari, seperti mengosok gigi. Kekerasan telah menjadi budaya dalam bersolusi. Ide awal dari seniman Bonyong Muni Ardhi. Pertama kali dipentaskan 35 tahun lalu di Senisono Jogja. Pada kesempatan diskusi para perupa muda waktu itu.IN RED, masih tetap relevan dengan situasi sekarang dan berada dalam bagian tematik pameran   1 9 6 5.
 
ENAM (1965-66)
Adakah dia tahu kalau lukisan yang ada di rumah di samping Piano itu adalah sebuah lukisan korban kebrutalan satu regime (Militer) di Indonesia di tahun 1965-1966?
Aku tak yakin dia tahu. Apalagi dengan detail peristiwa korban pembantaian yang mayat-mayatnya terapung di sungai-sungai di Jawa 49 tahun lalu, seperti yang aku gambarkan dalam lukisan tersebut? (DC)
 
Memang praktis untuk sebuah tindak biadab dengan melemparkan mayat-mayat korban ke SUNGAI. 
Hanyut dan hilang tak berbekas. Bagi ingatan sejarah, apalah artinya mengingat kejadian 50 tahun lalu?
Ratusan bahkan ribuan tahunpun usia sejarah akan selalu tercatat dan diingat.
Dan salah satunya catatanku mengenai sungai-sungai di Indonesia di tahun-tahun pembantaian 1965-1966. Sungai adalah kuburan massal pembantaian. (DC)
Apa yang bisa dibanggakan 
menggorok kepala-kepala manusia sebangsa tanpa melawan dan tak tahu salahnya apa?
Entah sudah berapa ribu kepala-kepala manusia dipenggal aku gambar dan aku buat patung, dalam series “Menghitung Korban”?
Yang jelas belum seberapa jumlahnya jika dibanding jumlah kepala manusia yang digorok di tahun 1965, jutaan manusia dibantai itu. 
(DC)
 
 
Mendengar suara Truk lewat

Mendengar Suara sepatu Lars Tentara

Membuat seorang ibu ketakutan dalam hidupnya sejak 1965.



LARS (2001)

 

ENAM (1965-66)

 

Road to Justice : State Crimes after Oct 1st 1965 (Jakartanicus)

 

14542544_1036993449746974_4443364972569517121_o

 

13047818_10209343119272764_8338060706038815101_o13043485_10209343122352841_1135692553504633931_n (1)

 

Definisi yang diusulkan D. Nersessian (2010) untuk amandemen/ optional protocol Konvensi Anti-Genosida (1948) dan Statuta Roma (2000) mengenai Pengadilan Kejahatan Internasional. (disalin dari Harry Wibowo)
Bookmark and Share

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s